
Pagi-pagi Aisyah di bangunkan oleh seseorang yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Dia mengalihkan Tubuhnya, samar-samar dia melihat sosok lelaki dengan tatapan hangatnya dan senyum Tipis itu. Dia terlihat tidak asing di mata Aisyah. Aisyah yang merasa masih bermimpi mencoba bangkit dan duduk di ikuti oleh laki-laki itu yang juga duduk di samping nya dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari bibir tipis merahnya.
"Waktu aku bangun tadi, Aku ngerasa kayak terbangun dari mimpi buruk yang panjang. Mimpi yang menakutkan. Waktu aku lihat kamu, aku tau aku udah bangun..." Ucap Tiuga yang tidak henti-hentinya tersenyum. "Jangan tinggalin aku lagi yaa... " Gumam Tiuga dengan tatapan hangatnya. Aisyah tersenyum dan memeluk Tiuga. Dia memeluk erat suaminya dengan tangis haru. Dia sudah kembali, yaaa... semua telah di letakkan pada tempatnya sekarang. Seperti parsel yang telah di letakkan pada kepingannya dan sudah membentuk pola yang sempurna.
Tiuga mengangkat dagu Aisyah, dia merindukan wanita ini, bidadari dunianya. Dia ingin melampiaskan semua rindu dan bebannya yang selama ini dia lalui tanpa Aisyah, itu bukan hal yang mudah.
Aisyah pun merindukan laki-laki ini, dia selalu hadir dalam doa panjang di sepertiga malamnya, dan hari ini dia menemukannya lagi, setelah dia hampir hilang harapan untuk bersamanya lagi.
Pelan-pelan permainan panas itu mulai membakar mereka berdua. Dia menikmati setiap sentuhan itu yang terasa lebih liar dari yang biasanya mereka lalui. Mereka hampir melewati batas akhlak mereka. Aisyah tidak ingin yang seperti itu, seperti binatang liar yang tak beretika. Dia memperingati Tiuga agar tak melewati nafsunya. Tapi tampaknya
Setelah hampir 2 bulan mereka terpisah, membuat Tiuga sulit di kendalikan. Dengan separuh merasa berdosa Aisyah mengikuti permainan itu. Dia membiarkan nafsu setan itu menguasainya kali ini. memang membuatnya terlena, dan menikmatinya seperti lupa siapa dirinya. Semakin larut semakin menggila.
Setelah semua kegilaan itu berakhir. mereka tertidur dalam keadaan tubuh yang sama-sama polos hanya di tutupi oleh selimut. Aisyah seperti tersadar, dia harus mengakhiri ini. Tiuga menahan Aisyah untuk pergi. Dia memeluk pinggang Aisyah. Aisyah merasa risih dengan keadaan seperti itu dalam waktu lama.
"Lepasin aku mas... Aku mau kekamar mandi... " Ucapnya sedikit memaksa. Aisyah tidak mau terbawa oleh permainan Tiuga lagi.
"Jangan pergi... Biar kita kayak gini sebentar lagi.... " Ucapnya seraya memeluk erat tubuh Aisyah yang masih polos dan seakan-akan tidak ingin melepasnya. Aisyah benar-benar tidak nyaman.
"Aku risih mas...! " Ucapnya.
Tapi Tiuga tetap memeluknya dan mencium bahu polos lembut itu."Kenapa risih... Aku suami kamu...! " Ucap Tiuga berdalih dengan senyuman nakalnya. "Kita bisa seharian begini kalau kita mau... Kita suami istri yang sah... " Ucap Tiuga.
"Jangan hanya karena nafsu kita kehilangan akhlak kita... Nafsu selalu ingin membenarkan tindakkan yang salah..." Ucap Aisyah tajam. "Mas... Lepasin aku... Aku risih... " Ucap Aisyah sekali lagi dengan nada lebih tajam. Kalau sudah bahas agama Tiuga menyerah. Dia melepas Aisyah, Aisyah segera mengambil pakaiannya yang tercecer, dan meninggalkan Tiuga. Tidak kehilangan akal Tiuga mengikuti istrinya kekamar mandi. Dia mendadak sangat naif sejak tadi pagi. "Tangan aku sakit jadi aku harus di mandiin.... " Tentu sebuah alasan yang hakiki, sudah 1 bulan berlalu baru kali ini Tiuga beralasan begitu. Padahal dia bisa lakukan semuanya tanpa Aisyah selama ini. Aisyah ingin membantah tapi dia putuskan untuk mengalah saja. (Mulai nakal pikiranku...😜 udah aaahhh malu...ðŸ¤ðŸ¤)
"Cepetan... Adifa dari tadi di luar..." Ucap Aisyah. Tiuga tersenyum mendengar persetujuan itu. Adifa memang semalam tidur bersama umi Aisyah. Mengingat keadaan Tiuga yang kurang baik membuat Adifa sementara tidur bersama nininya.
Setelah selesai mandi Aisyah mengeringkan rambut Tiuga dengan Hairdryer. Wajah Tiuga tampak berseri-seri sekarang, walau masih pucat. Dia sudah mulai tersenyum. Saat Tiuga berdiri tiba-tiba dia merasa pusing. Dia memang sering begitu sekarang. Walau tidak separah awal-awal kecelakaannya, tapi sering terjadi saat dia kelelahan.
"Kenapa mas!? " Tanya Aisyah.
"Pusing!! " Jawab Tiuga. Aisyah nampak khawatir. "Nggak papa kok, dokter bilang nanti pelan-pelan juga berhenti sendiri... " Ucap Tiuga yang seolah paham dengan kekhawatiran Aisyah.
__ADS_1
Lalu Tiuga pun berlalu, dia keluar kamar. Meninggalkan Aisyah yang masih terpaku. Aisyah menatap kepergian Tiuga dengan langkah yang lemah. Mungkin itu karena dia masih merasa pusing di kepalanya.
...***...
Tiuga menuju ruang keluarga. Disana sudah ada Daniel. Daniel memang sering kesini sekarang. Rencana pernikahan Daniel dan Adel akan segera di gelar, jadi mereka mulai melakukan persiapan sekarang.
Daniel tampak bersemangat mengurus semuanya bersama Adel. Dia memang sudah lama tidak menjahili Tiuga karena Tiuga sakit, dan dia masih menjaga sikap dengan Tiuga sekarang dan belum tahu kalau Tiuga sudah pulih ingatannya.
Tiuga duduk di samping Daniel yang sedang mengecek undangannya. Dia memperhatikan setiap undangan yang akan di sebarnya. Timbul niat iseng Tiuga pada Daniel kali ini.
"Ingat yaaa.... lo harus bertanggung jawab kayak janji lo... " Ucap Tiuga, seperti sebuah ancaman.
Daniel kaget. Dia segera meletakkan undangannya dan menatap lekat mata Tiuga. Dia mencari tahu, apakah sahabatnya ini sudah mendapatkan ingatannya kembali.
"Lo udah sembuh!? Lo udah ingat semua sekarang? " Ucap Daniel tidak percaya.
"Iya... Dan gue inget... proyek gue lo ambil semua... transfer ke gue 70% nya. Itu desain gue, Hampir semua nya gue yang ngerjain... lo cuman modal finishing doank di proyek itu..." Ucap Tiuga.
"Iya... Gue tunggu lo transfer atau gue recokin pernikahan kalian... Gue bisa gunain sakit gue buat batalin pernikahan lo... " Ancam Tiuga dengan senyum licik. Daniel menatapnya beberapa saat sambil berfikir.
"Okeee... Gue transfer... Tapi 50:50 yaaa... Udah gue beli mobil, jadi ke pakek... " Ucapnya berusaha melakukan nego.
"Nggak... 70:30. Atau bener-bener gue bikin kacau semua... "
"Idiiihhh... lo pelit banget siiihh... "
"Gue nggak kerja lagi Dan... Anak istri gue mau gue kasih makan apa!? Itu juga modal gue kuliah ntar, sementara gue dapet kerja... Itu pegangan gue... " Terangnya. Dengan berat hati Daniel pun menuruti keinginan Tiuga.
"Tuuuh...Udah gue transfer..." Ucapnya dengan tatapan kesal. Tapi saat Tiuga cek ternyata Daniel mentransfer semua. Itu membuat Tiuga terharu.
"PUAS, Tiuga Alzam!? " Ucap Daniel dengan sombongnya.
__ADS_1
"Hmmm... " Ucap Tiuga dengan senyum lebar. Tiuga memeluk sahabatnya itu sangking senangnya. Daniel kaget.
"Gue normal... " Ucap Daniel seraya berusaha melepaskan pelukan Tiuga. Tiuga pun tertawa mendengarnya.
Lalu Daniel kedapur ternyata dia membuat laporan dengan keluarga lain bahwa ingatan Tiuga sudah kembali.
Semua tampak senang dengan kesembuhan Tiuga. Terutama Adel dan Daniel. Mereka tidak lagi merasa terbebani dalam mempersiapkan pernikahan mereka. Selama ini mereka merasa tidak enak hati melaksanakan pernikahan dengan keadaan Tiuga yang kurang baik. Sekarang mereka dapat bernafas lega, karena Tiuga sudah sembuh.
Aisyah menatap Tiuga yang tengah bersama Adifa. Dia menatap dengan senyum puas dan bahagia. Dia bahagia di anugerahi lelaki yang sempurna seperti Tiuga, dia berjanji tidak akan mencurigai Tiuga lagi.Dia akan mempercayai lelaki ini sepenuhnya mulai saat ini.
...***...
1 Minggu kemudian Daniel dan Adel pun menggelar pernikahan mewah mereka di hotel berbintang, semua menyambut dengan gembira. Karena kebetulan kanaya dan Faridz juga ada di Jakarta, merekapun mengundang keduanya. Alangkah kagetnya mereka saat mengetahui bahwa Kanaya tengah hamil tua. Karena alasan itu lah mereka ke Jakarta. Untuk konsultasi pelaksanaan Sesar kelahiran anak pertama mereka yang telah lama di tunggu-tunggu itu.
Sepertinya semua orang mendapat kan kebahagiaan mereka sekarang.
Setelah acara pernikahan Adel dan Daniel. 2 bulan kemudian Tiuga pun pamit untuk melanjutkan kuliah MBA nya di Inggris. Sebelum dia berangkat Aisyah memberitahu Tiuga perihal kehamilannya. Dia mewanti-wanti Tiuga agar mendampinginya saat lahiran, dia tidak ingin seperti kelahiran Adifa dulu. Tiuga berjanji kali ini akan dia usahakan apapun rintangannya dia akan datang, demi putranya.
Kali ini Aisyah benar-benar sudah mempercayai Tiuga sepenuhnya, dia tidak akan melakukan hal bodoh lagi karena rasa curiganya. Dia percaya takdir tuhan yang menentukan segalanya, dia belajar banyak dari kejadian yang telah terjadi di hidupnya. Kali ini dia melepas keberangkatan Tiuga dengan Ikhlas tanpa beban dan khawatir tentang wanita di luar sana. Dia percaya Tiuga lelaki yang setia. Ketampanan suaminya adalah anugerah bukan masalah lagi buatnya.
Begitupun Tiuga, dia belajar bahwa membawa tuhan dalam setiap permasalahan hidupnya seperti membawa lentera di kegelapan. Aisyah mengajari banyak hal tentang pandangan hidup padanya. Sekarang dia menjadi pribadi yang lebih kuat.
...***TAMAT***...
Terima kasih sudah membaca Novel pertama saya sampai selesai. Saya akan sangat berterima kasih jika kalian bersedia memberi pendapat kalian tentang novel ini. Agar saya dapat menyempurnakannya lagi.
Terima kasih... ☺☺
wassalam...
🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳
__ADS_1