
***
POV RIDWAN
"Yati,kak"ucap Ririn di sela perbincangan kami.
Aku pun terdiam sesaat,mencoba menyiapkan dan menata perasaan dalam hati.
Ririn pun masih diam,tidak niat mengangkat panggilan telponnya.Mungkin dia juga belum siap untuk menjawab apa nanti.
"Sebentar ya kak,aku balas pesan Yati dulu"ucap Ririn memecah kesunyian di antara kami.
Aku pun hanya mengangguk tanda mengiyakan.
Ku alihkan pandangan ke jalan di luar cafe.Tatapan mata ku terasa kosong hanya alam pikiran ku yang berjalan entah kemana.
"Yati,sulit bagi ku untuk berhadapan dengan mu..."
"Sulit bagi ku mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan kejujuran yang pasti akan sangat menyakitkan ini."
Batin ku terus bicara dalam diam hingga tepukan tangan dari Ririn mengembalikan kesadaran.
"Yati mau ketemu sama aku,kak"
"Apa kakak mau ketemu sekarang juga?"
"Entahlah Rin"tarikan nafas panjang ku bisa di baca oleh Ririn,ada bimbang tersirat.
"Kak,coba ceritakan semuanya biar aku bisa bantu"desak Ririn.
Ku pandang dalam matanya,aku tahu Ririn memang bisa ku percaya.
"Rin,aku sangat perlu bantuan mu ,"ucap ku lirih.
"Ok,kita mulai dari identitas kakak sebenarnya,"potong Ririn.
Aku terperanjat tak menyangka dengan apa yang ku dengar.
"Aku sudah tahu siapa kakak,...Ridwan Firdaus anak tunggal dari pengusaha tambang terkenal di Kalimantan ini,benarkan kak?"
"Ya itu benar,"jawab ku singkat.
"Kenapa kakak harus menutupi identitas kakak?"
"Aku tidak ingin ada yang tahu tentang siapa aku karena pasti nanti mereka mau berteman dengan ku hanya sebab status sosial ku saja."
"Tidak akan ada ketulusan dalam pertemanan lagi,hanya memanfaatkan dengan alasan teman dan aku sudah pernah mengalami nya."
"Dan pasti kau pun akan tahu,bakal banyak wanita yang mendekati ku namun semua hanya memandang materi saja."
"Jadi apa kah itu juga alasan kakak meninggalkan Yati?"
"Tidak,Yati berbeda."
"Semua ini salah ku,Rin"
"Aku bukan lelaki yang mudah jatuh hati pada seseorang,apabila hati ku telah memilih sulit bagi ku untuk melepaskan."
"Aku bertemu dengan Yati,seiring waktu ku kenal juga bagaimana kepribadian nya yang sangat sederhana."
"Aku menyukai nya dan semakin hari rasa itu pun tumbuh,rasa yang pernah hilang dalam hati ku."
"Kakak pernah jatuh cinta,sakit hati...di khianati ?"cecar Ririn menatap ku.
__ADS_1
"Tidak,dia tidak mengkhianati ku.Semua murni karena kesalah pahaman ku pada nya dan baru ku sadari setelah mendengar kabar kalau dia sekarang terbaring lemah melawan penyakit di rumah sakit."
"Siapa namanya?"sela Ririn.
"Annisa Az Zahra,cinta ku sedari kecil.Aku mengenalnya sejak ia di tinggal pergi oleh mama papanya karena sebuah kecelakaan."
"Kecelakaan mobil yang membawa pergi jiwa mama papanya serta seluruh semangat hidupnya."
"Sekarang dia hanya tinggal bersama kakak laki-lakinya."
"Aku satu sekolah dengannya sejak TK hingga menempuh pendidikan di universitas yang sama."
"Dia gadis baik hati,selalu di sukai banyak orang."
"Aku selalu di samping nya,menjaga hati dan cintanya"
"Kenapa kakak meninggalkan nya?"potong Ririn tidak sabar."
Ku tarik nafas panjang dan berat.
"Dari awal sudah ku katakan semua murni kesalah pahaman ku."
Ku coba mengawali kisah ku...
"Pagi itu seperti biasa ku jemput Annisa untuk pergi kuliah sama-sama,tapi pada saat aku sampai di depan rumahnya.Ku temukan dia tergeletak pingsan di teras,hidungnya mengeluarkan darah."
"Aku khawatir dan langsung membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan."
"Dokter bilang dia harus di rawat inap untuk menjalani perawatan serta serangkaian pemeriksaan kesehatan lainnya."
"Saat itu aku tidak tahu apa penyebab Annisa jatuh pingsan,dokter ingin bertemu langsung dengan keluarga pasien yaitu kak Yoga,kakak kandung Annisa."
"Kak Yoga menyarankan aku pulang untuk istirahat, walaupun hati ku berat meninggalkan Annisa."
"Esok harinya aku kembali ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Annisa,tapi ternyata Annisa sudah di bawa kak Yoga."
"Aku pun pergi ke ruang dokter mencari dokter yang menangani Annisa kemarin untuk meminta penjelasan."
"Dokter itu hanya bilang kalau wali pasien meminta rujukan untuk berobat ke rumah sakit lain yang memiliki fasilitas lebih lengkap."
"Ku coba menghubungi nomor telepon Annisa namun tidak aktif."
"Aku pun menghubungi nomor telepon kak Yoga berulang kali tapi tidak di angkat juga."
"Kak,gimana keadaan Annisa.."
"Annisa dimana,aku mau ketemu."pesan ku.
"Kami di bandara wan,"balasnya singkat.
"Hati ku bertanya-tanya,ada apa...?"
"Mereka mau pergi kemana?"
"Tanpa pikir panjang,aku pun bergegas berangkat menuju bandara.30 menit perjalanan menuju kesana."
"Sesampainya di sana aku berlari kesana kemari mencari gadis yang ku sayangi itu"
"Jantung ku berdebar kencang tak karuan,emosi timbul dengan sendirinya.Saat aku menyaksikan pemandangan di depan mata ku."
"Annisa bersandar di pelukan seorang pria yang tak ku kenal,dari jauh kak Yoga sedang sibuk mengurus bagasi mereka."
"Kak Yoga menyadari kehadiran ku,dia bergegas menuju tempat ku berdiri sejak tadi."
__ADS_1
"Wan,pulang lah...buang harapan mu,aku takut nanti kau kecewa"ucap kak Yoga yang kemudian berlalu pergi.
"Aku tak sanggup menyaksikan kemesraan Annisa dengan laki-laki itu lebih lama lagi,ku tarik mundur langkah kaki ku dengan membawa rasa sakit di dalam dada."
"Aku bersumpah untuk melupakan semuanya, kenangan manis serta janji yang pernah ku ukir jauh di dalam hati untuk nya."
"Hari berlalu berganti minggu,minggu pun berganti bulan hingga menuju tahun,tak terasa luka itu pun hilang tak berbekas seiring hadirnya Yati dalam hari-hari ku."
"Perlahan ku buka lembaran kasih bersama Yati,dan orang tua ku pun sudah memberikan restu untuk secepatnya meresmikan hubungan kami."
"Namun di saat bersamaan,aku bertemu kembali dengan Annisa,selama ini dia mencari ku untuk meminta kejelasan perihal hilang nya kabar dari ku."
"Jadi sekarang kakak ingin bertemu Yati untuk mengucapkan kata putus?"desak Ririn.
"Bukan itu maksud ku,Rin."
Ku pandang mata Ririn,.."Annisa sakit,dia menderita kanker otak stadium 3 dan kemungkinan sembuh itu sangat kecil,"jelas ku.
"Astaghfirullah..."ucap Ririn lirih.
"Sekarang seandainya kamu yang berada di posisi ku saat ini, bagaimana sikapmu,Rin."
Ririn mengubah posisi duduknya dan menarik nafas panjang.
"Mungkin aku akan berada di samping Annisa untuk menebus kesalahanku, menemaninya hingga ...."ucapnya terputus.
"Dan aku akan mencoba meminta pengertian Yati, walaupun terdengar agak jahat dan egois"sambungnya.
"Itu lah saat ini yang ku pikirkan,makanya aku minta bantuan sama kamu,Rin..."kata ku penuh harap.
"Baik lah,aku akan mencoba bicara sama Yati tapi apa pun keputusan nya nanti kakak harus siap untuk menerima nya"tegasnya.
"Iya,aku tahu itu."
"Terima kasih Rin,maaf sudah membawa kamu sejauh ini dalam masalah ku."
Kami pun berpisah setelah selesai membahas semua nya.
***
POV YATI
Ku ulang panggilan telpon untuk kedua kali,hingga akhir pun tidak di jawab.
"Mungkin Ririn lagi di jalan jadi nggak bisa menjawab telpon"batin ku.
"Udah pulang belum,Rin?"ku kirim pesan singkat.
Tidak berapa lama,.."maaf ya Yat, tadi lagi di jalan"balasnya.
"Ini aku sudah di rumah,..."
"Besok aku off,kita ke rumah sakit bareng ya...aku jemput."
"Sekalian ada yang mau aku omongin sama kamu."
"Sekarang aja,mau ngomongin apa sih?"pinta ku penasaran.
Tapi tidak ada balasan lagi,..."dasar Ririn,suka banget bikin orang penasaran"batin ku.
Ma kasih byk yg sudah sudi mampir di lapak emak ya,....maaf lama nggak update soalnya author lagi sakit, bumil kecapean kurang istirahat...maklum bumil hanya seorang wanita yang di tuntut harus memiliki peran ganda....
Mohon dukungan semua reader biar emak tetap semangat dalam berbagai keadaan 🙏🙏🙏
__ADS_1