
***
POV YATI
Udara pagi ini terasa sejuk memberikan kesegaran, setelah tadi malam kota di guyur hujan.
Mentari pagi selalu setia memberikan kehangatan nya ke seluruh penjuru bumi walau kadang banyak tak mau peduli.
Beranjak ku dari peraduan kemudian merapikan kamar yang berisi perabotan seadanya.
Sudah genap seminggu.
Entah kenapa semangat ku terasa hilang seiring tak adanya kabar dari kak Ridwan. Tak terhitung berapa pesan yang sudah ku kirim lewat watshapp namun pesan ku hanya terlihat centang satu dan berapa banyak panggilan ku padanya namun selalu ponselnya tidak aktif.
Ku cari info dari teman kerjanya, katanya dia ijin tidak tau ada keperluan atau urusan apa dan entah berapa lama.
Ingin rasanya datang ke rumah nya,sayang nya tidak ada yang tau dimana alamat jelas rumah kak Ridwan.
Ku pandangi layar ponsel berharap ada pesan balasan dari kak Ridwan tapi sampai sekarang belum ada juga.
"Apa sebenarnya yang terjadi kak,kenapa kau menghilang tanpa kabar....?"
"Baru ku rengkuh manisnya di cintai dan mencintai kenapa langsung di uji kesabaran di hati...."
"Apakah engkau sengaja melakukan nya....?"batin ku selalu bertanya-tanya.
"Rasanya separuh jiwaku hilang tanpa hadirmu,kak."
"Aku masih di sini, seperti biasa...."
Tok...tok...
"Kak...boleh masuk nggak...?"panggilan Bani membuyarkan lamunanku.
Aku mengangguk dan berusaha tersenyum.
Bani duduk menghadap ke arahku, pandangan nya nanar mencari sesuatu dalam diriku.
"Kalau kakak mau cerita,aku siap mendengarkan.Jangan di pendam sendiri menganggap semua baik-baik saja..."pancingnya.
"Kakak tidak bisa terus membohongi aku dan emak..."
Aku hanya bisa menghela nafas panjang yang terasa berat bagi ku.
"Masih tidak ada kabar dari kak Ridwan ya..."
"Belum Ban..."sahutku pelan.
"Sudah seminggu tidak ada kabar darinya.Aku hanya khawatir Ban."
"Kakak pernah ke rumah nya...?"
"Atau ada yang tau dimana alamat rumah kak Ridwan...?"
Aku menggeleng lemah.
"Terakhir ku tau kalau pagi itu dia mau jemput mamanya keluar dari rumah sakit.Dan dia mau jemput aku pulang kerja untuk jenguk mamanya di rumah."
"Tapi sampai sekarang ..."aku tak mampu lagi berkata-kata.Mata ku mulai berkaca-kaca.
Bani menggenggam erat tangan ku.
"Aku hanya khawatir Ban...."
"Aku takut terjadi sesuatu yang menimpa kak Ridwan ataupun juga orang tua nya."
"Pikirkan yang positif saja kak."
"Kita doa kan semoga tidak terjadi apa-apa ...
Aku mengangguk mengiyakan ucapan Bani barusan.
__ADS_1
"Kakak hari ini nggak masuk kerja...?"
"Iya,aku libur."
"Kalau begitu, istirahat lah."
"Biar waktu yang akan menjawab semua ..."ucap nya memberi dukungan semangat kepadaku.
Aku hanya membalas dengan senyum datar.
"Ku tinggal dulu ya kak,masih ada motor-motor mengantri minta di mandikan.."candanya.
"Titip emak juga ya..."timpalnya lagi.
"Iya,pergilah..."balas ku.
Aku pun kembali dalam kesendirian.
Ku rebahkan lagi tubuh ini.
Berusaha memejamkan mata untuk sejenak menghilangkan rasa cemas dalam hati.
"Seberat ini kah rasanya merindu...."
***
POV RIDWAN
Sudah seminggu berlalu....
Tiap hari,....
Pagi,siang,sore hingga menjelang malam
Ku pandangi jendela kamar rumah sakit itu
"Annisa..."batin ku memanggil namanya.
Ku hanya bisa mengawasi setiap aktivitas nya dari kejauhan.
Setiap pagi saat mentari baru menampakkan cahayanya,gadis itu membuka jendela dan memandangi bunga-bunga kecil di depan nya.
Matanya terlihat sayu tak ada keceriaan terlihat seperti dulu aku bersamanya.
Ingin rasanya aku datang mendekati nya, memeluk tubuhnya yang lemah.Membisikkan kata-kata indah, mengembalikan senyum yang pernah hilang.
"Begitu pengecutnya diriku..."sesuatu berperang dalam sanubari ku.
Aku lelah terus memikirkan,berdiri dalam persimpangan.....
Sungguh seperti buah simalakama
Apapun yang di putuskan,semua akan membuahkan luka
Sekilas bayangan seorang laki-laki berpakaian putih yang dapat ku pastikan adalah seorang dokter keluar dari ruangan itu di ikuti kak Yoga di belakang nya.
Terlihat mereka sedang membahas sesuatu.
Ku coba perhatikan mimik wajah serta gerak bibir mereka berusaha memahami apa yang mereka bicarakan.
Tapi jarak ku yang terlalu jauh membuat ku kesulitan mengartikannya.
Beberapa saat kemudian dokter itupun berlalu pergi, meninggalkan kak Yoga sendiri dalam diam.
Nampak dari wajahnya ada sesuatu yang di pikirkan.
Ku cari bayangan dokter tadi.
"Dapat.."batinku.
Aku cepat berlari mengejar dokter tersebut yang sudah memasuki ruangan nya.
__ADS_1
Tok...tok...
"Permisi dok,maaf mengganggu..."salam ku.
"Oh iya,mari silahkan duduk...."
"Ada yang bisa saya bantu...?"tanya nya dengan sopan.
"Maaf dok,saya tadi barusan lihat dokter keluar dari ruangan teman saya yang bernama Annisa..."
"Kalau boleh tau,Annisa mengidap penyakit apa ya dok....?"tanyaku mencoba mencari informasi dari dokter tersebut.
"Anda teman nya...?"balasnya menyelidik.
"Benar dok.."jawabku.
"Seberapa dekat...?"pertanyaan nya membuat ku grogi karena tidak menyangka sampai sejauh itu.
"Sebenarnya saya dulu pernah berhubungan dekat dengan Annisa,dok...."
"Saya kekasihnya,"jawabku pasti.
Entah darimana keberanian ku muncul hingga kata-kata itu terucap.
Dokter itu tersenyum,...
"Kalau anda benar-benar mencintai nya,inilah saatnya membuktikan cinta anda padanya."
"Annisa mengidap penyakit kanker otak,sudah hampir 2 tahun di bawah pengawasan dan perawatan rumah sakit ini."
"Dia sangat membutuhkan dukungan dan semangat dari orang-orang yang mencintainya dan pasti juga di cintai nya."
Kata-kata dokter itu sangat memukulku.
Aku hanya bisa diam tanpa bisa berkata apa-apa lagi.
"Kanker otak nya sudah memasuki stadium 3.Kamipun berusaha semaksimal mungkin untuk membantu nya."
"Tapi sepertinya keinginan untuk sembuh di diri si pasien sudah sirna,dia lebih banyak pasrah. Tidak ada semangat untuk berjuang melawan penyakitnya sama sekali."
"Jadi kami berharap pihak keluarga,teman serta sahabatnya bisa membantu Annisa."
"Kami hanya bisa membantu dari segi medis saja"
"Terima kasih dok atas segala penjelasan nya..."ucapku setelah mendengar segalanya.
Kemudian aku pun berlalu pergi dari ruangan itu.
Sangat berat bagiku mendengar semua ini dan pasti lebih berat lagi bagi Annisa.
Tanpa ku sadari langkah kaki ku membawa badan ini menuju ruang kamar dimana Annisa di rawat.
Tak ada lagi yang ingin ku lakukan selain meminta dia memaafkan kekhilafan ku.
Ku buka perlahan pintu kamar,dan ku paksa masuk langkah kaki yang terasa sangat berat.
Kak Yoga yang duduk di pinggiran ranjang,terkejut melihat kehadiran ku.
Dia tersenyum dan menepuk pundak ku perlahan kemudian berlalu keluar membiarkan aku berdua bersama Annisa.
Ku pandangi wajahnya yang putih pucat.
Matanya masih terpejam dalam lelap.
Ku raih dan ku genggam erat tangan nya.
Tanpa terasa air mata ku menetes tanpa suara
Mengurai sesak di dada
"Nisa...aku disini..."bisik ku.
__ADS_1
Tapi kau hanya diam.
"Annisa,aku di sini menunggu mu..."