
Bani masih memandangi kak Ridwan dengan seksama.
"Ini benar kak Ridwan kan?"ucapnya dengan wajah penasaran.
"Iya Ban,memang kamu masih nggak percaya ya..?"
"Atau kamu nggak senang kalau aku datang?"
balas Ridwan.
"Bukan begitu kak,aku senang kakak sudah pulang.Kasihan aja lihat ada orang yang sedih terus mikirin kakak"papar Bani panjang lebar dengan ekor matanya mengarah kepada ku.
"Aish siapa juga yang sedih ?"elak ku.
Ridwan merengkuh pundak Yati yang pura-pura sibuk membenahi tas nya untuk mengalihkan perhatian karena merasa malu.
"Mm ada yang malu mengakuinya nih?"goda Ridwan.
"Sudah,sudah ... jangan berisik nanti emak jadi terganggu"rajuk ku memasang wajah cemberut padahal dalam ruang hati ku serasa di penuhi kupu-kupu yang berterbangan.
Emak yang terlelap pun akhirnya terbangun dengan candaan kami.
"Eh ada tamu ya ?"tanya emak pelan.
Ridwan mendekat dan mencium punggung tangan emak dengan sopan.
"Nak Ridwan ya..?"tanya emak kurang yakin dengan penglihatan nya.
"Iya mak,...maaf kalau Ridwan baru bisa besuk emak sekarang."
"Alhamdulillah nak,kamu punya waktu buat jenguk emak yang sudah tua ini."
"Oh iya,katanya nak Ridwan mau ngajak Yati ke rumah orang tua kamu ya..?"
"Mak,"ucap ku heran dengan perkataan emak barusan.
Apa emak baru saja bermimpi.
Kak Ridwan baru saja datang tapi kenapa emak bicara seperti itu.
"Iya mak, rencananya besok Ridwan mau ngajak Yati ke rumah silaturahmi lagi lebih dekat dengan orang tua Ridwan.Bolehkan Mak..?"katanya sambil menggenggam erat jemari tanganku.
Ku pandangi wajah nya yang penuh keseriusan mengatakan semuanya di hadapan emak.
"Emak mengijinkan saja kalau memang Yati nya juga mau"timpal emak.
"Restu emak sudah kalian dapatkan jadi tunggu apalagi,emak takut tidak bisa menunggu terlalu lama."
"Emak jangan bicara seperti itu"sanggah ku cepat.
"Yati,kita tidak tahu sampai dimana umur kita nanti.Harapan emak bisa melihat kalian bahagia."
"Emak jangan bicara seperti itu lagi, setelah kak Yati kan masih ada Bani"ucap Bani menyela.
"Aku juga ingin kelak emak hadir di hari-hari bahagia ku"lanjutnya.
Emak menggenggam erat tangan ku dan Bani, senyumnya tergambar dengan jelas.
__ADS_1
"Terima kasih sudah mengisi hidup emak dengan kehadiran kalian.Emak mampu bertahan semua berkat kalian berdua"suara emak terdengar bergetar.
Aku dan Bani pun langsung memeluk emak dengan haru.
"Kami yang harus berterima kasih sama emak.Tangisan kecil kami tidak pernah membuat emak lelah berjuang menjalani hidup."
"Hingga sampai sekarang pun emak masih berusaha menjadi penopang semangat hidup kami"aku berusaha membesarkan hati emak.
Benar kata orang"kasih anak sepanjang galah,kasih ibu sepanjang masa."
Suasana seketika menjadi hening,kami hanyut dalam perasaan masing-masing.
******
POV RIDWAN
Aku mengantar Yati ke rumah sakit sekalian menjenguk ibunya yang sakit.
Kehadiran ku membuat beliau ingat dengan perkataan ku di pertemuan kami terakhir kali.
Aku pernah berkata akan mengajak Yati ke rumah bertemu dengan mama dan papa ku untuk membicarakan hubungan kami lebih jauh.
Memang itu niat ku sejak awal dan sampai sekarang pun akan aku usahakan membawa hubungan ku dengan nya ke arah yang lebih serius yaitu pernikahan, secepatnya.
Ku melihat keluarga kecil mereka yang saling mengasihi satu sama lain.Saling menguatkan walaupun keterbatasan ekonomi atau dalam kondisi apapun.
Yati memang gadis yang manis dan penuh kasih sayang.Dia seperti mama ku.Di balik lemah lembut nya memiliki kekuatan seorang wanita.
Dreet.... dreet... dreet...
Ku sentuh pundak Yati meminta ijinnya sebentar untuk keluar dari ruangan itu.
"Kak Yoga"batin ku.
"Halo kak?"sapa ku.
"Wan,ku lihat tadi sekilas kamu di depan lobi.Kamu sekarang lagi sama Annisa ya..?"tanya kak Yoga.
"Maaf kak,aku di ruangan lain lagi besuk ibunya teman ku"elak ku.
"Tapi sehabis dari sini aku langsung ke kamar Annisa."
"Iya,ya...tolong jagain Annisa ya wan soalnya aku ada urusan sebentar masalah kerjaan."
"Baik kak"jawab ku kemudian mematikan ponsel.
"Siapa kak?"tanya Yati yang tiba-tiba sudah ada di belakang ku.
"Temen, adiknya di rawat di rumah sakit ini juga tadi dia minta tolong di jagain sebentar soalnya ada urusan di luar"kilah ku.
"Maaf Yat, untuk saat ini aku berbohong demi menjaga agar tidak ada hati yang terluka"batin ku.
"Oo kalau gitu kakak cepat kesana, kasihan kan kalau nggak ada yang jagain"ucapnya dengan penuh perhatian.
"Aku kesana dulu ya."
Ku usap lembut puncak kepalanya.
__ADS_1
Di balasnya dengan tersenyum melepas ku.
Ku langkahkan kaki masuk lift menuju ruangan Annisa yang berada di lantai 3.
Setelah sampai di depan kamar,dari balik kaca ku lihat Ica sedang memandangi foto-foto kenangan kami dulu.
Ku perhatikan dengan seksama raut wajahnya yang cantik.Tersirat kesedihan yang sangat mendalam.
Sesekali di ku lihat ia menyapu air mata yang menetes di kedua belah pipi nya.
Masih terngiang ucapan dokter tentang penyakit yang di deritanya sekarang.
Hidupnya hanya tinggal menghitung hari.
Memang sulit untuk menerima kenyataan tapi ini lah takdir.
Di awal,aku pun masih belum bisa menerima tapi seiring berjalannya waktu aku belajar untuk menghadapinya.
Yang bisa ku lakukan sekarang adalah memberikan kenangan indah di akhir perjalanan hidupnya.
Tok...tok...tok..
"Lagi ngapain?"sapa ku mendekat.
Dia memalingkan wajah sembari mengusap matanya yang masih terlihat sembab karena habis menangis.
"Kenapa matanya?"goda ku sambil menangkup kedua belah di pipinya.
"Nggak ada pa-pa wan,cuma..."kilahnya masih berusaha tegar.
Ku peluk tubuhnya yang sekarang agak kurus.
Air mata nya perlahan menetes lagi.
"Jangan sedih, tidak baik buat kesehatan mu"bisik ku pelan.
"Wan,aku ingin pergi ke pantai melihat ombak laut"ucapnya mengangkat wajah memandang ke arah ku.
"Kalau kamu sudah sembuh nanti ku ajak kamu pergi ke pantai melihat ombak laut di sana"jawab ku sambil kembali menyandarkan kepala nya di dalam pelukan ku.
"Bagaimana kalau nanti aku tidak sembuh-sembuh juga?"
"Mm jangan bicara yang tidak-tidak, berusaha lah kuat agar semua impian mu bisa terwujud"hanya kata-kata itu yang bisa terlontar dari bibir ku untuk memberi semangat untuk nya.
"Wan,bisa kah kamu bawa aku keluar untuk melihat bulan?"
Aku tersenyum dan mengangguk mengiyakan.
Ku ambil kursi roda yang tersedia disini dan menggendong tubuh Ica untuk duduk di sana.
Ku ajak ia keluar kamarnya untuk sekedar menghirup udara malam.
Langit malam terlihat cerah menampilkan jajaran bintang-bintang kecil.Bulan pun tak mau kalah memamerkan indah cahayanya.
Ica tersenyum bahagia menyaksikan indahnya malam.
Semoga senyum itu bisa terus terukir di bibir indah mu....Annisa Az Zahra
__ADS_1