
***
POV Author
Tok...tok...
"Kak, bangun...sudah pagi..."teriak Bani dari luar kamar ku.
"Iya .."balas ku dengan suara serak ciri khas orang bangun tidur.
Duduk di pinggiran ranjang,ku coba menyatukan serpihan jiwa yang belum sadar seutuhnya alias masih ngantuk.
Perlahan ku bangkit dan mengambil handuk bersiap pergi mandi pagi.
Melewati ruang tengah sekilas ku lihat Bani asyik memainkan ponsel sembari menyantap sarapan paginya.
"Hari ini nggak kerja Ban...?"
"Hah,kenapa kak...?"
"Di tanya malah balik nanya..."gumam ku sambil berlalu ke kamar mandi.
Selesai mandi dan berganti pakaian,ku dekati dia dari belakang tanpa sepengetahuan nya.
"Hmmm pesan dari siapa sih,kok senyum-senyum sendiri gitu...?"tanya ku penasaran berusaha melihat lebih dekat.
"Eits,..."cegah nya cepat dengan menutup layar ponselnya.
"Nanti kakak juga bakal tau.."jawabnya sambil cengengesan.
"Kamu masak apa...?"
"Maaf kak,pagi ini aku beli bubur ayam aja soalnya tadi emak juga katanya lagi pengen makan bubur jadi sekarang kita nyabu dulu ya..."jelasnya panjang lebar."
"Kamu nggak masuk kerja hari ini...?"tanya ku sambil membuka bungkus bubur ayam dan memasukan nya ke mangkuk yang sudah di siapkan Bani.
"Nggak,mau libur dulu.."jawabnya singkat.
"Terus,kakak...?"
"Aku juga hari ini libur, soalnya kan kemarin aku gantikan shift teman..."terang ku.
"Mumpung kita libur....,ayo kak,kita ajak emak jalan-jalan ..."
"Kasian kan emak diam di rumah terus.."usul Bani.
"Ayo...,mau kemana...?"
"Ke taman kota aja,kalau hari biasa pagi begini nggak terlalu ramai di banding akhir pekan,udaranya sejuk adem ayem..."
"Ayo,kalau gitu..."sahut ku dengan mempercepat suapan agar selesai sarapan bubur nya.
"Mak,..."
Ku lihat emak duduk bersandar dengan mata terpejam sambil memegang tasbih di tangan kanannya.
Perlahan ku bersimpuh di samping pembaringan nya.
"Kenapa nak...?"sahut emak dengan senyum nya yang selalu meneduhkan jiwa kami.
__ADS_1
"Kita jalan-jalan ya mak,nyari udara segar.."ajak ku.
"Memang nya kalian nggak kerja hari ini...?"
"Kebetulan hari ini Yati sama Bani libur jadi bisa ngajak emak jalan-jalan.."
"Tapi apa tidak merepotkan kalian...?"
"Kok emak ngomongnya begitu..."rajuk ku.
"Emak aja nggak pernah merasa di repot kan oleh kami kan...?"
"Ayo kak,aku sudah panggil becak..."
"Ayo mak.."ajak ku lagi.
Emak tersenyum tanda setuju.
Ku bantu emak bangkit dari duduknya dan memapahnya perlahan berjalan keluar menuju becak yang sudah menunggu di depan.
Aku dan emak naik becak menuju taman kota.
Sedangkan Bani di belakang kami dengan mengendarai sepeda motor sambil membawa kursi roda buat emak nanti di sana.
Emak memang sudah tidak bisa jalan normal seperti dulu lagi,kaki sebelah kirinya sudah sering mati rasa mungkin efek penyakit stroke ringan yang di deritanya.
Jadi aku dan Bani menyisihkan gaji kami untuk membeli kursi roda agar bisa mengajak emak jalan-jalan ke luar rumah.
Sesampainya di taman kota,terasa sekali udara yang sejuk serta pemandangan hijau memanjakan mata.
Ku papah emak untuk duduk di kursi roda nya.
"Iya.."
Taman kota memang tempat yang nyaman untuk bersantai menghilangkan penat dan segala kejenuhan.
Area nya cukup luas,sebagai tempat hiburan warga sekitar.
Di sana tersedia bangku-bangku panjang di setiap titik sudut taman yang dapat di gunakan untuk istirahat bagi yang habis joging atau pun sekedar menikmati suasana.
Di sebelah kiri taman terdapat area parkir baik motor maupun mobil sedang kan di sebelah kanannya berderet beberapa stand juga warung-warung kecil yang menjual berbagai macam jajanan.
Semua terlihat tertib dan tertata rapi untuk kenyamanan semua pengunjung.
Tidak jauh dari sini,nampak jelas berdiri kokoh mesjid Jami yang sangat terkenal di Kalimantan Selatan yaitu Mesjid Raya Sabilal Muhtadin.
Di seberang nya lagi menjulang tinggi bangunan menara pantau serta adanya objek wisata Pasar Terapung yang padat oleh pengunjung dari dalam mau pun luar daerah.
Sambil berjalan,kita dapat melihat kapal-kapal yang membawa penuh penumpang untuk berwisata air sisir Sungai.
"Nih kak,.."Bani menyodorkan sekantong kresek jajanan.
"Wah,enak nih.."
"Beli dimana...?"tanya ku sambil mengambil kue tradisional ciri khas daerah.
"Tadi ada anak kecil yang menjajakan nya di area parkir."
"Terlihat cara dia berjualan sangat baik,dari segi kebersihan juga pengemasan nya."
__ADS_1
"Iseng,ku coba beli satu...eh ternyata enak,ya aku beli lagi lah..."papar Bani.
"Ini mak, rasanya enak-enak...ada kue lapis kesukaan emak juga.."tawar ku.
"Iya enak,jadi ingat waktu kita di kampung dulu..."kata emak sambil memakan kue lapis.
"Dulu,sehabis emak pulang dari kebun atau ladang pasti kalian minta di belikan kue di warung wa Saroh..."kenang emak.
"Tidak menyangka panjang sekali jalan hidup kita,.."
"Kalau di kampung dulu,mau makan saja harus kerja keras dulu...masak di dapur tungku menggunakan kayu bakar perlu waktu berjam-jam."
"Sekarang tinggal di kota,semua peralatan serba praktis.Mau masak apa saja... gampang, bumbunya juga cepat saji tidak perlu ngulek-ngulek lagi.."
"Tapi yah,ada sih beberapa perbedaan nya mak..."potong Bani.
"Apa perbedaannya..?"sahut emak.
"Kalau di kampung,kue nya besar-besar...makan satu aja udah bikin perut kenyang..."
"Itu perut waktu kamu kecil,Ban...kalau sekarang mungkin perlu 5/10 biji kue baru kenyang..." sahut ku sambil tertawa.
"Ya iya lah,kan sekarang aku sudah besar dan gagah....lelaki sejati,iya kan mak..."gayanya dengan mengangkat kedua lengannya.
Emak pun tertawa kecil melihat kelakuan Bani.
"Kalau lelaki sejati berarti sudah ada calon dong..."goda ku.
"Ada deh.."sahut nya enteng.
"Kita kesana yuk..."ajak ku.
Bani mendorong kursi roda emak perlahan.
Aku pun menggiring dari samping.
Ku lihat emak sangat menikmati pemandangan sekitar sungai.
"Hidup kita seperti air mengalir mengikuti arus yang sudah di garis kan oleh Allah SWT.."ucap emak lirih.
Emak meminta berhenti sejenak di tepi pagar pembatas Sungai.
Mata nya nanar memandangi air yang mengalir perlahan dari hulu ke hilir.
Mimik wajahnya sesaat berubah sendu.
Dari tarikan nafas nya yang panjang sepertinya masih ada luka yang tersisa.
"Ini lah hidup,kita tidak bisa berkehendak hanya mampu merencana...."desah nya dalam.
Bani memeluk emak dari belakang sedangkan aku pun bersimpuh di samping emak.
"Ini lah jalan hidup kita,mak...."
"Semua kesulitan dan kepahitan hidup yang kami lalui bersama emak, membuat kami menjadi lebih kuat dalam menghadapi kerasnya kehidupan."
"Terima kasih atas kesabaran dan ketabahan emak selama ini..."
"Kami sayang emak..."
__ADS_1