Biarkan Ikhlas Menjadi Doa

Biarkan Ikhlas Menjadi Doa
PERMINTAAN MAAF


__ADS_3

Jalanan yang becek tadi pagi mulai mengering karena panas terik di siang hari. Tidak begitu sulit untuk di lalui tapi panas membuat mereka harus berjuang untuk sampai rumah.


Saat Asyik berjalan di tengah terik matahari yang menyengat. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di hadapan mereka.


"Mau kemana...Paman Ginanjar! " Sapa pemiliknya Masih di dalam mobil.


"Eh nak Faridz... ini baru pulang dari mancing...! " Sahut paman Ginanjar.


"Sekalian aja paman, Aku juga lewat sana... " Sahutnya.


Akhirnya merekapun naik mobil itu untuk pulang. Ini pertolongan yang sangat membantu bagi mereka Apa lagi bagi Tiuga yang tidak biasa berjalan jauh. Dia sudah tidak kuat, dan perutnya pun juga sudah mulai terasa sakit.


Paman Ginanjar duduk sebelah pemuda itu sedangkan Ayubi, Tiuga dan mamang Tejo di tengah dan Adi di belakang.


"Dapat banyak paman! " sapanya sambil nyetir.


"Lumayan lah buat jadi lauk di rumah... cari hiburan aja, sekalian bawak Ayah Difa keliling... " ucap paman menunjuk pada sosok Tiuga. Dia pun menoleh ke belakang. Dan menatap Tiuga yang di balas senyum sapa oleh Tiuga.


"Siapa paman!? " Tanya nya lagi.


"Suami Aisyah...! " terang paman Ginanjar santai.


Sedangkan raut wajah laki-laki itu langsung berubah. Dia kaget dan bercampur tidak percaya.


"ooo.. oh... Kapan mereka pulang, paman! " ucap nya berusaha menguasai keadaan.


"Sudah 2 hari...! " jawab paman Ginanjar. "Ini teman Aisyah dari kecil, sekarang dia tugas di polda Bandung.... " Terang paman Ginanjar. Tiuga mengangguk mengerti.


Sepanjang jalan paman Ginanjar dan pemuda itu tampak akrab mengobrol. sedang kan Tiuga sibuk menikmati pemandangan perkebunan yang asri. Ayubi dan Adi hanya diam mendengarkan obrolan mereka. Sedangkan mamang Tejo malah ketiduran.


Tanpa terasa mereka sudah sampai. mendengar Ada suara Ayubi yang baru pulang Aisyah pun keluar dia mendapati Tiuga yang baru turun dari mobil. Dia segera menghampiri Tiuga.


"Mas...! " Serunya menyambut Tiuga dengan langsung bergelayut di lengan Tiuga seolah-olah sudah sangat merindukan Tiuga yang pergi beberapa jam itu. Tiuga hanya tersenyum dengan tingkah manja istrinya seraya mengelus kepala Aisyah yang tengah memakai hijab panjang itu.


"Nggak mampir Faridz!? " Seru paman kepada pemilik mobil.

__ADS_1


"Nggak paman. lagi buru-buru... Lain kali saja! " jawabnya dari dalam mobil


Seketika Aisyah menoleh kaget. saat Aisyah dan Faridz bertabrak pandang mereka terlihat canggung dan Aisyah seketika berubah raut wajahnya. Dia tersenyum menyapa kearah Aisyah begitupun Aisyah. Tiuga menangkap gelagat aneh dari keduanya. melihat cara mereka saling menatap seolah-olah ada yang mereka pendam. Tiuga penasaran ada apa ini. Tapi dia berusaha berfikir positif. Jadi dia tidak mau ambil pusing, nanti dia juga akan tau fikirnya.


Merekapun segera masuk rumah. Tiuga langsung membersihkan diri dengan mandi setelah itu dia sholat Zuhur dan lanjut makan siang bersama paman Ginanjar, Adi, Ayubi dan mamang Tejo di meja makan. Karena mereka sudah capek tadi mereka pun makan dengan lahab. Mereka makan sambil mengobrol akrab dengan sesekali di selingi canda tawa. Tiuga tampak sangat senang dengan suasana kekeluargaan yang sangat kentara. Dia tidak merasa asing sebagai orang baru di keluarga ini. Aisyah senang dengan Tiuga yang gampang berbaur dengan keluarganya. Ayubi pun tampak sudah melupakan kesedihannya tadi, dia sudah kembali ceria seperti semula.


...***...


Malampun sudah menjelang. Selesai Maghrib semua berkumpul untuk sekedar berbincang-bincang di teras depan rumah yang cukup luas itu.



(bayangin aja rumahnya kayak gini... +- 😗😗)


Adifa yang baru pulang dari rumah uwaknya di sebelah, pulang dalam keadaan menangis. Mukanya yang putih seketika memerah. Saat melihat Tiuga seketika dia merentangkan tangannya seolah mengadu atas perlakuan tidak mengenakan yang dialaminya barusan.


"Sama uwak sarli di ketawain keras banget, yaa langsung takut lah Adifa.... makanya nangis..." lapor naisya.


"buuu.... buuu..." seru Adifa terisak. Aisyah pun segera menggendongnya.


"idiiihh... ngadu" Seru naisya sambil tertawa gemas.


"Cucu eyang pinter ngadu yaaa... Siapa yang nakal sayang!? " Seru ibu Aisyah gemas, sambil mengelus pipi Adifa yang tengah di peluk Tiuga itu.


"Tuu jangan nakal, nantik Difa aduin sama Ayah... ya nak.... " Ucap Aisyah dengan expresi gemasnya pada Adifa, juga berdiri di samping Tiuga.


Tiuga pun memeluk hangat anaknya yang seketika tangisnya pelan-pelan berhenti. Lalu datang Ayubi mengajaknya bercanda Adifa, Adifa pun langsung tertawa renyah di pelukan Tiuga.


Dimanapun dia berada Adifa selalu mampu menjadi sumber kebahagiaan dan keceriaan bagi sekelilingnya.


Ditengah ke hangatan Tiuga dan keluarga Aisyah tiba-tiba ada tamu yang datang.


"Ada yang nyariin mas Tiuga...! " seseorang datang memberitahu.


Tiugapun segera menghampirinya dengan masih menggendong Adifa. Aisyah pun mengikutinya karena penasaran siapa yang mencari suaminya malam-malam begini. Alangkah kagetnya Aisyah saat tahu siapa yang datang, dia langsung salah tingkah. Tiuga yang tidak tahu apa-apa hanya santai menghadapinya.

__ADS_1


" Ada apa!? " Tanya Tiuga.


Dia pun segera tersadar dari lamunannya.


"oh ini tadi jaket kamu ketinggalan di mobil... ! " Ucapnya seraya memberikan barang ter pada Tiuga. Tiuga pun mengambilnya dan menyerahkannya pada Aisyah. Aisyah segera berbalik untuk meletakkan jaket Tiuga ke rumah. Tapi belum sempat Aisyah melangkah pria tersebut segera memanggil Aisyah.


"Aisyah boleh kita bicara sebentar....!? " ucapnya seakan memohon. Aisyah pun menatapnya lalu menatap Tiuga seolah minta persetujuan Tiuga. Tiuga mangangguk menyetujui. Aisyah pun duduk di samping Tiuga.


"Mau bicara apa!? " Tanya Aisyah penasaran.


"Aak mau... mau... minta maaf sama kamu... " ucapnya terbata-bata.


Tiuga yang mendengarnya jadi bingung. Dari tadi siang mereka berdua terlihat aneh, sekarang malah minta maaf. Tiuga memandang Aisyah dan Faridz secara bergantian. Dia bingung apa yang sebenarnya terjadi. Sedangkan anggota keluarga yang lain tengah menguping dari dalam rumah.


"Aak nikah tanpa kasih tau kamu. Aak benar-benar nyesel Aik....Aak minta maaf sudah egois waktu itu....Nggak seharusnya Aak kayak gitu sama kamu... Sudah lama aak mau nemuin kamu, tapi kamu selalu menghindar. Mungkin ini waktu yang tepat buat aak minta maaf... " ucapnya tulus.


" Aik nggak pernah dendam kok a'. Aik menjauh karena nggak enak sama kanaya. Aik takut Kanaya salah paham... Aik sudah maafin aak jauh sebelum aak minta maaf. Jadi aak nggak perlu merasa bersalah...mungkin memang bukan jodoh kita...Liat sekarang...Aik sudah ada suami yang juga baik sama Aik. Aik nggak dendam a'... " ucap Aisyah sambil memegang tangan Tiuga seolah ingin menjaga perasaan Tiuga.


"Aak merasa sekarang aak di kasih karma sama gusti Allah, Sudah lebih dari 3 tahun aak nikah tapi belum di beri kesempatan memiliki keturunan. Kami sudah cek kesemua dokter terbaik yang ada mereka semua bilang kami sehat. Tapi nggak tau kenapa kami masih kesulitan mendapatkan keturunan. Aak kepikiran sama kamu... mungkin ini karena dosa aak dan Kanaya sama kamu, hingga kami di hukum begini... " Ucapnya berkaca-kaca.


"Nggak a', Aik nggak pernah doain yang buruk buat aak sama Kanaya...Aik sudah ikhlas, Ridho lillahita'ala...benar-benar ikhlas dari hati Aik.... Sedikitpun Aik nggak nyimpan dendam a'" Ucap Aisyah meyakinkan.


Sekarang Tiuga paham dengan keadaannya. Tiuga cukup kagum dengan keberanian Faridz dalam mengakui kesalahannya.


"Sudah lah Faridz, jangan di fikirin lagi. Sekarang kamu bisa tenang... Aisyah sudah maafin kamu. " Ucap Tiuga menengahi.


"Iya... terima kasih Aik... Aak bisa tenang sekarang. Beban aak selama bertahun-tahun rasanya sudah lepas... " Ucapnya lega.


Aisyah pun tersenyum mendengarnya. Sebenarnya permintaan maaf Faridz juga melegakan Aisyah dan keluarganya. Faridz cukup dewasa dan bijak karena berani mengakui kesalahannya.


Karena hari yang sudah cukup larut Faridz pun permisi pulang, Tiuga dan Aisyah mengantarnya hingga depan rumah. Tiuga melirik Aisyah, istri solehanya yang bijak sana. Dia mengelus gemas kepala Aisyah yang di sambut pelukan hangat dari Aisyah. Dia merasa pilihan yang tepat saat dia memilih Aisyah. Sedangkan Adifa malah tertidur pulas di pelukan Tiuga dengan empeng yang masih melekat di mulutnya dan merekapun segera masuk rumah.


🤧🙏🙇


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2