
Malam itu mau tidak mau merekapun tidur sekamar. Tiuga berada di ranjang terlebih dahulu lalu di susul Aisyah, mereka tidur di kamar Tiuga yang sudah di ubah ibunya menjadi lebih nyaman untuk Aisyah karena mengingat kamar Tiuga yang sebelumnya sangat khas gaya Tiuga. Hanya ada beberapa barang Tiuga yang di ganti dan diambil, ranjang dan lemari serta karpet saja yang di ganti, selain itu masih barang-barang lamanya.
"Kamu suka baca buku yaaa..." tanya Aisyah
"Cuman kalo lagi gak ada kerjaan aja, beberapa belum aku baca cuman di pajang. Kadang gak sempat baca tapi tertarik liat judulnya." Terang Tiuga. Aisyah hanya mengangguk paham.
" Malam ini kita sekamar dulu, gak enak sama mama, papa. Aku bisa pindah ke sofa kalo kamu gak nyaman. " Ucap Tiuga sambil menunjuk sofa panjang yg tidak jauh dari mereka sambil beranjak pergi. Tapi Aisyah menahannya.
"Gak apa-apa kok. Di sini saja.... Kita kan udah nikah, mau menjauh sampai kapan? " Ucap Aisyah dengan senyum manisnya. Itu menenangkan Tiuga, tadinya dia fikir Aisyah akan menolak karena mereka belum cukup mengenal satu sama lain. Jika itu terjadi akan membuat drama baru bagi mereka.
Malam itu Aisyah tidur bersama Tiuga di ranjang yang sama dan untuk pertama kalinya Tiuga melihat Aisyah tanpa hijab panjangnya. Dia terlihat sangat cantik dengan rambut lurus panjangnya. Kulitnya yang putih menambah kesan cantiknya semakin terpancar, apa lagi wajah ayu nya semakin terlihat saat dia tidak memakai hijabnya. Kulitnya yang lembut terlihat sangat terawat, dia perempuan yang sangat cantik juga rapi dan bersih. Itu terlihat saat pertama masuk kamar yang Aisyah lakukan adalah menyusun dan menata barang-barang nya agar tidak berantakan. Aisyah cukup telaten dalam menyusun barang.
Semakin lama menatapnya Tiuga semakin merasa tidak karuan. Sebelum dia hilang kendali lebih baik dia segera tidur. Dia pun segera berbaring membelakangi Aisyah menarik selimut lalu memejamkan matanya.
Aisyah baru saja selesai membersihkan make-up nya. Dia segera naik ke ranjang, Aisyah menatap Tiuga yang sudah tertidur. Dia tetap terlihat tampan meskipun dari belakang. Rambutnya yang hitam dengan kulitnya yang putih mulus khas kulit orang Asia Timur menambah nilai sempurna untuk ketampanan Tiuga. Apa lagi matanya selalu hangat saat menatap, membuat Aisyah selalu merasa nyaman saat menatap Tiuga. Bukan itu yang membuat Aisyah tertarik dengan laki-laki ini. Dia tertarik karena sifat santun dan lembut Tiuga. Walau sudah sah menjadi suaminya tidak pernah sekalipun Tiuga berani menyentuh Aisyah tanpa persetujuan dari Aisyah.Dia benar-benar laki-laki yang baik di mata Aisyah. Dia menjaga etikanya dengan baik di hadapan Aisyah.
Malam itu mereka tidur dengan saling membelakangi, tidak lupa pembatas guling diantara mereka.
...***...
Pagi-pagi Aisyah sudah bangun. Dia segera membantu di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi bersama ibu Tiuga. Aisyah yang cekatan di dapur membuat ibu Tiuga kagum. ada anak muda cantik, berpendidikan, lembut dan sangat sopan juga bisa mengurus rumah tangga dengan baik. Dia senang melihat keuletan Aisyah bekerja.
"Kamu pinter masak ya ternyata! " Puji ibu Tiuga. Aisyah hanya tersenyum.
"Kalo di Bandung suka bantu umi masak ma... kan orang rumah banyak. Bukan cuman keluarga saja... Kadang karyawan abi juga sering makan di rumah, jadi karena itu aku sering bantu. Kalo nggak di bantuin kasian umi..." terang Aisyah.
__ADS_1
"Mama juga punya 2 anak cewek. Tapi nggak pernah mau bantu di dapur. Takut kena minyak, takut bauk, nggak bisa pegang pisau. Macam-macam alasannya! " Keluh ibu Tiuga.
Aisyah hanya tersenyum mendengarnya sambil terus bekerja. " Mama senang sekarang mama punya teman di dapur selain bik Surti...!" ucap mama lagi.
Tanpa terasa semua masakan sudah masak semua. Waktunya beres-beres, tapi dengan cekatan Aisyah segera membereskan semuanya. Dalam waktu singkat semua bersih dan rapi. Ibu tiuga semakin mengagumi Aisyah, dia terlihat sangat bertanggung jawab.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi semua sudah bangun termasuk Tiuga. Dia sudah siap di meja makannya. meja makan yang terbuat dari jati itu. Cukup besar, bisa menampung banyak orang. Karena memang terkadang keluarga Tiuga sering mengundang makan malam bersama rekan atau kerabat di rumah Tiuga, hingga membutuhkan ruang makan yang besar.
Setelah semua siap, mereka segera menyantapnya.
"Semua aik yang masakin lo. Tuuuhhh enak-enak semuanya. " Ucap ibu Tiuga bangga.
"Ah mama kan di bantuin tadi juga, bukan aik yang masak sendiri" Ucap Aisyah malu di puji.
"Yaaa... berarti pilihan oma tepat kan!?" kata oma tidak mau kalah.
Tiuga hanya diam, dia sibuk menikmati sarapannya. Aisyah melirik ke arah Tiuga, dia melihat laki-laki itu sangat menikmati masakannya walau pun dia tidak mengatakan apa pun. Begitu pun ayah Tiuga dia hanya ikut mendengar kan dan tersenyum.
"Nasi gorengnya lebih enak dari buatan mama..." seru Alfina.
"Waaahhh... Mama jadi sedih pelanggan nasi goreng mama gak ada lagi! " Ucap ibu Tiuga menimpali.
"Belajar, ma... Belajar.... Tuuuhhh mumpung kokinya masih disini... Nantik kalo udah di boyong ke rumahnya susah lo... " Timpal Adel
"Gak aahhh... Ini kebetulan aja enak hari ini, besok belum tentu, aku juga masih belajar masak kok... " Ucap Aisyah merendah.
__ADS_1
Sarapan pagi itu sangat lahap semua. Setelah semua berangkat kerja tinggal Aisyah dan nenek saja di rumah. Ibu mertuanya sudah pergi ke butik miliknya. Alfina ke sekolah yang mana dia masih kelas 2 SMP, Adel katanya ada pemotretan pagi ini. Ayah mertuanya dan Tiuga sudah berangkat kerja.
Aisyah nampak sedang melihat-lihat di kamar Tiuga, dia menemukan setumpuk album lama di lemari Tiuga. Dan menariknya keluar. Membuka halaman demi halaman. Tampak foto Tiuga masih SMA sepertinya. Tapi terlihat bukan seragam SMA biasa. Seperti jas dan celana panjang yang membuat dia terlihat sangat tampan dengan senyum manisnya bersama teman-teman nya.
Terlihat dia yg lebih menonjol dengan ketampanannya. Aisyah membuka lembar demi lembar foto tersebut. Di semua foto Tiuga selalu tampil memukau, mau dengan gaya apapun dia tetap terlihat menarik perhatian. Sangat mudah menemukan dia di saat foto satu kelas sekalipun.
Tiba-tiba terdengar suara oma Tiuga dari belakang.
"Tiuga SMA nya di Jepang, karena dulu nenek nya yang di Jepang mintak dia sekolah di sana. Terus kuliah di jerman, baru balik kesini lagi " Terang oma.
"Waktu awal-awal ke sini banyak sekali yang ngira dia perempuan karena sangking manisnya dia... hehehe...sejak itu dia potong rambut pendek terus. Gak mau pakek baju warna terang, terus semua barangnya jadi warna hitam abu-abu semua, kayak orang gak ganti baju. hehehe... " tawa oma di ujung ceritanya.
"Tiuga di tinggal ibunya waktu baru lahir, jadi oma yang besarin dia, tapi SMP, SMA dia di Jepang. Karena neneknya yang mintak gitu. habis selesai SMA neneknya meninggal jadi dia sempat ikut sama oma sebentar, lalu dia lanjut kuliah ke Jerman lagi" Terang oma.
Oma banyak bercerita tentang sosok Tiuga, termasuk tentang ibunya yang ternyata adalah artis jepang, cuman baru merintis karir dia harus menikah dengan ayah Tiuga dan tidak lama kemudian sakit dan meninggal saat melahirkan Tiuga. Karena melihat perjuangan ibu Tiuga dalam melahirkannya yg penuh pengorbanan itu membuat omanya begitu menyayanginya. Dan menjaganya. Apa lagi waktu kecil Tiuga sempat sakit karena kelainan jantung dan untungnya bisa segera di obati meski harus melewati tahap pengobatan yg tidak singkat. Hingga sekarang Tiuga sudah sembuh dengan baik. Ini juga alasan oma ingin tinggal bersama keluarga Tiuga, karena dia ingin selalu bersama Tiuga. Hingga dia rela berjauhan dari keluarganya di Bandung.
"Waktu sakit itu... oma terus doa biar penyakitnya cepat di angkat. karena oma kasian dengan papa Tiu yang kayak orang gila lihat Tiu sakit. Mungkin karena dia baru kehilangan ibu Tiuga jadi dia masih shock. karena itu oma takut sekali kehilangan Tiuga. Apa lagi papa Tiuga itu anak oma satu-satunya. Lama papa Tiuga tidak mau dekat dengan perempuan manapun karena dia takut salah pilih pasangan, dia takut istri yang dia pilih nanti tidak bisa menyayangi Tiuga. Sampai akhirnya ibunya yang sekarang itu juga pendekatannya tidak lama sampai papa Tiuga yakin. Tapi Alhamdulillah pilihan papa Tiuga tepat, dia sangat menyayangi Tiuga. Apa lagi si Adel itu. Walau sering ribut mereka, kalo soal rahasia terjamin satu sama lain. kompak betul. hhh...! " cerita oma sambil tertawa. Aisyah pun ikut tertawa.
Setelah puas melihat-lihat Aisyah kembali menyusun album foto itu ketempat semula.
Semakin dia mengenal Tiuga, semakin tertarik dia terhadap Tiuga. Aisyah mulai mau membuka hatinya untuk Tiuga. Kini dia semakin yakin dengan pilihannya.
🧕🧕🧕
BERSAMBUNG...
__ADS_1