
*******
POV YATI
Suara alam bersenandung menyambut pagi, sungguh suatu anugerah dan pemandangan sangat indah serta langka bagi ku yang sudah menjadi penduduk kota.
Udara nan sejuk berpadu dengan kicauan burung-burung serta hijaunya alam sesaat membuat ku merasa lupa dengan segala beban hidup yang menghimpit.
Hanya rasa syukur atas nikmat Allah SWT yang tak terkira melantun dalam hati ku.
"Yat,ayo kita sarapan dulu"ajak kak Laila yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
"Iya kak,"langkah kami beriringan menuju meja kecil yang biasa di gunakan makan bersama di dekat dapur rumah.
Uwa sudah duduk sambil menuangkan teh panas yang mengepulkan asap.Tersedia juga sepiring pisang goreng serta tahu tempe goreng.
"Uwa belum sempat ke pasar buat beli bahan dapur juga sembako jadi kita sarapan ini dulu ya."
"Ah uwa, seperti orang lain aja.Ini juga sudah cukup buat sarapan,sudah bikin kenyang"sahut ku.
"Uwa pagi ini mau ke kebun ya?"tanyaku sambil memasukkan sepotong tahu goreng ke dalam mulut.
"Uwa mau pergi ke pasar sebentar sama Laila,kamu istirahat aja di rumah.Kalau mau jalan-jalan lihat suasana kampung nanti tunggu Laila aja ya"pesannya.
"Emang kenapa wa harus nunggu kak Laila? tanyaku penasaran.
"Uwa nggak mau nanti kamu di godain pemuda-pemuda kampung sini,kalau ada Laila nggak bakal ada yang berani soalnya kakak mu ini kan galak"uwa terkekeh.
"Iya,kan Laila begini juga emak yang ngajarin.Wanita itu harus jaga sikap jangan mudah di rayu"bela kak Laila.
"Iya benar sih emak yang ngajarin gitu tapi jangan keterusan juga jadi lambat deh jodohnya datang"seloroh uwa nggak mau kalah.
"Jodoh itu Allah yang ngatur mak.Nggak perlu terlalu di cari atau di kejar nanti juga datang sendiri,iya kan Yat?"ucap kak Laila pada ku meminta dukungan.
"Iya wa,barangkali jodoh kak Laila masih menyiapkan persiapan untuk bekal berumah tangga nantinya.Siapa sih yang nggak suka sama kak Laila.Cantik,bisa kerjaan rumah juga masak sama sayang orang tua,paket komplit dah"sela ku menengahi perdebatan emak dan anak itu.
"Ya sudah,melawan kalian berdua jelas emak nggak bisa ngomong apa-apa lagi.Ayo Laila siap-siap antar emak ke pasar sekarang"potong uwa berdiri dan mengambil bakul belanjanya.
Aku dan kak Laila berpandangan dan tersenyum melihat sikap uwa.Rewelnya merupakan kasih sayang orang tua kepada anaknya yang tidak bakal di temukan di luar sana.
"Wah kayaknya motor baru nih"seloroh ku saat melihat kak Laila mendorong keluar motor matik dari samping teras.
"Iya Yat, alhamdulillah panen tahun-tahun kemarin hasilnya lumayan banyak jadi emak nyaranin motor yang dulu di jual aja terus beli yang baru.Soalnya sehabis tabrakan abah mu itu motornya suka mogok"jelas kak Laila.
__ADS_1
"Abah tabrakan,kapan kak?tanya ku kaget.
"O iya,itu kejadiannya tahun kemarin Yat.Sebenarnya pas kejadian aku mau ngabarin kamu tapi emak melarang.Kayaknya emak sengaja tega begitu walaupun abah adik kandung emak,emak juga ikut sakit hati sama sikap abah terhadap kalian"jelas kak Laila prihatin.
"Terus bagaimana keadaan abah,kak?tanya ku penasaran.
"Akibat kecelakaan itu abah mengalami patah tulang kaki, sehingga kemana-mana ya harus di bantu menggunakan tongkat."
"Ayo kita berangkat,keburu pasarnya tutup"kemunculan uwa dari balik pintu memutus pembicaraan kami.
"Kak...?"kata ku menatap kak Laila.
"Nanti habis datang dari pasar ya"jawabnya seakan tau kemana arah pikiran ku.
"Assalamualaikum" suara laki-laki menyapa kami.
"Eh Aris,mau kemana?"balas kak Laila.
"Mau jalan-jalan menikmati suasana pagi yang sudah langka ini sekalian lihat-lihat kebun jagung"jawabnya santai.
"Uwa pagi begini sudah cantik,mau kemana?"godanya.
"Aris,Aris berani ya kamu merayu uwa sepagi ini"sahut uwa yang tadi lagi asyik mencatat bahan belanjaannya.
"Siapa juga yang marah ris,Laila aja belum punya laki-laki idaman"sahut uwa enteng.
"Emang uwa belum tau ya,atau Laila belum ngasih tau?"potong Aris.
Nampak kak Laila melotot menatap Aris seakan memberi kode keras.
"Emang ada Ris,pemuda kampung sini mau sama Laila yang galak ini?"uwa bangkit dari duduknya mendekati Aris dengan wajah penuh selidik.
"Hmmm ya pasti ada lah wa"sahut Aris dengan kikuk karena tatapan tajam dari kak Laila.
"Obrolan kita belum selesai.Tunggu uwa dari pasar ya ris,jangan kemana-mana"perintah uwa dengan tegas.
"Ayo kita ke pasar dulu la"ajak uwa cepat duduk di jok belakang.
"Awas kamu ya"ancam kak Laila melewati Aris.
"Maaf la, keceplosan"tawa Aris mengiringi kepergian mereka.
Aku pun ikut tersenyum dengan kelakuan mereka.
__ADS_1
"Duduk dulu kak"tawar ku.
"Iya ma kasih Yat,"balasnya lalu duduk di kursi yang ada di teras rumah ini.
Aku bergegas masuk untuk membuat kan minum serta membawa makanan buat Aris.
"Emang benar ya kak,kak Laila sudah punya pacar?"tanya ku mencairkan suasana di antara kami.
Aris tersenyum setelah menyeruput teh hangat yang tadi ku bawakan.
"Iya,masih teman ku juga.Dengar-dengar rencananya dalam waktu dekat mereka akan datang kesini untuk lamaran.Mungkin Laila belum cerita sama wa Tinah"jelas Aris.
"Pemuda kampung sini juga ya kak?"tanya ku penasaran.
"Iya,anak kampung sini juga cuman dia suka pulang pergi ke kota buat usaha mencari nafkah"cerita Aris.
"Kalau kakak sendiri?"ku alihkan topik.
"Kalau aku sih yah masih nunggu juga,nunggu tulang rusuk ku buat berumah tangga"jawabnya optimistis.
"Kenapa harus menunggu sih kak,kalau kakak merasa sudah mampu ya di cari dong"canda ku ringan.
"Sudah berusaha mencari cuman belum dapat yang pas di hati Yat,tapi ini juga lagi usaha kok"jawabnya dengan tersenyum manis.
"Oo begitu"sahut ku datar.
"Sudah kerja Yat?"tanya nya setelah hening sejenak di antara kami.
"Sebelumnya Yati kerja di sebuah minimarket kak tapi setelah emak keluar dari rumah sakit jadi untuk sementara Yati istirahat dulu.Dan sekarang kesehatan emak sudah mulai membaik.Mumpung ada waktu jadi Yati pulang kesini untuk jenguk wa Tinah juga"cerita ku panjang lebar.
"Kakak sendiri kerja dimana?"balas ku balik bertanya.
Aris tertawa kecil.
"Aku cuma pengangguran Yat,makanya nggak ada gadis yang mau sama aku"jawabnya menatap ku.
"Masa sih kak, nggak ada yang mau sama kakak?"sangsi ku.
"Zaman sekarang ada uang abang di sayang tak ada uang,abang di tendang Yat"jawabnya santai.
"Nggak semua perempuan gitu kak,masih banyak kok perempuan yang setia menemani seorang laki-laki yang bergelar suami dari nol,baik suka maupun duka"bela ku.
"Termasuk kamu,Yat?"todong nya yang membuat aku kaget dan tersipu malu.
__ADS_1