
Pagi-pagi Tiuga sudah bangun dan melewatkan sarapan paginya dengan alasan ada kerjaan. Dan langsung pergi. Dia tidak hanya menghindari Aisyah tapi juga mengabaikan Sherin. Dia butuh ketenangan untuk berfikir.
Siang itu Tiuga makan siang bersama Daniel sahabat sekaligus rekan kerjanya.
"Gimana udah ada kemajuan?" tanya Daniel.
"Masih di garis strar" Ucap Tiuga sekenanya.
"Ah payah... Lo masih mau balikan sama Sherin? "
"Hmmh.... gue masih bingung, di lain sisi gue merasa bersalah sama Sherin, di lain sisi juga gue gak buta Aisyah perempuan baik yg cocok jadi istri. Dia lembut, sopan, penurut, juga berpendidikan. Tapi gimana kalo Sherin nekat!? " Ucap Tiuga mengungkapkan ke khawatirannya.
"Lo harus berani ambil keputusan, atau lo ke hilangan keduanya. Buat gue Aisyah udah tepat buat lo. Karena Sherin yang ada selama ini cuman sumber masalah buat lo. Dan keluarga lu juga gak restuin kan!? Apa lagi yg perlu di pertahanin!? " Usul Daniel berapi-api.
"Gimana pun klien kita rata-rata kenalan Sherin. Kalo sampe gue buat dia marah sekarang, itu akan berpengaruh buruk buat perusahaan kita nanti nya. Ok lah kalo cuman kita berdua kita bisa cari kerja lain, tapi kalo karyawan kita mereka makan dari sini" Ucap Tiuga mengungkapkan kekhawatirannya.
"Dari awal juga gue udah bilang sama lo, jangan terlalu bergantung sama Sherin, dia gak bisa di percaya. Lo sih dikit-dikit Sherin, dikit Sherin. Ini akibatnya. Semua kacau... " Ucap Daniel mulai kesal.
"Terus gimana sekarang!? " Ucap Tiuga.
"Udah lah lepas aja kalo emang kita harus mulai dari nol lagi juga gak papa, kalo emang kita berkualitas nanti juga klien balik lagi. "
"Gimana kalo dia nekat!?" Ucap Tiuga khawatir.
"Terus lo mau selamanya kek gini? ingat keluarga lo gak ada yg restuin, apa lagi Adel. Musuh bebuyutan mereka.... Belum lagi oma lo. Lo siap kehilangan keluarga cuman buat seorang Sherin? "
Tiuga nampak mulai berfikir, bagaimanapun Daniel ada benarnya juga.
...***...
Sepulang dari kantor Tiuga pergi menemui Sherin di rumahnya. Sherin menyambut kedatangan Tiuga dengan gembira. Dia akan memeluknya tapi Tiuga menghindarinya, itu memberi sinyal tidak baik untuknya. Setelah mereka sama-sama duduk. Tiuga membuka pembicaraan.
"Sherin, aku gak tau harus gimana ngomongnya, ini juga berat buat aku. Tapi... gak mungkin kan kita begini terus..." ucapannya terhenti sejenak, dia mencari-cari kata yg tepat "Hubungan kita kayaknya gak bisa di lanjutin lagi. Bukan karena kamu tapi aku, keluarga aku gak akan pernah merestuin kita, dan sekarang aku udah terikat pernikahan dengan Aisyah. Dan gak mungkin aku cerein dia dalam waktu dekat. Sherin...aku nggak bisa kasih kamu harapan terus..." belum selesai Tiuga bicara Sherin sudah menyelanya.
"4 tahun kita baik-baik saja, kenapa baru sekarang kamu ngomongin ini haaaahhhh... Kamu tertarik dengan perempuan itu, kamu udah nidurin dia? oh tentu perempuan lugu kek gitu lebih menarik. MUNAFIK kamu Tiuga" Ucap Sherin dengan nada tinggi.
Tiuga berusaha menahan dirinya, sedari awal dia sudah tau bagaimana reaksi Sherin, pasti tidak akan mudah meyakinkannya.
"Terus kamu mau gimana? " Ucap Tiuga mencoba mendengar pendapat Sherin.
"Ayo kita kawin lari, kita tinggalin semua yang halangin kita, kita ke luar negri, dimana gak ada org yg nemuin kita. " ucap Sherin tegas dan penuh harap seraya menggenggam tangan Tiuga, berharap Tiuga setuju.
"Aku gak bisa Sherin, ada keluarga yang harus aku Fikirkan. Dan hidup tanpa keluarga itu bukan hal yg mudah....Hidup gak sesimpel itu" Ungkap Tiuga, jelas itu membuat Sherin kesal.
__ADS_1
"Kamu memang mau mencampakkan aku sedari awal. Ini cuman alasan kamu Tiu... kamu gak pernah benar-benar jatuh cinta sama aku. Aku jatuh sendirian di cinta ini sedangkan kamu gak, kamu cuman manfaatin aku, setelah kamu sukses kamu mulai nyingkirin aku...iyakan!? "
Ucap Sherin. Tangisnya mulai pecah.
"Kamu jahat Tiu, kamu egois... bisa-bisanya kamu kayak gini sama aku, apa yg gak aku kasih buat kamu, semuanya di hidup aku buat kamu. Tapi ini balasan kamu haaaahhhhh !? "
'Maaf in aku Sherin... Lebih baik kamu nangis sekarang dari pada nanti, itu akan jauh membuat kamu sakit hati...'Ucap Tiuga membatin. Dia mulai bingung harus bagaimana.
"Aku sayang sama kamu, tapi keluarga aku. terlalu banyak yg akan jadi korban seandainya aku ninggalin mereka.... terutama oma aku..."
"Terus aku yg di tumbalin disini...!? kenapa kamu gak mikirin perasaan aku juga? " kali ini tangisnya Sherin benar-benar pecah.
"Maaf...Aku benar-benar gak bisa..... " Ucap Tiuga yang mulai kehilangan kata-katanya. Diapun beranjak pergi meninggalkan Sherin yang berusaha menahan kepergiannya. Tapi Tiuga melepas genggaman tangan Sherin berlahan. Dan ia pun meninggalkan Sherin yg tengah menangis.
Fikiran Tiuga benar-benar kacau saat ini. Dan dia pun pergi ke klub malam. Minum sampai benar-benar mabuk, untung ada Daniel yang menemaninya, Daniel hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya ini.
"Nikmatin dosa lu bro, ntar pulang siap-siap aja.... " ucap Daniel seraya menepuk pelan bahu Tiuga yg tampak mulai kehilangan kesadarannya. Dan setelah puas merekapun pulang di sambut dengan oma nya yg panik melihat keadaan Tiuga.
"Ada apa ini Daniel!? " Tanya omanya panik.
"Dia mabok oma, saya permisi dulu" Ucap Daniel buru-buru pulang. karena takut di marahin bawa pulang Tiuga dalam keadaan mabok.
Hampir tidak pernah Tiuga pulang seperti ini, ini pertama kalinya. Tidak lama Aisyah pun datang dia tidak kalah kagetnya melihat suaminya begitu, ayah Tiuga segera membawa Tiuga ke kamar mandi, dan mengguyurnya dengan air dingin. Pelan-pelan kesadaran Tiugapun mulai pulih sedikit demi sedikit, walau masih sempoyongan, dan perutnya mulai terasa mual ia pun memuntah kan isi perutnya di kamar mandi, Aisyah mulai mendekati Tiuga karena ayahnya mulai kesal melihat Tiuga begitu. Setelah dia berhenti muntah Aisyah mulai membuka pakaian Tiuga, walau dia risih tapi dia berusaha menutupi perasaannya, ia berusaha bersikap sewajarnya. Di bantu oleh ibunya Tiuga juga. setelah itu ia segera mengenakan Tiuga piyama, dan segera di bantu ayahnya untuk memapahkan Tiuga ke atas ranjang untuk menggantikan pakainya, ibu Tiuga memberikan pakaian ganti Tiuga pada Aisyah, lalu mereka meninggalkan Aisyah dan Tiuga di kamar berdua.
"Mas,mas..." panggilnya berusaha menyadarkan tiuga yg malah tertidur.
"wajahnya kecil, pantas sering di bilang mirip cewek" gumam Aisyah sambil tersenyum
"apa kamu punya pacar!? apa kamu mabuk karena itu? aku gak maksain kamu kalo kamu memang gak mau. Tapi aku harap semoga kita benar-benar berjodoh, aku jatuh cinta sama kamu mas..." bisik Aisyah.
tidak terasa malam pun semakin larut. akhirnya Aisyah pun tertidur.
Pagi-pagi Aisyah di Kagetkan dengan Tiuga yang mengigau tidak jelas, saat Aisyah menyentuh kening Tiuga terasa panas. Tiuga demam. Aisyah pun segera bangkit dari tempat tidurnya. Dia mencari obat, dan membuat kompres air hangat. Karena melihat Aisyah yg mondar-mandir, ibunya pun menyapa.
"Ada apa aik? " Tanya ibu penasaran
"Mas tiu demam kayaknya, apa ada paracetamol, ma? " tanya Aisyah.
"Ada di lemari atas di dapur!!" ucap ibu Tiuga seraya menemani Aisyah mencarinya, saat menemukannya ia segera memberikan pada Aisyah.dan Aisyah segera menghampiri Tiuga yang di kamar.
" Itu pasti akibat minumannya semalam, gak biasa minum malah minum sampe mabok. semalam untung gak di tenggelamin kamu sama papah. ada-ada aja malah minum-minum. gak ingat istri di rumah nungguin, yang di tunggu kayak gini pulangnya" Omel ibunya panjang lebar.
Setelah puas mengomel ibunya lansung keluar kamar meninggalkan mereka berdua. tiuga yg sudah terjaga masih terlihat lemas.
"Gimana mas, masih pusing? " tanya Aisyah khawatir.
__ADS_1
"Masih! " jawab Tiuga pelan.
"Minum air hangat mau!? " tawar Aisyah.
"Boleh" ucap Tiuga sambil menekan kepalanya yg terasa berat dan ngilu.
Aisyah pun segera keluar membuat air hangat untuk Tiuga. Saat kembali dia mendapati Tiuga sedang muntah-muntah di kamar mandi. Tidak lama terlihat dia keluar dengan wajah yg basah karena dia juga habis mencuci mukanya untuk menyegarkan diri.
"Kamu gak apa-apa mas" tanya Aisyah khawatir. Tiuga hanya menggeleng pelan seraya senyum tipis.
"Maaf ya aku ngerepotin kamu" ucap Tiuga merasa tidak enak hati.
"Gak papa kok, itu tugas seorang istri pada suaminya untuk merawat suaminya." Ucap Aisyah seraya tersenyum Tiuga pun membalas senyumnya.
"Kamu kenapa mas!? kamu bisa cerita kalo kamu mau."
"Gak papa kok" ucap Tiuga sekenanya.
"Jangan bohong, pasti kenapa-kenapa. kamu ngomong aja. aku gak apa-apa, lbh baik kamu jujur daripada di tutupin kek gini."
"Kamu gak papa dengarnya seandainya aku jujur? "
"Nggak, aku siap. Aku mau kamu terbuka sama aku, biar aku bisa terima kamu apa adanya." Ucap Aisyah meyakinkannya.
Tiuga pun menceritakan semuanya. Aisyah tampak dapat menerimanya. Dia menarik nafas panjang, dan menyentuh bahu Tiuga.
"Semua terserah kamu mas, aku ikut! " Jawab Aisyah pelan.
Tiuga pun segera meraih tangan Aisyah.
"Seandainya aku pilih kamu, apa kamu mau percaya sama aku apapun yg terjadi nantinya, apa kamu akan bertahan seandainya terjadi sesuatu nanti? " ucap Tiuga. "aik, Sherin lebih nekat dari yang kamu bayangkan, aku gak tau dia mau ngerencanain apa setelah ini. " ucap Tiuga khawatir.
"Aku insya Allah akan slalu berusaha mempercayai kamu mas, asal kamu mau terbuka sama aku." Tiuga pun tersenyum mendengar jawaban Aisyah. Itu sedikit melegakannya.
" Maaf ya aku mabuk semalam. Aku khawatir Sherin akan mengacau semuanya" ucap Tiuga.
"Gak papa... kita mulai dari nol lagi kalau memang itu harus, aku akan slalu dukung kamu. " ucap Aisyah lembut seraya menggenggam tangan Tiuga. Tiuga tersenyum bahagia.
"Boleh aku minta kamu peluk! " Ucap Tiuga.
Aisyah segera merentangkan tangannya dan memeluk suaminya. Tiuga merasa sangat tenang di pelukan Aisyah, tercium aroma tubuhnya yg menenangkan.
Mungkin wanita seperti ini lah yang Tiuga butuhkan. Yang akan mendukungnya dalam keadaan apapun, bisa memahaminya dengan baik.
😞😞😞
__ADS_1
BERSAMBUNG...