
*****
POV YATI
Pertemuan ku dengan orang tua kak Ridwan membuat hati ku sangat bahagia.
Respon mereka dengan hubungan kami sangat mendukung hingga ingin mempercepat untuk melangsungkan pernikahan.
Mamanya kak Ridwan sangat penyayang sedangkan papa nya orang yang sangat bijaksana.
Ah seandainya Abah seperti beliau,batin ku membandingkan masa lalu yang kelam.
Setelah pulang dari rumah kak Ridwan,aku langsung menceritakan semuanya kepada emak dan Bani perihal tentang kapan kepastian dari pihak ku sebagai keluarga perempuan.
Emak yang sangat terlihat bahagia mendengar semua cerita ku.
"Rencananya lusa orang tua kak Ridwan akan datang ke sini untuk melamar Yati,mak"terang ku.
"Aduh gimana ya,kita bikin masakan apa buat menyambut mereka?"tanya emak antusias.
"Soalnya ini pengalaman pertama emak mau acara lamaran anak emak"kata emak dengan seriusnya.
"Apa harus undang tetangga juga kak?"timpal Bani.
"Nanti aja deh Yati tanya kak Ridwan dulu,gimana baiknya.Kata mama sama papa nya kak Ridwan yang penting kita sudah siap untuk menerima lamaran ini"jelas ku.
"Kakak sendiri gimana,sudah siap nggak?"goda Bani.
Aku hanya membalas dengan senyuman dan mengangkat jempol.
"Alhamdulillah,jodoh mu sudah sampai nak"ucap emak sambil mengusap lembut pipi kiri ku.
"Sekarang kita istirahat dulu biar besok di pikirkan lagi bagaimana baiknya"saran emak.
"Baik mak"jawabku kemudian beranjak keluar di iringi Bani di belakang.
"Cie...cie...calon pengantin bakal nggak bisa tidur nih mulai sekarang "ledeknya.
"Kamu juga nanti bakal ngerasain gimana posisiku"sanggah ku.
"Eh,biasanya kalau acara lamaran itu gimana ya kak?"sela nya mengajak ku duduk kembali di ruang tengah.
"Kalau adat kita di kampung sih,pas ada yang mau lamaran semua keluarga akan ngumpul.Terus masak bikin makanan buat menyambut keluarga pihak pria.Nanti di sana akan di bicarakan masalah waktu yang baik buat menetapkan hari pernikahan nya"jelas ku.
"Tapi kalau di kota sini sih nggak tahu ya Ban,soalnya kita kan juga termasuk pendatang di sini."
"Menurut kakak, orang tua kak Ridwan gimana?"
"Gimana apa nya ?"tanya ku bingung.
__ADS_1
"Ya maksud ku sikap mereka terhadap kakak gimana ?"
"Kebanyakan orang berada kan sikapnya agak-agak gitu deh"paparnya.
"Alhamdulillah,sikap mereka baik kok Ban.Dari awal pertemuan di rumah sakit dulu sama kemarin nggak ada yang berubah.Malahan aku merasa minder sendiri."
"Apalagi papa nya kak Ridwan... seandainya Abah kita seperti beliau, orang nya bijaksana juga sayang sama keluarga.Rasanya pasti nasib kita tidak akan sampai seperti ini."
Pikiran ku pun melayang memikirkan bagaimana keadaan abah sekarang.Sejahat-jahatnya abah yang telah menelantarkan kami tapi dia tetap orang tua kami juga.
"Sudah lah, jangan memikirkan masa lalu yang bikin sakit hati.Mending pikirkan masa depan kakak sekarang."
"Sudah malam,ayo kita istirahat dulu"ajak Bani yang sudah beranjak menuju kamarnya.
Aku pun masuk menuju kamarku yang bersebelahan dengan kamar emak.
Ku rebahkan tubuh di pembaringan.Mata yang sudah ku pejam kan tak kunjung jua membawa diri ke alam mimpi.
Memang benar kata Bani,semakin menuju hari bahagia yang di nantikan malah semakin sulit mata ini di ajak kompromi.
Tetap ku paksakan diri beristirahat hingga akhirnya pun bisa terlelap juga.
********
Di tempat lain, seorang lelaki yang sudah separuh baya tak bisa memejamkan matanya.
Dia meratapi nasib dan kesalahan nya dalam diam.
Kini hanya seorang lelaki tua yang tak berdaya.
Sudah hampir setahun kakinya tidak bisa bergerak,
akibat kecelakaan bermotor yang di alami nya.
Hingga memaksa dirinya hanya bisa berbaring atau duduk untuk menggerakkan badannya.
Segala keperluan di layani istri nya di tempat tidur kapuk yang mulai lusuh.Sering sang istri mengomel karena suaminya tanpa sadar buang air kecil di kasur.
"Saroh,dimana kamu sekarang?"
"Bagaimana keadaan Yati dan Bani?"
"Maafkan aku,Saroh"ucapnya lirih seperti berbisik.
"Yati,Bani...maafkan abah..."air mata menetes di kedua pipinya yang kurus dan keriput.
Keheningan malam tidak mampu membuat matanya terpejam namun seakan menggiring jiwanya semakin tenggelam dalam perasaan sedih dan bersalah.
******
__ADS_1
Flashback Abah
Semenjak kepergian emak,Yati dan juga Bani kecil tak ada sedikitpun niat abah untuk mencari tahu bagaimana keadaan dan dimana mereka tinggal sekarang.
Malah kelakuan abah semakin parah.
Inah janda kembang warung remang-remang yang sudah berhasil memikat hati abah hingga melupakan tanggung jawab nya kepada anak dan istri,kini telah sah menjadi istri abah setelah abah mengucapkan kata talak dan mengusir emak dari rumah.
Namun sayang, kesetiaan nya hanya sebatas harta.
Sifat Inah mulai terlihat semenjak abah cacat akibat kecelakaan bermotor yang menimpanya.
Kecelakaan itu terjadi......
Abah sedang berada di kantor kades sedari pagi hatinya merasa tidak enak,entah kenapa rasanya ingin cepat pulang ke rumah.
Sedang kan di rumah,Inah sedang asyik bermesraan dengan seorang bernama Ardi pemuda pengangguran namun memiliki wajah yang lumayan tampan.
Rumahnya tidak jauh dari rumah abah hingga memudahkan mereka untuk bertemu tanpa sepengetahuan abah.
Ardi sering masuk lewat pintu dapur di saat abah sudah pergi dari rumah.
"Kamu makin cantik aja nah,"rayu Ardi setelah selesai menuntaskan hasrat nya.
"Punya kamu juga bikin aku ketagihan terus yang"jawab Inah dengan manja.
"Memangnya abah tidak bisa memuaskan kamu sayang?"tanya Ardi sambil mengancing celananya.
"Ya beda yang,abah kan sudah tua sedangkan aku masih muda.Aku pengen nya bercinta sama kamu terus soalnya lebih tahan lama"jawab Inah lagi tanpa malu-malu.
"Terus kenapa kamu mau saja di jadikan istri sama abah"ucap Ardi asal sambil memeluk Inah dari belakang.
"Lumayan,duit nya kan banyak."
Tanpa sepengetahuan mereka berdua,abah sudah sampai di depan pintu.
Pintu terkunci saat abah mau membukanya.
"Mungkin Inah lagi di belakang rumah,"pikir Abah yang kemudian menuju pintu dapur.
Ternyata benar,pintu dapur tidak terkunci.Abah pun masuk mencari keberadaan Inah tanpa curiga.
Langkahnya terhenti ketika mendengar percakapan dari dalam kamar.Abah diam berusaha menahan amarahnya untuk mengetahui pembicaraan Inah dengan seorang lelaki di dalam kamar itu.
Gubrak...
Pintu kamar terbuka di dobrak oleh abah.
Ardi dan Inah sangat kaget karena tidak menyangka akan kedatangan abah.
__ADS_1
Ardi yang masih belum sempat memakai bajunya langsung berusaha kabur melompat dari jendela sedangkan Inah meringkuk di sudut ranjang menarik selimut menutupi tubuhnya yang masih t*l**j*ng.