
****** POV YATI
Adzan ashar sayup-sayup terdengar di mushola kecil yang terletak tidak jauh dari rumah wa Tinah.
Menandakan hari sudah memasuki sore dan sebentar lagi akan menjemput senja.
"Wa Tin..."sapa ku pada wa Tinah yang sedang asyik menganyam membuat bakul berbahan purun ciri khas daerah kami.
"Eh Yati,sudah sholat ashar nak?"sahut beliau menyambut kehadiran ku.
"Sudah wa.Kak Laila mana ya wa,kok dari tadi nggak ada...?"tanya ku sambil memperhatikan anyaman bakul kecil yang sudah selesai di kerjakan wa Tinah di atas meja.
"Lagi keluar katanya ada urusan penting.Nggak bilang urusan apa, katanya sih rahasia"jawab uwa dengan menghela nafas.
"Wa,Yati boleh minta ijin jalan-jalan keluar sebentar?"
"Boleh,tapi hati-hati di jalan ya"pesan beliau dengan senyum teduh penuh kasih sayang.
"Iya wa.Assalamualaikum..."pamit ku dan di balas salam uwa mengiringi langkahku menuju keluar rumah.
Perlahan namun pasti ku langkahkan kaki menyusuri jalanan kampung.Suasana keakraban dari para warganya terlihat sangat jelas,saling tegur sapa apa bila bertemu memperlihatkan rasa kekeluargaan masih terjalin erat.
"Mau kemana nak,kok jalan sendiri aja?"tanya seorang wanita paruh baya seumuran wa Tinah menyapa ku di sela-sela kegiatan menyapunya.
"Jalan-jalan aja wa soalnya lama nggak pulang jadi rindu suasana disini"jawab ku sopan sambil tersenyum.
"Bagaimana kabar emak mu sekarang,sehat...?"sambung beliau.
"Alhamdulillah,sehat wa"balas ku lagi.
"Gimana keadaan abah sekarang,sudah baikan...?"tanya nya lagi.
"Yati belum ke rumah abah,wa.Soalnya baru tadi malam juga nyampai nya terus nginap di rumah wa Tinah.Rencananya ini juga mau jenguk Abah"jelas ku panjang lebar.
"Yati permisi dulu ya wa"pamit ku berlalu.
Beliau mengangguk dan meneruskan kegiatan menyapu halaman rumah nya.
Entah kenapa langkah ini mengarahkan ku menuju rumah yang tidak asing lagi bagi ku.
Rumah yang penuh kenangan indah bersama keluarga kecil kami dulu.
Kasih sayang dari Abah dan emak serta hadirnya adik laki-laki membuat aku merasa anak yang paling beruntung.Walaupun kehidupan kami sederhana tidak berlimpah harta benda.
Seperti kehidupan rumah tangga petani kampung lainnya.Setiap hari aktifitas abah pun sama,pergi pagi menuju sawah dan ladang hingga petang sedang emak merawat kami dan melakukan pekerjaan rumah.
Tapi semua perlahan berubah ketika Abah di percaya menjabat sebagai kepala desa.Abah sering di minta warga membantu masalah para warganya walaupun itu juga tidak serta merta sekedar cuma-cuma.
__ADS_1
Namun membuat abah tidak bisa lagi pergi ke sawah dan ladang yang akhirnya emak yang harus turun tangan mengurusi nya sendiri.
Abah pun mulai terbuai dengan jabatan nya hingga lupa dengan anak dan istrinya.Sikap Abah mulai berubah,sering tidak pulang ke rumah dan suka main tangan kepada emak.
Aku sering menyaksikan emak menangis dalam do'a nya agar abah di berikan kesadaran atas kekhilafan nya.Namun bukannya sadar malah kelakuan abah makin menjadi hingga puncaknya kata talak yang keluar dari mulut abah dan mengusir emak dari rumah.
Bayangan masa lalu itu seperti sebuah alur cerita film yang terputar jelas hingga tak terasa membuat bulir-bulir bening jatuh di pipi ku.
"Ternyata luka ini masih terasa perih hingga sekarang"batin ku.
Lama aku terpaku menatap rumah itu.
Ku hapus sisa air mata yang masih menetes.
"Rasanya untuk saat ini aku belum siap untuk masuk kesana lagi"batin ku dengan perlahan membalikkan badan untuk pulang ke rumah wa Tinah.
"Mau kemana nak...?suara serak dan berat seorang lelaki dari balik pintu rumah itu mencegah langkah ku.
Tubuh ku bergetar seakan tak mampu untuk bergerak.Aku bimbang dengan perasaan ku.
Dulu suaranya sangat ku rindukan,setiap kali aku berlari menghambur ke dalam pelukannya.
Tapi kini entah kenapa aku merasa ingin berlari menjauh darinya.
"Yati, anak abah kan...?"suara itu kembali terdengar lebih bergetar dari tadi.
Terdengar suara langkah kaki yang di seret serta iringan hentakan tongkat kayu.
Air mata ku kembali menetes mendengar ucapannya namun tak mampu untuk menyahut sepatah kata pun.
"Abah rindu di peluk Yati,gadis kecil abah"ucapnya lirih hampir tidak terdengar.
Dengan masih air mata menetes di pipi,ku coba untuk membalikkan badan.
Seorang lelaki berdiri dengan tongkat di samping tangan kanannya.Air matanya terlihat terus menetes seperti ku.Tubuhnya kurus dengan penampilan seperti tidak terawat.
Di sela tangisnya yang tak terdengar,ku lihat dia berusaha keras mengukirkan senyumnya sambil perlahan merentangkan kedua tangannya kepada ku.
Hati ku ingin berlari ke pelukannya tapi badan ku tak bisa di gerakkan.
Suara tangis ku semakin jelas terdengar,kepala ku menggeleng tak tahu harus bagaimana.
Aku lekas berpaling bersiap untuk berlari pergi meninggalkan rumah itu.
"Jangan pergi nak,jangan tinggalkan abah lagi...."panggilan nya terdengar seiring tubuhnya yang ambruk karena inginnya mencegah niat ku.
Spontan aku berbalik dan menjatuhkan tubuhku memeluknya.
__ADS_1
"Jangan pergi....,jangan tinggalkan abah lagi,nak..."
"Maafkan abah..."kata-kata itu terus di ulangnya di sela isakan tertahan nya.
Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan kata-katanya.
"Kita masuk ke dalam ya bah..."ajak ku.
Dia menatapku dan hanya menurut saat ku papah membawanya masuk ke dalam rumah.
Ku bantu Abah duduk di sebuah kursi di ruang tengah rumah.Aku menarik satu kursi berdekatan dengan Abah.
Abah terus menatapku seakan tidak percaya dengan kehadiran ku di sampingnya.
"Ini Yati,gadis kecil abah kan?"ucapnya lagi memastikan sambil menangkupkan kedua telapak tangan nya ke pipi ku.
"Iya bah,ini Yati"jawab ku dengan tersenyum kemudian mencium punggung tangan nya.
"Abah masih minum kopi seperti dulu kan...?tanya ku mengingatkan kenangan masa lalu kami.
"Iya,tapi sudah lama abah tidak minum kopi karena tidak ada yang membuatkan"sahutnya spontan.
Dapat ku simpulkan kalau si Inah istri abah sekarang kurang memperhatikan keperluan abah sehari-hari.
"Sebentar Yati buatkan ya bah"aku pun beranjak pergi menuju dapur.
Sesampainya di dapur,ku lihat penampakan dapur yang agak berantakan.Barang-barang di taruh sembarangan,sebagian juga nampak berdebu karena pasti tidak pernah di bersihkan.
Ku ambil gelas bersih dari rak piring berniat membuatkan kopi buat abah.Setelah siap ku bawa kembali ke ruangan tengah.
"Kapan kamu datang nak?"sambutnya.
"Tadi malam yah,Yati nginap di rumah wa Tinah"jawab ku sambil meletakkan kopi hitam kesukaan nya.
"Disini aja,temani Abah"pintanya.
"Istri nya...?"ucap ku menggantung.
"Dia pergi entah kemana"sahut abah datar.
Keheningan pun menggiring pikiran kami masing-masing.
Terimakasih untuk semua yang selalu dukung dan memberi motivasi serta semangat pada emak...maaf kalau nggak bisa up rutin, karena keadaan emak sekarang tinggal menghitung hari menjelang persalinan hingga membuat emak juga harus menjaga kewarasan emak di dunia nyata.
Emak hanya penulis pemula jadi belum dapat menghasilkan apa-apa dari sini karena tuntutan keadaan jadi harus fokus dulu ke dunia nyata
Mohon bantuan dukungan nya selalu agar semangat emak jangan sampai down 🙏🙏🙏
__ADS_1