
*********
POV RIDWAN
Setelah berpisah dengan Ririn,aku pun mampir ke rumah sakit untuk menjenguk Annisa.Walau pun bagaimana,aku merasa memiliki tanggung jawab untuk memberikan semangat agar ia bisa melawan minimal bisa bertahan terhadap penyakit yang di deritanya.
Tok...tok..tok..
Ku ketuk pintu dengan sopan.
Pintu terbuka,kak Yoga tersenyum menyambut kedatangan ku.
"Masuk wan."
"Ma kasih kak."
"Bagaimana keadaan Annisa sekarang kak?"
"Masih sama seperti kemarin wan,belum ada perubahan."
"Wan,ku tinggal sebentar ya.."
"Baik kak"ucap ku melepas kepergian kak Yoga di depan pintu.
Ku langkahkan kaki perlahan menuju pembaringan Annisa,ku pandangi wajah pucat nya yang masih terlelap.
"Bertahan lah ca,aku disini untukmu,"batin ku.
Ku tarik kursi mengambil tempat duduk di dekatnya.
Perlahan ku genggam lembut jemari tangan nya,ada rasa sakit dalam hatiku.
Gadis yang dulu ku kenal ramah dan periang kini terbaring lemah tak berdaya.
Senyum manis yang selalu menghias di wajah nya sekarang seakan sulit sekali untuk hadir.
"Oh Tuhan, mengapa kau selalu mengujinya,"seru batinku.
Ku lihat perlahan mata sayu nya terbuka.
"Ca.."ucap ku lembut sembari mengusap puncak kepalanya.
"Kamu mau makan buah?"tawarku.
Pandangan nya datar menatapku.
"Aa..a..a.." terdengar suara nya lirih.
Aku diam mencoba memahami apa yang dia maksud.
"Aa...aa..aa"hanya kata-kata lemah itu yang keluar dari bibirnya.
Sesaat kemudian butiran air mata menetes dari kedua pipinya.
"Kenapa sedih ca,kan aku sudah ada disini, aku akan selalu ada untuk kamu..."hibur ku sembari menyapu sisa air mata nya.
"Jangan sedih ya,kita jalani sama-sama"ku kecup keningnya berharap dapat memberi kekuatan dalam dirinya yang sedang rapuh.
"Aku sayang sama kamu,aku janji tidak akan pergi lagi"
"Ica juga sayang Ridwan kan?"bisik ku dengan berusaha menahan sesak di dada.
Dia mengangguk dan berusaha tersenyum membalas semua kata dari ku.
"Oh iya,aku punya sesuatu "ku lepas genggaman tangan nya dan mengambil sebuah album kecil dari dalam tas ransel ku.
Ku buka lembar demi lembar halaman album,di sana ada foto-foto kami masa kecil dulu.
Aku berharap dapat memberikan nya semangat hidup saat mengingat kenangan-kenangan indah masa kecil kami dulu.
Dia menunjuk salah satu foto...
"Ini..?"
__ADS_1
"Aku membelikan mu es cream,saat itu kamu menangis karena ada anak laki-laki yang usil menarik kepang rambut mu"
"Dan kamu ingat nggak,aku sampai di marahi ibu guru karena sudah memukul anak yang usil itu"cerita ku membangkitkan kenangan nya.
Dia terus tersenyum mendengar cerita ku tentang kenangan di foto itu satu persatu.
"Wan"genggaman tangan nya yang dingin menghentikan cerita ku.
"Kenapa ca?"matanya terpejam seperti menahan rasa sakit.
"Pusing"jawabnya nyaris tak terdengar.
"Tidur lah"bisik ku lembut di telinga nya.
Ku perhatikan tarikan nafas nya mulai teratur menandakan dia sudah mulai terlelap lagi.
Kembali ku buka album tadi,semua foto masa kecil kami sengaja ku simpan di sini.
Entah kenapa dulu aku sangat suka mengambil foto bersamanya,saat bersama teman-teman di sekolah taman kanak-kanak.
Yang selalu pasti ada aku dan Annisa.
Suasana hening ini mulai menimbulkan rasa kantuk.Ku tundukkan kepala di samping tangan Annisa, memejamkan mata ku sesaat agar rasa kantuk ini hilang.
Jiwa ku melayang jauh,terbang membelah ruang penuh warna.
Hingga menjatuhkan ku di hamparan pasir pantai.
Suara tawa riang gadis cilik memaksa ku bangkit mencari asal suaranya.
"Ayo wan,tangkap Ica..."dia berlari-lari kecil kadang berusaha bersembunyi menggoda sambil masih di iringi tawa kecilnya.
"Ca"ucap ku dalam diam.
Dia berdiri menatap ku.
"Ayo wan,kok diam...kita main lagi"rajuk nya dengan wajah cemberut.
"Ca,tunggu"panggil ku sambil berlari mengejar nya.
Namun bayangan nya menghilang dengan cepat.
"Ca...,kamu dimana ca?"teriak ku menyisir pandangan ke segala arah.
"Wan,aku disini"suara gadis yang sangat ku kenal.
Ku balikan badan mencari keberadaannya.
Nampak berdiri di depan ku seorang gadis cantik dengan senyum manis di wajahnya.
"Ca"gumam ku.
"Jangan pergi lagi ya wan,temani aku...."ucapnya lirih sambil mengulurkan kedua tangannya.
"Iya ca,aku tidak akan pergi lagi...aku akan selalu bersama mu"ku peluk tubuhnya yang terasa dingin.
"Wan,aku menyayangi mu."
"Aku juga,"bisik ku.
"Bisa kah kau ulangi lagi"pinta nya.
"Annisa Az Zahra,aku menyayangi dan mencintai mu sejak kita kecil dulu."
Ku usap lembut kepalanya yang bersandar dalam pelukanku.
"Aku lelah wan,...aku ingin tidur"suaranya lemah nyaris tak terdengar.
"Tidur lah sayang,tidur lah...."
"Mimpi lah yang indah..."bisik ku dan mengecup lembut keningnya.
Ku rasakan tubuhnya semakin dingin dan perlahan berubah terang menjadi bayangan.
__ADS_1
Ku pandangi wajah nya yang tenang dengan mata terpejam.
"Ca,bangun ca.."ucap ku dengan hati yang panik.
"Ca,bangun ca..."teriak ku yang tak mampu lagi menggapainya.
Bayangannya perlahan terbang tersapu angin yang berhembus pelan.
Aku seperti orang gila berlari kesana kemari,berteriak memanggil namanya.
"Ca,jangan pergi ca..."
"Jangan tinggalkan aku!"
"Annisa....."teriak ku.
"Wan,bangun wan"
"Wan,bangun!
Tepukan keras di pundak ku memaksa kesadaran diri ku kembali.
Ku hela nafas dan mengusap keringat dingin.
Pandangan ku langsung tertuju pada Annisa yang masih terlelap.
"Kamu kenapa wan,mimpi ya?"
Aku masih belum bisa menjawab pertanyaan nya.
Semua terasa sangat nyata.
Tapi ucapan kak Yoga barusan membuat ku yakin kalau semua nya memang hanya mimpi.
"Iya kak,tadi aku ketiduran dan sepertinya juga bermimpi."
"Mungkin kamu capek,lebih baik pulang dan istirahat lah dulu di rumah.Biar aku yang menjaga Annisa."
"Kakak aja yang pulang,biar aku disini."
"Jangan keras kepala,pulang dan istirahat lah.Masih ada hari esok"potong kak Yoga dengan menepuk pundak ku.
Akhirnya aku pun tak dapat melawan perintahnya.
Ku masukan kembali album kecil yang tadi ku bawa.
"Apa itu wan?"tanya kak Yoga penasaran.
"Oh ini,album waktu kami kecil dulu kak"jelas ku.
"Boleh lihat?"
Aku pun tersenyum,"boleh,tinggal aja disini kak biar Annisa bisa melihatnya lagi."
Kak Yoga tersenyum melihat foto-foto di album itu.
"Rupanya sudah sejak dari kecil kau mencuri Ica dari ku,wan"ucap kak Yoga tanpa mengurangi senyum di wajahnya.
"Maaf kan aku,kak"jawab ku dengan serba salah.
"Tidak wan,aku yang seharusnya minta maaf sama kamu.Seharusnya aku mencari mu untuk menjelaskan nya lebih awal tentang keadaan Annisa."
"Sebagai kakak,aku terlalu egois.Sejak orang tua kami tiada,aku hidup hanya bersama Annisa.Dia lah satu-satunya yang ku miliki di dunia ini."
"Aku takut kehilangan perhatian juga cinta nya.Apalagi saat ku tahu dia dekat dengan mu,setiap ada kesempatan ku buat jarak di antara kalian."
"Sekarang aku sadar,dalam kehidupan ini semua sudah ada yang mengatur."
"Maafkan aku,wan"
Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan ucapannya.
Aku bisa memahami dan merasakan bagaimana perasaannya,...Cinta seorang kakak yang ingin melindungi dan takut kehilangan.
__ADS_1