
*********POV RIDWAN
Mentari pagi mulai meninggi.Namun belum ada tanda-tanda Annisa bangun dari tidurnya.
Jam menunjukkan pukul 08.45 pagi.Sebentar lagi Ririn bakal sampai,batin ku.
Sebenarnya hati ku pun merasa ragu untuk mengambil keputusan ini tapi aku takut suatu saat akan menanggung beban rasa bersalah lagi.
Setiap keputusan pasti ada resikonya dan semua sudah ku pertimbangkan.
Dreet... dreet...dreet
Notifikasi pesan masuk di aplikasi hijau ku.
"Kak Ridwan,aku dah nyampe nih"pesan dari Ririn.
"Tunggu sebentar"balas ku kemudian beranjak keluar.
Tepat pintu kamar terbuka,di depan Ririn sedang celingak-celinguk mencari keberadaan ku.
"Aduh kak,bikin kaget aja"ucapnya saat ku tepuk bahunya.
"Ayo masuk sini"ajak ku.
Ririn pun mengikuti langkah ku memasuki kamar dimana terbaring Annisa yang belum juga siuman.
Ririn memandang ku penuh tanda tanya.
"Ini siapa,kak?"tatap Ririn penasaran.
"Dia Annisa"jawab ku singkat.
"Maksud ku,dia siapa nya kak Ridwan?"
"Adik nya kakak atau keluarga?"tanya Ririn memperjelas pertanyaannya.
"Bukan Rin,justru itu masalah yang ingin aku bicarakan sama kamu.Lebih tepatnya aku sangat membutuhkan bantuan kamu dalam masalah ini"terang ku.
"Aduh kak, jangan berbelit-belit gitu deh penjelasan nya bikin aku puyeng.Langsung ngomong ke inti masalah nya aja ya."
Aku tarik nafas panjang mencoba mencairkan beban di dada dan mencoba merangkai kata yang tepat agar nantinya Ririn tidak salah paham dengan niat hati ku.
"Nama nya Annisa Az Zahra,gadis yang baik dan cantik.Kami besar bersama sejak kecil hingga memasuki bangku kuliah."
"Ica, panggilan kesayangan ku buat Annisa kecil hingga sekarang."
"Annisa hanya tinggal bersama kakak laki-lakinya bernama Muhammad Yoga Al-Fath semenjak kecelakaan maut yang merenggut nyawa kedua orangtuanya."
"Sejak itu lah aku merasa kasihan akan nasib yang menimpa Annisa,Rin."
"Dan juga mungkin sudah takdir kami selalu ada dalam ruang dan sekolah yang sama."
"Seiring kebersamaan itu lah rasa kasihan dalam hati ku berubah menjadi rasa sayang.Aku tidak suka dan benci bila Ica cemberut ataupun terlihat sedih karena hal itu juga membuat hati ku sakit."
"Tunggu kak,jadi hubungan kak Ridwan dengan Yati hanya sandiwara?"katanya tajam.
__ADS_1
"Tolong dengarkan cerita ku dulu hingga akhir."
"Hubungan kami terputus sepihak karena kesalahpahaman,akibat kecemburuan ku yang berlebihan dan tanpa mencari tahu kebenaran nya."
"Pagi itu, seperti biasa.Aku menjemput Annisa di rumah nya untuk pergi kuliah bersama.Tapi kata pembantu di rumah nya,Annisa sudah di bandara.
Aku pun pergi mencarinya ke bandara."
"Sesampainya disana,ku lihat di kursi tunggu keberangkatan kalau dia sedang duduk dengan mesra menyandarkan kepalanya pada seorang lelaki yang ku tahu pasti bukan kak Yoga."
"Hati ku terasa sakit dan di khianati olehnya.Tanpa pikir panjang lagi aku pun melangkah pergi membawa luka di hati."
"Sedangkan fakta sebenarnya saat itu Annisa akan di bawa berobat ke Jakarta oleh kak Yoga dan lelaki yang duduk di sampingnya itu adalah dokter yang juga sepupu jauh mereka."
"Sehari sebelumnya Annisa masuk rumah sakit,aku pun tahu itu karena aku lah yang menemukan dia tergeletak pingsan di halaman rumah nya."
"Aku yang merasa sakit hati memutuskan untuk pergi dari kehidupan nya."
Sekilas ku tatap Ririn yang terdiam menyimak semua cerita ku.
"Assalamualaikum"suara salam seiring pintu terbuka memutus pembicaraan kami.
"Wa alaikum salam"sahutku bersamaan dengan Ririn.
"Oh ya Rin ini kak Yoga,kakaknya Annisa"ku coba mencairkan suasana.
"Ririn,kak"sapa Ririn dengan sopan menyalami kak Yoga.
"Yoga"balasnya dengan tersenyum ramah.
"Kalau kakak nggak keberatan,aku sama Ririn mau ke kantin sebentar."
"Iya,kamu sarapan dulu sana"ucap kak Yoga mengingat kan.
Aku dan Ririn pun melangkah kan kaki menuju kantin yang berada di lantai bawah rumah sakit.
"Kamu mau makan apa Rin?"tawar ku.
"Yang ringan-ringan aja deh kak"jawabnya santai.
Ku raih toples kerupuk dan sodorkan di depannya.
"Nggak gini juga kali,pelit amat"balasnya sambil menjauhkan toples kerupuk dari pandangan nya.
"Terus yang jelas mau nya apa?"tanyaku lagi.
Ririn mulai celingak-celinguk mencari daftar makanan.
"Susu coklat sama roti selai strawberry aja deh kak"sahutnya.
Aku pun segera memesan makanan.Susu coklat juga roti bakar selai strawberry buat Ririn dan bubur ayam di tambah teh hangat buat ku sendiri.
Tidak lama menunggu, pesanan kami pun datang.
"Tumben nggak pesan nasi kuning atau lontong Rin?"ledek ku.
__ADS_1
"Sekali-kali sarapan nya susu sama roti kak,biar tumbuhnya ke atas nggak ke samping"sahutnya seiring tawa ku yang tak bisa di tahan mendengarnya.
"Terus gimana kelanjutannya nih kak?"tanya Ririn setelah melihat aku sudah selesai menghabiskan bubur ayam tadi.
"Kalau boleh tau sebenarnya Annisa sakit apa sih kak, kayak nya parah ya?"desaknya.
"Bentar Rin biarkan aku menikmati teh hangat ini turun ke perut dulu"jawab ku asal.
Setelah nya aku pun mencoba kembali serius membahas masalah tadi.
"Annisa menderita kanker otak,Rin.Aku juga baru tau setelah 4 bulan terakhir."
"Itu berarti waktu dimana Yati lost contact dengan kakak"tekannya memastikan.
Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan.
"Apakah benar kakak mencintai Yati atau cuma hanya pelarian ?"tekannya lagi.
"Kalau sekilas mungkin hanya di anggap pelarian tapi nyatanya aku merasa nyaman berada di sampingnya,Rin."
"Dan tidak mungkin aku berani mengajaknya untuk lebih serius menuju pernikahan kan."
"Terus bagaimana perasaan kakak sekarang pada Annisa? Apakah dia masih menganggap kakak sebagai kekasih hatinya seperti dulu?"
"Ku akui rasa sayang itu masih ada,Rin."
"Aku hanya ingin memberikan kasih sayang ku di sisa waktunya,kamu paham dengan apa yang ku maksud?"
"Aku paham maksud kakak,tapi bagaimana dengan Yati?"
"Kakak harus menjelaskan semua kepadanya agar tidak terjadi salah paham."
"Justru itu,aku memerlukan bantuan kamu untuk menjelaskan keadaan ku sekarang pada Yati,Rin."
"Aku akan coba bantu kakak tapi apa pun keputusan nya nanti kakak harus siap untuk menerima nya."
"Asal kakak tau,pada dasarnya tidak ada seorang pun wanita yang mau berbagi kasih tapi kadang keadaan atau ada suatu hal yang harus di jaga dan di junjung tinggi menyebabkan kerelaan dan ke ikhlaskan itu terucap."
Kata-kata yang di ucapkan Ririn terdengar tajam dan penuh penekanan.
Aku hanya bisa terdiam tanpa menjawab sepatah kata pun.
"Sudah siang,aku pulang dulu kak"pamitnya.
"Ma kasih ya Rin,"senyum ku.
Setiap keputusan atau pun tindakan yang diambil pasti memiliki resiko dan ada pertanggungjawaban nya....ini lah hidup
********
Mari saling berbagi semangat dan dukungan agar tidak down dalam berkarya....🙏🙏🙏🙏
Selalu berusaha untuk berpikir positif demi harapan dan cita-cita
Kayak emak,coba nulis lagi pas para bocil-bocil dh bobo di temani si orok yang ikut bergoyang dlm perut.... nggak tau lagi main apa di dlm sana 🤭
__ADS_1