
Sehabis dari taman kota,kami pun langsung pulang ke rumah karena hari sudah mulai menjelang siang.
Terik matahari terasa cukup menyengat.
"Emak mau langsung istirahat di kamar aja...?"tanya ku.
"Iya,maklum lah tubuh emak sudah tua... tidak bisa capek sedikit.."jawab emak lirih
Aku pun memapah emak berjalan menuju kamarnya.
"Emak mau makan atau minum lagi...?"
"Nanti saja..."
Emak pun berbaring dan mulai memejamkan mata untuk beristirahat.
Ku tinggalkan kamar emak menuju ruang depan.
"Hayo,lagi ngapain...?"ucap ku mengagetkan Bani yang sedang duduk dan asyik membalas chat, entah dari siapa.
"Lagi berjuang mencari cinta..."senyum nya sambil masih memandangi layar ponselnya.
"Siapa sih...?"tanyaku penasaran.
"Ada deh,nanti juga kakak tau.."rahasianya.
Ku hempaskan kan bobot tubuh ku di kursi samping kanan Beni.
Beni melirik ke arah ku kemudian menyimpan ponselnya di saku celana.
"Kak,..."
"Hmmm.."
"Gimana masalah kakak dengan kak Ridwan...?"
Aku menghela nafas panjang terasa ada beban berat yang mengganjal di dada.
"Entah lah Ban, sampai sekarang aku belum bisa menghubungi nomor telepon nya."
"Apa kabar serta alasannya menghilang secara tiba-tiba..."
Ku pandangi cincin di jari manis ku,mungkin nilainya tidak seberapa tetapi makna di sana yang sangat berarti bagi ku.
"Kakak yang sabar ya..."
Aku hanya mampu membalas dengan senyuman yang di paksakan.
Dreet...dreet...
"Yat,nanti sore kamu punya waktu...?"pesan masuk dari bang Ronald.
"Jam berapa bang...?"
"Sekitar jam 19.00 sehabis magrib aja,bisa...?"
"Bisa bang, dimana....?"
"Di cafe Cap*Ng yang jalan Simpang empat itu aja,gimana...?"
"Ok,bang nanti aku kesana..."
"Aku jemput ya...?"
"Nggak usah bang,soalnya nanti aku ada perlu juga jadi sekalian keluar aja..."
"Ok,kalau gitu.."
Ku taruh ponsel di samping.
Pikiran ku mencoba menerka apa yang akan di bahas oleh bang Ronald nanti.
"Siapa kak...?"tanya Bani yang memperhatikan ku sedari tadi.
"Bang Ronald.."
"Terus kenapa kakak terlihat ada yang di pikirkan...?"
"Ada masalah di tempat kerja ya...?"selidik nya.
"Nggak,cuma mau ketemu aja..."jawab ku coba menutupi.
Tidak berselang lama masuk pesan dari Ririn juga.
"Yat,kata Agus....kamu hari ini off ya...?"
"Iya rin,kan kemarin aku full shift."
"Oh iya."
"Terus, jadi nggak sore ini kita ke rumah sakit itu lagi...?"tanya nya memastikan.
"Memang nya kamu nggak capek...?"balas ku.
"Nggak lah,demi calon kakak ipar ku.."jawabnya dengan emoticon peluk.
"Kalau begitu nanti jam 17.00 sore,ku tunggu depan toko ya..."
__ADS_1
"Nggak usah Yat,biar aku nanti yang jemput kamu ke rumah ya...?"
"Ok rin,ma kasih banyak sebelumnya ya..."
"Kamu sahabat terbaik ku.."balas ku dengan emoticon peluk dan cinta.
"Malas jadi sahabat terus,naikin dong...?"
"Terus mau nya jadi apa...?"balas ku dengan emoticon penasaran.
"Adik ipar lah..."
"Iya,iya...adik ipar ku..."
Di balas nya dengan emoticon menari dan cinta yang banyak.
Aku tersenyum melihat pesannya.
Ku lirik ke arah Bani yang masih asyik dengan ponselnya.
"Ban..."
"Hmmm..."
"Ririn seperti nya suka sama kamu..."
"Sudah tau..."jawab nya singkat.
"Beneran...?"
"Eh,apaan kak...? balasnya terlihat tidak fokus.
"Kakak ngomong apa barusan..?"ulangnya mengalihkan perhatian ke arah ku.
"Sejak kapan kamu tau kalau Ririn suka sama kamu...?"selidik ku.
"Aduh keceplosan..."gumamnya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Cerita dong..."pinta ku dengan pasang wajah imut di hadapan nya.
"Sebenarnya udah hampir satu bulan ini sih,kami mulai berhubungan nya kak..."jelas nya sambil malu-malu.
"Menurut kakak,dia orang nya gimana ..?"
"Ririn orang nya baik,dia suka nolong teman siapa pun itu...apalagi sama aku calon kakak iparnya.."goda ku.
"Aku sebenarnya nggak mau pacaran juga sih kak,pengen ta'aruf langsung nikah aja...."terangnya.
"Iya,itu lebih baik.."jawab ku menyetujui pola pikirnya.
"Tapi untuk sekarang belum siap sepenuhnya juga, tabungan nya masih kurang..."jawabnya dengan santai.
Aku pun mengangguk mengiyakan.
"Ya udah,aku ke kamar dulu ya...mau istirahat..."
"Yup..."jawabnya singkat.
Ku baringkan miring tubuh ini dengan memeluk guling kesayangan.
Ku pandangi lagi cincin yang melingkar manis di jari,ada harapan yang masih menggantung di sana.
"Kapan kepastian itu akan datang..."batin ku.
"Kak Ridwan,kamu dimana...?"
"Apa yang sebenarnya terjadi...?"gumam ku lirih.
Ku pejamkan mata dan perlahan melayang membawa jiwa terbang ke alam lain.
Tok...tok...
"Kak,kak...bangun udah sore..."ketukan dan suara panggilan Bani membangunkan ku dari lelap.
Aku keluar kamar dan melihat sekilas ke jam dinding.
"Astaghfirullah,sudah jam 5 sore..."gumam ku.
"Ban, Ririn sudah datang...?"tanya ku pada Bani yang keluar dari dapur dengan membawa segelas air putih.
"Sudah dari tadi,kasian anak orang sampai kehausan tuh karena kelamaan nunggu..."canda nya.
"Bilangin,kakak mau mandi terus sholat ashar dulu ya..."
Bani hanya menjawab dengan mengangkat jempolnya.
Selesai mandi dan melaksanakan sholat ashar,aku buru-buru keluar menemui Ririn.
"Udah lama Rin...?"tanya ku sambil mengenakan sepatu.
"Nggak juga,baru setengah jam..."jawabnya sambil malu-malu memandang ke arah Bani.
"Mau berangkat sekarang atau besok...?"kata ku dengan memasang wajah pura-pura judes.
"Eh iya,iya... berangkat sekarang..."balasnya cepat.
Bani melepas kepergian kami,sesaat mereka saling melempar senyum manis.
__ADS_1
"Hmmm yang lagi kasmaran..."goda ku pada Ririn yang sedang membonceng ku.
Sekilas ku lihat dari pantulan kaca spion motor,dia tersenyum-senyum malu.
Sesampainya kami di rumah sakit yang di tuju,Ririn langsung memarkir motor di area parkir.
"Nah di sini waktu aku lihat kak Ridwan..."terang Ririn.
Kami terus melangkah menuju lobby rumah sakit.
Di bangku-bangku panjang yang tersedia,banyak orang sedang duduk-duduk mungkin sedang menunggu jam besuk,pikir ku.
Kami pun mengambil tempat duduk yang paling pojok agar lebih nyaman memperhatikan orang-orang yang keluar masuk.
"Yat,kamu mau minum apa...?"tanya Ririn memecah perhatian ku.
"Air mineral dingin aja deh Rin.."pinta ku.
"Ok,tunggu sebentar ya.."balasnya kemudian berlalu menuju freezer yang menyediakan minuman.
"Nih minum nya.."
"Ma kasih ya Rin.."sambut ku.
Sudah hampir 2 jam kami duduk di sini,selama itu juga aku terus memperhatikan semua orang yang lalu lalang keluar masuk rumah sakit.
Sedangkan Ririn asyik dengan ponselnya,kadang sambil senyum-senyum sendiri.
"Rin,ku tinggal sebentar ya...mau ke toilet.."ucap ku bergegas menuju toilet umum yang berada di samping kiri tempat duduk kami.
Baru saja aku keluar dari pintu toilet,Ririn yang tiba-tiba sudah berdiri di depan ku langsung menarik pergelangan ku.
"Eh..eh..Rin,ada apa..."tanya ku masih agak kaget.
"Kak Ridwan,Yat.... cepetan.."suaranya yang terdengar ngos-ngosan.
Aku pun mengikuti langkah kaki Ririn yang cepat,lebih tepatnya setengah berlari.
Kami menuju area parkir mobil.
Ririn celingak-celinguk,aku pun ikut menyapu pandangan ke seluruh area parkir.
"Sudah pergi Yat,..."ucapnya lemah karena nafas yang ngos-ngosan habis berlari.
"Kamu yakin...?"tanya ku memastikan.
"Yakin 100%."
"Sewaktu kamu tadi ke toilet,sekilas ku dengar suara kak Ridwan..."
"Aku mencari-cari dimana asal suaranya.."
"Ternyata dia lagi bicara di telpon sambil berjalan menuju parkiran ini."
"Aku berlari menyusul nya,...ku panggil-panggil namanya,dia sekilas menoleh ke belakang mencari suara siapa yang memanggilnya..."
"Sayangnya langkah ku di halangi oleh ambulance yang baru datang membawa pasien."
"Makanya tadi aku kembali ke dalam,mencari kamu di toilet,biar kita bisa ngejar dia..."terang nya panjang lebar.
Aku terdiam seribu bahasa,ada rasa di hati yang sukar untuk ku pahami.
"Kita pulang aja Rin..."ucap ku dengan lemah.
Ririn memandang ku dengan wajah terlihat sedih juga.
"Jangan putus asa Yat,kamu...maksud ku kita harus cari kepastian tentang masalah yang kamu hadapi sekarang."
"Agar perasaan mu tidak terus menggantung seperti ini.."
"Oh iya,tunggu sebentar ya..."potongnya.
Ririn meninggalkan ku sendiri di area parkir motor.
Lima belas menit sudah berlalu.
Ku lihat dia berlari menuju ke arah ku.
"Nih .."ucapnya sambil menyodorkan secarik kertas.
"Ridwan Firdaus,anak dari pengusaha tambang Firdaus Rahman."
Aku terkejut mendengar kata-kata yang barusan terlontar dari bibirnya.
"Tadi ku coba cari tau dari petugas di depan itu.."tunjuk nya.
"Mungkin kamu salah orang rin,"sanggah ku.
"Nanti kita datangi alamat ini,apa benar dia orang yang kita cari atau bukan.."katanya tegas.
"Sekarang ayo kita pulang dulu,..."ajak nya.
Aku pun hanya bisa mengangguk pasrah.
Sepanjang jalan hati ku terasa bimbang,apa benar kak Ridwan anak seorang pengusaha...?
Tapi kenapa dia tidak pernah menceritakan nya padaku...?
__ADS_1
Apakah dia sengaja mau mempermainkan perasaan ku...?