
Tap ...tap...tap.
Suara beberapa langkah kaki membangunkan ku dari lelap sesaat.
"Selamat pagi.."seorang dokter pria dan 2 orang perawat di belakangnya menyapa dengan ramah.
"Pagi juga dokter."
"Maaf mengganggu waktunya sebentar ya mbak,saya akan periksa kondisi ibu nya dulu..."ucap dokter itu dengan sopan.
"Silahkan dok,"aku pun berpindah tempat memberikan ruang kepada mereka untuk memeriksa keadaan emak sekarang.
Hanya selang 15 menit pemeriksaan pun selesai.
"Bagaimana dok, keadaan ibu saya sekarang?"tanya ku tak sabar.
"Alhamdulillah sudah mulai membaik.Insya Allah dalam 2 atau 3 hari ke depan bisa pulang"jelas dokter itu lagi.
"Baik,kami permisi dulu ya mbak"pamit mereka di iringi senyum kedua perawat.
"Terima kasih dok"jawab ku.
Ku dekati emak yang masih terlelap karena mungkin masih dalam pengaruh obat yang di minum pagi tadi.
Kondisi emak sekarang memang sudah lebih baik tapi emak masih kesulitan untuk bicara.
Anggota tubuh bagian kirinya pun harus di bantu apabila mau bergerak.
Tok...tok...
Pintu terbuka,nampak Bani membawa tas dan bantal kecil di tangan nya.
"Habis darimana Ban?"tanya ku penasaran.
"Dari rumah kak."
"Tadi aku pulang sebentar,mandi sekalian ganti pakaian.Mau membangunkan kakak tapi kakak kelihatan capek banget."
"Terus apa itu?"pandangan ku tertuju pada tas di tangan nya.
"Oo ini selimut sama bantal kecil dari Ririn."sahutnya sambil tersenyum.
Aku pun membalasnya dengan senyuman.Syukurlah kalau Bani dan Ririn saling menyukai dan cocok satu sama lain.Semoga hubungan mereka langgeng sampai ke pelaminan,batin ku.
"Kalau gitu gantian ya,kakak mau pulang dulu ke rumah.Mau mandi juga."
"Iya kak."
"Tolong jagain emak"ucapku dan perlahan beranjak keluar dari kamar emak.
Ku langkahkan kaki dengan gontai,lelah seluruh tubuh ini.
Sampai di teras rumah sakit ku coba pesan ojek online lewat aplikasi.
Tidak berapa lama.
"Mbak Yati?"tanya seorang driver ojek online menyapa ku.
"Iya benar mas"sahut ku singkat.
"Sesuai aplikasi ya mbak?"tanya nya lagi.
Aku pun mengangguk mengiyakan dan kemudian segera naik di boncengan nya.
Perlahan motor pun berjalan menembus hiruk pikuk jalan raya mengantarku pulang.
__ADS_1
Sesampainya di rumah,ku lepas sepatu dan meletakkan nya di rak samping pintu.
Segera ku raih handuk dan menuju kamar mandi,tak sabar lagi mengguyur tubuh ini dengan air agar terasa lebih segar.
Setelah mandi serta berganti pakaian,ku baringkan tubuh sesaat di pembaringan.Di saat berada di rumah sakit,tidur ku tidak bisa nyenyak karena harus selalu terjaga untuk memastikan keadaan emak.
Ku buka layar ponsel ku.Terlihat ada panggilan masuk berulang kali.Penasaran ku lihat nama kontaknya.Tidak bernama.
Selama di rumah sakit memang sengaja ku silent dering ponsel ku jadi tidak tahu kalau ada panggilan masuk.
Ku buka pesan satu persatu.
"Yat,maaf ya aku belum bisa besuk emak soalnya ada 2 orang teman kita juga nggak bisa masuk kerja jadi sementara aku harus lembur"dari Ririn.
"Bagaimana kabar ibu kamu,kalau kamu ada perlu apa hubungi aku"dari bang Ronald.
"Assalamualaikum Yat, bagaimana kabar kamu..?"
"Aku tadi telpon kamu,ada yang mau aku bicarakan."
"Bisa kita ketemu..?,kapan kamu punya waktu...?
"Aku minta maaf"dari nomor yang tak di kenal.
Entah kenapa ada rasa gundah dalam hatiku.Siapa...?batin ku.
Kriuk... pikiran ku teralihkan sejenak oleh bunyi perut yang mulai memberi lampu merah.
"Sate...sate..."teriakan suara abang penjual sate "terdengar di luar rumah.
Aku bergegas keluar.
"Bang,sini"teriak ku memberi isyarat.
"Sate neng?"sahutnya sambil tersenyum.
"Sepuluh tusuk pakai lontong ya bang, jangan lupa kasih sambalnya."
"Siap neng, tunggu sebentar ya"
Asap pembakaran daging sate memberi aroma tersendiri semakin menambah rasa lapar ku.
"Nih neng sudah ready"
"Berapa bang..?"
"Kalau buat eneng sih 15 ribu aja"
"Memang biasanya segitu kan bang"timpal ku menyambut sate yang sudah di bungkus tadi dan memberikan uang 15 ribu.
"Becanda ya neng,jangan jera beli sama abang ya"ucapnya sambil menyambut uang.
"Nggak pa-pa bang,biasa aja"sahutku balas tersenyum.
Kriuk...kriuk...
Perut ku terus memanggil tidak sabar.Ku buka bungkus sate yang sudah sedari menggoda selera makan ku.
Perlahan tapi pasti daging sate dan lontong nya mengisi rongga perut ku,hingga habis tak bersisa.
"Alhamdulillah..."ku seruput air putih.
Setelah beberapa saat,aku kembali lagi ke kamar.
Membuka aplikasi Fac*b**k sejenak sambil rebahan.Rasa kantukpun mulai menggelayuti pelupuk mata ku hingga terlelap tanpa sadar.
__ADS_1
***
POV RIDWAN
Sudah hampir jam 5 sore,aku pun mengambil kunci di nakas dan berjalan keluar kamar.
"Mbak Er,kalau mama nanya bilangin aku keluar sebentar ya...?"pesan ku ketika melihat mbak Erna yang sedang menyapu teras.
"Baik mas."
Ku jalankan mobil perlahan menuju cafe tempat aku janji ketemu sama Ririn.
Setelah sampai di sana,ku cari tempat duduk di deretan samping yang dekat dengan pintu masuk.
"Mau pesan apa mas?"tanya seorang waiter dengan ramah.
"Jus jeruk aja satu mbak"
"Baik mas"jawabnya singkat.
Selang beberapa menit,waiter tadi datang membawa jus jeruk pesanan ku.
Di luar ku lihat Ririn datang menggunakan motor matik nya.
Setelah memarkir motornya, dia berjalan masuk menuju ke arah ku.
"Maaf telat kak"sapanya dengan meletakkan tas di meja.
"Sudah lama nunggu ya kak?"
"Nggak,baru juga datang"sahutku sambil menyeruput jus jeruk.
"Kamu mau pesan apa?"tawarku.
"Mmm apa ya,jus jeruk juga deh biar segar"jawab nya.
Ku lambaikan tangan pada waiter dan memesankan jus jeruk buat Ririn.
"Kelihatannya capek banget Rin?"tanyaku.
"Iya kak,sudah 2 hari aku full time.Hari ini 2 teman nggak masuk kerja,di tambah Yati juga di rumah sakit jadi ada 3 orang yang nggak masuk."
"Yati kenapa Rin,sakit apa?"perasaan ku langsung cemas dan khawatir.
"Bukan Yati nya kak,tapi ibu nya yang sakit dan harus di rawat"jelas Ririn.
"Kakak masih punya rasa peduli juga ya?"
"Selama ini kakak kemana aja,hilang nggak ada kabar."katanya datar namun terasa agak sinis menusuk perasaan ku.
"Ponsel ku hilang Rin"bohong ku.
Ririn memandang ku penuh selidik.
"Kalau boleh tahu, sebenarnya ada salah apa sih Yati sama kakak sampai kakak bersikap seperti ini?"
"Aku kasihan lihat dia,kak.Sering ngelamun sendiri, mencoba mencari salah dia dimana"
"Seharusnya kalau kakak nggak terlalu serius sama dia,jangan dong beri harapan sampai ngasih cincin segala"
Aku seakan di hakimi di hadapan Ririn.
"Justru aku ingin ketemu dia sekarang untuk menjelaskan semuanya Rin,"terang ku jujur.
Dreet... dreet...
__ADS_1
Ponsel Ririn bergetar, dia menatap ke arah ku.
"Yati,kak".