
***
Pada sore hari,jam menunjukkan pukul 17.00.
Teringat rencana ku dengan Ririn yang mau ke rumah sakit untuk mencari informasi tentang kak Ridwan.
Aku pun bergegas menyelesaikan tugas ku mencek stok barang pajangan di rak.
"Yat..."suara bang Ronald yang tiba-tiba sudah ada di belakang ku.
"Iya bang,ada apa...?"
"Bisa nggak hari ini kamu lembur soalnya si Elin lagi nggak bisa masuk, adiknya yang di rawat di rumah sakit barusan meninggal..."pinta bang Ronald.
"Bisa bang.."jawab ku santai.
"Ma kasih ya..."ucap bang Ronald tersenyum kemudian berlalu pergi.
"Biarlah ku tunda dulu rencana pergi ke rumah sakit dengan Ririn.."batin ku.
"Aduh Yat,kok masih disini sih...?"
"Aku dari tadi nungguin..."suara Ririn dengan nada cempreng nya.
"Maaf Rin,barusan bang Ronald minta aku buat gantiin shift nya Elin soalnya adik Elin barusan meninggal jadi dia nggak bisa masuk..."terang ku.
"Terus rencana kita gimana...?"
"Kita tunda aja ya .."jawab ku dengan perasaan nggak enak sama Ririn.
"Hmmm ya udah, kalau gitu aku pulang duluan ya.."
"Hati-hati ..." lepas ku mengiringi langkah kaki Ririn yang menjauh.
Tak terasa senja pun datang.
Suara kumandang adzan menggema di mana-mana.
Aku pun pergi ke belakang untuk berwudhu dan kemudian menunaikan sholat magrib.
Jalan hidup yang di jalani manusia memang berbeda-beda.
Dan inilah jalan hidup ku,lebih banyak duka dan masalah yang ku rasakan ketimbang suka nya.
Aku hanya berharap di berikan kesabaran dan keikhlasan hati dalam menjalani nya.
Ku langkahkan kaki menuju loker untuk mengambil ponsel di dalam tas.
Kasihan emak nanti mengkhawatirkan ku kalau belum pulang,jadi ku kirim pesan singkat di watshapp ke nomor Bani.
Setelah memastikan pesan sudah terkirim,ku matikan dan kembalikan lagi ponsel ke dalam tas.
Kemudian mengunci loker agar lebih aman.
Sesaat ku terdiam merasakan rasa mules yang mendera di perut.
Ku langkahkan kaki cepat menuju toilet dekat musholla.
"Ah ada orang nya..." batin ku saat mau membuka handle pintu namun terkunci dari dalam.
Terpaksa ku pilih toilet yang berada agak jauh, letaknya di samping gudang belakang.
"Syukurlah kosong..."pikir ku dan bergegas masuk.
Setelah selesai,aku pun cepat membersihkan diri tapi mendadak lampu di dalam toilet padam.
Ku buka handle,tapi terkunci dari luar.
Hati ku pun mulai panik, pikiran ku tidak karuan.
"Tenang Yati..."batin ku.
Dari celah-celah fentilasi ku lihat suasana terang di luar,lampu tidak padam seperti perkiraan ku.
Ku tepis pikiran yang tidak baik.
"Hei, jangan main-main dong..."teriak ku sambil menggedor-gedor pintu.
Sesaat ku diam,coba menangkap suara dari luar barangkali ada orang yang bisa ku mintai tolong.
"Tolong....tolong..."ku arahkan suara melalui fentilasi berharap ada yang bisa mendengar, walaupun ku tahu jarak dari depan sampai ke toilet gudang ini lumayan jauh.
__ADS_1
Seandainya ada juga orang yang mau ke toilet pasti lebih memilih yang dekat musholla itu ketimbang ke sini.
"Ya Allah, apalagi ini...?"batin ku.
Aku tersandar ke tembok, merenungi nasib ku.
Hanya do'a dalam hati yang terus menerus mengalir tanpa suara.
Berulang kali ku coba memanjat melihat keluar lewat fentilasi,mencari celah jalan keluar ataupun berteriak minta tolong.
Dan tak terasa mungkin sudah hampir 3 jam aku terperangkap di toilet ini.
Lelah karena terlalu lama berdiri,aku pun berangsur duduk berjongkok.
Ku ambil gayung kemudian memukul bak air berulang-ulang dengan keras.
Terus ku pukul tanpa henti.
Air mata pun perlahan menetes seiring pukulan gayung di tangan ku.
Rasa lelah di tubuh dan kantuk yang mulai bergelayut di mata memaksa kesadaran ku hilang perlahan.
"Yati,yati...kamu ada di dalam...?"
"Bang Ronald..."gumam ku yang tiba-tiba terjaga dari lelap.
"Bang,bang Ronald...aku di sini bang, tolong bukain pintunya..."teriak ku sambil menggedor-gedor pintu toilet.
Ku dengar suara langkah cepat mendekat.
"Tunggu sebentar Yat..."teriak nya dari luar.
Terdengar suara pukulan keras di handle pintu,namun belum bisa terbuka juga.
"Yati,coba kamu mundur menjauh dari pintu.."pinta bang Ronald.
"Sudah bang.."balas ku.
Bruk.
Bruk.
Dobrak...
"Kamu tidak apa-apa...?"tanya bang Ronald dengan kelihatan cemas memperhatikan sekujur tubuh ku.
Ku sambut uluran tangannya dengan mata berkaca.
Aku terduduk lemas dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti.
Bang Ronald merengkuh pundak ku dan menyandarkan kepalaku di dadanya.
"Sudah jangan takut,aku ada di sini..."ucapnya menenangkan.
Perlahan bang Ronald membantu ku bangkit berdiri serta memapah ku berjalan.
"Tunggu sebentar..."ucapnya setelah membantu ku duduk di mobilnya.
Tidak berapa lama dia datang membawa tas ku.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.
"Kamu sudah makan...?"
"Belum bang..."
Kemudian mobil berbelok di sebuah warteg di pinggir jalan.
Bang Ronald cepat turun dan kemudian membukakan pintu untuk ku.
"Ayo turun,kamu harus makan dulu biar tidak lemas..."bujuk nya.
"Tapi bang..."tolak ku.
Bang Ronald menarik lenganku pelan membuat aku tak bisa lagi mengelak.
Kami duduk berhadapan.
"Mbak,tolong bikin kan 2 teh hangat sama nasi lalapan nya ya..."pinta nya kepada pemilik warteg.
"Baik mas..."jawab mbak itu cepat.
__ADS_1
2 gelas teh hangat sudah sampai di meja kami.
"Minum lah dulu..."
Aku hanya mengangguk mengiyakan.
"Alhamdulillah..."batin ku setelah merasakan teh hangat yang membasahi tenggorokan ku.
Selang 10 menit,nasi lalapan yang di pesan tadi pun datang.
"Ayo makan ..."ucap bang Ronald yang ikut menarik piring nasi nya.
Kami pun makan tanpa bicara.
Ku lirik bang Ronald yang terlihat sangat lahap nya.
Yang di perhatikan pun akhirnya sadar dan tersenyum.
"Lapar,habis dobrak pintu tadi..."bisik nya.
Tanpa terasa aku pun tersenyum mendengar candaannya.
Tidak ku sangka,bang Ronald yang terkenal dengan sikap nya yang kaku dan dingin bisa becanda juga.
"Mau nambah...?"tawar nya.
"Udah kenyang bang.."balas ku.
Ku seruput teh hangat yang masih setengah gelas.
Sesaat hening di antara kami.
"Sekarang coba ceritakan, bagaimana kamu bisa terjebak di toilet gudang..."ucap bang Ronald memecah suasana.
Aku pun menceritakan semuanya kepada bang Ronald.
Dia diam menyimak .
Terdengar helaan panjang nafasnya.
"Untung lah kamu tidak kenapa-kenapa."
"Besok nggak usah masuk kerja, istirahat saja dulu di rumah."
"Semua serah kan pada ku,biar ku cari pelakunya."
Suara bang Ronald penuh penekanan.
Aku pun mengangguk.
Setelah bang Ronald membayar,mobil pun melaju menuju arah rumah ku.
"Terima kasih banyak bang,"
"Kalau nggak ada Abang,mungkin aku terperangkap di sana sampai pagi.."ucap ku setelah turun dari mobilnya.
"Tidak apa-apa, sekarang masuk dan istirahat lah..."
Perlahan mobil pun berjalan menjauh.
"Assalamualaikum..."
"Wa alaikum salam..."
"Kok pulangnya telat kak..?"tanya Bani yang membukakan pintu.
"Kakak di minta lembur soalnya adik teman kakak ada yang meninggal.."jawab ku sambil duduk melepas sepatu.
"Iya tau,tapi ini sudah hampir jam 12.. jam pulang nya molor juga ya...?"selidik Bani.
"Oo itu,tadi bang Ronald yang ngantar kan pulang sekalian kami mampir makan dulu di warteg..."jelas ku.
"Ooo gitu..."
"Ya udah,kakak mau istirahat dulu ya ...capek.."
Ku rebahkan tubuh di kasur, nikmatnya bisa berbaring.
Tak bisa ku bayangkan kalau tadi terjebak sampai pagi.
"Siapa yang tega berbuat seperti itu pada ku....?"
__ADS_1
"Perasaan aku tidak pernah mencari masalah dengan siapapun.."
"Biar lah bang Ronald yang akan menyelesaikan nya..."batin ku.