Biarkan Ikhlas Menjadi Doa

Biarkan Ikhlas Menjadi Doa
API CEMBURU MULAI MENYALA


__ADS_3

Pagi itu Tiuga pergi kerja seperti biasa. Dia masuk ruangannya. Disana Sudah ada Daniel yang tumbenan sedang berkutat dengan laptop dan berkasnya. Sepertinya dia serius dengan ucapannya ingin berubah. Tiuga memperhatikannya lekat-lekat dia masih belum bisa begitu yakin kalau Daniel serius. Tapi jika memang benar dia berubah bagus lah.


Daniel tampak serius dengan kerjaannya. Beberapa hal yang tidak di pahaminya, Daniel bertanya langsung pada Tiuga yang di sebelahnya, Tiuga dengan telaten membimbingnya. Beberapakali Daniel harus merevisi ulang dan dia tidak putus asa. Dia ulang lagi dan lagi hingga dia kembali tanpa membawa berkas itu kembali ke ruangannya lagi. Dia terlihat puas dan bangga, Tiuga pun ikut tersenyum dan bangga.


"Gue mau belajar serius, karena nggak mungkin lo ada buat gue terus... Makasih ya selama ini lo sabar mau ngerjain buat gue... Sekarang gue tau susahnya buat laporan dan desain itu... " Ucap Daniel tulus. Tiuga tersenyum mendengarnya. Pertama kalinya Daniel serius dalam bicara. Walau terasa aneh awalnya.


"Oh iya... Kita ke tempat pak Anwar ya hari ini... " Ingatnya.


Daniel tampak bersemangat hari ini. Tiuga hanya tersenyum puas dengan perkembangan Daniel.


Lalu mereka pun bersiap untuk pergi. Pekerjaan mereka dengan pak Anwar memang memakan waktu lumayan lama karena mengalami beberapa kali penundaan karena adanya proses pembangunan tambahan gedung menjadi lebih luas. Itu membuat pekerjaan mereka mengalami revisi ulang dari rencana awal. Dan hari ini adalah kelanjutan dari pekerjaan mereka yang sempat tertunda tersebut.


Kali ini pun Daniel menunjukkan perubahan nya. Dia jauh lebih terlibat dengan proyek mereka, Tiuga benar-benar terbantu dengan perubahan Daniel. Dia tidak hanya bercanda dengan sekedar mengomel lagi, dia benar-benar melakukan apa yang harusnya dia lakukan. Itu membuat pekerjaan mereka jadi lebih cepat selesai. ( Taubatan nasuha πŸ˜…)


Karena ada beberapa furnitur yang harus di beli dan Daniel sedang sibuk dengan pekerjaannya Tiuga pun memilih pergi membelinya sendiri dan kebetulan Sofi yang ada di sana juga ada yang ingin dia beli. Akhirnya mereka memutuskan pergi bersama.


Mereka segera menuju toko bangunan yang lebih mirip mall yang menjual segala macam furniture yang mereka butuhkan. Setelah mendapat parkir yang pas Sofi dan Tiuga pun turun dari mobil untuk ke dalam toko besar tersebut.


Tanpa sepengetahuan mereka Aisyah juga ada disana. Dia melihat Tiuga dan Sofi memilih furniture di salah satu rak. Mereka terlihat tengah berdiskusi. Tampak akrab dan dekat. Entah kenapa ada rasa cemburu di hatinya. Dia memutuskan untuk memperhatikan dari jauh saja tanpa mendekati mereka berdua.


"Kenapa mereka bisa pergi berdua!? " Gumam Aisyah yang memang tidak tau menahu tentang ayah Sofi yang tengah membuat restoran tersebut. Tiuga belum sempat menceritakannya karena sibuk.


Setelah beberapa saat Aisyah tidak tahan terus ada disana menyaksikan suaminya bersama wanita lain.Dia pun segera membayar barang belanjaannya. Setelah selesai membayar dia segera meninggalkan toko tersebut dengan hati yang entah kenapa terasa sakit. Dia coba meluruskan fikirannya agar dia tenang, tapi itu tidak cukup membantu. dia masih gelisah.

__ADS_1


Apa yang di lakukan Sofi dan Tiuga bersama di sana. Bukan kah Sofi juga sempat punya perasaan pada Tiuga. Apa mereka bersama karena.... Ah sudah lah Aisyah tidak berani melanjutkan kalimatnya. Dia tidak mau cemburu buta tanpa bukti. lebih baik dia tanyakan pada Tiuga nanti malam.


Di sisi lain Tiuga dan Sofi pun selesai belanja. Mereka segera kembali. Karena pekerjaan restoran ini banyak putus sambung jadi banyak barang yang mereka beli di luar planning awal termasuk furniture ini.


"Eh gue denger Aisyah bukak toko roti... Dimana!? " Tanya Sofi.


"Ada deket sini... Mau mampir!? Bell Cake namanya!!" Ucap Tiuga.


"Boleh... Pengen liat...!? " Ucap Sofi.


"Bentar aja yaa... Soalnya kita harus ketempat bokap lo lagi... " Ingat Tiuga.


Lalu Tiuga pun memacu mobilnya ke Bell Cake.


Di sana tampak Adel sedang melayani pelanggan. Sofi pun masuk, Tidak ada Aisyah disana, mungkin dia ada di dapur. Saat Sofi membeli roti di sana Tiuga membuka tabletnya sambil mengecek lagi desainnya. Tiuga sengaja tidak ikut masuk karena dia sedang mengecek ulang pekerjaannya. Dia sedang di kejar deadline, dia mau diajak kesini itu karena dia tidak enak dengan Sofi yang belum pernah di beritahunya tentang Bell Cake. Jadi hanya Sofi yang turun karena Tiuga lagi malas turun sebab sebentar juga, lagian Adifa juga masih di rumah jam segini sama neneknya. Jadi Tiuga pikir lebih baik dia di mobil.


"Kenapa Tiuga nggak Turun!? " Tanya Adel saat Aisyah sudah tidak ada di sana.


"Dia ada yang mau di kerjain katanya habis ini juga dia ada pertemuan dengan kliennya makanya dia mau sempurnain desain dia dulu... " Terang Sofi. Adel tampak paham dengan situasinya.


Setelah membayar roti pesanannya, Sofi pun kembali ke mobil. Tiuga segera menutup tabletnya dan kembali menyetir mobil ke restoran ayah Sofi.


"Kalo keteteran kenapa di terima terus klien yang datang!? Kan bisa di batasi kalo memang nggak sanggup nanganin semuanya!? " Ucap Sofi.

__ADS_1


"Yaa... ini keteteran gegara sempat ke bagi waktunya buat desain toko Aisyah sama Adel juga. tapi nggak apa-apa lah masih kekejar kok... " Ucap Tiuga.


"Ooo... Itu kamu yang desain... Keren... Rapi lagi... Kamu memang berbakat yaa... " Puji Sofi. Tiuga hanya tersenyum mendengarnya.


Tidak terasa merekapun sampai di restoran ayah Sofi. Tiuga kembali melanjutkan pekerjaannya bersama Daniel.


Daniel benar-benar serius bekerja sekarang, selama dia tidak ada banyak yang biasanya Tiuga yang kerjakan sekarang Daniel yang ambil alih.


Pulang dari sana Tiuga pamit untuk kembali kekantor lagi. Daniel yang menyadari pekerjaan Tiuga yang menumpuk minggu ini merasa kasihan, sebab Tiuga mulai tampak kelelahan.


"Ntar gue bantu juga deh... Banyak banget yaa...!?" Tanya Daniel.


"Lumayan... Ada yang salah kemaren juga, jadi gue ulang lagi bikinnya. Jadinya makan waktu lebih banyak. " Keluh Tiuga. "Udah mulai rajin ya sekarang...!? Kalian beneran serius mau nikah!? Gue pikir cuman candaan lo doank!? " Ucap Tiuga sambil tersenyum dan menggeliatkan tubuhnya yang mulai terasa lelah.


"Masak iya nikah pun gue bercanda. Nggak lah...Gue juga udah mikir umur udah segini masih main-main... Kapan lagi emang waktunya.... Makanya lo dukung gue. Biar gue bisa kayak lo... " Ucap Daniel sambil tersenyum kearah Tiuga.


"Oke... Asal jangan anget bentar aja... Gue males kalo lo kumat lagi... " Ucap Tiuga. Daniel pun tertawa tidak terima mendengar dia di sebut kumat.


Mereka sahabat yang saling suport satu sama lain. Mereka saling melengkapi satu sama lain. Walaupun Tiuga terlihat terganggu di ikuti Daniel sebenarnya dia suka Daniel selalu bersamanya, Daniel selalu menjadi sosok penjaga baginya.


Sebenarnya saat mendengar Daniel dan Adel punya hubungan, dia tidak sepenuhnya tidak setuju, dia hanya ingin Daniel berubah menjadi lebih baik. Dia tau betul karakter Daniel, jika dia punya tujuan apapun syaratnya Daniel akan ikuti, itu lah alasan Tiuga mengajukan syarat Daniel harus merubah diri jadi lebih baik dulu sebelum menikahi kakaknya.


(Kalo ada yang mikir Daniel brondong salah ya... Daniel itu 2 tahun lebih tua dari Tiuga, Adel itu hanya berjarak beberapa bulan saja dari Tiuga, karena itu Tiuga tidak memanggilnya kakak langsung β˜ΊπŸ€—)

__ADS_1


πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


BERSAMBUNG...


__ADS_2