
****
POV RIDWAN
Ting....
Dengan malas ku gapai ponsel yang berada di meja samping tempat tidur ku.
Ada pesan watshapp masuk dari Yati.
"Lagi ngapain nih yang lagi libur hari ini...?"
"Baru bangun,...untung kamu bangunin,aku mau mandi dulu ya...?"
"Pagi ini mama sudah boleh pulang,mau ikut jemput nggak...?"tawarku.
"Maaf kak,aku nggak bisa....ini sudah di tempat kerja.Titip salam aja ya sama mama."
"Ok deh,udah dulu ya sayang..."
"Iya, kakak juga hati-hati di jalan."
Ku tinggalkan ponsel di atas kasur,cepat ku langkahkan kaki menuju kamar mandi.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi.
Ku jalankan mobil dengan santai.
Jalan menuju rumah sakit mulai lumayan macet oleh aktivitas kendaraan.
Agar lebih cepat sampai,ku ambil jalan pintas saja.
Ku tinggalkan mobil di area parkir.
Dan berjalan memasuki gedung rumah sakit.
"Assalamualaikum..."
"Wa alaikum salam..."sahut mama dan ayah bersamaan.
"Kok sendirian aja wan...?"
"Yati nggak di ajak...?"tanya ayah.
"Iya yah,Yati nggak bisa soalnya pas masuk kerja shift pagi."
"Cuma tadi titip salam buat ayah sama mama...."jelas ku.
"Oo gitu,iya nggak pa-pa.."jawab mama.
"Wan,tolong kamu ke apotik bawah ya soalnya tadi ayah belum ngambil obat mama buat rawat jalan nya..."pinta ayah.
"Baik yah."
"Ayah sama mama pulang aja duluan nanti Ridwan nyusul..."ujar ku kemudian meninggalkan kamar rawat inap mama.
Antrian di loket pengambilan obat untuk para pasien lumayan banyak.
Aku menghela nafas panjang.
Setelah menyerahkan resep di loket 1,ku cari tempat duduk yang paling ujung agar lebih nyaman.
"Ridwan..."
Aku terkejut ketika seorang lelaki memanggil nama ku.
"Kak Yoga..?"
"Apa kabar kak..?"sapa ku mencoba bersikap wajar.
"Alhamdulillah baik."
"Siapa yang sakit,wan...?"tanya nya.
"Mama,...tapi pagi ini sudah boleh pulang kok."
__ADS_1
"Kakak sendiri,...?"balas ku penasaran.
Kak Yoga diam sejenak dan menatap ku lama.
"Sebenarnya ada yang ingin ku sampaikan ke kamu,wan."
"Mungkin memang seharusnya kamu tahu...".
"Setelah ini,bisa kah kita bicara di tempat lain...?"
"Baik kak."
Setelah selesai urusan pengambilan obat,kami berdua mencari tempat untuk ngobrol.
Di samping area parkir rumah sakit terdapat beberapa kantin serta cafe kecil.
Setelah memesan 2 minuman kepada pelayan cafe,kak Yoga membuka obrolan.
"Sudah lama kita nggak ketemu ya wan,...hampir setahun lebih."
"Mungkin..."jawab ku sambil menyeruput minuman ku.
"Dan selama itu juga kamu tidak berusaha mencari kabar Annisa."
"Maaf kak,tolong jangan bahas hubungan ku dengan Annisa lagi,"tegas ku.
Ku alihkan pandangan ke arah lain hanya untuk membuang rasa kecewa yang pernah ada.
"Semua sudah berakhir."
"Apa maksudmu,wan...?"
"Annisa hanya ingin penjelasan darimu,bila memang kamu tidak mencintainya lagi,coba lah sampai kan dengan cara yang baik."
"Andaikan kau tidak mencintainya lagi,katakanlah....biar nanti aku yang akan menyampaikan nya."
"Dia adik ku,wan...."
"Aku tidak bisa melihat dia terus larut dalam kesedihan apalagi sekarang dia sedang berjuang melawan penyakitnya."
"Annisa...sakit..."
"Selama kau menghilang,selama itu juga dia menjalani perawatan."
"Annisa tidak pernah tahu jelas perihal penyakitnya.Ku coba menyembunyikan darinya sebisa mungkin."
"Kanker otak yang di deritanya sudah memasuki stadium 2."
Tubuhku terasa lemah mendengarnya .
Lidah ku terasa kaku untuk berkata.
Ada rasa yang berkecamuk dalam hati.
"Saat kau mengantarkannya ke rumah sakit,baru aku tahu tentang penyakit yang sebenarnya telah bersarang di tubuhnya."
"Sekarang kamu sudah tahu semua nya,ku harap kamu bisa bijak dalam bersikap."
"Sebenarnya Annisa pun tidak berharap lagi bertemu dengan mu tapi saat malam itu....aku pun sadar kalau dia masih mengharapkan kehadiran mu disisi nya."
"Baik lah,wan....diam mu ku anggap adalah jawaban dari segalanya."
"Apabila kau bertemu aku atau pun Annisa,menghindar lah...agar dia tidak melihatmu lagi."
"Ingat wan,Annisa adik ku satu-satunya.Tak kan ku biarkan siapa pun menyakiti hatinya."
Yoga berdiri siap meninggalkan Ridwan yang masih dalam diam.
"Laki-laki yang memeluknya saat itu,siapa dia...?"tiba-tiba saja keluar kata-kata itu dari mulutku.
"Laki-laki di rumah sakit,dia memeluk dan mencium Annisa..."
"Aku melihat sendiri dengan jelas walaupun dari jarak jauh..."ucapku dalam.
Kak Yoga diam sejenak, seperti nya sedang berpikir.
Dia berbalik dan menatap ku tajam.
__ADS_1
"Cemburu sudah membutakan hati mu secepat itu hingga tidak bisa berpikir lagi dengan jernih."
"Apa kau lupa kalau Annisa sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi selain aku."
"Kami sudah tidak mempunyai orang tua,...sanak saudara pun tidak ada di kota ini."
"Aku lah orang tua nya sekaligus kakak yang selalu ada untuk nya, sewajarnya kasih sayang ku pun hanya untuk dia."
"Atau mungkin itu hanya alasan mu saja untuk menghindar darinya karena mungkin sebenarnya kau tahu lebih dulu perihal penyakitnya."
"Atau kau sudah mempunyai penggantinya...?"sindirnya yang membuat ku terpojok dan merasa bersalah dengan sikap ku yang gegabah.
"Baik lah wan,kurasa semua sudah jelas.Terima kasih sudah mau meluangkan waktunya."
Kak Yoga pergi menjauh meninggalkan diriku sendirian.
Pikiran ku kacau,...
Penyesalan yang sangat besar menyeruak dalam hatiku.
"Annisa..."ucap ku lirih.
Bayang-bayang nya hadir memenuhi pikiran ku.
Orang yang sangat ku cintai berjuang melawan penyakitnya sendirian sedangkan aku yang seharusnya memberi semangat untuk nya, menjauh dan hilang dari kehidupannya.
Dreet...dreet
Notifikasi pesan watshapp masuk di ponsel membuyarkan semua kekalutan.
"Wan,kamu masih di rumah sakit atau sudah di jalan...?"
"Tolong mampir di toko buah langganan mama ya...?"
"Baik ma,ini Ridwan juga sudah mau pulang.."balas ku.
Dreet...dreet....
Selang tidak berapa masuk juga pesan dari Yati.
"Gimana keadaan mama,kak...?"
"Udah di bawa pulang ke rumah...?"
Aku terpaku melihat layar ponsel,sengaja tidak ku baca.
Aku ingin menenangkan hati dulu saat ini dari segala penyesalan.
Ku langkahkan kaki pelan tanpa semangat.
Berjalan menuju mobil yang terparkir.
Setelah mengetahui semua yang di alami Annisa,aku menjadi sangat lemah dan hilang semangat.
Tak dapat ku pungkiri,jauh di dalam lubuk hatiku masih sangat mencintai nya.
Aku sangat takut kehilangannya.
Aku harus menemuinya dan meluruskan semua ke salah pahaman ini.
Sekilas bayangan Yati hadir.
Sesaat aku menjadi bimbang.
Aku juga sudah terlanjur sayang dengan nya.Tidak mungkin aku menutupi masalah ku dengan Annisa.
Aku tidak mau menyakiti mereka berdua.
Tapi aku juga tidak mungkin membagi hati.
Dan wanita mana yang mau berbagi kasih.....
Penasaran gimana cerita selanjutnya....
Tunggu in terus di lapak emak ya
Jangan lupa dukungannya biar emak semangat demi mencari sebongkah berlian ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1