
Tidak lama paman Sherin datang ke kantor polisi. Saat mendengar Sherin di kantor polisi karena berusaha membunuh Tiuga. Dia segera datang. Dalam keadaan panik dan seperti nyawanya sudah melayang saja dia melangkah ke kantor polisi. Saat bertemu Sherin. Amarahnya membuncah tidak terbendung.
PLAAAKKK... Sebuah tamparan sangat keras mendarat di wajah Sherin.
"KURANG AJAR... TIDAK HENTI-HENTINYA KAU MEMBUAT ULAH... APA KAU SUDAH GILA HAAA..!? " Teriak pamannya tidak terkendali. Tampak darah segar mengalir dari sudut bibir Sherin, wajahnya yang putih tampak merah karena pukulan tadi. Tapi dia tetap tidak bergeming. Matanya kosong menatap, tidak tau apa yang dia rasakan. Tidak ada kepuasan yang dia rasakan. Malah hatinya bertambah sakit setelah melakukan itu. Sekarang dia sudah pasrah dengan apa yang terjadi. Dia merasa bukan itu yang dia mau, dia salah mengartikan keinginan hatinya. Sekarang dia menyesal. Dia ingin Tiuga hidup, bukan mati.
"Ya Allah Ya Tuhanku... Ya Allah... " Isak tangis pamannya pecah seketika.
"Sherin...kamu melakukan pembunuhan berencana nak... Bukan Dia saja yang akan mati... Kau juga akan mati... Kau membunuh dengan berencana... " Ucap pamannya bergetar menahan tangis. Dia terduduk di lantai. Polisi di sana segera membantunya. Duduk di kursi.
...***...
Sedangkan di rumah sakit sudah sejak semalam Aisyah duduk di samping Tiuga yang belum sadarkan diri. Dia tidak mau beranjak dari sana sedikitpun. Bahkan saat dokter datang memeriksa keadaan Tiugapun dia tetap bersikeras duduk di sana dengan tangisnya yang tidak terkendali.
Karena takut terjadi sesuatu dengan kandungannya jika mereka paksakan, akhirnya merekapun menyerah. Mereka melihat dengan hiba ke pada Aisyah. Begitu besar cintanya pada Tiuga. Apa dia sanggup seandainya Tiuga tidak selamat.
Aisyah tetap duduk di sana dengan tatapan kosong dan tangan nya tidak pernah lepas menggenggam tangan Tiuga. Suami yang tidak akan pernah bisa dia relakan. Tidak mungkin dia relakan. Pria ini sudah berjanji menemani persalinannya. Tapi saat ini dia tidak akan bisa memenuhi janjinya itu. Aisyah pun sekali lagi menangis.
Oma yang melihatnya pun tidak sanggup.
"Sudah nak... Ayo istirahat dulu. Jangan begini Aik... Nanti ibu dan adikmu akan datang. Mereka tidak akan hanya khawatir pada Tiuga saja, mereka juga akan khawatir sama kamu kalau terjadi sesuatu sama kamu... " Bujuk oma. tapi tetap membuat Aisyah tidak bergeming.
Tiba-tiba oma melihat keringat membasahi dahi Aisyah, wajahnya tampak pucat. Sesekali terdengar suara seperti dia sedang mengedan yang dia tahan sekuat tenaga. Dan saat melihat kebawah oma melihat sudah basah seperti nya air ketuban Aisyah pecah, tanda dia akan melahirkan.
"Ya Allah... Aisyah... kamu akan melahirkan... " Seru oma panik.
Itu mengundang reaksi dari Tiuga, Tangan dan matanya bergerak sedikit.Tapi tidak ada yang menyadari itu karena semua orang sedang fokus pada Aisyah.
"Sonia.... " panggil oma pada pada ibu Tiuga. Ibu Tiuga pun segera datang menghampiri dan melihat kondisi Aisyah. Dia segera memanggil dokter.
Aisyah segera di larikan keruang bersalin. Tapi dia seperti tidak sadar apapun. Dia tidak mau mengedan sedangkan mereka di kejar waktu.
"Kita sesar saja. Bisa pendarahan kalau di paksakan... Tekanan darahnya juga sangat tinggi... " Ucap dokter. Akhirnya Aisyah di sesar.
...***...
Di kantor polisi tampak Sherin yang masih terpaku. Polisi datang memberitahunya.
"Dengar... laki-laki itu belum sadar... bahkan dia kritis. Kalau dia selamat dan keluarga korban tidak menuntut kamu bisa bebas. Tapi kalau nuntut kamu kena pasal penganiayaan berat. Tapi kalau laki-laki itu tidak selamat.... Kamu kena hukuman mati karena pembunuhan berencana. Di mana senjatanya sudah kamu siap kan terdahulu. Itu memberatkan kamu.... Sekarang berdoa lah agar dia selamat... "Terang polisi itu. Sherin menoleh kearahnya.
" Aku ingin menemuinya... aku ingin menemuinya sekarang. Setelah itu aku rela di hukum apa saja. Bunuh saja aku... " Ucapnya.
Pamannya yang mendengar itu langsung menghampiri Sherin.
"Kamu bisa di bunuh sampai di sana... Apa lagi yang mau kamu bicarakan? Dia sudah kamu buat begini... Sekarang apa lagi... Bahkan istrinya semalam melahirkan dalam keadaan hampir mati karena shock melihat suaminya kamu bunuh... Terus kamu kesana mau antar nyawa kamu ha...!!!!? " Seru pamannya.
"Biar aku bicara dengannya pamannya... sekali ini saja... Aku mohon... tidak apa kalau memang aku akan mati sesampainya disana... " Ucap Sherin lagi dengan berurai air mata.
Karena kasian polisi itu pun mengantar Sherin kesana. Dengan tangan di borgol dia tiba di rumah sakit.
Di ruang Tiuga di rawat Sherin melihat Tiuga lemah tidak berdaya. Seharusnya dia lega karena kini tidak ada orang yang dapat memiliki lelaki ini lagi. Dia menang, dia mengalahkan Aisyah, yaa Aisyah kalah. bukan kah itu yang dia mau. Tapi kenapa dadanya tidak berhenti sesak sedikitpun bahkan bertambah parah. Sepertinya dia salah mengartikan mau hatinya. Bukan ini yang dia inginkan. Bukan Tiuga mati, lalu apa yang dia mau!?
Seketika tangis Sherin pecah. "Jangan mati Tiu... Aku mau kamu hidup. Kamu hidup bahagia... Jangan hukum aku lagi Tiu... Aku tidak sanggup... Aku tidak sanggup lagi Tiu... BANGUN TIU..." isak tangisnya sambil menggenggam tangan Tiuga.
Pamannya melihat Sherin dengan tatapan hampa, dia marah dengan tindakan Sherin, tapi dia merasa Sherin hanya gadis kesepian yang ingin di perhatikan. Tiuga adalah lelaki pengasih yang mampu lakukan itu untuk nya. Wajar jika kehilangan Tiuga dapat membuatnya memberontak. Pak Sutrisno pun meneteskan Air matanya juga.
...***...
Aisyah yang sudah sadar dari pasca operasi sesarnya masih tidak dapat menyusui bayinya yang menangis terus. Tampak Adel yang berusaha menenangkan keponakan barunya itu.
Tiba-tiba seseorang datang memberi tahu jika Sherin datang dan sudah di ruangan Tiuga di rawat. Aisyah memaksa ingin kesana. Kebetulan oma, ibu Tiuga masih di rumah karena pulang mengambil barang-barang keperluan Aisyah dan bayinya. Tidak ada yang bisa menahannya untuk kesana. Akhirnya seorang perawat mengantar Aisyah kesana.
Dia Melihat Sherin Disana. Dia tengah duduk di samping Tiuga.
"Bangun lah... Lindungi aku...Seperti yang biasa kamu lakukan. Bangun dan selamat kan aku dan anakmu...Kau bilang kau tidak mau anakmu menjadi seperti aku...Kesepian dan tidak punya orang yang menyayangi... Itu permintaan terakhirku untuk mu..." Ucapnya.
Sherin menatap ke datangan Aisyah . Wajah Sherin penuh dengan air mata. "Lihat dia... Dia akan gila kalau kau meninggalkannya... Jangan buat aku sekejam ini Tiuga... Bangun lah... Aku ikhkas dengan apapun hukuman ku, Aku ikhlas... Aku janji setelah ini aku nggak akan minta apa-apa lagi dari kamu" Ucapnya dengan tangisnya yang pecah. Dan dia tertunduk seakan mengakui kekalahannya. Yaaa dia yang kalah, sedari awal dia lah yang kalah.
Aisyah pun menangis di kursi rodanya.
'aku ikhlas ya Allah jika memang takdirku tidak berjodoh lama dengannya, aku ikhlas...' batin Aisyah, diapun tertunduk menyerah kepada Allah pemegang takdir semesta alam. Dua orang tengah berdoa tulus untuk Tiuga. Mereka menyerah dengan tulus. Semua hanya Allah pemegang takdir, tidak ada yang bisa menahannya jika Ia berkendak.
Tiba-tiba itu mengundang reaksi dari Tiuga. Tiuga berlahan dengan lemah membuka matanya. Lalu terpejam dan membuka lagi. Mereka semua kaget dengan reaksi Tiuga. Aisyah dan Sherin saling tatap. Aisyah mengangguk pada Sherin seolah ingin mengatakan terima kasih. Mereka semua bersyukur bernafas lega.
__ADS_1
Terutama Sherin yang akan selamat dari hukuman mati. Dia menatap Aisyah lagi Aisyah tersenyum padanya.
"Terima kasih Ya Allah... " Gumam Aisyah. Sherin pun tersenyum.
Sherin kembali ke kantor polisi, Tiuga kembali di tangani dokter. Aisyah bisa bernafas lega sekarang. Tiuga pelan-Pelan mulai stabil. Karena keadaan yang mulai tenang ASI Aisyah pun mulai keluar. Sekarang dia bisa menyusui bayinya.
...***...
Tapi bayi mungil itu Terus gelisah tidak mau tenang. Semua usaha sudah di lakukan untuk menenangkannya. Tapi dia tetap gelisah. Karena tidak kunjung mau diam akhirnya ada yang menyeletuk.
"Mungkin dia mau ketemu bapaknya, coba di temuin sama bapaknya... Merekakan belum pernah ketemu..." Saran salah seorang tamu yang mengunjungi Aisyah.
Memang semenjak kejadian kecelakaan Tiuga banyak saudara dan tetangga yang datang berkunjung.
"Nggak ada salahnya di coba, kasian kan nangis terus... " Ucap umi Aisyah.
Akhirnya mereka membawa bayi mungil itu ke tempat ayahnya berada. Bayi itu terus gelisah. merengek tidak tenang. Dia di gendong ibu Tiuga untuk mengantar Aisyah dan bayinya mengunjungi Tiuga yang sudah di rawat selama 4 hari.
Saat membuka pintu Aisyah kaget melihat Tiuga sudah tidak memakai selang seperti 2 hari yang lalu. Hanya ada infus di tangannya, dengan posisi ranjang separuhnya yang agak diangkat sedikit, membuat Tiuga bisa melihat kedatangan Aisyah dan anaknya. Dengan lemah dia mencoba menyapa anak istrinya dengan tersenyum dan agak mengangkat sedikit tangannya.
Aisyah tidak percaya kalau Tiuga sudah bisa merespon seperti sekarang, karena terakhir dia melihatnya Tiuga bahkan kesulitan membuka matanya. Tapi sekarang dia sudah bisa tersenyum dan bicara walau tidak begitu lantang dan dengan wajahnya yang masih terlihat sangat pucat.
"Haiii... ! " Sapa Tiuga.
Aisyah langsung meraih tangan Tiuga dan menciumnya dengan haru. Dia tidak percaya mereka bisa melalui ini semua. Tidak lama kemudian terdengar bayi mereka menangis lagi, ini terdengar lebih lantang.
" ohhh... cup, cup... sayang... " Bujuk ibu Tiuga pada cucu kesayangannya itu.
"Mah... boleh aku lihat anakku!? " Tanya Tiuga.
Ibu Tiuga tersenyum lalu membaringkan bayi itu di samping Tiuga dengan masih di tahan ibu Tiuga. Tiuga mengusap lembut wajahnya. Dengan ajaib bayi itu berhenti menangis seketika. Dia tenang, seolah-olah menikmati pelukan ayahnya.
"ohhh... anak pintar... ternyata dia memang pengen ketemu ayahnya...! " Ucap ibu Tiuga terharu.
Semua yang berada di ruangan itu di buatnya hampir menangis. Tiuga menatap Aisyah.
"Maaf ya aku nggak bisa nemenin kamu lahiran... " Sesal Tiuga.
Siang itu ayah Tiuga pergi ke kantor polisi. Dia mencabut berkas tuntutan untuk Sherin. karena permintaan Tiuga dan Aisyah. Mereka sepakat untuk tidak memperpanjang masalah ini lagi. Mereka sudah memaafkan semuanya, dan Sherin pun sudah menunjukkan penyesalannya.
"Terima kasih banyak, saya tidak tau harus berkata apa...! " ucap paman Sherin.
"Tidak apa-apa, setidaknya kita belajar banyak dari kejadian ini...! " Jawab ayah Tiuga bijak.
di rumah sakit Tiuga di kunjungi Daniel.
"haiii... sobat ku. apa rasanya menjadi tampan? " ledeknya.
"lo ngeledek !? " tanya Tiuga kesal.
"itu pertanyaan brayyy!? lu tinggal jawab enak apa nggak!! " sahutnya tidak mau kalah. " kejadian ini, itu berkat ke gantengan lo, sehingga membuat seorang gadis hampir gila dan ngebunuh lo... "terang Daniel dengan gayanya yang konyol.
" Sekarang gue tanya sama lo, apa enak jadi cowok jelek yang nggak laku-laku!? " tanya Adel kesal.
"nggak...!!! " jawab Daniel singkat. "itu menyedihkan...gue ditinggal gebetan nikah mulu... " Ungkapnya dengan ekspresi menyedihkan.
" Hidup lo jauh lebih naas dari pada adek gue... orang-orang udah nikah semua, lo masih dalam tahap chat...'haayyy...' tapi nggak di bales-bales..."sungut Adel.
"Eh miss queen... lo juga belum punya gebetan sampe sekarang, kurang lo apa coba, cantik, pinter, berkarir.... tapi masih jomblo hahayyy... " ledek Daniel.
itu membuat Adel melempar barang kepada Daniel. Saat bersama Daniel selalu ada tawa yang tercipta. Tapi itu tidak baik untuk Tiuga karena lukanya yang masih basah membuat dia harus menahan sakit tiap kali tertawa.
Di tempat lain Sherin yang baru bebas dari penjara, sebenarnya dia hanya di tahan sementara sebelum tuntutan di cabut. Dia memang harus di tahan di kantor polisi, karena berhubungan kasusnya sudah selesai maka Sherin pun di bebaskan.
Dia pulang ke rumah pamannya karena keadaan mentalnya yang masih terguncang. Tampak perubahan pesat pada diri Sherin. Dia sekarang tampak jauh lebih tenang dan dewasa. Rio yang memang dari awal kasus Sherin tidak pernah meninggalkan Sherin. Kini semakin dekat dengan Sherin. Walau Sherin sudah memutuskan untuk berhenti menjadi model tapi dia masih sering menemani Sherin.
Hubungan mereka semakin lama semakin dekat saja. Sherinpun sudah mulai menyadari keberadaan Rio. Dia mulai membuka hatinya untuk Rio, walau belum ada pernyataan resmi dari keduanya tentang ke jelasan status mereka, tapi hubungan mereka sudah seperti pacaran. Paman dan bibik Sherin senang dengan hubungan Sherin dan Rio.
Hari itu Sherin dan Rio datang mengunjungi paman Sutrisno di rumahnya yang kebetulan juga ada bibiknya.
"Paman...Sherin pengen liat mami di paris. Sherin kangen sama mami... " ungkap Sherin. paman dan bibiknya saling pandang tidak percaya.
"ooohhh boleh, boleh... kapan kamu mau berangkat!? " Tanya bibiknya.
__ADS_1
"Rencananya minggu depan bik, kalo nggak ada halangan. Aku pergi bareng Rio... " Terang Sherin.
"Bagus itu, mengingat keadaan kamu sekarang, memang lebih baik kamu ada yang nemenin buat pergi... " Ucap pamannya.
"Sebelum pergi Sherin pengen nemuin Tiuga sama Aisyah...Sherin pengen mintak maaf paman... " ungkap Sherin. "boleh nggak ya Sherin kesana!? " ungkap Sherin ragu.
"Nanti paman coba bicara sama ayah Tiuga yaa... Memang sudah seharusnya kamu minta maaf langsung. Mengingat semenjak ke jadian kemarin kamu belum pernah nemuin mereka... " ucap pamannya.
"Iya, paman... Terima kasih. Sebelum Kesana Sherin mau beliin kado dulu sama Rio" Ucap Sherin lagi.
Tidak lama kemudian Sherin dan rio pamit pergi. Paman Sherin pun menelpon ayah Tiuga. Perihal keinginan Sherin untuk berkunjung. Di luar dugaan ayah Tiuga mau menerimanya. Tapi harus ada dia di rumah. karena dia tidak tau bagaimana reaksi yang lain nanti dengan kedatangan Sherin.
Setelah sepakat dengan harinya Sherin dan pamannya, bibik serta Rio datang menemani Sherin berkunjung kerumah Tiuga.
Mereka di sambut ayah Tiuga. Nenek tampak masih marah, dia lebih memilih pergi, ibu Tiuga mencoba menerima Sherin walaupun dia masih marah. Adel dan Alfina kebetulan tidak ada di rumah.
(bayangin aja rumah Tiuga lebih kurang kayak gini dengan halamannya yang luas... 😁😁)
Tiuga yang mulai pulih sudah bisa berjalan walau masih tertatih. Dia tersenyum melihat kedatangan Sherin dan keluarganya. Dia mencoba melangkah pelan untuk menuruni anak tangga seraya menahan lukanya yang masih perih.
"Hai... tiu... gimana luka kamu!? " Tanya Sherin khawatir.
" Udah nggak apa-apa kok. Ini masih proses pemulihan aja. Bentar lagi juga sembuh... " ucap Tiuga.
" oh ya... Aisyah mana? " tanya Sherin.
"Ada di kamar. Mau ke kamar!? " Tanya Tiuga. Sherin mengangguk.
Tiuga meminta ART nya untuk mengantar Sherin ke kamarnya. Sedangkan dia di bawah bersama ayah dan keluarga Sherin.
Ini pertama kalinya dia mengunjungi rumah Tiuga, rumahnya cukup besar dan mewah.
Saat pintu kamar di buka tercium lah aroma bayi.
"hmmm...wangi... " Gumam Sherin. Sherin mendapati Aisyah yang tengah mengendong bayinya.
"Haaiii... udah datang!" Sapa Aisyah ramah.
Sherin tersenyum. dia lalu menghampiri Aisyah. Sherin menatap wajah bayi cantik itu dengan matanya yang indah dan jernih. Bayi itu tampak sangat cantik.
"Mau gendong!? " tawar Aisyah.
"Nggak ah... aku ngeri, takut jatuh... " ucapnya sambil menatap kagum pada bayi cantik itu lagi.
"Siapa namanya...!? " Tanya nya seraya menatap Aisyah.
" ADIFA DAANIA ALZAM. wanita baik cantik yang berbakat... "Ucap Aisyah seraya menyebut arti nama anaknya.
" Bagus namanya. Semoga kamu sebaik ayah dan ibumu nak... Tante minta maaf sudah hampir membuat kamu kehilangan semuanya... "Ucap Sherin dengan mata berkaca-kaca.
" Sudah Sherin... Kami semua sudah maafin kamu, sekarang kamu juga harus maafin diri kamu sendiri... "Ucap Aisyah lembut. Sherin memeluk Aisyah dan sekali lagi berkata.
" Maafin aku... " Tangis Sherin pecah, tangis yang penuh sesal. Serta permintaan maaf yang tulus.
Mungkin waktu akan memberinya ruang untuk dia memahami segalanya . Bagaimanapun kejadian kemarin mampu merubah Sherin menjadi lebih baik.
3 bulan kemudian mereka mendapat kabar jika Sherin dan Rio akan menikah. Mereka mengundang Aisyah dan Tiuga beserta keluarga. Tiuga senang karena sekarang Sherin benar-benar bisa hidup lebih baik. Dia sudah bisa menata hidupnya dengan lebih stabil.
Semua berjalan baik setelah mereka semua menerima takdir mereka dengan ikhlas. Tiuga menerima Aisyah sebagai istrinya dan memaafkan perbuatan Sherin.
Aisyah menerima Tiuga dan masa lalunya. Dan Sherin menerima Rio sebagai pengganti Tiuga.
Tuhan hanya meminta kita untuk ikhlas, dan percaya Dia lebih tau yang terbaik bagi kita. seperti daun yang berguguran yang selalu ikhlas kemanapun angin akan membawanya, karena itu sudah ketentuan Tuhan.
(sudah belajar tentang ikhlas!? ☺☺
Semoga kita semua bisa menjadi orang yang ikhlas. Aaamiin... )
🤗🤗🤗
BERSAMBUNG...
__ADS_1