
Siang itu Tiuga pergi menemui pak Sutrisno. Dia awalnya tidak mau menemui Tiuga, tapi Tiuga memaksa. Akhirnya dia mau diajak berunding.
"Ada permasalahan apa om.... Sampe om nggak mau kerja sama dengan perusahaan kita lagi. kalau memang ada yang nggak om suka dari sistem kerja sama kita, kita bisa bicarakan om" Ucap Tiuga dengan sopan.
"Om tidak suka cara kamu memperlakukan keponakan kesayangan om begitu. Bisa-bisanya kamu permalukan dia di depan umum begitu! " Ucap pak Sutrisno emosi.
"kalau permasalahan itu saya bisa jelaskan. Itu Sherin yang datang menghampiri kami. Dia memprovokasi istri saya, dan sebenarnya istri saya tidak mempermasalahkannya. Tapi mungkin reaksi kakak saya yang berlebihan. Saya minta maaf atas nama Adel, om! saya juga sudah tegur Adel untuk permasalahan itu. " Terang Tiuga.
"Kamu tidak pernah menghargai jasa saya sama kamu. Setiap kamu minta bahan...Saya slalu sortir yang terbaik untuk perusahaan kamu.... " Seru pak Sutrisno masih emosi.
"Iya om saya minta maaf sekali lagi, tapi om...Ini bisnis, kita saling bekerja sama dalam hal ini. kalau om kayak gini dalam bisnis... Om bisa kehilangan banyak klien. Sekarang kami lagi butuh banyak bahan dari om, ada 3 restoran, 4 rumah mewah, dan 1 perusahaan yang kami tangani sekarang.... Kalau om batalin kerja sama kita, bukan hanya kami yang rugi, om juga... karena om juga mendapat keuntungan besar dalam hal ini. coba om fikirin lagi om... " Terang Tiuga, itu membuat pak Sutrisno goyah..
"Kamu benar... Om gak seharusnya mencampur aduk kan persoalan pribadi kita dengan bisnis. Baik kalo gitu... kapan kamu butuh pengantaran barang lagi!? " tanya pak sutrisno mulai semangat lagi dengan kerja samanya. Tiuga pun tersenyum lega mendengarnya.
"Sesegera mungkin... " jawab Tiuga semangat. "Makasih om... " seru Tiuga lagi.
"yaaahhhh... Nggak papa. Om minta maaf juga sudah tidak profesional...dan pasti banyak klien perusahaan kamu yang kabur yaaa!? nanti om coba bantu kamu...hhh..!!! " ucapnya seraya tertawa lepas.
Karakter pak Sutrisno memang begitu, mudah marah tapi juga mudah di bujuk. kalau kita mau menghadapinya dengan tenang, dia akan cepat luluh.
Sepulang dari sana Tiuga langsung menemui pak budi. pak Budi Pun tak kalah gembiranya.
"Kamu benar-benar dapat diandalkan.... hebat, hebat, Tiu... " ucapnya dengan senyum puas.
Hari itu semua persoalan terselesaikan dengan baik. Aisyah benar, saat kita libatkan Allah dalam permasalahan kita maka seketika kita dapat menemukan jalan keluarnya. Seperti lentera terang di tengah kegelapan, tiba-tiba semua dapat terlihat dengan jelas.
Sepulang dari kantor Tiuga berhenti di toko bunga, dia memesan mawar putih dan merah dalam bentuk buket besar. Di kartunya bertuliskan.
terima kasih sayang untuk dukungan dan cintamu. aku mencintaimu, sangat mencintaimu...hari ini cintaku rasanya akan meledakkan jantungku karena sudah sangat besar cinta itu di dalam hatiku....
bunga ini adalah upayaku untuk meluahkan nya agar dia tidak meledakan dadaku...
dari:
suamimu yang sangat mencintaimu...
Sesampainya di rumah Tiuga langsung memberikan bunga itu pada Aisyah yang memang selalu datang menyambutnya tiap kali dia pulang. Aisyah menerimanya dengan penuh suka cita. Dia mencium bunga itu, semerbak wanginya semakin wangi karena yang memberinya adalah laki-laki yang sangat dia cintai.
Di rumah mereka di sambut Alfina...
__ADS_1
"cie... cie... yang lagi ke uwu'an... " goda Alfina.
Tiuga menatapnya dengan tatapan nakal.
"kasian yang masih jomblo...! " Seru Tiuga seraya menggandeng Aisyah ke kamar. Alfina hanya bisa bersungut kesal.
"Tadi hampir semua klien yang batalin kontrak sudah menjalin kerja sama lagi sama kita, termasuk pemasok bahan juga sudah mau kerja sama lagi! " cerita Tiuga dengan wajah sumringah, sedangkan Aisyah masih terpana dengan bunga dan puisi dari Tiuga. karena merasa tidak di gubris karena bunga pemberiannya, Tiuga pun mendekati Aisyah yang masih senyum-senyum dengan buket bunga di tangannya.
"kamu suka!?" tanya Tiuga seraya memeluk istrinya dari belakang, dengan pakaiannya yang sudah lepas kancing karena dia tengah bersiap akan mandi. Aisyah mengangguk.
"Ini pemberian bunga yang pertama kali aku terima. Ternyata gini rasanya...!! " serunya masih terpesona dengan bunga itu. Tiuga hanya tersenyum melihatnya. Baginya memberikan seorang wanita bunga sebagai ungkapan perasaannya itu sudah biasa. Ternyata istrinya benar-benar masih polos tentang cinta. Dia hanya tersenyum dengan tingkah istrinya yang tidak henti-hentinya memandangi bunga itu dari tadi.
"Aku pengen kita punya rumah sendiri, apa tabungan kita sudah cukup!? " tanya Tiuga pada Aisyah.
Karena memang semua uangnya ia serahkan pada Aisyah, dia hanya menyimpan sedikit sebatas keperluannya saja.
"kalau kamu mau rumah yang sederhana sudah lebih dari cukup, bahkan sudah cukup untuk membeli beserta perabotannya sekalian. Tapi kalau untuk rumah yang mewah, itu baru cukup untuk rumah dan tanahnya saja, untuk renovasi kita masih butuh menabung sedikiiit...lagi! " terang Aisyah dengan lembut. Tiuga tersenyum mendengarnya.
"kamu masih sering kasih kiriman buat adik kamu kan!? " tanya tiuga, karena memang selama ini Tiuga selalu meminta Aisyah mengirim uang bulanan untuk adiknya, karena jika untuk ibunya Aisyah tentu sudah lebih dari cukup. Aisyah mengangguk. dia senang mendapat suami yang juga menyayangi keluarganya.
" iya suamiku... sekarang waktunya kamu mandi lagi... udah bauk... " goda Aisyah sambil mengernyitkan wajahnya.
Selesai makan malam, mereka mengobrol bersama keluarga di ruang keluarga seraya menonton TV. Tiuga duduk bersebelahan dengan Adel, Tiuga tengah tiduran di pangkuan Aisyah. oma sudah berada di kamar sedangkan ibu nya sedang berselonjoran bersama Alfina yang lagi kumat manjanya. melihat itu timbul niat usil Adel. dia mengkode Tiuga agar ikutan.
"Mama yakin ini anak nggak ketuker di rumah sakit....mah!? " tanya Adel usil sambil menyentuh kaki Tiuga.
"bisa jadi mah... kan di rumah sakit banyak bayi... Salah ambil kali mamah waktu bawak pulang " tambah Tiuga yang makin memanaskan suasana.
"iiihhhh... apaan siiihhh.... Adel mata burung hantu, Tiuga kulit hantu...! " ejeknya balik seraya menendang Adel. dia tidak berani menyentuh tiuga karena dia tengah bersama Aisyah. dia menyebut Adel mata burung hantu karena mata Adel yang besar yang katanya mirip burung hantu. Tiuga yang berkulit putih bersih sering di samainya dengan hantu. karena kadang dia kesulitan mencari kekurangan fisik kakak-kakaknya ini.
"yeee... kita mah banyak yang bilang cakep.... kalo lo sering di tanyain 'alfinnya mana? ' di kiranya cowok..." seru Adel seraya tertawa bersama Tiuga.
Aisyah hanya tersenyum melihat tingkah suaminya dan kakak tirinya ini.
"Mas tiu juga sering di kira cewek! " teriak Alfina tidak mau kalah seraya menunjuk Tiuga.
"itu mah setelah mereka tau gue cowok... mereka langsung bilang 'iiihhh... cakep ya..!! " ucap Tiuga tidak mau kalah.
"mami... aku anak mami kan...!? " seru Alfina mulai khawatir jika benar dia bukan anak kandung ibu dan ayahnya. Tiuga dan Adel langsung tertawa mendengarnya
__ADS_1
termasuk Aisyah.
mama yang mulai kasian dengan Alfina, mulai membela Alfina.
"yaaa... iya lh, ini putri kesayangan mama yang paling cantik ini... dia mirip banget sama mama, papa...kalian berdua itu yang aneh... mirip bule semua, padahal di rumah ini orang indonesia tulen semua... " bela mamah membuat Alfina tersenyum senang karena ada yang membela.
Tiuga dan Adel masih saja terus menggodanya, sampai akhirnya ayah pun menjadi sekutu Alfina.
"Kalian berdua itu yang mirip siapa!? cek DNA kalian berdua, Kalau yang ini memang anak papa... liat niiihhh... muka kita copian kan...!!" Seru ayahnya menimpali seraya merangkul putri kesayangannya sambil menempelkan wajah mereka berdua. Alfina membalasnya dengan mencium wajah ayahnya. Itu membuat mereka berdua tidak berkutik.
"Yaaahhh... ketua gangster udah turun tangan... " seru Adel lemas. Tiuga dan Aisyah hanya tersenyum melihatnya seraya melempar bungkus kue kepada Alfina.
Sebenarnya kenapa Tiuga dan Adel terlihat berbeda dari Alfina, itu karena ibunya Tiuga yang orang jepang, sedangkan Adel terlihat seperti bule karena memang dia keturunan turki. Ayahnya berkebangsaan turki, ibu dan ayahnya bercerai waktu Adel masih kecil. Ibu Adel dan ayah Tiuga bertemu karena ibu Adel adalah sekretaris ayah Tiuga, sampai akhirnya mereka menikah.
Tidak terasa malam semakin larut, tampak semua sudah mulai mengantuk. Tiuga pun mengajak Aisyah untuk tidur. Malam semakin sunyi dengan semakin larutnya malam.
Setelah semuanya masuk kamar Tiuga dan Aisyah terlihat masih terjaga.
" Aisyah ... " panggil Tiuga pada Aisyah yang tengah membersihkan wajahnya di depan meja riasnya.
"hmmm... " jawab Aisyah yang memang lagi tengah sibuk membersihkan wajahnya.
" Aku kok ngerasa aneh ya di perut kamu, kayak ada yang gerak-gerak... sudah beberapa hari aku rasain. emang kamu nggak ngerasain apa-apa!? " tanya Tiuga penasaran.
"Sering sihhh... aku juga udah 2 bulan ini nggak dapet-dapet... " tambah Aisyah. "Apa aku hamil ya!? tapi aku nggak mual, atau apa gitu, makan juga kayak biasanya... " Terang Aisyah lagi. Tiuga langsung tersenyum mendengarnya.
"Apa nggak lebih baik di periksa ke dokter saja!? " saran Tiuga.
"hmmm... kamu sibuk nggak besok? kalo nggak...kamu temenin aku ke dokter yaa...!!! " pinta Aisyah.
"Bisa sih, tapi agak sorean, sebab pagi aku mau cek lokasi dulu...! "
"Yaudah kita pergi jam 3... Bisa!? " tanya Aisyah.
"Aku usahain ya... sebab nggak pasti juga, apa lagi sekarang. lagi banyak kerjaan gini... "
"Yaudah... " jawab Aisyah sekenanya. karena sudah terlalu larut mereka sudah sangat mengantuk. Mereka tertidur dengan saling berpelukan....
😃😃😃
__ADS_1
BERSAMBUNG...