Biarkan Ikhlas Menjadi Doa

Biarkan Ikhlas Menjadi Doa
MALAM PERTAMA


__ADS_3

Sesampainya di rumah mereka di sambut hangat.


"Dari mana penganten baru kita nih seharian keluyuran" ledek ayah Tiuga yang sedang duduk di ruang keluarga bersama oma dan ibunya.


"Keliling aja pah... tuh di beliin Aisyah martabak" Tunjuk Tiuga dan Aisyah langsung mengambil piring dan menyajikannya di atas meja.


"Waaahhh... Udah lama papa gak makan martabak" Sambut ayahnya dengan hangat.


"Oma suka ini, sering beli... yang di jalan dekat simpang lampu merah itu kan!?"


"Iya oma, banyak yang beli makanya kita beli juga" Terang Aisyah.


"Iya, memang rame, sudah lama mereka jualan, sudah turun temurun. Jadi sudah cukup terkenal martabak buatan mereka ini."


"Udah legend ya oma...! " Sambung Alfina sambil menyantap martabaknya dan di sambut tawa oleh yg lain.


"Adel mana, kok gak keliatan!? " Tanya Tiuga.


"Oh... dia lagi ada acara sama temen-temen nya tadi di jemput" Terang ibu Tiuga.


"Eh papa mau ngomong" Ucap ayahnya mulai serius.


Dia mengkode Tiuga agar segera mengikutinya. Tiuga pun paham. dia segera beranjak dari tempat duduknya dan segera mengikuti ayahnya. Yang lain hanya diam melihat Tiuga pergi. Tapi tampak raut penasaran Aisyah.


"Palingan mau di marahin dia habis mabok kemaren! " celetuk Alfina.


Aisyah pun paham sekarang. Dia diam sesaat dan kembali mengobrol dengan anggota keluarganya. Suasana akrab tampak terlihat, pembawaan Aisyah yang lembut dan ceria membuat dia mudah di sukai anggota keluarga Tiuga.


Tiuga masih mengikuti ayahnya, hingga sampai lah dia di sebuah ruangan. Ayahnya membukakan pintu diikuti oleh Tiuga. Itu adalah ruang kerja ayahnya. Ruangan yang rapih dan bersih ini berisi penuh dengan buku koleksi ayahnya yang tersusun rapih di dalam lemari kaca besar yang lebih mirip perpustakaan itu. Ada juga lukisan perang yang terpampang di atas meja kerja ayahnya. Meja kerja yang cukup besar itu pun terbuat dari kayu Jati, hingga menambah kesan klasiknya yang kentara.



Sekarang mereka berdua tengah duduk berhadapan di sebuah sofa panjang. Ayahnya yang duduk terlihat santai, tapi Tiuga tampak tegang dan penasaran.


"Kemaren itu kenapa kamu mabok-mabok...Haahh... Ada masalah? " Tanya ayahnya memulai pembicaraan.


Tadinya dia pikir ayahnya sudah lupa dan tidak akan membahasnya lagi. Dia menarik nafas panjang, kenapa juga ayahnya kembali menanyakan permasalahan ini. Padahal tadinya dia sudah cukup tenang ayahnya tidak menanyakan ini.


"Nggak kok pah, kemaren kebawa suasana bareng temen aja.." Ungkap Tiuga berusaha menyembunyikan sesuatu dan ingin segera mengakhiri pembicaraan ini.


"Nggak,nggak...Pasti ada apa-apanya ini... Bilang sama papa, kenapa? Apa ada hubungannya dengan Sherin itu lagi!? " Ucap ayahnya tidak percaya, dia yakin pasti ada sesuatu yang memicu tindak kan Tiuga kemaren.


"Aku udah putus sama dia pa... Nggak ada apa-apa.... Anggap aja kemaren aku khilaf, aku janji nggak gitu lagi kok" Tiuga mulai kesal.


Dan berusaha untuk menghindar. Tapi ayahnya masih tidak percaya. Dia tau betul karakter putranya saat ada sesuatu yang di tutupinya.


"Tiuga... " Itu nada yg menandakan ayahnya meminta kejujuran Tiuga, Tiuga paham betul dengan tekanan bicara ayahnya.


Tiuga pun menarik nafas panjang lagi. sekarang dia tidak bisa menghindar lagi. dengan agak terpaksa diapun jujur.

__ADS_1


"Oke, oke aku jujur.... " Ucap Tiuga mulai menyerah. "Pah... Aku baru putus sama Sherin, terus terang itu bukan masalah. Aku tau hubungan kami memang udah nggak ada yang bisa di pertahankan. Yang jadi masalah. Sherin itu orang yang selama ini suka cari klien buat aku, dari pembangunan rumah, restoran... Semua dari dia. Bukan aku mau manfaatin dia, bukan. Aku cuman takut saat aku putus sama dia itu akan berpengaruh buruk buat perusahaan, pah. Aku takut dia akan mempengaruhi klien yang lain yang sedang aku tangani saat ini. Karena rata-rata Sherin kenal mereka. Apalagi pamannya juga kerja sama kita. Nggak masalah kalau itu cuman aku, nanti kalau terjadi sesuatu di perusahaan pasti akan ada orang yang akan di PHK. Dan itu karena aku, pah. Itu buat aku ngerasa tertekan, orang lain bisa kehilangan pekerjaannya karena kecerobohan aku nantinya..." Terang Tiuga panjang lebar.


Ayahnya mulai paham yang menjadi permasalahan Tiuga sekarang. Dia mulai membenahi duduknya. Menatap lekat mata putranya.


"Nak...Gagal atau berhasilnya kita itu tergantung dari ketekunan kita dalam bekerja, keuletan, dan kualitas kerja kita. Bukannya orang lain... Sherin memang sering kasih kamu klien, tapi kalo hasil kerja kamu jelek juga kamu akan kehilangan klien kamu. Kalo sampai sekarang kamu sukses itu bukan semata-mata karena Sherin, tapi juga kamu.... Hasil desain kamu yg bagus... Percayalah dengan kemampuan kamu sendiri... Hilangkan pikiran kamu kalau Sherin itu penentu keberhasilan kamu...Sekarang kamu udah tingkatan apa? "


"Madya..." Ucap Tiuga singkat.


"Nah itu artinya kamu memang berbakat dan Sherin hanya membantu kamu menemukan orang yang tepat saja. Dan mungkin orang yang jadi klien kamu itu puas dengan hasil kerja kamu, makanya dia kasih tau lagi temannya yang lain maka jadi lah kamu di kenal sebagai Desainer Interior.... Yaaa... Memang kebetulan yang lebih banyak tau itu orang-orang yang dari lingkungan Sherin. Tapi bukan berarti semua berkat Sherin itu juga berkat kerja keras kamu... Intinya....rejeki, maut itu tuhan yang atur. Papah cuman gak suka kamu mikir kalo sampek kamu putus dari Sherin nanti karir kamu hancur. Itu salah nak, jangan sekali-kali menggantungkan hidup kamu sama orang lain... Seolah-olah kamu pergi pagi pulang malam kerja itu nggak ada artinya... Itu kerja keras kamu. Papa sering dengar kamu kerjanya rajin dan bagus..." Terang ayahnya panjang lebar, itu membuka pikiran Tiuga juga, dia lebih percaya diri sekarang.


"Makasih pah, buat nasehatnya! " Ucap Tiuga seraya tersenyum senang.


"kamu itu anak papa, tentu papa harus nasehatin kamu kalo kamu salah jalan" ucap ayahnya seraya menepuk bahu anaknya sambil tertawa kecil.


"Oh...Ya gimana kamu sama Aisyah, sudah sedekat apa? apa kira-kira dalam waktu dekat ini papa sudah bisa nimang cucu haahhh... " goda ayahnya. yang juga penasaran dengan perkembangan hubungan anaknya dan menantunya itu.


"Tau ah... ikutin gimananya dia aja nantik lah pah" Ucap Tiuga pasrah sambil menyandarkan tubuhnya pada sofa.


"Yaaa ampuuunnn Tiu, terus kamu mau nunggu dia yang duluan? Ya laki-laki lah, deketin pelan-pelan, ajak ngobrol dulu... Cari tau tentang satu sama lain. Nah....Tadi itu bagus tuh ajak jalan deketin pelan-pelan, kan jadi cair suasananya" Nasehat ayahnya. " sama Sherin aja kamu berani semua, sampek papa yang malu liatnya. Di tempat umum lagi..." Sontak membuat Tiuga kaget. karena dia tidak pernah mempertemukan ayahnya dengan Sherin.


"Kapan papa liat aku sama Sherin!?" Sontak membuat Tiuga bangkit dari sandarannya dan menatap ayahnya kaget.


"Waktu di kafe di mall, dempet kali duduknya, gak ada malunya dengan orang-orang yang lagi ngeliatin. Nah ini sama istri sah masak malu. " Sahut ayahnya seraya menyulut rokoknya.


"Sherin beda sama Aisyah, pah! " Ucap Tiuga.


"Yaaa... Sama aja kalo sudah di kamar... Kamu nya aja yang pengecut " Ungkap ayahnya sambil menghirup rokoknya.


Ayahnya hanya tertawa melihat tingkah anak kesayangannya itu.


Di kamar Aisyah baru habis mandi. Rambut nya yang basah segera di keringkan nya dengan Hair dryer. Tiuga menatap Aisyah dan ingat ucapan ayahnya. Kenapa dia malu dengan istri sahnya, tapi sangat berani dengan pacarnya.


"Kenapa? " Tanya Aisyah yang membuyarkan lamunan Tiuga. Dia melihat Tiuga menatapnya dari tadi melalui cermin di hadapannya.


"hmmm... nggak. cuman capek aja... , yaudah aku mau mandi dulu..." ucap Tiuga langsung menuju kamar mandi.


Saat keluar ia mendapati Aisyah sedang terbaring dengan handphone di tangannya dia sedang melihat-lihat hasil fotonya tadi bersama tiuga.


"lagi liat apa? " tanya Tiuga seraya mendekati Aisyah.


"Nggak, nih liat foto tadi... seru yaahh... aku seneng... itu tadi kencan partama aku, dan sama suami aku" ungkap Aisyah sambil tersenyum bahagia.


Pelan Tiuga mendekati Aisyah hingga bahu Aisyah menempel di dada Tiuga karena Tiuga yang juga ingin melihat fotonya tadi.


"Aku manis juga yaa... " seru tiuga di sambut tawa kecil aisyah karena merasa lucu dengan sikap narsis Tiuga.


"Istriku juga cantik... " bisik Tiuga ke telinga Aisyah ... sontak itu membuat Aisyah kaget dan membuat jantungnya berdetak kencang. Dia menatap Tiuga yang di tatap balik oleh Tiuga, pelan-pelan Tiuga mendekatkan wajahnya kewajah Aisyah, secara reflek Aisyah menggigit bibirnya karena malu, dan Tiuga pun segera memegang dagu Aisyah. Dan mengangkatnya hingga sejajar dengan wajahnya.


"Bolehkan!? " Tanya Tiuga meminta persetujuan Aisyah.

__ADS_1


"Hmmm... ! " gumam Aisyah mulai tidak bisa menguasai dirinya.


Kini tiuga paham maksud Aisyah, dia segera meredupkan lampu kamarnya bahkan hampir mendekati gelap. Dengan senyum penuh arti dia mendekati Aisyah, pelan-pelan bibir mereka mulai bersentuhan dan Tiuga memiringkan wajahnya seraya memejamkan matanya, Aisyah hanya bisa meremas spray tidak tau apa yang harus di lakukannya. Dia juga memejamkan matanya. menyerahkan dirinya seutuhnya, pelan Tiuga membaringkannya, tapi secara reflek dia menolak saat Tiuga melepaskan pakaiannya, dengan lembut Tiuga meyakinkan Aisyah. Dengan tatapan hangatnya yang meluluhkan. Hingga dia setuju dan mengikuti permainan. Ini pertama kali bagi Aisyah tapi tidak baginya. Dia membimbing Aisyah agar dapat menikmatinya sebagai pengalaman menyenangkan. Dia menyentuh dengan lembut, hingga Aisyah tak merasakan ini yang pertama. Dia membuat Aisyah menikmatinya malam ini bersamanya. Hingga Tiuga rasa Aisyah sudah siap dan


Akhirnya malam inipun datang juga, malam yang ia nanti-nanti selama ini. Dia menyerahkannya dengan lelaki yang seharusnya. Saat dia membuka mata dia tahu dia sudah menjadi istri Tiuga seutuhnya. Tiuga tersenyum dan Aisyah menangis haru. dia sangat bahagia begitupun Tiuga. Dia seperti mendapat bidadari surga beristrikan seorang Aisyah, perempuan soleha yang sangat lembut. Dan juga sangat di sayanginya dan keluarganya. Malam itupun berakhir dengan indah bagi mereka.


Malam itu Aisyah tertidur di pelukan Tiuga sepanjang malam. Tubuh Tiuga yang wangi menjadi penenang tersendiri bagi Aisyah, pelukan lelaki ini membuat nya nyaman hingga dia meringkuk seperti anak kucing yang kedinginnan di pelukan Tiuga semalaman.


...***...


Paginya tidak seperti biasa, Aisyah tidak ikut membantu di dapur. Dan juga tidak ikut sarapan. Tiuga pun pergi kerjanya pun tergesa-gesa. Itu membuat ibu Tiuga penasaran, tumben menantunya tidak membantunya hari ini menyiapkan sarapan, biasanya dia yang paling cekatan.


Di dapur ibu dan oma sedang sibuk mempersiapkan masakan, tapi ibu tiuga masih belum tenang karena sudah pukul 9 Aisyah masih belum turun juga, apa lagi tiuga tumbenan juga telat.


"Buk, kok Aisyah gak keluar-keluar yaaa dari tadi!? " ucap ibu bertanya dengan oma.


"Mana ibuk tau, Tiu juga tumben-tumbenan dia juga telat. Coba kamu cek ke atas, apa terjadi sesuatu sama mereka. berantem atau apa, dia kan di sini masih baru, masih malu dia jujur kalo nggak di tanyain... " ucap oma. Ibu Tiuga pun segera menuju kamar Tiuga dan Aisyah.


Sesampainya di depan kamar dia mencoba mengetuk pintu, tapi tidak ada jawabannya. akhirnya dia memutuskan untuk membukanya sendiri. Dan dia kaget saat mendapati Aisyah tengah mengganti spray dan selimut yang baru saja di ganti kemaren. Aisyah pun terlihat panik, seperti ingin menyembunyikan sesuatu.


"mamah, ya mah... maaf aik nggak denger tadi.... " ucap Aisyah segan. tapi ibu lebih fokus ke alasan Aisyah mengganti spray mendadak begini.


"kenapa di ganti aik!? kan, habis mama ganti kemaren... " Ucap ibu penasaran.


Aisyah tampak gelagapan untuk menjawabnya.


"Itu ma... itu... ketumpahan minuman semalam...! " ucap Aisyah berbohong. Dia yang tidak biasa berbohong malah membuat ibu Tiuga semakin curiga. Dia mengecek selumut dan spray. Aisyah pun semakin panik. Tanpa sengaja ibu menemukan bercak darah. Dia mulai khawatir, apa mereka bertengkar hingga salah satu berdarah. Apa mungkin Tiuga menampar Aisyah hingga berdarah pikir ibunya, tapi Aisyah tampak baik-baik saja. Dan Tiuga bukan tipe laki-laki kasar tidak mungkin dia berani menampar Aisyah.


"Ini darah yaaa...!? " Tanya ibu penasaran. Aisyah mengangguk pelan.


"Kamu bertengkar dengan Tiuga sampai berdarah? Apa Tiuga nampar kamu!? " Tebak ibu. Aisyah menggeleng dengan keras.


"Bukan, bukan gitu mah... itu... itu...!? " Ucap Aisyah terbata-bata. Sambil garuk-garuk bingung harus menjelaskannya bagaimana kepada mertuanya. Sedang kan ibu mertuanya tidak kalah bingungnya lagi. "Itu semalam... Aku... Sama Tiuga... kita... itu... " Ucap Aisyah masih tidak bisa menjelaskannya, sungguh berat lidahnya untuk mengatakannya dengan gamblang. Tidak ada kata yang tepat yang bisa ia temukan. "itu... mah... " Jelas Aisyah tidak jelas. Tiba-tiba ada Adel yang entah sejak kapan ada di depan pintu kamar mereka.


"Mereka habis ngelakuinnya semalem. terus itu darah Aisyah mah... Masih nggak paham!? " Seru Adel santai.


Sedangkan Aisyah semakin malu saja di buatnya. Dia menggigit bibirnya. Seraya menatap mertuanya dan kakak iparnya, lalu menunduk malu. Dan mertuanya seolah-olah seperti mendapat hidayah mendengar ucapan Adel. Dia pun membelalakkan matanya, dia mulai paham sekarang.


"Ooohhhh... Maaf sayang, mama tadinya fokus kalo kalian berantem aja... Mama nggak kepikiran sampe kesana.... " Ucap ibu sekarang baru paham. Dia tertawa sejadi-jadinya, sedangkan Aisyah hanya malu.


"duuuhhh... mama ku lama banget nyampek sinyalnya... " Ucap Adel. Yang ikutan kesal juga.


"Maaf... Maaf... Sayang. Ok ini biar mama yang bawak ke bawah yaaa. Maaf sayaaang... " Ucap ibu Tiuga mencoba menguasai dirinya, dan memeluk menantunya itu. Walau dia masih tertawa, menertawakan dirinya yang lama sekali membaca situasi. Lalu dia pun beranjak turun sambil membawa, selimut dan spray itu ke bawah. Sedangkan Adel malah penasaran dengan Aisyah.


"Gimana..., gimana.... ceritain donk...!!!" Seru Adel lalu berlari menghampiri Aisyah yang masih malu.


"Apaan sih mbak... " Ucap Aisyah malu-malu.


"Ah... si kampret Tiu emang beruntung... " Goda Adel sambil merangkul lengan Aisyah yang wajahnya masih merona merah.

__ADS_1


🙈🙈🙈


BERSAMBUNG...


__ADS_2