Biarkan Ikhlas Menjadi Doa

Biarkan Ikhlas Menjadi Doa
DIA YANG KESEPIAN


__ADS_3

Keesokkan harinya Tiuga dan Daniel menemui restoran pak Anwar lagi. Mereka membicarakan tentang progres dekor interior restoran tersebut. Tiuga tampak bicara dengan pak Anwar. Daniel haaahhh... tetap dengan bakat alaminya, dia mengomeli pekerjaan para pekerja.


"Apa dia selalu begitu!? " Tanya pak Anwar seraya tertawa.


"Itu hobi nya dia pak. Nggak usah di hiraukan... mereka itu udah biasa juga dengernya... " Ucap Tiuga yang masih berkutat dengan desainnya.


Lalu mereka pun kembali membicarakan desain interiornya. Dan selesai dengan pekerjaannya Tiuga kembali bersama Daniel kekantor.


Tiuga tampak Curiga dengan tingkah Daniel akhir-akhir ini, dia sering berbalas pesan sambil senyum-senyum. Dia bahkan beberapa hari ini tampak melupakan game online nya. Saat Tiuga mendekatinya pasti dia seolah-olah menyembunyikan sesuatu dari handphone nya.


Tiuga berusaha untuk tidak ambil pusing karena kadang Daniel memang suka menggodanya. Sekedar ingin usil Daniel sering bertindak di luar nalar, mungkin saja ini salah satunya pikir Tiuga. Cuek adalah jalan ninja Tiuga bisa bertahan lama dengan sahabatnya satu ini.


Tapi timbul juga hal rasa penasaran Tiuga apa yang di lakukan Daniel. Dia mencoba mendekati meja Daniel saat Daniel ke kamar mandi dan meninggalkan handphone nya. Saat Tiuga mencoba mencoba membuka handphone itu ternyata ada pasword nya. Ini aneh, biasanya handphone Daniel tidak pernah di kunci dengan pasword. Tiuga semakin penasaran. Saat dari luar terlihat Daniel datang, Tiuga pura-pura mengambil berkas dari meja Daniel. Jadi Daniel tidak menaruh curiga. Tiuga kembali ke mejanya. dan kembali membuat laporan, tapi matanya terus mengawasi Daniel.


Sepulang dari kerja, Tiuga berniat ke ruko. Daniel juga ingin kesananya.


"Ngapain lo mau ikut. Kalo gue jelas ada istri sama anak, plus kakak gue disana. Terus lo mau apa!? " Ucap Tiuga yang mencoba mencari motif Daniel.


"Gue kan ikut desain ruko sama lo... Lupa yaaa... Ah lagian kan biasa juga gue ngintilin lo, kenapa baru sekarang lo butuh alasan gue ikutin lo... " Ucap Daniel seraya berjalan ke arah mobilnya. Tiuga masih terpaku beberapa saat lalu dia pun masuk ke dalam mobilnya.


Merekapun berangkat dengan mobil Masing-masing menuju tempat yang sama. Di sana sudah ada Aisyah yang menyambut Tiuga. Daniel yang cemburu pun langsung masuk meninggalkan pasangan bucin itu di luar.


"Idiiihh... Nggak punya hati nurani banget. Nggak liat di sini banyak jomblo bertebaran... " Seloroh Daniel sambil berlalu. Tiuga hanya melirik sekilas dengan tatapan tidak perduli.


( Susah kalo sama jomblo. Suka baperan... πŸ€¦β€β™€οΈπŸ€£πŸ€£) .


Di dalam sudah ada Adifa yang tengah bermain bersama Alfina. Adifa langsung merangkak ke arah Tiuga saat melihat ke datangan Tiuga. Tiugapun menyambutnya dengan pelukan hangat dan langsung menggendong nya. Adifa sangat manja jika ada Tiuga.


"Satu keluarga bucin semua...! " Seloroh Daniel lagi.


"Udah deh Dan... Lo kalo mau nikah aja... " Ucap Tiuga.


"Gue mau...tapi gue masih mengupayakan surat-surat restu dulu... " Ucap Daniel penuh arti. Tiuga menatap curiga ke arah Daniel yang tengah duduk di sebuah kursi. Sebentar kemudian Adel keluar.

__ADS_1


"Haiii... Semua ini kita udah jadi dengan kue perdana... " Ucap Adel seraya membawa berbagai macam donat dan sebuah Cake.


"Ini buatan kita tadi... Cobain deh gimana menurut kalian.... Kita tadi beli peralatan dapur dulu... makanya kita Coba-coba bikin kue... " Ungkap Adel.


Tiuga dan Daniel pun mencoba mencicipi kue nya.


"Gue nggak ngerti sih... cuman cakenya lembut, enak... " Ungkap Daniel.


"Lo Tiu gimana!? " Tanya Adel.


" Lumayan... Donatnya gue suka... Di goreng ya bikin donatnya!? " Tanya Tiuga.


"Iya... gimana...enak!? " Tanya Adel.


"Terlalu berminyak sih buat gue... " Ungkap Tiuga.


"Tadi yang hias donatnya Fina lo mas Tiu... " Ungkap Alfina bangga.


"Pantesan kayak krayon anak TK... " Celetuk Daniel.


Langsung membuat Daniel panik. Tapi Anehnya Adel juga panik.


"Eh... katanya mau tobat jadi ember bocor... Kan mau belajar jadi cewek dewasa... " Bujuk Daniel seraya mendekati Alfina.


"Ada apa Fina!? " Tanya Tiuga penasaran. Alfina segera di dekap oleh Daniel. Dan di bawa kabur. Itu membuat Tiuga semakin curiga. Apa lagi kelihatannya Adel juga terpengaruh dengan sikap salah tingkahnya. Dan diapun segera pura-pura kedapur agar tidak di introgasi Tiuga. Sekarang Tinggal Tiuga dan Adifa lagi. Sebentar kemudian datang Aisyah menghampiri. Tadi Aisyah ke atas sebentar mengantar barang Tiuga.


"Ada apa mas!? kok tadi kayaknya ada ribut-ribut gitu? " Tanya Aisyah penasaran.


"Tau tuh Fina sama Daniel... " Ucap Tiuga. Dan mereka pun masa bodo dengan Daniel dan Fina. Yang sepertinya tengah membuat kesepakatan dengan Alfina di dapur. Entah apa permainan mereka. Tiuga berusaha untuk tidak terlibat dengan permainan konyol mereka. Dia lebih memilih menikmati kue buatan istri dan kakaknya itu sambil mengobrol.


"Gimana mas!? Kebanyakan minyak ya!? Kalo soal hiasan itu Alfina tadi pengen bikin... " Ungkap Aisyah.


"Enak banget sayang... tapi minyak nya di kurangin lagi... Kalo aku nggak suka banyak minyak... " Ucap Tiuga.

__ADS_1


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu permisi


Mereka pun menoleh ke sumber suara ternyata pemilik toko sebelah.


"Eh buk... ayok masuk buk... " Sambut Aisyah.


"Waduuuhhh udah mulai sibuk yaaa!? " Tanyanya.


"Siap-siap aja buk. Ini tadi beli alat masak jadi sekalian nyoba masak... " Ucap Aisyah. "Oh ya... cobain buk... " Ucap Aisyah seraya menyodorkan kuenya.


"Waahhh... cantik ya jadinya... kayaknya donatnya ngembang banget ini... " Ucapnya. " Hmmm... lembut lagi... Waaahhh... bisa sukses kalo kayak gini hasilnya... "Puji ibuk itu.


" Aaamiin... Mudah-mudahan aja buk... " Ucap Aisyah mengamini. Tidak lama datang seorang gadis yang usianya hampir sama dengan Alfina. Dia mengetok pintu dan saat melihat ibunya dia langsung tersenyum.


"Eh... ayok sini masuk... " Ajak Aisyah. Dia pun masuk dengan malu-malu tanpa sepatah kata, hanya senyumnya yang terukir.


"Ini Dewi anak saya... Dia tuna rungu... jadi dia nggak bisa ngomong sama denger. Cuman dia paham bahasa bibir kita... Jadi kalo ngomong sama dia mesti dia lihat... kalo nggak dia nggak tau... " Terang ibuk itu.


Dia menatap Tiuga dengan tatapan kagum dengan mata berbinar. Tiuga pun tersenyum kepadanya dan melambaikan tangannya, disambut malu si gadis remaja itu.


"Dia disini nggak ada teman... Sebab kalo main sama temannya sering di tinggal, jadi sama saya, saya larang main keluar... Ini anak saya satu-satunya setelah putra pertama saya meninggal karena kecelakaan 4 tahun lalu... " Terangnya. Membuat Ibu itu kembali sedih mengenang putranya.


"Dewi main di sini saja... Ada Adifa sama Alfina juga... " Ucap Aisyah dengan sebelumnya menyentuh bahu Dewi dan dewi menoleh ke arah Aisyah sehingga dia dapat tau apa yang Aisyah katakan. Dia pun mengangguk sambil tersenyum.


"Dia suka melukis... Sekarang dia sekolah di SLB... " Terang ibunya lagi. "Dia sering ikutan kompetisi juga... kadang ke medan, ke bali, ke sumatra... Pokoknya keliling di bawa sekolahnya... " Terang ibunya.


"Bagus itu... Kamu bisa jadi pelukis hebat nanti... " Puji Tiuga. Dewi pun hanya tersipu.


Tidak lama datang Alfina, Adel dan Daniel dari dapur. Mereka membawa bolu yang baru matang. Dan mereka pun menyantapnya bersama. Tidak terasa hari semakin larut dan Adifa sudah lama tertidur di pelukan Tiuga dengan dot di mulutnya. Aisyah pun segera mengemasi barang-barang untuk pulang. Sedangkan Dewi dan ibunya juga sudah pulang sedari tadi.


"Kasian ya ibuk itu mas... Dia kehilangan putranya kayak kehilangan harapan satu-satunya... " Ucap Aisyah di mobil.


"Yaaa... Tapi kan Dewi juga masih ada... Mudah-mudahan nasib Dewi baik biar bisa jadi harapan orang tuanya... " Ucap Tiuga tulus. "Biar aja dia main ke sebelah... Kasian dia nggak punya temen... " Ucap Tiuga. Aisyah pun mengangguk. Tidak terasa merekapun sudah sampai. Mereka segera masuk kerumah untuk beristirahat.

__ADS_1


πŸšΆβ€β™€οΈπŸšΆβ€β™€οΈπŸšΆβ€β™€οΈ


BERSAMBUNG...


__ADS_2