
Hari ini Tiuga dan Aisyah bersiap-siap akan ke Bandung. Mereka sibuk mengemas barang-barang mereka untuk persiapan keberangkatan mereka besok. Kamar yang biasanya rapi sekarang malah mirip kapal pecah karena mereka sedang berkemas.
Ibu Tiuga tampak keberatan dengan rencana Tiuga dan Aisyah, karena dia takut berpisah dengan Adifa. Cucu kesayangannya. Bayi cantik yang suka tertawa itu akan membuat siapapun yang melihatnya akan jatuh cinta. Matanya besar yang bulat. Rambutnya yang mulai panjang sering di pakeein bandana oleh Adel. Bagi adel Adifa sudah seperti boneka hidup baginya, apa lagi Adifa anak yang anteng tidak rewel.
Alfina, setiap pulang sekolah dia pasti ke kamar Tiuga untuk bermain dengan bayi 8 bulan itu. Adifa pun selalu tertawa setiap kali melihat Alfina datang.
"Aduuh... nenek nggak bisa sayang... Ayah kamu jahat banget bawak kamu pergi... " Seru ibu Tiuga yang seperti akan menangis .
Tiuga hanya tertawa mendengar di sebut jahat oleh ibunya sendiri. Adifa yang sedang asyik bermain di atas ranjang di kerubungi oleh anggota keluarga yang keberatan dengan kepergiannya ke Bandung.
Tiuga terus membantu Aisyah menyiapkan pakaian Adifa, yang bawaannya seperti akan pindahan.
"Banyak banget yang di bawak!? kalian tuh liburan atau mau pindah ke Bandung?" Seru Adel.
"Mbak Aik, tinggalin baju Adifa yang belum di cuci ya buat aku. Jadi jimat kangen... " Seru Alfina seraya mencubit lembut pipi Adifa yang tembem.
"Iya tante Fina... " Seru Aisyah seraya mengusap lembut kepala Adik iparnya.
"Aaahh... nggak ada lagi yang bikin tante semangat pulang sekolah... huuu.... " ucap Alfina sedih lalu memeluk keponakan kesayangannya.
Sedangkan Adifa hanya tertawa kegirangan. Dia yang masih bayi tidak tau apa yang akan terjadi. Adifa ibarat tuan putri di rumah itu, semua orang mengenugrahinya dengan cinta kasih, terutama Tiuga. Dia sangat protektif dengan bayi kecilnya. Dia selalu marah kalau ada orang asing yang akan mencium Adifa atau menggendongnya. Hingga bayi itu sangat jarang di bawa keluar kecuali bersama ibu dan ayahnya.
"Ini bajunya Adifa udah semua... Aku tarok mobil yaa... " Ucap Tiuga pada Aisyah dan di sambut anggukan setuju oleh Aisyah.
Aisyah masih sibuk membereskan barang-barang yang lain. sebentar kemudian Tiuga sudah datang.
__ADS_1
"Eh Tiu... Di Bandung ntar pasti banyak yang pengen pegang... pengen gendong... pengen bawak pulang anak lo... " ucap Adel sambil bercanda dengan Adifa, hingga Adifa terkekeh tertawa. " Siap-siap aja lo... " sambung Adel lagi. Sontak itu membuat Tiuga kepikiran. Dia menatap Aisyah, mereka pun beradu pandang. Lalu Aisyah tersenyum menyadari kekhawatiran suaminya.
"Nggak papa... Kan sesekali pulang. Nantik Adifa biar aku yang jagain....Kamu tenang aja... " Ucap Aisyah menenangkan seraya mencium bahu suaminya. Tiuga pun membalasnya dengan senyuman.
" Yaaa kali kalian berani negur semua orang... " Ucap Adel yang sangat bernafsu membatalkan kepergian mereka. Tiuga segera menyadari itu.
" Jangan manas-manasin gue Adel... Nggak mempan." Seru Tiuga.
"Nggak manas-manasin, gue ngomong fakta Tiuga Alzam... " Ucapnya meyakinkan.
"Bodo.... " Seru Tiuga lagi lalu lanjut berkemas-kemas. Sedangkan Adel tersenyum puas, ibu dan Alfina tidak begitu peduli karena mereka sibuk bermain bersama Adifa. Hanya Aisyah yang melihat dengan senyum tingkah kakak beradik itu.
Bagi Aisyah begitu langka saudara tiri tapi sangat akrab seperti saudara kandung. Bahkan Adel adalah sosok kakak baru yang sangat akrab juga dengan Aisyah, Aisyah bisa menceritakan apapun padanya tanpa harus takut dia akan mengadu kepada ibu ataupun Tiuga. Seperti yang pernah oma bilang, Adel adalah sosok yang pandai menyimpan rahasia, cuman dalam hal tertentu dia sangat lantang bersuara. Sepertinya Adel Adalah sosok yang berjiwa sportif, dia bisa bersikap sesuai keadaan.
...***...
...***...
Aisyah mendapati dua orang yang sangat di cintainya tengah terlelap saat masuk kamar. Tiuga tertidur dengan Adifa yang tengah meringkuk di dadanya. Mereka terlihat sangat manis dengan moment seperti itu.
Aisyah segera memindahkan Adifa agak menjauh dari Tiuga, dia takut nanti Tiuga tanpa sadar menindih Adifa, tapi saat Aisyah mencoba memindahkan Adifa, Adifa malah semakin erat memeluk Tiuga.
"Difa sayang, nantik Difa ketindih sama ayah nak. Geser dikit yaaa... " Bisik Aisyah, Tapi tetap saja dia gagal memindahkan Adifa.
"Nggak papa aku inget kok... " Gumam Tiuga dengan mata yang masih tertutup. Ternyata Tiuga menyadari itu semua. Aisyah menatap Tiuga yang bicara seperti orang mengigau tapi sebenarnya dia terbangun, hanya malas membuka matanya. Tiuga yang masih memejamkan matanya mempereratkan pelukannya pada putrinya seraya tersenyum bahagia melihat putrinya yang ingin tidur di pelukannya selalu.
__ADS_1
Aisyah pun menyerah dia membiarkan Adifa tidur seperti itu, dia pun akhirnya ikut tertidur. Sebelum tidur dia mengecup kedua orang tercintanya. Dan membenahi selimut keduanya.
Malam semakin larut dan mereka semua pun sudah tertidur pulas.
...***...
Keesokkan harinya, semua pada riweh melepas kepergian Adifa ke Bandung. Seolah-olah akan berpisah sangat lama. Nasehat agar menjaga boneka cantik mereka terus terdengar, hingga Tiuga pusing di buatnya dan merasa sedikit kesal.
"Ingat Aik jangan kasih sembarang orang gendong nantik badannya sakit, tangannya di perhatiin kebersihannya, dia suka masukin tangan kemulut. Jaga juga jangan sampe kedinginan. Itu mama udah selipin kaos kaki sama lejing panjang buat Difa yang banyak, habis mama beli kemaren. Ingat pakein terus...!?! " peringat mama.
" Iya mah..." Jawab Aisyah patuh.
"Kayak kita bukan orang tua yang baik aja...!! " celetuk Tiuga...
" Kamu memang bukan bapak yang baik, asal anak kamu nggak nangis apa aja kamu kasih. Nggak bisa dipercaya kamu ngerawat Adifa...! " Seru mama kesal.
Tiuga hanya bisa mendengus kesal di sebut bukan ayah yang baik Sedangkan Aisyah hanya tertawa seraya menatap Tiuga yang seperti tidak terima di sebut begitu.
Setelah drama yang panjang dengan keluarga, akhirnya mereka pun berangkat ke Bandung. Semua mengantar kepergian mereka dengan sedih. Apa lagi ibu Tiuga, dia yang paling berat melepas Adifa cucu satu-satunya itu. Dia bahkan menitikkan air mata. Ayah Tiuga yang melihat itu pun segera merangkul bahu istrinya seraya berkata.
"Udaaahhh... cuman seminggu kok. Bentar juga pulang...! " Ucap ayah Tiuga pada Ibu tiri Tiuga itu. Ibu pun tersenyum seraya menyandarkan kepalanya di bahu suami tercinta nya itu. Suami yang luar biasa baginya. Suami yang banyak membawa kebahagiaan untuknya.
👋🖐👋🖐
BERSAMBUNG...
__ADS_1