BIDADARI BUMI YANG TERLUKA

BIDADARI BUMI YANG TERLUKA
KEADAAN ABAH


__ADS_3

*******POV AUTHOR


Tidak semua orang memiliki sifat dan karakter yang sama.Kesetiaan adalah sebuah tekad yang tersemat di dasar hati.


Cinta kasih yang di pupuk dengan rasa saling percaya dan saling menjaga hati pasangan akan berbuah kesetiaan tanpa di minta hadirnya.


Yati hanya tersenyum membalas sindiran-sindiran manis dari Aris yang seakan ingin mencari celah perhatiannya.


Dia tidak berani menanggapi perhatian perjaka lain karena sudah ada hati yang harus ia jaga,siapa lagi kalau bukan Ridwan.


Tidak berapa lama suara motor Laila yang membonceng wa Tinah memasuki halaman pekarangan rumah.


Yati bergegas menyambut kedatangan mereka untuk membantu membawa barang belanjaan masuk ke dalam rumah.


"Ngeborong nih wa"seloroh Aris saat wa Tinah menampakkan kaki memasuki teras.


"Biasa ris,kalau bahan dapur habis berbarengan ya macam begini ini jadinya belanja ke pasar.Untung masih ada anak gadis satu ini yang bantuin"cerocos uwa di iringi Laila di belakang yang menenteng dua kantong kresek besar belanjaan barang lainnya.


"Sini ku bantu bawakan la"tawar Aris pada Laila.


"Iya nih ris,dari tadi pegel tangan ku beratnya dah kayak bawa sekarung padi"ucap Laila memasang wajah lelah nya.


"Kayak pernah ngangkut padi sekarung aja"potong wa Tinah yang sudah duduk berselonjor sambil mengipasi dirinya menggunakan kipas tangan dari anyaman purun.


Setelah meletakkan kantong kresek besar belanjaan tadi,Aris kembali duduk di teras berseberangan dengan wa Tinah.Sedangkan Laila dan Yati masih sibuk di dalam, membongkar dan menyusun barang-barang tersebut pada tempatnya.


"Ris,emang benar Laila sudah punya laki-laki pilihan hatinya?"tanya wa Tinah kepada Aris setengah berbisik dengan mencondongkan badannya.


"Memang selama ini Laila nggak cerita sama uwa ya?"jawab Aris balik bertanya.


"Kamu ini,bukannya di jawab malah balik nanya ke uwa"sahut uwa sambil mengibaskan kipas tangan nya.


"Mana pernah Laila cerita sama uwa kalau dia sudah punya laki-laki idaman,ris."


"Gimana mau cerita kalau uwa aja nggak pernah nanya kan"sahut Aris lagi sambil terkekeh.


"Dasar anak-anak jaman sekarang,pinter banget ngelesnya bikin hati orang tua kembang kempis.Kuwalat baru tau"akhirnya keluar ancaman keras dari wa Tinah.

__ADS_1


"Ampun wa,Aris nggak berani"balas Aris cepat.


"Aris bakal kasih tau ke uwa tapi uwa harus janji jangan kasih tau Laila ya wa?"rayu Aris membuat kesepakatan.


"Iya nggak bakalan"jawab uwa yakin.


"Uwa tau kan sama si Hadi anaknya mang Sofyan,itu orang nya wa"jelas Aris.


"Oo si Hadi anaknya Sofyan yang lulusan pesantren itu.Wah bagus itu,uwa juga senang sama dia.Anaknya sopan,ramah juga rajin.Terus gimana....?uwa makin penasaran.


"Dengar-dengar sih katanya dalam waktu dekat mau datang nemuin uwa"lanjut Aris.


"Lho kok Hadi malah mau nemuin uwa,kan dia sukanya sama Laila?"tanya uwa bingung.


"Aduh uwa kayak nggak pernah muda aja,Hadi mau nemuin uwa ya jelas mau ngelamar Laila lah masa dia mau ngelamar uwa"kata Aris sambil tertawa.


"Oo gitu ya"uwa pun manggut-manggut tanda mengerti.


"Cukup segitu infonya ya wa,kalau uwa mau lebih jelasnya langsung aja tanya ke Laila"Aris beranjak bangun dari duduk nya.


"Lho mau kemana ris?"


"Kamu ini..."balas uwa kembali mengibaskan kipasnya ke arah Aris.


Setelah mencium punggung tangan wa Tinah,Aris pun berjalan arah pulang.


*******


"Kak, tentang abah...?"Sepeninggal Aris kembali ke teras,Yati langsung menyambut Laila dengan pertanyaan menggantung.


"Sebentar"jeda Laila yang tengah meneguk air es dari gelasnya.


"Ceritanya begini Yat."


"Abah mu lewat depan rumah pas aku baru datang dari beli pulsa.Terus abah pinjam motor ku sekilas terlihat kalau abah seperti lagi emosi soalnya wajahnya terlihat sangar nggak ada senyum sedikit pun"Laila mengawali kisahnya tentang abah.


Yati hanya diam menyimak kisah dari Laila.

__ADS_1


"Tidak berapa lama datang si Yusuf ngasih tau kalau abah mu kecelakaan di perempatan jalan besar.Abah yang berkendara motor ku bertabrakan dengan truk pengangkut sawit dari arah berlawanan.Ada yang bilang abah mu ngebut ngejar seseorang tapi kami nggak tau siapa"jelas Laila.


"Abah mu di rawat di rumah sakit selama sepuluh hari karena mengalami patah tulang kaki.Sebenarnya waktu itu aku mau ngasih kabar ke kamu tapi emak nggak ngijinkan.Emak bilang biarin aja abah merasakan sakitnya sendiri,biar abah mu sadar kalau selama ini sudah dzolim menelantarkan kalian"lanjut Laila.


"Terus gimana keadaan abah sekarang kak?"tanya Yati mencoba menguasai diri agar bulir-bulir air mata tidak menetes.


Walaupun rasa sakit karena telah di abaikan oleh abah namun hatinya sebagai seorang anak tidak dapat menyangkal kalau darah abah mengalir di tubuhnya.


"Setelah kecelakaan itu,abah mu tidak bisa lagi beraktifitas seperti hari-hari sebelumnya.Kalau mau apa-apa harus ada yang membantu.Sekarang jabatan sebagai kepala desa juga sudah di serahkan ke pak Sobri sebagai wakilnya"sambung Laila.


"Wanita itu...?"suara Yati terdengar bergetar.


"Si Inah,istri abah maksud mu?"tanya Laila memastikan.


"Iya,siapa lagi kak"tekan Yati dengan nada berat.


"Alah,bisanya cuma dandan.Waktu abah di rumah sakit aja yang ngurus dan gantian jagain abah hanya aku sama emak.Dia cuma jenguk dan nungguin sebentar-sebentar.Alasannya nggak tahan bau obat jadi bikin kepalanya sering pusing."


"Kalau ku pikir-pikir,benar apa kata emak kalau sekarang abah mu dapat karmanya Yat"wajah Laila nampak serius.


"Kenapa kakak bisa mengambil kesimpulan begitu yakin?"Yati meminta penjelasan.


"Sebenarnya aku pernah dengar cerita para tetangga kalau pas hari kejadian itu si Inah kepergok oleh abah sedang berduaan dengan laki-laki di dalam rumah.Terjadi keributan di sana hingga berlanjut dengan kecelakaan yang menimpa abah mu."


"Semenjak keadaan abah mu seperti itu, kelakuan si Inah malah tambah menjadi.Dia kembali seperti dulu,suka nongkrong di warung remang-remang.


Bisa kamu bayangkan sendiri kalau wanita ngumpul sama laki-laki di warung begituan apa bisa di bilang wajar"cerita Laila penuh emosi.


"Kasihan Abah"tak terasa keluar kata-kata itu dari bibir Yati.


Wajahnya menunduk sedih membayangkan keadaan abah nya sekarang.


Laila mengusap pundak Yati.


"Apa kamu ingin menjenguk abah mu sekarang,Yat?"tawar Laila.


Yati menarik nafasnya yang terasa berat.

__ADS_1


"Entah lah kak,aku tidak yakin dengan perasaan ku sendiri"ucap Yati lirih penuh kebimbangan.


__ADS_2