
Kadang apa yang kita harapkan belum tentu terjadi sesuai dengan rencana hati.
Siapa yang di rindukan tak kunjung datang,namun orang yang tak pernah pernah ada dalam angan malah hadir mengobati kesunyian hati.
********
"Yat,aku tunggu di cafe tempat biasa ya..."pesan masuk dari Ririn.
"Ok,aku kesana sekarang"balas ku cepat.
Hati bertanya-tanya,apa sebenarnya yang ingin di bicarakan Ririn.Sepertinya penting banget sampai pengen ketemu langsung."
Ku pesan ojek online dengan cepat.
Selang 10 menit aku sudah sampai di cafe tersebut.
"Ma kasih ya mas"ucap ku sembari menyerahkan ongkos sesuai tarif di aplikasi.
"Sama-sama mbak,"sahutnya kemudian berlalu pergi.
"Yat,sini"teriak Ririn sambil melambaikan tangan ke arah ku.
Ku langkahkan kaki menuju tempat duduk Ririn.
"Udah lama Rin?"
"Ah nggak,baru nyampe juga."
"Mau minum apa?"tawarnya penuh semangat.
"kayak biasa aja, jus alpukat"jawabku.
"Ok."
Ririn langsung memesan minuman buat kami berdua.
"Katanya ada yang penting mau di omongin,Rin."
"Santai dulu atuh neng,kita minum dulu"sahutnya meniru gaya bicara orang Sunda.
"Ma kasih mbak,"ucap ku saat seorang wanita mengantarkan minuman pesanan kami.
Sedangkan Ririn terlihat sedang membalas pesan dari seseorang.
"Oh ya mbak,bisa nambah pesan kentang goreng nya?"cegat Ririn pada wanita tadi.
"Baik mbak, tunggu sebentar ya"jawabnya ramah.
"Gimana keadaan emak sekarang,Yat?"
"Alhamdulillah sudah mulai membaik, kemungkinan dalam 1 atau 2 hari ini sudah boleh pulang kata dokter kemarin."
"Syukurlah kalau begitu.Maaf ya Yat,aku belum bisa besuk emak soalnya kamu tahu sendiri gimana bos kita."
"Nggak pa-pa Rin,"jawabku sambil menyeruput jus di depan ku.
"Hm Yat,kamu sekarang terlihat dekat banget sama bang Ronald"tatap Ririn penuh selidik.
Aku tidak langsung menjawab nya karena pesanan kentang goreng nya yang baru datang.
"Ma kasih mbak"ucap Ririn pada mbak nya tadi.
"Tahu darimana?"tanyaku sambil mengoles kentang goreng ke saos sambal kemudian memakannya.
"Dari siapa lagi,ya biasalah dari si Agus laki-laki rempong."
"Tapi Agus nggak bakalan koar-koar kalau nggak valid tuh beritanya."jelas Ririn sambil terus tanpa putus mengunyah kentang goreng miliknya.
"Iya Rin,selama emak di rumah sakit bang Ronald lah yang banyak bantu kami."
"Dari ngantar emak sampai tanpa sepengetahuan ku suka ngirim makanan buat kami di rumah sakit lewat aplikasi online."
"Sebenarnya aku juga agak risih dengan sikap nya yang agak berlebihan menurut ku."
__ADS_1
"Kamu tahu kan kalau bang Ronald itu suka sama kamu,Yat?"
"Iya,Rin.Dia pernah bilang begitu tentang perasaan nya kepada ku."
"Terus bagaimana sikapmu?"tanya Ririn penasaran.
"Entahlah Rin,aku sebenarnya tidak punya perasaan apapun pada bang Ronald seperti yang kurasakan saat bersama kak...."ucapan ku terputus.
Ku paling kan wajah ke arah lain untuk meredam rasa sesak yang tiba-tiba hadir.
Ririn menggenggam erat jemari tanganku.
Ku lihat sekilas senyuman di wajahnya.
"Apa kamu masih mau bertahan menunggu hadirnya kak Ridwan?"
"Entah kenapa hati ku yakin dia pasti akan datang Rin."
"Sampai kapan kamu mau menunggu nya,Yat?"
"Sampai rasa ini pupus sendiri,mungkin..."jawabku terdengar ragu.
"Kenapa tidak membuka hati saja buat bang Ronald?"tekannya.
"Kamu menyukai Bani,Rin?"balas ku.
"He he he iya,"jawab Ririn malu-malu.
"Kalau di suruh berpindah ke lain hati,gimana?"tembak ku membalikkan keadaan.
"Ya jelas nggak mau lah,kan hubungan kami sudah jelas,kakak ipar"rayu nya.
Ku hela nafas panjang dan membuangnya perlahan.
"Aku juga begitu Rin,hati ku masih tertutup rapat untuk satu nama....Ridwan."ucap ku lirih.
Ririn kembali menggenggam erat tangan ku.
Aku tersenyum membalasnya.
"Aku cuma ingin meyakinkan lagi gimana perasaan mu sekarang sebenarnya."
"Ada yang ingin aku ceritakan ke kamu."
Ririn menarik nafas dengan masih menatap ku.
"Laki-laki yang kita lihat di rumah sakit itu memang kak Ridwan."
"Kamu yakin Rin?"aku mencari kepastian dari raut wajahnya.
Ririn mengangguk mengiyakan tanpa ragu.
"Aku sudah bertemu dengan nya."
"Kenapa kamu nggak ngasih tau aku,Rin"desak ku.
"Tenang Yat,dengar cerita ku dulu ya...?"pinta nya.
"Kak Ridwan pernah beberapa kali menghubungi nomor kamu tapi nggak bisa, kalau nggak salah pas emak baru masuk rumah sakit"terang Ririn.
"Iya,waktu itu baterai hp ku lowbat Rin."
"Kemudian kak Ridwan mencari kamu di tempat kerja kita,dia nunggu di sana sampai jam pulang kerja."
"Kak Ridwan nanya ke aku tentang keberadaan kamu,ya ku jawab kalau kamu nggak masuk kerja soalnya emak lagi sakit dan sekarang di rawat inap."
"Dia pengen ketemu kamu,Yat."
"Pengen menjelaskan semua masalah di antara kalian."
"Jadi kamu sudah tahu semua nya,Rin?"
Ririn mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Jadi benar kalau kak Ridwan anak pengusaha itu?"tanyaku mencoba meyakinkan diri sendiri.
"Iya benar Yat."
"Kenapa Yat,kok kamu terlihat nggak senang?"
"Kan enak Yat,punya calon mertua tajir juga baik dan sayang mantunya."
"Langka lo jaman sekarang"lanjut Ririn sambil menyeruput habis jus di gelasnya.
"Bukan begitu Rin, yang jelas aku pasti merasa nggak sepadan dengan status sosial kehidupan mereka nantinya"tutur ku.
"Terus kamu mau nya gimana?"
"Mau putus aja,emang nggak sayang lagi...?"ancam Ririn dengan judesnya.
"Bukan,bukan begitu juga maksud ku,Rin"potong ku cepat.
"Jadi maksud kamu mau nya gimana?"
"Mau bertahan atau sampai disini aja?"tekan Ririn terlihat kesal.
"Jadi kalau nanti kak Ridwan nanya ke aku, jawaban ku sudah jelas buat dia"tambah nya lagi.
"Kok kamu jadi menyudutkan aku sih,Rin"rajuk ku.
"Aduh neng,aku bukan nya mau menyudutkan posisi kamu sekarang."
"Aku hanya mau ngajar kan kamu berpikir cepat secara logika seiring dengan perasaan kamu sekarang."
"Coba deh kamu pikir sendiri, cewek mana sih yang nggak mau sama lelaki mapan seperti Ridwan Firdaus?"
"Cakep bin tampan, keturunan keluarga yang tajir di tambah orang tua nya nggak sombong seperti kebanyakan orang kaya lainnya."
"Andaikan kak Ridwan cinta nya sama aku pasti aku tolak..."goda nya di iringi tawa lepas.
"Oh gitu ya,mau aku kasih tau Bani?"balas ku mengancam nya.
"Jangan dong kakak ipar"rengek nya merayu.
Dreet...dreet...dreet...ponsel ku bergetar.
"Siapa?"tanya Ririn penasaran.
"Dari Bani, dia minta aku bawakan baju ganti."
Ku masukan ponsel ku kembali ke dalam tas.Sekilas ku lihat Ririn sedang membalas pesan juga.
"Siapa Rin?"tanya ku berlagak penasaran juga.
"Seseorang"jawabnya singkat sambil tersenyum.
"Ya udah kalau gitu, aku pulang duluan ya"ucap ku ingin berdiri.
Ririn memegang pergelangan tangan ku.
Ku tatap matanya heran dengan sikapnya.
"Yat...."
Jantung ku seakan berhenti berdetak di tempatnya
Suara itu ....
Suara seseorang yang selama ini aku tunggu-tunggu
Kaki ku terasa lemas takut untuk berbalik badan
"Apakah aku berhalusinasi lagi"batin ku
Maaf baru bisa up sekarang....mohon Krisan juga masukan dari semua readers dan terima kasih sudah sudi mampir di lapak emak
Tidak lupa mohon dukungan nya juga ya biar emak tetap semangat nulisnya 🙏🙏🙏
__ADS_1