BIDADARI BUMI YANG TERLUKA

BIDADARI BUMI YANG TERLUKA
JANJI YANG TERHALANG WAKTU


__ADS_3

***


POV RIDWAN


Begini kah rasanya hati yang terbagi dua


Begini kah rasanya mencintai dua wanita


Di sisi lain aku bahagia


Namun jauh di lubuk hati ku sakit dan terluka


Aku merasa bahagia bisa kembali membuat Annisa ceria tapi di sisi lain hati ku merana karena meninggalkan Yati tanpa penjelasan apapun jua


Memikirkan nya sungguh menguras energi jiwa ku


Aku merasa lelah dan lemah


"Wan, jangan pergi lagi ya....?"pinta nya lemah.


"Tidak,aku akan selalu menemani mu..."ucapku meyakinkan nya.


"Istirahat lah,mimpi yang indah..."


Matanya perlahan mulai terpejam seiring pengaruh obat yang diberikan oleh pihak medis.


Di genggamnya erat jemari tanganku seakan meminta kekuatan dan sandaran untuk bertahan.


"Wan,malam ini biar aku yang menjaganya kau pulang lah dulu..."kata kak Yoga membuyarkan lamunanku.


"Baik kak,titip Annisa ya kak.."jawabku sambil perlahan melepas genggaman tangan Annisa.


"Terima kasih atas semua wan..."


"Tidak kak,memang itu yang seharusnya ku lakukan...."ucapku terbata.


"Ok kak,ku tinggal dulu ya..."


Aku pun berlalu pergi meninggalkan Annisa yang terlelap.


Ku laju kan mobil perlahan menembus malam.


Entah kenapa tanpa sadar ku arahkan mobil ke tempat kerja ku dulu.


Waktu menunjukkan pukul 22.00 malam, hampir jam pulang kerja bagi yang shift siang.


Mobil ku berhentikan di seberang jalan, memudahkan aku mengawasi dari jauh.


Satu persatu semua karyawan keluar juga,ku simak baik-baik bayangan mereka.


"Yati,berani kah aku menemui mu untuk menjelaskan semua keadaan ini...?"batin ku.


Hingga gerbang di tutup tidak ku temukan bayang dirimu.


"Ku yakin Minggu ini Yati masuk shift siang tapi kenapa dia tidak masuk kerja..."hati ku merasa cemas.


Suasana kembali lengang.


Perlahan ku jalankan kembali mobil menuju rumah,jiwa ku yang lelah perlu istirahat malam ini.


Sampai di rumah,ku lihat lampu di ruang tengah masih menyala menandakan masih ada orang yang belum tidur.


"Wan,..."tegur ayah yang duduk santai di sofa dengan buku kecil di tangan nya.


"Iya yah..."ku dekati ayah kemudian mencium takzim tangannya.


"Kamu kemana saja,mama nanyain terus.."


"Besok pagi temui mama mu,mungkin dia rindu sama anak semata wayangnya..."jelas ayah yang kembali membuka lembaran buku kecilnya.


"Baik yah.."


"Ridwan masuk kamar dulu ya yah..."ijin ku.

__ADS_1


Ayah hanya mengangguk tanda mengiyakan.


Ku sambar handuk untuk mandi.


Perlahan air mengalir dari shower membasahi kepala dan sekujur tubuhku, berharap agar otak di kepalaku dapat di ajak berpikir dengan jernih nantinya.


Selesai mandi bergegas ku ganti baju dan masuk selimut.


Mata pun terpejam perlahan hanyut dalam buaian mimpi.


***


Tok...tok...


"Mas,mas Ridwan....di panggil ibu..."suara mbak Erna dari luar kamar ku terdengar jelas.


"Iya mbak, sebentar...."


Selesai mandi dan berganti pakaian,aku keluar kamar mencari keberadaan mama ku tersayang.


"Ma..."ku peluk dan ku cium pipinya yang sudah terukir garis usia.


"Duduk sini..."pinta nya.


"Ini mas,susu sama roti bakarnya..."kata mbak Erna yang datang membawakan sarapan ku.


"Ma kasih ya mbak..."


Mama memandangi ku yang sedang menikmati roti bakar dengan tersenyum.


Perlahan ku seruput susu coklat hangat setelah melahap habis roti bakar tadi.


"Gimana kabarnya Yati,wan....?"


"Kok nggak di ajak kesini sih...?"


"Uhuk...uhuk..."aku tersedak mendengar pertanyaan mama barusan.


"Pelan-pelan minumnya.."sambung mama.


"Ma,....Annisa..."kata ku menggantung.


"Mama nanya Yati kok kamu larinya ke Annisa..."


"Memang nya ada apa dengan Annisa...?"tanya mama dengan sikapnya yang lemah lembut.


"Annisa sakit ma..."


"Sakit apa...?"tanya mama penasaran.


"Kanker otak,ma..."


"Masya Allah,terus ...?"


"Beberapa hari ini Ridwan menemani Annisa di rumah sakit ma."


"Bukannya kamu memilih pergi menjauh karena dia dengan pria lain...?"selidik mama.


"Semua cuma salah paham ma, itu salah Ridwan yang tidak mencari tahu lebih dulu..."


"Ridwan menyesal sudah menyakiti Annisa,padahal saat itu awal dia berjuang melawan penyakitnya."


"Tolong Ridwan,ma..."


"Ridwan tidak ingin menyakiti hati Annisa seperti dulu, tapi disisi lain bagaimana dengan janji Ridwan pada Yati."


"Perasaan Ridwan sekarang menjadi terbagi,ma."


"Mama tahu sendiri kalau Ridwan bukan tipe lelaki yang suka mendua dan menyakiti hati seorang wanita."


"Tapi kenyataannya sekarang Ridwan jalani, karena kesalahan diri sendiri yang gegabah oleh hati yang cemburu buta."


"Sekarang Ridwan harus bagaimana ma...?"

__ADS_1


Mama menarik nafas dalam.


"Bagaimana keadaan Annisa sekarang...?"kata mama dengan tenangnya.


"Sudah parah ma..."


"Penyakitnya sudah memasuki stadium 3,justru karena itu Ridwan tidak mungkin meninggalkan nya lagi."


"Apakah kamu masih mencintainya atau hanya rasa kasihan karena keadaan nya sekarang...?"


"Dua-duanya ma.."jawabku lemah.


"Terus, bagaimana perasaan mu pada Yati...?"


"Kalian kan baru menjalin hubungan,apa kamu serius dengannya...?"


"Ridwan mencintai nya ma,makanya Ridwan berani memberikan sebuah cincin tanda keseriusan hubungan kami.."jelas ku.


"Kalau begitu kamu harus temui Yati,jelaskan posisi mu sekarang...jangan ada yang harus di tutupi."


"Kebenaran ini mungkin akan terasa sakit tapi akan lebih sakit lagi bila dia tahu sendiri tanpa penjelasan darimu."


"Lebih cepat kamu temui dia akan lebih baik.."


Aku terdiam merenungi semua saran dari mama.


"Semua wanita memang tidak ada yang mau berbagi kasih,namun tidak sedikit wanita yang ikhlas dan rela berbagi kebahagiaan karena pencipta Nya."


"Sekarang coba lah bersikap layaknya lelaki sejati, berusaha lah tepati janji yang sudah terlanjur di ucapkan."


"Sebagai bukti keseriusan dan kematangan diri mu dalam berpikir."


"Terima kasih ma, Ridwan akan berusaha..."jawab ku sambil memeluk mama.


Dreet...dreet...


Notifikasi pesan watshapp masuk di ponsel ku.


"Wan,lagi dimana...?"dari Annisa.


"Lagi di rumah, sebentar lagi aku meluncur ke rumah sakit."


"Tuan putri minta di bawain apa nih..."balas ku dengan emoticon love.


"Nggak usah repot-repot..."balasnya dengan emoticon pelukan.


"Tunggu sebentar ya..."


"Siapa...?"tanya mama.


"Annisa,ma..."


"Ya sudah,temani dulu Annisa..."


"Titip salam mama buat dia.."pesan mama melepas kepergian ku.


"Oh ya wan,satu lagi."


"Ayah pesan,kalau kamu sempat jam istirahat siang ini temui ayah di kantor ya...!"


Ku balas cepat dengan anggukan.


Ku ambil jaket di lemari pakaian,tak lupa kunci mobil di atas meja.


Sesaat ku panaskan mesin mobil dan perlahan melaju membaur dengan hiruk pikuk nya keramaian di jalan raya.


Hati ku terasa agak lega setelah mendapat kan pencerahan dari mama.


Tidak salah minta pendapat orang yang lebih tua,mereka lebih banyak pengalaman daripada yang lebih muda.


"Semoga masalah ini menemui titik terang yang terbaik buat kami bertiga..."batin ku.


Penasaran gimana sikap Yati setelah tahu semua penjelasan dari Ridwan...?"

__ADS_1


Jagain terus update terbaru dari lapak emak,jangan lupa dukungan nya juga ya biar emak semangat nulisnya 🙏🙏🙏


__ADS_2