BIDADARI BUMI YANG TERLUKA

BIDADARI BUMI YANG TERLUKA
BERUSAHA BERTEMU


__ADS_3

"Yat."suara bang Ronald menyadarkan ku akan keberadaan nya.


Ku seka air mata yang kadang masih menetes tanpa rasa.


"Kamu harus kuat dan sabar."


Mendengar kata-katanya ada sedikit teduh di hati.


Walaupun tak bisa ku pungkiri jiwa ku terasa rapuh.


"Terima kasih bang"ucap ku pelan.


"Untuk sementara kamu ijin aja, nggak usah masuk kerja dulu "


"Rawat dan jaga ibu di sini."


Aku hanya mengangguk mengiyakan.


"Aku ke toko sebentar nanti kesini lagi"pamitnya.


"Baik bang,maaf sudah merepotkan abang ya.."


Bang Ronald membalas dengan senyuman kemudian berlalu pergi meninggalkan ku.


Aku mendekati Bani yang duduk di samping pembaringan emak.


"Apa kata dokter tadi kak?"tanya nya.


"Ini serangan kedua, kemungkinan untuk saat ini organ tubuh bagian kiri emak tidak bisa di gerakan seperti biasanya tapi setelah kondisi emak membaik di sarankan untuk melakukan terapi rutin agar bisa merangsang titik-titik saraf"jelas ku.


"Berarti masih ada harapan emak untuk sembuh kembalikan kak?"


"Kata dokter kemungkinan sembuh itu masih ada".


"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu."


"Kak,aku mau beli sarapan di luar.Kakak mau sarapan apa..?"


"Kalau ada bubur ayam aja deh Ban"pinta ku.


"Iya"sahutnya.


Bani berlalu meninggalkan aku yang masih terpaku memandangi wajah emak.


Ku tarik nafas panjang mencoba menghilangkan beban sesak di dada.


Perlahan ku baringkan kepala di samping pembaringan emak sambil tanganku terus menggenggam erat jari jemari emak.


"Mak,cepat sembuh ya.."bisik ku lirih.


Rasa ngantuk mulai mendera ku hingga mata yang sembab ini pun akhirnya terlelap.


Jiwa ku terasa lelah ...


***


POV RIDWAN


Tok..tok...


"Wan,wan... bangun.."suara mama dari luar memanggil nama ku.


"Iya ma,bentar"


Beranjak ku dari peraduan yang masih ingin memeluk tubuh ini.


Rasa kantuk pun masih bergelayut di kelopak mata.


"Ma"sapa ku dengan hanya memunculkan kepala dari balik daun pintu.


"Kok baru bangun?"


"Sebenarnya sudah bangun dari subuh tadi ma,tapi ketiduran lagi"jawabku dengan malas.

__ADS_1


"Memang hari ini nggak ke rumah sakit lagi buat nemenin Annisa?"


"Nanti ma,agak siangan"


"Memang mama mau ikut ke rumah sakit?"


"Nggak,mama cuma mau minta tolong skalian anterin mbak Erna ke pasar."


"Ya udah,mbak Erna naik angkot atau becak aja"


Mama pun berlalu meninggalkan ku.


Kriuk... kriuk.


Rasa kantukku hilang karena suara perut yang memanggil.


Ku sambar handuk dan bergegas menuju kamar mandi.


Guyuran air dari shower terasa segar membasahi seluruh tubuh ku.


Setelah mandi dan berpakaian,aku pun menuju meja makan.


"Ma."Ku kecup pipi mama yang lagi asyik mengupas buah apel.


"Mama sudah sarapan?"


"Sudah."


"Ayah mana?"tanyaku sambil menyuap sendok demi sendok nasi goreng masuk ke mulut.


"Ayah hari ini berangkat lebih pagi, katanya sih ada urusan penting sebelum ke kantor."


"Kamu kapan mau masuk kantor?"


"Kasihan ayah kewalahan kalau harus terus memimpin perusahaan sendiri, maklum ayah kan sekarang tidak muda seperti dulu lagi wan."


"Sudah waktunya kamu yang menggantikan posisi ayah sekarang biar kami bisa menikmati hari tua dengan nyaman."


Aku hanya diam mendengarkan keluhan mama.


Uhuk...uhuk...


Pertanyaan mama barusan membuat ku tersedak.


Ku tuang air putih ke dalam gelas dan meminumnya dengan cepat.


"Cepatlah hubungi dia,jangan mengulur waktu terlalu lama."


"Masalah tidak akan cepat selesai kalau kamu terus menundanya."


"Baik ma.Hari ini Ridwan coba hubungi Yati."


"Temui dia hari ini juga."saran mama dengan tegas.


"Baik ma."


Sejenak kami diam tanpa suara.


"Mau?"sodor mama menawarkan buah apel yang sudah terpotong kecil-kecil di dalam piring.


Ku ambil sepotong dan langsung memakannya.


"Ridwan mau ke teras depan dulu ma"ucap ku.


Mama hanya mengangguk tanda mengiyakan.


Udara pagi ini terasa masih sejuk, mentari baru mengeluarkan sedikit rona cahayanya.


Ku pandangi langit yang cerah dengan berhias gumpalan awan putih sambil duduk santai.


Ku ambil ponsel dari balik kantong celana.


Perlahan layar nya ku nyalakan kembali.Sudah lama tidak di aktifkan pasti banyak pesan yang masuk batin ku.

__ADS_1


Tidak berapa lama...


Dreet... dreet...dreet...dreet...notifikasi pesan beruntun masuk.


Dari teman-teman kerja,juga bang Ronald yang menanyakan tentang kerjaan,alasan kenapa tidak masuk, apakah aku berhenti?


Ku biarkan saja tanpa membalas nya.


Ku cari kontak dengan nama mu,Yati ku."


Banyak panggilan masuk serta pesan dari mu yang membuat aku jadi merasa bersalah.


"Aku harus menjelaskan semua,apapun keputusan kamu ..."batin ku.


"Tuuut.... tuuut.... tuuut..."


Ku hela nafas menunggu dengan sabar.


Kembali ku pencet nomor kontak mu tapi tetap tidak di angkat.Ku ulangi lagi namun tidak ada juga respon dari mu.Semua memang salah ku hingga kamu bersikap seperti ini.


"Ririn,ya Ririn pasti bisa..."batin ku lagi.


Tuuut... tuuut...


Tidak lama telpon dari ku di angkatnya.


"Assalamualaikum,Rin..."sapa ku.


"Kak Ridwan...? kemana aja sih kak..? kenapa nggak masuk kerja sih..?Nggak ada kasih kabar lagi, hilang di telan bumi ya..?"


"Sabar Rin, satu-satu dong nanya nya.."jawab ku.


"Kakak dimana sekarang..? Sudah hubungi Yati belum..?"


"Justru itu,tadi aku coba hubungi berulangkali nomor nya tapi nggak di angkat"


"Mungkin dia marah sama aku ya Rin..?"


"Aku aja kalau di gitukan ya pasti marah lah..."jawabnya ketus.


"Aku pengen ketemu Yati, Rin."


"Ada sesuatu yang harus ku jelaskan."


"Yati sekarang lagi di rumah sakit kak."


"Yati sakit apa Rin..?"tanyaku khawatir.


"Bukan Yati nya yang sakit kak,tapi ibunya."


"Tadi pagi ibu nya pingsan terus di bawa ke rumah sakit."


"Aku juga beberapa kali mencoba menghubungi Yati tapi tidak di angkat."


"Kata Bani sih,ibunya harus di rawat inap."


"Aku hari ini masuk shift pagi, sebaiknya kita ketemu dulu soalnya ada yang mau aku bicarakan sama kak Ridwan"ajak Ririn.


"Ada apa Rin..?"


"Coba jelaskan sekarang aja!"pinta ku dengan penasaran.


"Kakak,aku ini sekarang lagi jam kerja kalau nanti bang Ronald lihat aku sibuk telpon,terus aku di pecat...kakak mau nanggung aku sampai tua..?"ancam nya.


"Ogah.."jawab ku sambil tertawa.


"Ok nanti aku tunggu ya,habis pulang kerja."


Kemudian ku putus pembicaraan kami.


Apa sebenarnya yang ingin di bicarakan Ririn padaku?


Apakah kamu tidak mau bertemu lagi dengan ku,Yat?

__ADS_1


Semua memang salahku dan harus ku hadapi apa pun nanti keputusan yang kau ambil.


Walaupun sejujurnya hatiku sangat menyayangi mu,namun aku akan belajar untuk mengikhlaskan seandainya kau lebih memilih menjauh dari ku.


__ADS_2