BIDADARI BUMI YANG TERLUKA

BIDADARI BUMI YANG TERLUKA
PULANG KAMPUNG 3


__ADS_3

******


Jarak dari pertigaan jalan kampung menuju rumah wa Tinah lumayan jauh hampir 1km.


Sebenarnya agak risih juga berjalan berdua dengan laki-laki yang baru ku kenal tapi daripada jalan sendirian apalagi malam-malam sepi begini, rasanya takut juga.


Lagian Aris kayaknya sosok laki-laki yang baik dan dewasa.Terlihat dari sikapnya yang sopan dan santun.


"Biar ku bawakan sebagian barang nya?"tawarnya.


"Terima kasih, nggak pa-pa kok aku masih bisa"jawabku sambil membenarkan letak tas ransel yang tergeser dari atas koper.


Sesaat aku berdiam diri, beristirahat sejenak mengambil nafas.


Aris tersenyum melihat ku,sambil menunggu langkah kaki ku kembali menapaki jalan.


"Ah habis,"batin ku menenteng botol minum dari saku tas ransel ku.


"Minum lah"satu botol air mineral kemasan kecil di sodorkannya kepada ku.


"Terima kasih,biar nanti minum pas sampai di rumah aja"tolak ku dengan halus.


"Jangan sungkan atau berprasangka.Aku ikhlas kok dan insyaallah aku jamin tidak mengandung bahan berbahaya apa pun di dalam nya"ucapnya meyakinkan.


"Maaf,bukan maksudku berpikir begitu"dengan tidak enak hati,ku sambut pemberian nya.


"Kalau tidak salah, mungkin tinggal sekitar 200 meter lagi kita sampai di Laila"terang nya.


"Benarkah?ku langkahkan kaki lagi dengan semangat setelah mendengar ucapannya barusan.


"Kamu terdengar akrab menyebut nama kak Laila?"ku coba kembali mencairkan suasana.


"Aku dan Laila pernah satu sekolah cuman beda kelas saja tapi karena arah pulang searah jadi sering pulang bareng sama teman-teman lainnya"jelasnya.


"Oo pantas "jawab ku singkat.


"Aku juga kenal dengan mu waktu kamu masih kecil dan tinggal menetap disini.Kamu lebih senang tinggal di rumah, jarang bermain dengan teman sebaya mu kan."


"Aku sering lewat depan rumah mu,mungkin kamu saja yang tidak pernah memperhatikan"tawanya.


"Benarkah?"jawab ku agak malu sendiri karena tidak pernah menyadarinya.


"Wajarlah kalau gadis rumahan seperti mu bersikap cuek dengan keadaan di luar rumah,sibuk membantu orang tua dan belajar mengurus kerjaan rumah.Jadi tidak ada waktu untuk melihat tingkah laku orang luar yang bisa membuat jadi bahan ghibah saja."


"Aku suka pribadi gadis seperti itu"jelasnya lagi melempar senyum ke arahku.


Deg

__ADS_1


Kata-kata nya barusan membuat ku agak terkejut.


"Ah itu hal yang wajar,"potong ku agak kaku.


"Dalam rangka apa pulang kampung kali ini?"di alihkan nya topik pembicaraan seakan paham dengan sikap ku.


"Maksudnya?"jawab ku masih belum mengerti apa yang dia maksud kan.


"Mungkin ingin balik kampung dan menetap kembali di sini atau cuma silahturahmi sekaligus refreshing dari hiruk pikuk kehidupan kota,begitu"terangnya.


"Ah itu,iya mau silahturahmi karena sudah lama sekali tidak pernah pulang lagi ke sini"jawab ku asal.


"Mau berapa lama di sini?"


"Belum tau pasti"jawab ku lagi dengan singkat.


Aris berhenti mendadak di depan ku hingga tanpa sengaja membuat ku menabrak tubuhnya dari belakang.


"Kenapa berhenti?"tanya ku menghilangkan rasa bersalah karena tidak melihat langkah ku.


Aris membalikkan badannya tepat berhadapan ku.


"Kasihan, rupanya capek banget ya hingga ingin ikut terus dengan ku"godanya.


"Hah,apa maksudnya?"tanya ku bingung dengan perkataan nya.


"Ah iya,"sahut ku girang karena merasa perjuangan ku sudah berakhir.


Aku langsung bergegas masuk ke teras rumah wa Tinah dan mengetuk pintu.


"Assalamualaikum wa,wa Tinah..."salam ku cukup keras.


Setelah mengucapkan salam beberapa kali akhirnya terdengar suara orang dari dalam.


"Wa alaikum salam, tunggu sebentar"terdengar sahutan dari wa Tinah.


Saat daun pintu terbuka terlihat wajah wa Tinah dan kak Laila yang nampak seperti belum menyadari siapa yang datang.


"Maaf,cari siapa ya?"tanya wa Tinah masih mencoba menelisik wajah tamu-tamu nya.


"Wa,ini Yati"sapa ku sambil meraih dan mencium punggung tangan nya.


"Ya Allah,beneran ini Yati?"peluk wa Tinah.


Lain lagi dengan kak Laila yang terus memandangi sosok laki-laki di belakang ku.


"Aris,kalian....?"kata-kata menggantung dari kak Laila.

__ADS_1


"Kebetulan kami satu taksi angkutan, berhubung tadi taksinya sempat mogok jadi sampai sini agak kemalaman"jelas Aris dengan tenang.


"Untunglah ada kamu jadi ada yang jagain,ayo masuk dulu"tawar uwa dan kak Laila pada Aris.


"Terima kasih wa, bukannya menolak tapi nanti lain waktu Aris pasti bertamu.Berhubung sudah larut malam juga lebih baik Aris lanjut jalan pulang saja"tolaknya dengan halus.


"O iya-iya, terima kasih ya ris"balas uwa.


"Assalamualaikum"salamnya berjalan menjauh.


"Wa alaikum salam"sahut kami berbarengan.


"Ayo,ayo masuk"ajak uwa sambil menutup dan mengunci daun pintu.


"Uwa kira tadi siapa datang malam-malam.Kenapa nggak ngasih kabar dulu kalau mau pulang?"


"Kalau sudah malam begini nggak ada lagi ojek yang mangkal,kenapa nggak nelpon minta jemput ?"cerocos uwa.


"Aduh sabar dong mak, kasihan Yati bingung gimana mau jawabnya kalau emak nanya nya begitu"potong Laila.


"Duduk dulu Yat,aku bikinkan teh hangat sebentar"Laila beranjak masuk ke dapur belakang.


"Maaf wa,Yati baru sekarang bisa menjenguk uwa di sini"ku pegang erat tangan tua nya yang nampak penuh kerutan.


Mata tua nya berkaca-kaca.Di usapnya lembut pipi ku.


"Kamu sekarang sudah besar nak,bukan lagi Yati kecil yang dulu."


"Bagaimana keadaan emak mu?Bani sekarang pasti sudah besar juga ya?"tak terasa air mata nya menetes membasahi wajah tua nya.


"Keadaan emak tidak seperti dulu lagi wa,maklum mungkin karena faktor usia"jawab ku tidak ingin membuat wa Tinah terlalu khawatir dengan kondisi kesehatan emak sekarang.Apalagi kalau sampai uwa tau tentang penyakit stroke yang di deritanya.


"Iya,uwa juga tidak kuat seperti dulu lagi.Dulu masih bisa pergi pagi pulang petang mengurusi kebun dan sawah sekarang paling sampai tengah hari aja"kisahnya.


"Minum dulu Yat,biar nggak masuk angin"sela kak Laila meletakkan talam berisi satu teko teh hangat serta 3 buah gelas.


Ku buka ransel dan mengeluarkan bungkus kresek berisi jajanan yang sempat ku beli buat oleh-oleh.


"Bani sama emak mu nggak ikut Yat?"tanya kak Laila.


"Emak sudah nggak kuat lagi kalau harus menempuh perjalanan jauh kak,kalau Bani belum bisa ijin soalnya bos nya masih di luar kota"jelas ku.


Percakapan kami hanya berkisar yang ringan-ringan saja.Karena malam sudah larut,uwa pun menyuruh ku untuk beristirahat dulu.


******


Maaf kalau emak nggak bisa up tiap hari padahal niat hati sangat ingin.

__ADS_1


Mohon bantuan dan dukungan nya ya biar semangat emak tidak down,kalah dengan peliknya masalah di kehidupan nyata 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2