
Di kamar Tiuga tengah membaca buku. Entah iya memang tengah membaca buku itu atau dia hanya sedang mengusir kesepiannya. Tidak hanya buku yang dia baca. Musik pun tengah terputar di kamarnya, terdengar lembut dari luar kamar lagu 'jealous' milik Labrinth. Dengan jantung berdebar Aisyah membuka pintu berlahan...Tampak Tiuga tengah duduk bersandar di ranjang dengan buku di tangannya. Wajah itu, wajah yang begitu Aisyah rindukan, tengah menatapnya dengan tatapan penuh arti. Mata Aisyah tampak berkaca-kaca, dia berdiri terpaku di depan pintu kamar.
Wajah tampannya masih tidak berubah. Wajah itu masih selalu mampu membuat Aisyah terpesona. Matanya yang tajam, hidungnya yang kecil dan mancung, bibirnya yang merah, dan tubuhnya yang jenjang masih tetap terlihat mempesona walau pun sekarang tampak lebih kurus.
Tiuga yang menyadari kedatangan Aisyah, dia menatap penuh arti pada Aisyah. Dia tidak ingat pada Aisyah, tapi nuraninya ingin mendekati wanita itu. Dia seolah merasakan rindu yang berat saat melihat kehadiran Aisyah. Lagu yang di putar seakan menggambar kan keadaan mereka saat ini. Dekat tapi asing, rindu tapi tak dapat menyentuh, seperti asing tapi sangat dalam dan dekat. Tiuga terus menatap Aisyah, tapi dia masih tidak beranjak dari posisinya, dia seakan terpaku di sana.
Aisyah meneteskan air matanya. Dia berlahan melangkah kearah Tiuga, dia ingin segera mendekap lelaki itu ke kepelukannya. Matanya yang sendu seolah menggambarkan bahwa dia tidak dalam keadaan baik-baik saja. Tiuga terus menatap Aisyah yang berjalan kearahnya. Tatapannya tajam dan liar. Seolah berkata...aku ingin sendiri, pergi lah kalian semua.
Tapi belum lagi langkahnya sampai pada Tiuga. kakinya tersandung sesuatu. Aisyah melihat ke sekeliling, kamarnya begitu berantakan dan aneh. Ini bukan Tiuga yang dia kenal. Tiuga selalu suka yang rapi dan bersih.
Dia menatap Tiuga yang tengah duduk bersandar di ranjang, tatapannya aneh dan dingin. Yang dia lihat saat ini bukan lah Tiuga. Tatapan Tiuga selalu hangat dan penuh kasih sayang. Dan Tiuga yang di hadapannya sangat dingin dan asing. Pasti Tiuga tengah tersesaat saat ini.
Nuraninya berkata dia harus mengembalikan suaminya yang dulu. Yang Saat ini di lihatnya bukanlah suaminya. Dia pun secara naluri ingin membuat kamar ini seperti semula. Seperti sebelum dia dan Adifa pergi.
Aisyah menatap barang-barang aneh yang Tiuga susun sendiri, dari meja rias, kasur, lantai dan lemari. semua penuh dengan barang-barang yang tidak seharusnya.
Dia menatap Tiuga tidak percaya sekaligus bingung. Aisyah segera keluar mengambil barang-barangnya.
Baik lah Aisyah akan lakukan itu, membuat Tiuga mengingatnya lagi. Dia membuka lemari dan mengambil barang-barang yang tidak seharusnya dari dalam lemari dan mengeluarkannya. Aisyah mengambil kopernya dan menyusun bajunya dan Adifa di sana. Dia menyusun seperti susunan yang biasa dia lakukan. Tiuga menatap Aisyah penuh arti, dia hanya terdiam melihat Aisyah melakukan itu. setelah selesai Aisyah menatap Tiuga yang juga menatapnya.
"Begini seharusnya..." Gumam Aisyah dengan tatapan tajam. Aisyah menyeka air matanya. dan melanjutkan pekerjaannya.
Dia lanjut mengambil alat kosmetiknya. Dia membereskan semua barang yang tidak berguna itu dari atas meja rias tersebut lalu menyusun kosmetiknya dan barang-barang yang memang selalu ada diatas meja rias. Setelah selesai dia menatap Tiuga dan berkata.."Ini meja riasku... " Gumam Aisyah lagi dan dia menatap Tiuga yang masih tertegun di atas ranjang. Setiap kali Aisyah selesai membereskan dan meletakkan barang-barang nya, Tiuga merasa seperti susunan parsel yang berhasil di susun pada tempatnya.
__ADS_1
Aisyah kembali membereskan barang-barang yang berserakan di lantai. Dia segera keluar mengambil mainan Adifa yang sudah di simpan. Dia meletakkannya satu persatu seperti susunan permainan Adifa dan membawa Adifa kesana sekalian.
"Disini anak kita suka bermain... Ingat!!!" Ucap Aisyah lagi dan tangisnya mulai pecah tidak tertahankan lagi. " Kau mencari ini kan!? Lihat...semua sudah seperti semula... Apa kau ingat!? " Tanya Aisyah lagi. Seperti berteriak, dan berusaha menemukan Tiuganya dari mata itu. Tapi tatapan itu masih asing baginya. Dia terdiam, mungkin ini tidak berhasil.
Tiuga masih berusaha mengingat, sekelebat bayangan masa lalunya mulai muncul. Dia menatap ke sekelilingnya, ini tidak asing tapi itu membuat kepalanya pusing. Tiuga segera berdiri. Dia akan melangkah pergi dan Aisyah menahannya.
"Jangan pergi tanpa aku... " Ucap Aisyah menahan tangan Tiuga, dia mencengkramnya dengan kuat. "Ayo kita pergi sama-sama... Jangan tanpa aku lagi... " Ucap Aisyah. Dia menarik tangan Tiuga keluar kamar, Tiuga menatapnya bingung, tapi Tiuga juga tidak menolak. Entah kenapa genggaman tangan Aisyah terasa seperti sebercik cahaya bagi hatinya yang tersesat. Seretan Aisyah seakan akan membawanya kembali. Hatinya ingin dekat dengan wanita ini, wanita ini seperti menuntunnya mencari jalan kembali. Dia seperti menemukan bagian yang hilang darinya. Walau dia tidak ingat tapi nuraninya bicara dia lah yang di carinya berbulan-bulan ini. Dia mengikuti kemana Aisyah akan membawanya. Aisyah membimbing Tiuga naik mobil, walau tampak ragu akhirnya Tiuga mengikutinya juga.
Keluarga hanya bisa melihat heran apa yang tengah mereka berdua lakukan. Adelpun segera mengikutinya dari belakang dengan mobil yang berbeda.
Sepanjang jalan Aisyah terus menyeka air matanya. Dia harus mengembalikan suaminya. Hanya itu tekatnya. Walaupun bingung tapi Tiuga menikmati permainan susunan parsel ini. Dimana parselnya adalah ingatan Tiuga sendiri. Dia tahu wanita yang tengah bersamanya adalah wanita yang sangat penting baginya. Dia berharap wanita ini dapat membangunkannya dari mimpi buruk yang melelahkan ini.
Sampai lah mereka di tepi pantai. Pantai yang menjadi tempat kencan mereka pertama kali. Aisyah menatap Tiuga. Dia mengajak Tiuga menyusuri pantai itu. Mereka berjalan menyusuri pantai di sore hari seperti saat itu. Tiuga merasa seakan-akan dia tengah menyusuri masa lalunya. Setiap langkah membawanya ke waktu itu. Dia terus melangkah dan dia menatap Aisyah. Aisyah menggenggam tangannya dan terus membawa Tiuga menyusuri jalan tersebut.
"Ranga... Itu ranga... " Gumam Tiuga. Aisyah meggangguk keras.
"Terus lah berusaha mengingatku... " Gumam Aisyah dengan mata berkaca-kaca dan mengenggam erat kedua tangan Tiuga.
Tiuga terus menyusuri pantai tersebut. Dia menatap sunset di ujung barat yang berlahan akan tenggelam. Sinarnya yang jingga tampak cantik, ini membawanya semakin dalam menyusuri masa lalunya. Berlahan dia mulai menemukan kepingan-kepingan masa lalunya.
Dia menatap kursi panjang yang ada di tepi pantai tersebut. Aisyah pun duduk disana, dia menatap Tiuga yang masih berdiri terpaku, tatapan nya mulai hangat seperti Tiuga yang dulu. Aisyah sudah mulai menemukan suaminya kembali. ya...berlahan dia mulai berhasil membawa Tiuganya kembali. dia ingin Tiuga mengingat semuanya, semua tentang mereka.
__ADS_1
Aisyah tersenyum ke arah Tiuga. Tiuga menatap senyum itu dalam, mungkin kah ini yang dia cari selama ini. mungkinkah dia sudah menemukan jalan keluarnya dari kebuntuannya selama ini? Kepala Tiuga mulai pusing, kenangan masa lalunya seakan menghantam ingatannya. Dialog yang terjadi di sini, di pantai ini seakan-akan terngiang-ngiang di telinganya. Itu membuat dia merasa pusing dan tersiksa. Dia menatap Aisyah yang mulai buram di matanya. sebelum dia benar-benar tumbang dia sempat bergumam.
"Aisyah... " Gumamnya pelan. Dia ingat nama itu sekarang. Aisyah tersenyum mendengar namanya di sebut.
Dan BRUG...
Tiuga tumbang. Aisyah pun panik,dia berteriak minta tolong. untung dari tadi Adel sempat mengikutinya diam-diam dari belakang bersama Daniel yang kebetulan datang kerumah tadi.
Mereka segera memopong Tiuga ke mobil dan di bantu orang-orang sekitar pantai tadi. Mereka membawa Tiuga pulang kerumah.
Di rumah Tiuga segera di baringkan. Keringat dingin membasahi dahi Tiuga. Aisyah terus duduk di samping Tiuga. Dia menggenggam erat tangan Tiuga dengan tatapan cemas dan khawatir. Dia terus mengusap dahi Tiuga berharap Tiuga segera sadar.
Dokter datang memeriksa keadaannya. Dokter bilang tidak Apa-apa. Dia hanya shock saja. Itu mungkin karena kehadiran Aisyah yang tiba-tiba ada di hadapannya.
Sampai malam menjelang Tiuga masih belum bangun, Mungkin sekarang dia sudah tertidur. Aisyah masih setia menemaninya.
"Udah tidur itu mungkin suamimu, Aik... Kamu makan lagi, dari tadi kamu belum makan, nanti malah kamu lagi yang sakit...! " Ucap uminya.
Aisyah dengan berat hati meninggalkan Tiuga untuk makan mengisi perutnya yang tidak terasa lapar sama sekali, dia hanya takut sakit, nanti dia tidak bisa merawat Tiuga. Itu pikirnya. Sebelum pergi dia mengecup lembut kening Suaminya.
Hari ini hari yang mengharu biru bagi keluarga mereka. semua orang bahagia Aisyah kembali, tapi khawatir karena Tiuga pingsan dan masih belum bangun.
👫👫👫
__ADS_1
BERSAMBUNG...