
Hari ini hari pertama Tiuga masuk kantor setelah 1 minggu libur. Dia kembali segar rasanya. Dia masuk ruangannya dengan hati yang gembira. Dia menatap ruang kerjanya. Mejanya masih rapi. Tapi meja Daniel tampak banyak kertas bertebaran. Tiuga tersenyum melihat penampakan itu. Tidak lama Daniel datang. Dia kaget melihat laki-laki tampan itu sudah duduk dengan kerennya di kursinya. Daniel membelalakkan matanya dengan mulut yang ternganga tidak percaya.
"Sayangku, kekasihku, cintaku.... Akhirnya kau kembali... come to baby... come to mama... " Ucap Daniel menggila seraya merentangkan tangannya bersiap memeluk Tiuga, dengan sigap Tiuga mengacungkan pisau kater kearahnya. Karena memang Tiuga tengah memegang pisau kater untuk membuka tali map yang sulit terbuka tadi.
"Idiiihhh mainnya gituan... Turunin... Kena ntar gua lagi yang koma... " Seru Daniel seperti menyindir. Tiuga tertawa mendengarnya.
"Kapan lo balik!?" Tanya Daniel. Seraya memakan mochi pemberian ibu Faridz yang memang Tiuga bawa sebagian untuk di bagikan dengan rekannya di kantor.
"Kemaren...! " Jawab Tiuga singkat sambil memutar-mutar kursinya.
"Seru nggak di sana!? Sampe lo jarang bales WA gue... " Seloroh Daniel seraya melempar bungkus mochi pada Tiuga. Tiuga menangkapnya sebelum gula halus mochi bertebaran di meja kerjanya. Tapi telat sebagian gula itu sudah tumpah dan bertebaran. Itu membuat Tiuga kesal.
"Daniel... Brengsek lu ya... Liat tuh berantakan semua... " Seru Tiuga yang memang cinta kebersihan dan ke rapihan tidak seperti Daniel yang berantakan.
"Alaaahhh nggak seberapa itu. Lo nggak liat meja kerja gue udah kayak gunung kertas itu!? " Ucap Daniel menunjuk meja kerjanya. Tiuga segera mengambil tisu untuk membersihkannya.
"Lo ngapain sampe segitu banyaknya kertas numpuk gitu...!? " Tanya Tiuga penasaran dengan apa yang terjadi semenjak kepergiannya itu.
"Gue di strap pak Budi. Laporan gue di revisi ulang semua... Itu kertas-kertas nya... Kan udah gue bilang gue nggak bakat. Masih juga di paksa bikin... Ya ini lah hasilnya... " Tunjuk Daniel. Tiuga tertawa mendengarnya. "Ujung-ujungnya dia bikin sendiri juga... " Ucap Daniel santai. Jangan heran kalau Daniel seenaknya, karena pak Budi adalah pamannya. Adik ayah Daniel.Jadi karena itu Daniel bisa seenaknya di kantor.
"Gue rencananya mau pindah Dan... " Cerita Tiuga.
"Kenapa? Lo berantem lagi sama bokap lo!? " Tuduh Daniel. Tiuga memang pernah bertengkar hebat dengan ayahnya saat berpacaran dengan Sherin dulu.
"Nggak... Bukan gitu. Gua kan udah ada Aisyah sama Adifa juga. Kadang gua ngerasa kurang ada privasi aja kalo masih tinggal sama orang tua... " Ungkap Tiuga.
"Pasti lo sering ke gep ya sama Alfina atau Adel. 2 cewek rusuh itu kan suka sembarangan, apa lagi sekarang ada Adifa. Ngaku deh lo... " seloroh Daniel, membuat Tiuga tersenyum dan geleng-geleng kepala. Dia seperti tidak bisa menyimpan rahasia dengan sahabatnya ini karena sering ketahuan oleh Daniel.
__ADS_1
"Ck... Nggak nyaman gue... Mending tinggal di rumah sendiri aja. Apa lagi Aisyah... Dia sering nggak tau harus taruh muka di mana kalo lagi ketahuan ngapain. Dia kan orangnya banyak yang di tutupin. Jadi buat dia nyaman juga, makanya gue pikir lebih baik kita pindah sekarang aja... Sekalian kita biar sama-sama enak" Terang Tiuga.
"Iya lo bisa nyaman kalo mau di kamar mandi, di dapur, di ruang keluarga, di ruang tamu sekalian. Nggak bakal ada yang liat, Karena cuman ada kalian bertiga di rumah. Puas lah fantasi lo Tiu... " Ungkap Daniel yang mulai gila lagi pikirannya.
"Gila lo yaaa!!! Ya nggak mungkin lah gue kayak gitu. Lo pikir gue kucing yang bisa kayak gitu!? " Ucap Tiuga tidak terima.
"Kucing sih nggak. Lo sering gitu kalo sama Sherin dulu. Di hotel, di rumah, di mobil... hhh... " Ucap Daniel yang membuat Tiuga kesal.
Tiuga menggulung kertas dan mengejar Daniel untuk menghajarnya. Daniel pun lari hingga keluar ruang kerja mereka. Begitu lah keakraban duo nggak jelas ini. 😌
(Kalo punya temen mulutnya kayak Daniel, mending rem pakem mulut kita yaa, jangan kasih rahasia sama dia. Itu Tiuga korbannya... 🤣😂🤣)
***
Di rumah Tiuga mengungkapkan keinginannya untuk segera pindah ke rumahnya kepada keluarga.
"Iya mas Tiu...Jangan pergi... Kita nggak bisa pisah sama Adifa... " Rengek Alfina.
Adel tersenyum mendengarnya.
"Pasti gara-gara kejadian semalam kan!? Ngaku deh lo... Iya ntar lain kali gue ketok pintu sebelum masuk. Gue nggak akan jadiin kamar lo kamar umum lagi... " Ucap Adel ceplas-ceplos. " Asal lo jangan pindah. Adifa ini boneka gue... Gue belum puas dandanin dia... " Ucap Adel seraya memeluk Adifa yang memang kebetulan berada di pangkuannya.
"Bukan gitu... Kita kan udah nikah...Jadi kadang banyak hal pribadi yang bikin kita kurang nyaman aja kalo tinggal di sini. Yaaa... kayak butuh privasi gitu. Kadang kita mau ngomongin sesuatu pun harus Hati-hati jangan sampe kalian tau, karena nggak nyaman urusan pribadi di umbar-umbar... Kadang kita berantem dikit aja juga nggak nyaman gara-gara takut kalian salah paham. "Terang Tiuga. " Lagian nggak jauh juga kan... paling 15 menit dari sini pakek kendaraan juga nyampe ke rumah kita. " Tambah Tiuga.
"Papa sih nggak masalah. Tapi ingat sering-sering kesini. Kalo ada masalah keluarga kalian yang sekiranya kalian nggak bisa atasi kalian bisa ngomong sama kita. Jangan sampe kemandirian kalian buat kalian jadi lupa keluarga... " Nasehat ayahnya.
Dengan hati berat mereka pun terpaksa melepas kepindahan Adifa. Karena memang biasanya saat ayah sudah bicara tidak ada yang berani membantah.
__ADS_1
"Rumah kamu belum ada perabotnya kan Tiu!? " Tanya ayah lagi.
"Belum pa, masih kosong, cuman ada hordeng nya aja. Nanti kita pelan-pelan isi. Nanti kalo udah lengkap kita langsung pindah. Mungkin sekitar 1 bulan ini kita masih disini sampe perabotan rumah ada... " Ucap ayahnya.
" Kalo gitu berapa kamu butuh dana, biar papah transfer... " Ucap ayahnya.
"Nggak pa, Nggak usah. Kita masih punya tabungan kok... Kalo buat isiin perabotan masih cukup lah... " Ucap Tiuga menolak uang ayahnya.
"Kan sayang uang kalian... Biar papah bantu kalian isi rumah, nanti uangnya kalian buat tabungan aja... " Usul ayahnya lagi.
"Nggak usah pa... Aku udah bertekad kalo aku mau bikin rumah itu pure dari uang pribadi aku sendiri. Biar ada keliatan hasil dari kerja aku selama nikah.... " Ungkap Tiuga. Aisyah tersenyum mendengar alasan Tiuga. Begitupun ayahnya. Dia bangga anaknya sekarang menjadi laki-laki dewasa yang bertanggung-jawab.
"Yaudah... Papa bangga sama kamu. Kamu mau bertanggung jawab sama keluarga kamu dengan hasil kamu sendiri. hebat itu... Tapi ingat... Kalo ada apa-apa kalian berdua jangan segan-segan bilang sama kita.... " Ucap ayahnya lagi.
"Iya pa...! " Jawab Tiuga.
Karena sudah larut. Merekapun segera beristirahat. Adifa terlihat sudah tertidur di pangkuan Adel dengan dot yang masih menempel di mulutnya. Adifa memang selain ASI pada Aisyah dia juga Pakai susu formula sebagai tambahan. Karena ASI Aisyah tidak mencukupi gara-gara excident Tiuga dan Sherin kemarin. Aisyah sempat Stress berat hingga Stok ASInya terhenti sesaat dan saat ada lagi pun malah sedikit.
***
Di kamar Tiuga dan Aisyah masih mendiskusikan tentang kepindahan mereka.
"Sabtu ini kita lihat-lihat perabotan buat rumah kita yaa... " Ucap Tiuga pada Aisyah. Aisyah mengangguk, sambil membenahi selimut Adifa yang memang tidur di ranjang terpisah dengan mereka. Adifa tidur di ranjang bayinya.
👜🎒💼
BERSAMBUNG...
__ADS_1