Biarkan Ikhlas Menjadi Doa

Biarkan Ikhlas Menjadi Doa
MENDEKAP BAYANGMU


__ADS_3

Aisyah sudah hampir satu bulan Di Bandung. Adel dan ayah Tiuga masih intens menghubunginya dan Adifa. Tapi mereka tidak pernah memberi tahu keadaan Tiuga yang sebenarnya. Mereka tidak ingin Aisyah bertambah khawatir.


Siang itu Aisyah tampak bercengkrama bersama keluarganya di teras. Orang-orang sudah mulai mempertanyakan keberadaan Tiuga. Karena mereka heran kenapa Aisyah pulang sendirian dan lama.


Salah satunya teteh Sri yang memang jualan gado-gado di depan rumah Aisyah, tepatnya di seberang jalan. Kebetulan hari itu Aisyah memesan gado-gado. Dan dia minta di antar kerumahnya. Dengan langkah terburu-buru dia mengantar pesanan Aisyah. Sesampainya disana Aisyah langsung menyambutnya.


"Eh...kemana suami kamu yang ganteng itu!? Kenapa nggak pulang sama dia? " Tanya nya pada Aisyah. Aisyah hanya tersenyum tipis.


"Dia lagi sibuk teh... Makanya kita pulang berdua aja... Nanti dia nyusul kita kesini...! " terang Aisyah seperti sebuah harapan. Harapan bahwa Tiuga akan benar-benar menjemputnya.


Ya...Dia berharap Tiuga segera menjemputnya. Tapi harapan hanya lah harapan. Setiap kali ada mobil yang berhenti depan rumahnya Aisyah dengan segera akan berlari keluar berharap itu adalah Tiuga. Dan dia selalu menelan pil pahit saat dia tahu itu bukan Tiuga. Uminya melihat itu, dia merasa kasihan kepada putrinya.


"Pulang lah nak... Kalau kamu memang merindukan suamimu... Yang kamu lakukan ini bukan tindakkan yang benar. Kamu pergi tanpa izinnya... Apa lagi dia dalam keadaan sakit saat itu, seharusnya kamu mendampingi dia, bukannya malah pergi begini" Nasehat Umi nya.


Aisyah hanya terdiam. Dia juga ingin pulang tapi dia khawatir dengan Sonia ibu Tiuga. Apa Sonia mau menerimanya. Bukankah dia mengungkapkan kebenciannya pada Aisyah hari itu. Dia mengatakan penyesalannya menjodohkan dia dan Tiuga. Mengingat hal itu membuat Aisyah merasa sedih dan menderita.


Tapi Tiuga tidak pernah menghubunginya barang sekali. Apa Tiuga juga membencinya? Mengingat hal itu membuat Aisyah tanpa terasa meneteskan air matanya. Ini juga yang membuat umi Aisyah agak malas membahas tentang Tiuga, Aisyah selalu menangis bila menceritakan tentang Tiuga.


***


Di sisi lain Tiuga tampak semakin merana. Dia berdiam diri di taman belakang rumahnya. Dia duduk disana sendirian di sebuah gazebo sambil memandang ikan yang tengah berenang riang di kolam kecil didekat gazebo tersebut.



Dia menatap dengan tatapan yang hampa. Dia mencoba mencari tahu tentang kegelisahannya. Dia merasa sangat tersiksa, tapi tetap saja dia tidak dapat menemukan penyebabnya.

__ADS_1


Tampak dari dapur Sonia melihat Tiuga yang tengah duduk sendirian. Tiuga memang sering menyendiri sekarang. Apa lagi semenjak dia tidak bekerja lagi, Tiuga lebih banyak menghabiskan waktunya sendirian seperti itu. Saat akan di dekati dia akan pergi, seperti merpati liar yang sulit untuk di dekati.


Hati sonia sakit melihat keadaan anaknya yang semakin tidak karuan pasca kecelakaannya dan kepergian anak istrinya. Seharusnya dia tidak begitu pada Aisyah saat itu, dia selalu menyesalinya. Tapi egonya menuntut dia menutupi perasaan yang sebenarnya. Kenapa Aisyah pergi begitu lama, apa dia benar-benar ingin berpisah dari Tiuga karena ucapannya. Ahhh.... Sonia benar-benar menyesal sekarang, bukan ini yang dia mau. Tapi saat itu dia kesal sekali pada Aisyah yang selalu meragukan Tiuga.


Tiba-tiba Adel datang dan mengagetkan Sonia yang tengah masak di dapur. Seketika lamunan Sonia buyar.


"Lihat mah... Tiuga merindukan anak dan istrinya..." Ucap Adel mencoba membujuk ibunya. "Mah... Kita jemput Aisyah ya....!? Apapun yang terjadi pada Tiuga, biar lah tuhan yang maha tahu segalanya. Asal sekarang Tiuga bisa bertemu dengan anak istri yang dia rindukan.... Adel nggak kuat liat Tiuga kayak gitu tiap hari... " Tambah Adel. Sonia mengangguk sambil tersenyum.


"Makasih mah... " Ucap Adel sambil memeluk erat ibunya.


Adelpun segera menelpon Aisyah.


"Assalamu'alaikum Aik.... Kamu lagi apa!? " Tanya Adel ramah melalui sambungan telfon.


"Waalaikumsalam kak... Nggak... aku lagi ngobrol sama umi... Apa kabar mas Tiu, Kak...!? " Tanya Aisyah dari seberang sana.


"Aik... Apa kabar mu nak....!? " Ucap Sonia yang langsung pecah tangisnya. Aisyah tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia pikir ibu mertuanya sangat membencinya, kenapa sekarang dia menanyakan kabarnya?


"Baik mah.... " Ucap Aisyah yang tidak dapat menahan harunya. "Mah...!?Aik kangen semuanya... Aik pengen pulang... Aik kangen mas Tiu...Aik pengen ketemu dia...Apa boleh Aik pulang!? " Tanya Aisyah yang sudah tidak tahan lagi. Sontak itu membuat Adel dan Ibunya saling pandang. Mereka pun tersenyum.


"Boleh sayang... Tentu boleh... Ini rumah kamu, keluarga kamu, Memang seharusnya kamu disini... Nanti kami akan jemput kamu sama Adifa ya... Mamah kangen Difa..." ucap mama yang akhirnya tidak tahan. Mereka menangis terharu.


Sedangkan Tiuga masih di Gazebo, dia duduk di pinggir kolam sedang memandang ikan koi yang tengah berenang riang. Ikan itu terlihat bahagia walaupun hidup di kolam kecil. Mereka terlihat puas walau hanya berputar-putar di kolam kecil itu. Apa karena mereka memiliki apa yang mereka ingin kan, mengingat setiap tahap di hidup mereka secara detail. Tidak seperti dia, yang bahkan tidak bisa mengingat apa yang terjadi dengannya, dia tersiksa sendiri dengan perasaannya. Apa dia kurang bersyukur atau memang ada hal penting yang dia lupakan. Kenapa keluarganya tidak menceritakan apapun tentang masa lalu yang dia lupakan.


Tiuga terus berfikir dalam diamnya. Semakin dia berfikir dia semakin rindu, rindu untuk siapa? dia tidak tahu. Dia bisa gila jika terus begini. Tiuga membentur pelan kepalanya di tiang Gazebo tersebut, berharap dia bangun dari mimpi buruk ini. Dia tertunduk putus asa tidak tahu apa lagi yang harus ia lakukan.

__ADS_1


Setelah puas diapun kembali ke rumahnya. Di dalam sudah ada Adel dan ibunya yang menyambutnya. Tiuga tidak perduli dengan mereka. Tiuga berjalan dengan cuek.


"Kayaknya dia marah, mah... " Ucap Adel.


"Kenapa emangnya? " Tanya Sonia. Adel hanya mengangkat bahunya tanda juga tidak tahu.


"Dia aneh sekarang... Lebih mirip kayak anak kecil. Kadang serakin barang di kamar. Numpukin barang di lemari, bolak-balik ke meja makan. Waktu mama tanya dia mau makan apa, dia pergi... " Ucap ibunya.


"Dia berusaha mengingat Adifa dan Aisyah mah... Mama nggak ngerti yaaa!? dia numpukin barang di lemari karena dia merasa dalam lemarinya dia seharusnya ada pakaian Aisyah, di meja rias seharusnya ada make-up Aisyah, di kamar seharus nya ada mainan Adifa, di meja makan seharusnya ada masakan Aisyah... kemaren kita pulang dari terapi dia nangis di mobil gara-gara liat anak tetangga lagi di gendong ayahnya... Mah... Tiuga tersiksa... "Terang Adel.


" Mama jahat ya Del... "Ucap ibunya seraya menangis dan menunduk.


" Kita bawak Aisyah dan Adifa segera pulang mah... " Jawab Adel dan memeluk ibunya.


"Mama pengen mereka di sini sekarang Del... Mama nyesel... " Ucap ibunya seraya menyeka air mata nya.


...***...


Di sisi lain Aisyah mendekap dan mencium pakaian Tiuga karena sangat merindukannya. Dan Tiuga mengingat Aisyah dengan bayangan samarnya di kamar. Lalu mereka sama-sama menangis di tempat yang berbeda dengan alasan yang sama. Ia itu RINDU.


"Aku kangen kamu mas... " Bisik Aisyah semakin erat memeluk pakaian Tiuga seolah itu adalah Tiuga yang tengah bersamanya. Dan dia pun menangis lagi.


Sedangkan Tiuga hanya bisa terisak dan tertunduk tanpa tahu alasannya. Dia hanya bisa menikmati sakitnya sendirian. Dan berharap tuhan segera membangunkan dia dari mimpi ini, sekali lagi Tiuga tidak bisa menerima kenyataannya.


🤧🤧🤧

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2