
*********
Setelah hari lamaran berlalu, hubungan Yati dan Ridwan yang menghitung hari menuju hari bahagia mereka semakin romantis.
Sebenarnya Yati ingin tetap bekerja lagi seperti biasa tapi Ridwan tidak mengijinkan karena mulai posesif nya.
Rencananya dia akan pulang ke kampung halamannya untuk memberi tahukan keluarga di sana perihal pernikahan nya yang akan di gelar serta menjenguk abahnya yang sudah lama tidak ada kabar berita.
*******
Sinar mentari menyapa pagi seperti biasa tidak ada yang berubah.Semua orang bergelut melakukan aktifitas nya masing-masing.
Sempat terlintas dalam benak Yati,dari sikap Ririn kemarin seperti ada sesuatu yang di sembunyikannya.
Sikap Ririn terlihat tidak biasa dan juga tumben dia bahas masalah film tentang cinta segitiga.
Buru-buru di tepisnya pikiran-pikiran aneh tentang Ririn.
Dreet ... dreet... dreet
Notifikasi pesan masuk dari ponsel Yati.
"Kakak ipar jadikan pagi ini temani aku besuk ke rumah sakit?"dari Ririn.
"Iya jadi Rin,"balas Yati.
"Ini aku otw jemput"pesan nya lagi.
Sebaiknya aku kasih tau kak Ridwan takutnya dia nanti datang ke rumah batin Yati.
"Kak,aku sama Ririn mau besuk keluarga nya di rumah sakit ya"pesan Yati terkirim.
Tapi sengaja tidak di baca oleh Ridwan.
********
Tin...tin...suara klakson motor Ririn memanggil dari depan rumah kontrakan Yati.
Yati yang sudah siap bergegas keluar menemui nya.
"Nggak mau masuk dulu?"tawar Yati.
"Nanti aja deh,ayang ku juga dah berangkat kerja ke bengkel kan"tolak Ririn.
"Ayo berangkat,mumpung nggak terlalu panas"sahut Yati sambil naik bonceng di belakang Ririn.
"Idih yang mau jadi pengantin sekarang keluar rumah takut panas-panas lagi"ledeknya.
__ADS_1
"Ya iya lah,harus itu"ucap Yati dengan tertawa kecil.
"Berangkat..! teriak Ririn dengan semangat tukang ojek nya.
Motor mereka pun melaju membelah jalanan menuju rumah sakit yang di tuju.
Sesampainya disana dan memarkir motor,Ririn dan Yati berjalan menyusuri lorong rumah sakit.
"Eh Rin,kita nggak bawa buah tangan nih?"tanya Yati.
"Nggak perlu, soalnya ada sesuatu yang lebih penting setelah ini yang mau aku kasih tau ke kamu"jelas Ririn dengan serius.
"Kenapa nggak ngomong dari sekarang aja sih Rin?"
"Perasaan ku dari kemarin ketemu, sikap kamu agak beda deh seperti ada yang kamu sembunyikan dari aku"tebak Yati.
"Emang,"sahut Ririn santai.
"Nah benarkan dugaan ku"cegah Yati mencoba menghentikan langkah kaki Ririn.
"Kan tadi aku juga sudah bilang, setelah kita besuk pasien ini ada yang mau aku kasih tau sama kamu"tegasnya.
"Aduh bikin penasaran aja"ucap Yati kemudian mengikuti langkah kaki Ririn yang sudah lebih dulu berjalan mendahului nya.
"Maaf sus,pasien bernama Annisa Az Zahra apa bisa kami besuk sekarang?"tanya Ririn sopan di meja perawat.
"Bisa, silahkan masuk saja"jawab salah satu perawat itu.
"Kita lihat dari sini aja ya Yat,"pinta Ririn.
Mereka berdua berdiri melihat keadaan Annisa dari balik kaca pintu.Terlihat Annisa berbaring dalam lelapnya dengan selang infus serta oksigen yang membantu pernafasan nya.
Yati menyentuh pelan lengan Ririn.
Ririn pun paham maksud dari tatapan mata dari Yati walaupun tanpa bersuara.
"Yat, sebelumnya aku ingin minta maaf ya...?
"Maaf untuk apa Rin?"jawab Yati meminta penjelasan.
Ririn kembali mengalihkan pandangannya ke Annisa di dalam sana.Dia mencoba membuka cerita.
"Seperti yang kamu dengar tadi gadis itu bernama Annisa Az Zahra,dia menderita kanker yang mungkin sudah tidak mungkin untuk di sembuhkan lagi."
"Sejak kecil Annisa hanya tinggal bersama kakak laki-lakinya.Orang tua mereka sudah lebih dulu pergi dalam sebuah kecelakaan."
"Kasihan "tanpa terasa kata itu keluar dari bibir Yati.
__ADS_1
Entah mengapa ada rasa sedih dalam hati nya mendengar cerita jalan hidup yang di alami Annisa.
"Iya, kasihan memang"balas Ririn.
"Sebenarnya aku juga baru kenal dia dan kakak nya,dia bukan siapa-siapa ku tapi wajar kalau kita juga turut merasa terenyuh bila tau cerita jalan hidup mereka."
"Katakan sejujurnya Rin,apa hubungannya dengan ku?"Yati bisa menebak pasti ada yang di sembunyikan oleh Ririn di balik semua ini.
Ririn kemudian mengajak Yati duduk di kursi tunggu di lorong itu.
Di genggamnya jemari tangan Yati.
"Kita sudah berteman sangat lama dan aku yakin kamu bisa membaca sikap dan kebiasaan ku kan."
Yati tersenyum mendengar pengakuan dari Ririn,memang mereka berteman tidak hanya 1 atau 2 bulan saja tapi sudah dari sejak SMP hingga masuk SMA dan bekerja dalam satu lingkungan juga jadi sudah tahu karakter masing-masing.
"Rin semoga dugaan ku kali ini salah.Apa ada kaitannya dengan cerita kamu tentang film pak Haji kemarin?"selidik Yati ragu-ragu.
Ririn mengangguk tanda mengiyakan.
"Annisa cinta masa lalu kak Ridwan,Yat.Hubungan mereka lost contact karena sebuah kesalahpahaman dari kak Ridwan.Itu yang ku dengar"papar Ririn dengan hati-hati.
"Tapi kamu harus yakin,kalau kamu lah cinta di masa depan nya sekarang"tekannya lagi.
"Terus apa maksud dari semua ini Rin?"suara Yati mulai bergetar.
"Kak Ridwan datang menemui ku,dia minta bantuan ku untuk menjelaskan semua kepada mu agar kamu tidak salah paham.Dia juga baru tau keadaan Annisa sekarang ini setelah kalian menjalani hubungan yang serius."
"Kak Yoga, kakak nya Annisa meminta kak Ridwan untuk sering membantunya menjaga Annisa.Makanya dia minta aku untuk menjelaskan agar kamu tidak salah paham."
Ririn menatap wajah Yati dengan sedih,ada rasa bersalah timbul di hatinya.
"Maaf kan aku,Yat"ucapnya lirih.
"Kamu tidak salah jadi kenapa harus minta maaf.Dan kalau memang keadaan nya begini terus mau gimana lagi.Bukan kah semua sudah takdir dari Allah jadi kita cuma bisa sabar untuk menjalaninya"balas Yati terlihat lebih tegar.
"Aku akan berusaha lapang dada untuk menerima nya Rin."
"Gitu dong,kamu memang wanita panutan ku"puji Ririn.
"Annisa barangkali juga memerlukan dukungan semangat dari kak Ridwan.Seandainya aku di posisi kak Ridwan mungkin juga aku tidak bisa menolak setidaknya untuk sebuah kata demi rasa kemanusiaan,"kata-kata terakhir Yati terasa berat terucap.
"Ayo kita pulang sekarang "ajak Ririn yang tak ingin melihat sahabatnya terlalu lama larut dalam perasaan.
Sepanjang jalan menuju area parkiran,Ririn menggenggam tangan Yati untuk menguatkan hatinya.
Yati memilih diam hingga motor yang mereka kendarai sampai di rumahnya.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa kan?"tanya Ririn lagi memastikan keadaan Yati.
"Iya,aku cuma perlu istirahat "jawabnya singkat dan beranjak masuk menuju kamarnya.