BIDADARI BUMI YANG TERLUKA

BIDADARI BUMI YANG TERLUKA
RESTU EMAK


__ADS_3

Sepanjang jalan dalam boncengan kak Ridwan dari rumah sakit hingga sampai ke kontrakan kami,aku lebih banyak diam.


Hanya dia yang banyak bicara menceritakan tentang ayah dan mamanya, sungguh keluarga yang harmonis.Berbanding terbalik dengan kedua orang tua ku.


Kak Ridwan terlihat sangat bahagia,....


Seandainya boleh jujur,aku pun merasakan hal yang sama.Betapa bersyukur bisa mendapatkan mertua yang bisa memberikan kasih sayang utuh yang tidak pernah ku rasakan sebelumnya.


Tapi hatiku masih ragu, bagaimana nanti seandainya mereka tahu dengan keadaan orang tua ku...


Aku yang memiliki orang tua tidak lengkap,dan juga harus merawat emak yang sekarang sedang sakit.


"Dari tadi kok banyak diam, mikirin apa...?"


"Nggak kak."


"Yat...."


"Kenapa kak...?"


"Kita sudah sampai rumah...."


"Apa mau ikut aku lagi..?"tanya kak Ridwan menyadarkan lamunanku.


Kami berjalan memasuki rumah kontrakan ku yang kecil.


"Kakak mau minum apa...?"tawarku.


"Air putih aja ya..."jawab nya.


"Emak mana...?"


"Mungkin lagi di kamar ka, sebentar ya Yati mau lihat emak dulu..."


"Aku ikut,"potongnya yang membuat aku kaget.


"Kok diam,ayo..."ajaknya.


Aku pun hanya bisa menurut berjalan membimbing nya menuju kamar emak.


Ku buka tirai pintu kamar,terlihat emak sedang duduk bersandar dengan tasbih di tangan nya.


Dengan mata terpejam bibirnya terus mengintai asma Allah.


Sejenak kami hanya diam menyaksikan beliau yang masih khidmatnya dalam doa-doa.


Sadar dengan kehadiran kami,emak pun membuka mata.


"Mak..."


Aku mendekat dan mencium tangan beliau.Di ikuti kak Ridwan yang juga melakukan hal sama.


Emak terus memandangi kak Ridwan.


Seakan paham dengan pandangan emak yang ingin bertanya,kak Ridwan langsung memperkenalkan dirinya.


"Saya Ridwan,mak."


"Teman dekat Yati, untuk saat ini..."kata kak Ridwan sambil memandang ke arah ku dengan menggoda.


"Aku tersipu malu di hadapan emak"


Emak tersenyum melihat tingkah kami berdua.


"Terima kasih nak Ridwan sudah sudi membawa kebahagiaan di hati anak emak ya...."

__ADS_1


"Seharusnya Ridwan yang harus berterima kasih kepada emak yang sudah melahirkan Yati untuk Ridwan..."canda nya dengan lembut membuat emak tak bisa menghilangkan senyum di wajahnya.


Sungguh tidak bisa di pungkiri,sikap kak Ridwan persis seperti ayahnya.Dia sangat bisa menghargai makhluk yang bernama perempuan.Apalagi perempuan yang bergelar seorang ibu.


"Mak, Ridwan minta doa dari emak ya biar Yati hatinya tetap sama Ridwan..."pinta nya serius pada emak.


"Insya Allah,.."jawab emak.


"Mak, Ridwan pamit dulu...nanti Ridwan kesini lagi jenguk emak."pamitnya.


"Hati-hati ya nak.."sahut emak.


"Iya mak,"kemudian kak Ridwan menyalami dan mencium tangan emak.


"Yati ngantar kak Ridwan ke depan dulu ya mak.."ijin ku.


Emak pun mengangguk mengiyakan.


Baru sampai di ruang tengah kak Ridwan berhenti sejenak dan berbalik ke arah ku.Kami saling berhadapan dengan jarak yang cukup dekat, membuat aku jadi merasa grogi.


"Ada apa dengan jari mu Yat,...?"tanya nya.


Sontak aku terkejut dan kemudian mengangkat kedua telapak tangan ku.Ku perhatikan barangkali ada sesuatu yang menempel di tangan ku.


"Nggak kenapa-kenapa kok kak..."jawabku meyakinkan.


"Coba lihat ini apa..."kata kak Ridwan yang memegang jari manis ku dan melingkarkan sebuah cincin cantik di sana.


Aku terkesima oleh sikapnya.


Aku tidak bisa berkata apa pun untuk menggambarkan perasaan ku saat ini.


"Aku menyukai mu dari awal kita bertemu dan aku pun sudah mendapatkan jawabannya dari sikap mu selama ini."


"Kamu mau kan membiarkan aku menetap di dalam hatimu...?"tanya kak Ridwan yang ku dengar seperti lantunan musik nan indah.


"Lebih baik aku cepat pulang sekarang..."katanya dengan melepaskan genggaman nya.


"Kenapa kak...?"tanyaku heran.


"Kasih tau ayah sama mama agar cepat datang kemari buat melamar kamu..."jawabnya penuh semangat.


"Apakah harus secepat itu kak..?"


"Lebih cepat lebih baik biar nggak di sambar orang pesan ayah.."katanya sambil menyentil ujung hidungku dan kemudian berlalu.


Ku lepas kepergian nya dengan hati berselimut rasa bahagia.


"Yati.."suara emak dari dalam.


Ku tutup pintu dan bergegas menuju kamar emak.


"Iya mak..."


"Sini sayang..."sambut emak dengan mengulurkan kedua tangan nya.


Ku sambut pelukan nya dan duduk di sampingnya.


"Ternyata anak emak sudah dewasa..."di usapnya lembut kepala ku.


"Emak bahagia melepas mu bersama Ridwan..."sambungnya dengan mengangkat jemari manis ku yang sudah melingkar cincin manis dari kak Ridwan tadi.


"Semoga kalian selalu bahagia nak..."do'a nya.


Aku tak mampu membendung air mata ku,...

__ADS_1


"Jangan menangis nak, tersenyum lah."ucapnya lirih.


Sejenak kami larut dalam suasana haru.


***


Tok...tok...


Terdengar ketukan pintu.


Aku pun bergegas keluar dari kamar emak.


"Kok lama sih bukain nya...?"tanya Bani dengan ekspresi sedih.


"Kakak kenapa,kok kayak habis nangis...?"cecar nya.


"Kakak nggak pa-pa kok..."jawabku dengan menyapu kedua mataku yang masih sembab.


"Hmmm air mata bahagia ya rupanya.."goda nya sambil meraih jemari tangan ku.


"Ah kamu bisa aja.."


"Ayo cerita dong kak.."pintanya dengan menarik lenganku menuju meja makan.


"Siapa sih yang sudah memenangkan hati kakak ku ini..."sambungnya sambil mengambil air minum.


Ku ceritakan semuanya pada Bani dari awal di rumah sakit hingga cincin ini melingkar di jari manis ku.


"Bagaimana dengan emak...?"


"Emak merestui hubungan kami.."jawabku tersipu.


"Syukurlah kalau begitu.Kami ikut senang melihat kakak bahagia."


"Terima kasih ya Ban,sudah menjadi adik yang selalu ada dan pengertian buat kakak."


"Aku anak laki-laki kak,sudah kewajiban ku menjaga kakak dan emak.."jawab nya dengan berdiri membusungkan dada.


Kami berdua pun tertawa lepas.


"Eh, ngomong-ngomong kenapa kamu pulang sampai jam 21.00 malam begini...?"


"Biasa lah kak, banyak yang datang buat nyuci motor."Rezeki kan kak,kenapa nggak..."jawabnya enteng.


"Sudah makan belum...?"


"Sudah tadi di beliin sama bos,bonus anak shaleh.."sahut nya lagi dengan senang.


"Udah sana mandi dulu,bau..."sindir ku.


"Aduh baru sadar ya..."jawab nya tertawa kemudian berlalu masuk kamar.


Sesaat kemudian dia keluar lagi dengan menenteng handuk untuk mandi.


Aku merasa sangat bersyukur hari ini atas segala kebahagiaan yang Allah SWT berikan.


Bersyukur dengan hadirnya orang-orang baik yang hadir dalam hidupku.


Bersyukur mempunyai emak yang telah berjuang membesarkan, mendidik dan terus memberikan kasih sayang nya tanpa batas waktu.


Serta mempunyai adik lelaki yang selalu ada untuk ku berbagi keluh kesah tentang pahit manisnya kehidupan ini.


Terima kasih sudah mampir di lapak emak ya...


penasaran kan gimana hubungan Yati dan Ridwan ke depannya....

__ADS_1


Ikuti terus episode berikutnya ya... dan mohon dukungan juga biar emak semangat nulisnya 🙏🙏🙏


__ADS_2