
Sepanjang perjalanan....
Hanya bayangan nya yang mengisi relung pikiran ku
Sebegitu besar kah rasa merindu di hati ini
Bagaimana aku harus bersikap kelak
Bila faktanya derajat kami berbeda
Entah lah...
Dreet..... dreet...
Ponsel ku bergetar,ada notifikasi pesan masuk.
"Yat,aku sudah di dalam cafe..."pesan bang Ronald.
"Iya bang,ini lagi di jalan... sebentar lagi juga sampai.."balas ku.
"Rin,aku mau ketemu bang Ronald di cafe Cap*Ng pas perempatan itu .."
"Kamu pulang aja duluan, nanti aku pulang sendiri.."pinta ku.
"Kapan, sekarang...?"
"Iya.."
Dia hanya mengangkat jempol tangan kirinya tanda mengerti.
Sesampainya di depan cafe,aku turun dari boncengan motor Ririn.
"Ma kasih banyak ya rin,kamu sahabat terbaik ku..."
"Iya sama-sama Yat,..."
"Ini beneran nggak mau ku tunggu...?"
"Nggak usah rin, takut nya agak lama..."balas ku.
Ririn pun berlalu pergi meninggalkan ku di depan halaman cafe.
Ku langkahkan kaki masuk melewati pintu cafe.
Sejenak aku berhenti mengedarkan pandangan mencari sosok bang Ronald.
"Yat..."terlihat sosok pria yang aku cari.
Penampilan bang Ronald nampak beda.
Dengan menggunakan kaos lengan pendek dan celana Jogger di tambah jaket kulit membuat dia terlihat lebih cool.
Sekilas aku pun terpesona dengan ketampanan nya.
Ku tarik kursi dan mengambil tempat duduk berhadapan dengan nya.
"Habis dari mana ...?"tanya nya membuka obrolan di antara kami.
"Oh itu,tadi ada sedikit urusan di rumah sakit.."jawab ku agak grogi.
"Mau pesan apa...?"
"Jus jeruk aja deh bang.."
"Makan nya...?"tawarnya lagi.
"Emmm sama kentang goreng."
Bang Ronald melambaikan tangan nya ke arah seorang waiter cafe dan menyerahkan secarik kertas berisi pesanan kami.
Sementara menunggu pesanan kami datang,ku alihkan perhatian dengan membuka aplikasi fac*b**k di ponsel ku.
Lima menit kemudian pesanan pun sudah sampai di meja.
Ku seruput jus jeruk untuk menghilangkan dahaga di tenggorokan.
Bang Ronald dengan santai melahap nasi goreng pesanan nya.
__ADS_1
Kami pun hanya saling diam.
Aku tersenyum memandangi bang Ronald.
"Kenapa,aku makannya seperti anak kecil ya..?"goda nya.
"Ada biji nasi goreng nempel di dagu abang.."jawab ku.
Dia mengelap dagunya dengan tissue.
"Masih ada itu bang..."kata ku dengan geli.
"Tolong di bersihkan dong..."pinta nya.
Dengan agak canggung ku sapukan tissue makan untuk membersihkan dagunya.
Dia tersenyum memandang ku dan meneruskan makan nya.
Sesaat aku teringat masa-masa seperti saat ini bersama kak Ridwan.
Makan bersama nya dan saling bercanda.
"Kok ngelamun..?"tegur bang Ronald yang sedang menyeruput minumannya.
"Ah enggak juga bang..."sahut ku kemudian memasukan kentang goreng satu demi satu.
"Ada yang mau abang bicarakan sama aku ya...?"tanya ku.
Bang Ronald menyampingkan piring bekas makannya.
"Iya ,masalah kamu yang kemarin..."
"Terus gimana bang...?"
"Seperti dugaan ku,si Amel pelakunya..."jawab bang Ronald pasti.
"Apa alasan dia melakukan itu sama aku sih bang...?"
"Perasaan,aku tidak pernah mencari masalah sama siapapun, apalagi sama dia..."tutur ku.
"Dia cemburu sama kamu,Yat."
"Ya bisa lah Yat,kalau sudah masalah hati bisa membuat seseorang cemburu tanpa dapat berpikir jernih lagi dalam mengambil sikap."
"Hmmm,siapa ya pujaan hatinya...?"gumam ku yang masih bisa di dengar oleh bang Ronald.
"Ehm,sudah jangan di pikirkan lagi..."sahutnya terlihat agak kikuk.
"Apa orang yang di sukai Amel itu bang Ronald ya...?"tembak ku sambil memandang matanya.
Yang di tanya malah pura-pura tidak mendengar dan mengalihkan pandangannya keluar cafe.
"Aduh abang malu-malu gitu mengakuinya..."goda ku.
Entah kenapa,aku malah jadi suka menggoda nya...
Melihat dirinya yang terus berusaha mengalihkan perhatian membuat ku merasa lucu sendiri.
Ternyata bang Ronald yang ku kenal dingin dan kaku selama ini, memiliki sisi pribadi yang cukup menyenangkan.
Entahlah semakin aku dekat dan mengenalnya,terlihat sosoknya yang sangat menarik perhatian ku.
"Sudah puas menggoda ku...?"katanya dengan tersenyum.
Aku pun membalasnya dengan senyuman.
"Aku senang bisa membuat mu tersenyum...."ucapnya pelan.
"Terima kasih bang..."
"Buat apa...?"godanya balik.
"Buat makan dan minumnya..."jawab ku singkat.
"Nanti gantian ya...?"tatapnya.
"Gantian apa bang...?"
__ADS_1
"Gantian traktir aku makan..."jawabnya.
"Boleh..."
"Tapi,yakin nggak ada yang bakal cemburu nih...?"goda ku lagi.
"Yakin 1000%,aku masih sendiri.."jawabnya blak-blakan.
"Ah,aku nggak percaya kalau abang masih jomblo..."
"Abang sudah mapan,gagah,tampan lagi...masa sih nggak ada yang mau...?"
"Ya adalah,cuma aku nya aja belum siap,Yat."
"Ya di coba dulu bang,..."
"Ini juga lagi usaha.."senyum nya.
"Sama siapa...?"tanya ku pura-pura.
"Sama siapa lagi,ya sama kamu lah.."tembaknya.
"Aish abang nih becanda terus.."elak ku.
"Serius Yat,...dari awal kita ketemu,aku sudah suka sama kamu.."ucapnya dengan wajah yang berubah serius.
"Sayangnya,aku bukan orang yang pandai bicara mengutarakan isi hati."
Senyum ku pun perlahan tenggelam,aku tak bisa membalas kata-kata nya lagi.
"Maaf Yat,mungkin aku terlalu cepat mengakuinya di depan mu.."ucapnya lirih.
"Sudah larut,ku antar kamu pulang..."ajaknya.
Aku pun beranjak berdiri.
Bang Ronald berjalan lebih dulu menuju kasir untuk membayar makanan kami.
"Udara malam dingin,pakai lah..."katanya sembari memberikan jaketnya kepada ku.
"Tapi abang yang di depan,pasti lebih dingin..."sanggah ku.
"Aku laki-laki,...jadi harus melindungi wanitanya di setiap keadaan apapun.."jelasnya dengan senyum yang penuh arti.
Aku terdiam dan terus menatap punggung nya yang kini sudah menaiki kuda besi.
"Kamu mau tetap tinggal disini...?"katanya yang membuat ku tersadar.
"Aish abang nih..."kemudian aku naik membonceng di belakang nya.
"Yat,..."
"Iya bang,kenapa lagi...?"tanya ku.
"Pegangan,nanti di kira orang-orang aku ojol lagi..."
"Masa aku yang gagah dan tampan jadi ojol..."celetuk nya.
"Kalau abang jadi ojol pasti banyak pelanggan nya.."goda ku.
"Biarlah aku jadi ojol,tapi khusus ojol di hati mu..."rayunya.
"Huh gombal..."sahut ku.
Bang Ronald hanya tertawa kecil mendengar nya, seiring laju motor yang mengantar ku pulang ke rumah.
Sesaat kebersamaan ku dengan bang Ronald membuat hatiku bisa melupakan bayangan kak Ridwan yang telah menggantungkan harapan ku.
Apakah sikap ku ini salah....
Setelah mendengar kak Ridwan adalah anak pengusaha,hati ku menjadi ciut....
Walau pun keras aku berusaha mempertahankan perasaan ini,tapi aku tetap sadar diri...
Semua hanya harapan belaka
Perbedaan kami sangat nampak terlihat di mata
__ADS_1
Mungkin aku harus mengubur benih cinta yang baru bersemi di antara kami
Selamanya....