
Waktu terasa berjalan dengan cepat.
Setelah obrolan serius mengenai lamaran sudah di bahas semua, perbincangan antara kedua keluarga pun semakin akrab hingga tak terasa hari sudah hampir menjelang ashar.
Keluarga kak Ridwan pun akhirnya pamit pulang.
Kami melepaskan kepulangan mereka dengan rasa bahagia.
"Yati,tolong bantu emak ke kamar ya?"
"Capek kelamaan duduk"pinta emak.
"Baik mak"jawab ku dengan mendorong kursi roda emak masuk ke dalam kamar nya.
Bani membereskan ruang tamu dan mengangkut gelas-gelas saji ke belakang.
Ku bantu emak berpindah dari kursi roda ke kasurnya.
"Emak istirahat aja ya,Yati mau bantu Bani bereskan di luar dulu."
"Iya nak"jawab emak.
Aku pun beranjak keluar dari kamar emak.
"Makanannya masih sisa banyak ini kak"kata Bani sambil mengumpulkan piring-piring kotor.
"Kita bagi-bagikan ke tetangga aja Ban tapi jangan lupa bungkus juga buat Ririn"ingat ku pada Bani.
"He he he iya kak,ingat aja kakak sama calon adik ipar yang satu itu"sahut Bani cengengesan.
"Sebelum jadi calon adik ipar,Ririn itu sahabat baik kakak walaupun orang nya cerewet dan agak bawel tapi dia aslinya baik,selalu ada di saat kakak dalam masalah"jelas ku.
"Jadi nggak salah dong pilihan hatiku"potong Bani.
"Mm bisa aja adik ku yang satu ini"sambil mencubit pipi Bani.
Selesai membereskan semua nya,kami pun membagikan makanan dan kue-kue yang masih tersisa banyak ke tetangga.
"Ban,sudah kirim pesan ke Ririn?"tanya ku saat duduk kembali sama Bani di ruang tamu.
"Belum sih,coba kakak aja hubungi takutnya belum waktunya jam pulang"sahut Bani yang mengambil posisi duduk di depan ku.
Ku buka pesan wa*tsh*pp untuk mencari kontak Ririn.
"Rin,udah pulang apa belum?"
__ADS_1
"Nanti mampir ke rumah bentar ya?"pesan ku pun terkirim.
Tidak selang berapa lama terlihat Ririn online.
"Ada apa Yat?"balasnya.
"Mampir aja dulu,ada yang mau aku ceritakan."
"Aduh jangan bikin penasaran dong"balasnya lagi mulai sewot.
"Ada apa sih, bilangin sekarang aja deh"pintanya.
"Rahasia"balas ku dengan emoticon tertawa.
"Iya nanti aku pulang langsung mampir"balasnya di iringi emoticon peluk.
Aku pun tersenyum sambil meletakkan ponsel di atas meja.
Ku raih gelas berisi air putih untuk minum.
"Apa kata Ririn,kak?"tanya Bani sambil menyuap sepotong kue ke dalam mulutnya.
"Nanti pulang kerja dia langsung mampir kemari"jelas ku singkat.
"Mm kak, ngomong-ngomong kapan kakak mau pulang ke kampung?"
"Iya,nanti kita tanyakan emak lagi gimana baiknya aja"jawabku santai.
"Yang pastikan keluarga wa Tinah dan mamang dari keluarga emak,kak."
"Terus gimana dengan abah?"tanya Bani lagi dengan hati-hati.
"Apa kita harus minta abah ikut datang juga untuk jadi wali nikah kakak nanti?"
"Entah lah Ban,aku belum bisa mengambil keputusan untuk hal itu.Kamu kan bisa jadi wali nikah ku tak perlu sampai melibatkan Abah?"kata ku balik bertanya.
"Memang kakak nggak mau kalau abah juga hadir di hari bahagia kakak nanti?"
"Aku rasa belum siap aja Ban"jawab ku lirih hampir tidak terdengar.
"Rasanya sulit untuk menerima kehadiran Abah di tengah keluarga kita lagi setelah apa yang sudah di lakukan Abah terhadap kita, khususnya emak."
"Ya sudah,nanti kita bicarakan lagi sama emak bagaimana baiknya "usul Bani mengakhiri perbincangan kami yang membuka kembali luka di hatiku.
Aku tertunduk dengan hati sedih.Pikiran ku menerawang pada peristiwa masa silam.
__ADS_1
*****
Flashback Yati kecil
Bayang-bayang masa lalu kembali berputar dalam ingatanku.
Seakan semua baru terjadi kemarin.
Isak tangis emak dalam diam sering ku dengar di saat kami telah terlelap.
Aku hanya bisa berpura-pura tidur karena tak mampu melihat wajah emak yang sedih dan terluka akibat pengkhianatan dan perlakuan kasar dari Abah.
Tak ada satu kata keluhan pun yang keluar dari bibir emak,hanya isak dan bulir air mata mewakili sakit dan pedih luka di hatinya.
Sampai sekarang aku masih belum mengerti,kenapa emak memilih diam tanpa melawan.
Apakah harus sebesar itu pengorbanan dan ketaatan seorang istri kepada suaminya tanpa memandang besar kecilnya tanggungjawab yang di berikan suami itu pada keluarga nya.
Entah berapa tahun emak menahan luka batinnya dalam kata sabar,menyematkan doa semoga sang suami mau sadar hingga pada satu titik keputusan yang terakhirnya.....talak.
Bagi kebanyakan wanita yang hidup di kampung seperti kami apalagi minim pendidikan semua seakan menjadi hal yang lumrah.
Lulus sekolah dasar tidak penting mau melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi yang penting sudah bisa membaca dan menulis,begitu lah kebanyakan pemahaman orang tua dulu yang tidak mau ambil pusing.
Bagi mereka, wanita itu kerja nya yang utama adalah mengurusi rumah tangga dan anak-anak serta membantu suami di ladang juga sawah.
Dan akhirnya kebanyakan dari problem rumah tangga, akibat istri di tuntut 3 hal tersebut hingga tak ada waktu lagi untuk merawat diri sendiri.
Istirahat yang kurang karena harus menjaga dan merawat anak-anak nya,kulit yang mulai menghitam karena seringnya terpapar matahari langsung setiap membantu di ladang atau di sawah hingga membuat penampilan menjadi sudah kurang menarik untuk di pandang.
Akhirnya banyak para suami kemudian betah nongkrong di warung remang-remang yang menyuguhkan pandangan segar bagi mereka.
Senyuman wanita penjaga warung yang manja mampu mengalahkan pengorbanan dan kesetiaan seorang istri.
Hingga tidak cuma satu atau dua rumah tangga yang di bangun bertahun-tahun, awalnya berlandaskan cinta dan kasih sayang akhirnya hancur dalam hitungan hari.
Dan ironisnya, akibat minimnya pendidikan baik umum maupun pendidikan dari segi akhlak agama para suami mendzolimi hak anak-anaknya.
Setelah menceraikan, mereka lepas tanggung jawab dan terus asyik dengan kehidupan barunya.
Sedangkan istri yang telah di cerai semakin berat memikul beban hidup dari anak-anak, berusaha lebih kuat mencari nafkah untuk memenuhi segala kebutuhan anak semata-mata karena besarnya rasa cinta dari seorang ibu.
Ini lah yang membuat hati ku sangat sulit untuk menerima rasa sayang dari seorang laki-laki.
Kebanyakan laki-laki berbibir manis di awal saja setelah seiring berjalannya waktu akan terlihat bagaimana watak aslinya.
__ADS_1
Namun karena rasa ini sudah bersarang di dalam hati akhirnya aku hanya mampu berdoa semoga kak Ridwan tidak seperti kebanyakan laki-laki yang aku pikirkan.