BIDADARI BUMI YANG TERLUKA

BIDADARI BUMI YANG TERLUKA
MENCARI BAYANG MU


__ADS_3

***


POV YATI


Aku berlari mengejar bayang mu


Namun sebesar apapun usahaku seperti nya hanya sia-sia saja


Semakin aku mengejar semakin bayang mu menjauh


Hingga aku lelah


***


"Kak,kak...bangun sudah pagi.."


"Ah lagi-lagi mimpi yang tidak pernah bisa ku pahami..."batin ku.


"Ayo kak,bukain pintu kamar nya dulu..."teriak Bani lagi dari luar.


"Iya bentar..."jawab ku sambil berangsur turun dari ranjang.


Gara-gara tidak bisa tidur tadi malam membuat aku jadi bangun kesiangan.


"Kenapa Ban...?"tanya ku dengan menyembulkan kepala dari balik pintu.


"Nggak masuk kerja ya hari ini...?"


"Iya kerja tapi masuk shift siang.."jawab ku dengan malas.


"Tapi kemarin kakak masuk shift pagi...?"


"Kemarin itu ada teman yang minta tolong tukaran shift soalnya ada masalah keluarga.."terang ku.


"Oo gitu.."


"Kak,tadi bang Ronald datang...?"


"Ngapain..?"tanya ku heran.


"Cuman nanyain kakak aja sih tadi.."


"Nanyain apa...?"


"Dia nanya kakak ada nggak,ya ku jawab masih belum bangun..."


"Terus...?"


"Ya terus bang Ronald nya pulang."


"Nggak ada pesan apa-apa...?"


"Nggak."


"Ya udah,aku mau berangkat kerja dulu kak."


"Eh emak sudah di siapin sarapan...?"


"Sudah kak..."sahut Bani yang kemudian berlalu pergi.


Dreet...dreet....


Sebuah notifikasi pesan watshapp masuk di ponsel ku.


"Yat,lagi dimana ..?"pesan dari Ririn.


"Di rumah.."balas ku.


"Aku mau ke rumah mu sekarang,ada yang mau ku ceritakan.."


Ku balas dengan emoticon jempol tanda setuju.


"Sebaiknya aku mandi dulu.."batin ku.

__ADS_1


Ku sambar handuk di gantungan baju dan bergegas menuju kamar mandi.


Selesai mandi dan berganti pakaian, beranjak ku ke meja makan untuk sarapan.


Ku buka tudung saji di meja makan.Tersedia nasi goreng dan telur dadar yang masih terasa hangat.


Walaupun laki-laki dan masih muda,Bani memang bisa di andalkan.Pekerjaan rumah sampai urusan dapur dia bisa menggantikan ku.


Emak memang mendidik kami dengan baik, anak laki-laki maupun perempuan harus bisa dalam hal pekerjaan rumah agar kelak mampu mandiri kata emak.


"Assalamualaikum..."suara Ririn memanggil dari luar.


"Wa alaikum salam.."jawab ku sembari berjalan dan kemudian membukakan pintu untuknya.


"Masuk Rin..."tawar ku.


"Lagi ngapain...?"


"Mau sarapan, yuk skalian sarapan bareng..."ajak ku.


"Wah,enak nih..."jawab nya sembari mengisi piring kosong dengan nasi goreng.


"Hmmm enak banget,kamu yang bikin...?"


"Bukan, Bani.."jawab ku dengan terus menyuap sendok demi sendok.


"Hebat ya Bani,lelaki idaman banget..."puji Ririn.


"Yat,Bani udah punya pacar belum...?"


"Aku mau daftar jadi calon nya."


"Eh jangan calon pacar deh langsung calon istri aja kalau boleh..."ucapnya.


"Uhuk..uhuk..."aku pun tersedak mendengar nya.


"Aduh kakak ipar, pelan-pelan dong makan nya..."kata Ririn dengan menyodorkan segelas air putih ke arah ku.


"Aku aja belum nikah.."jawab ku dengan cemberut.


"Ha...ha...ha .."tawa Ririn lepas mendengar jawaban ku barusan.


Setelah selesai sarapan dan membersihkan semua nya,kami pindah ke kamar ku.


"Katanya tadi ada yang ingin kamu omongin sama aku,Rin..."ku buka obrolan.


"Eh iya,sini deh Yat..."katanya menyuruhku duduk di depan nya


"Kemarin malam aku sama mama ku pergi ke rumah sakit,mau besuk keluarga yang sedang sakit."


"Waktu aku ngambil motor di parkiran,lewat sebuah mobil."


"Sebelumnya aku tidak terlalu memperhatikan orang di dalam mobil itu.Tapi pas aku jalan, dari balik spion ku lihat kak Ridwan turun dari mobil itu."


"Aku pun cepat putar balik mau memastikan benar nggak itu kak Ridwan.Tapi aku tidak dapat menemukan nya lagi."


"Tapi aku yakin banget Yat,kalau itu kak Ridwan..."terang Ririn panjang lebar.


Aku hanya bisa diam menyimak semua cerita Ririn.


"Cara berpakaian nya memang agak sedikit


beda sih Yat,lebih berkelas dan elegan."


"Tapi aku tetap yakin kalau itu kak Ridwan..."katanya meyakinkan ku.


"Yat,kamu dengar nggak sih...?"


"Eh iya,iya...aku dengar kok Rin..."jawab ku dengan perasaan yang tidak menentu.


"Gimana kalau besok kita datang ke rumah sakit itu , siapa tahu nanti kita bisa ketemu langsung sama kak Ridwan..."usul Ririn.


"Yah paling tidak kita bisa cari-cari informasi barang kali ada petugas rumah sakit yang kenal sama kak Ridwan,kan...?"

__ADS_1


"Aduh nih anak,malah melamun aja.."


"Nggak Rin,aku cuma mikir apa benar yang kau lihat itu kak Ridwan..."


"Entah lah Rin,hati ku masih ragu..."jelas ku.


"Justru itu,besok kita kesana ..."potong Ririn cepat.


"Tapi besok kita masih masuk shift siang Rin..."jawab ku ragu.


"Tenang,nanti kita ijin tukar shift sama bang Ronald pasti di ijinkan..."balasnya sambil mengedipkan sebelah mata.


"Ya,aku setuju aja Rin...."jawab ku.


"Kamu harus yakin Yat,.....jangan kuatir,aku selalu ada untuk membantu mu."


"Ayo semangat,kita kejar cinta mu sampai dapat.."


"Baru setelah itu kau bantu aku memenangkan hati Bani ya..."timpalnya lagi sambil cengengesan.


"Huuu..."ledek ku.


Kami pun kemudian tertawa.


***


Setelah kepulangan Ririn,aku pun masuk ke kamar emak.


"Siapa yang datang tadi, Yat...?"


"Ririn,mak."jawab ku perlahan duduk di samping ranjang emak.


Emak memegang tangan ku.


"Bagaimana kabar Ridwan...?"tanya emak yang sekilas memandang cincin di jari manis ku.


"Kak Ridwan baik-baik saja,mak."


"Hanya sekarang lebih banyak pekerjaan di gudang yang harus di tanganinya..."jelas ku mencoba menutupi semua yang terjadi.


"Kalau memang sudah ada kesiapan dan keseriusan antara kalian berdua serta restu dari orang tua nya Ridwan,kenapa tidak nak."


"Lebih cepat akan lebih baik."


"Emak ingin melihat kamu bersanding di pelaminan dengan bahagia.."sambung emak.


"Kapan kamu akan pulang ke kampung menjenguk wa Tinah...?"tanya emak mengingatkan.


"In sya Allah awal bulan depan mak,sehabis gajian..."


"Jangan lupa nanti jenguk abah ya, bagaimana pun dia adalah abah mu."


"Perlihatkan sikap bakti mu padanya walau banyak kesalahan Abah yang membuat hati kita terluka...."pesan emak.


"Yati berusaha melupakan semua masa lalu kita yang menyakitkan dulu karena Abah,dan juga berusaha memaafkan kesalahan Abah."


"Tapi untuk bertemu dengan Abah...., rasanya Yati belum bisa,mak..."ucap ku lirih sambil merebahkan kepalaku di pangkuan emak.


Emak mengusap kepala ku perlahan penuh kasih sayang.


Ku rasakan kedamaian jiwa bila berada di pangkuan emak.


"Belajar lah mengikhlaskan semuanya nak,kita hidup hanya bisa menjalani.... Allah SWT lah yang berkehendak atas segala sesuatu yang terjadi pada diri kita."


"Ingat,jangan pernah terlalu mencintai ataupun sayang pada sesuatu yang berwujud.."


"Apalagi berharap pada makhluk selain Dia.


Karena apabila semua tidak sesuai harapan mu kelak akan menimbulkan sakit hati yang mendalam..."ucap emak yang kemudian mencium lembut keningku.


Kami pun saling berpelukan.


Sungguh kasih sayang seorang ibu adalah kekuatan bagi anak nya.

__ADS_1


__ADS_2