
***
Sayup-sayup suara adzan magrib berkumandang
Terasa sejuk menyegarkan kalbu
Lelah jiwa ragaku di dera masalah yang datang silih berganti
Perlahan mengambang seiring kedua tangan
ku tadahkan kepadaNya
"Assalamualaikum"suara Bani seiring pintu terbuka.
"Wa alaikum salam"sahut ku pelan sambil masih membenamkan kepala di balik bantal kecil.
"Kak,nih buat nyemil"di sodorkannya sekantong kresek macam-macam makanan ringan.
"Ma kasih ya,kamu tahu aja kalau aku mau ngemil"jawab ku sembari mencomot dodol mini.
"Ban,ku tinggal ke mushola sebentar ya mau sholat dulu."
Dia hanya mengangkat satu jempol tangan nya ke arah ku tanpa melepaskan pandangan dari layar ponselnya.
Begitulah kalau lagi kasmaran, orang sekitar seakan antara ada dan tiada.
Aku pun pernah merasakan bagaimana rasanya kasmaran di landa cinta walaupun hanya sesaat,dan kini hanya tinggal harapan hampa.
Entah lah....aku tidak tahu kemana arah jalinan kasih ku dengan kak Ridwan.
Kasih sayang nya yang mampu meluluhkan hatiku dan membawa ku terbang bahagia.
Namun kini terhempas dengan harapan yang tak pasti rimba nya.
Aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang besar ini menuju mushola yang terletak di sudut kiri.
Setelah mengambil wudhu,segera ku pakai mukena yang tersedia di mushola ini untuk menunaikan sholat.
Selesai mengucapkan salam,ku lanjutkan membaca wirid pendek serta doa penutup berharap Allah SWT selalu memberikan keberkahan dan kesabaran bagi ku dalam menjalani hidup ini.
Takdir Allah tak pernah bisa kita tebak,kadang baik menurut kita belum tentu baik di hadapanNya dan buruk menurut kita bisa jadi adalah terbaik di masa yang akan datang.
Santai,ku langkahkan kaki kembali menuju kamar
rawat emak.Tanpa memperhatikan orang-orang yang lalu lalang berpapasan dengan ku.
"Iya sayang,bentar aja kok"....tanpa sadar ku tangkap percakapan sepihak dari seorang laki-laki.
Deg...deg...deg...
Dada ku terasa berdegup dengan kencang,entah kenapa aku merasa sangat mengenali suara itu.
Suara yang selalu memberi warna indah dalam hidupku.
Ku cari-cari arah suaranya,...
Ku pandangi setiap laki-laki di sekitar ku.
Tak jauh dari tempat ku berdiri, duduk seorang laki-laki yang sepertinya lagi asyik dengan ponselnya.
"Kak Ridwan"batin ku bergumam.
Sesaat ku terpaku dalam perasaan tak menentu.
Ku seret langkah kaki mendekati nya.
"Kak Ridwan"suara ku keluar sangat pelan dan lemah tanpa jelas terdengar.
__ADS_1
Ada perasaan bahagia tak terbendung menyeruak di hati ku.
"Kak,..kak Ridwan"ucap ku sembari menyentuh pundaknya dari belakang.
Lelaki itu pun berdiri dan membalikkan badannya ke arah ku.
Aku yang mengembangkan senyum sedari tadi berharap dapat menatap wajahnya kembali seperti dulu akhirnya harus menelan pahitnya di hempas sebuah harapan.
"Mbak siapa ya?"tatapnya heran.
"Maaf,saya salah orang"potong ku cepat.
Aku pun berbalik dengan lesu,membawa hati dalam mendung.
"Dia bukan kak Ridwan, suara nya pun tidak sama"batin ku.
Sebegitu besar kah rindu di hati ku ini hingga menciptakan sebuah halusinasi,pikir ku.
Ku edarkan pandangan tanpa arah,sekilas terlihat bayangan seorang laki-laki berjalan menjauh.Gestur tubuhnya seperti kak Ridwan.
Tanpa sadar,aku pun berlari mengejar nya.
"Itu kak Ridwan,aku yakin kali ini tidak berhalusinasi"batin ku meyakinkan.
Ku kejar bayangnya hingga di area parkir.
Langkahnya sangat cepat hingga aku tidak dapat mengejar.
Ku atur nafas yang ngos-ngosan sambil mengedarkan pandangan.
Sebuah mobil melintas di depan ku,dari balik spionnya ku lihat wajah kak Ridwan.
"Kak Ridwaaan.."teriak ku berlari mengejar mobil itu.
Tin...tiiin...
"Hei mbak, lihat-lihat dulu kalau mau menyeberang"teriak seorang laki-laki dari balik kemudi.
Aku hanya bisa terdiam tanpa menjawab.
Setelah mobil yang hampir menabrak ku berlalu,aku sadar bayangan kak Ridwan juga sudah pergi.
Aku terduduk di pinggiran area parkir dengan kepala menyatu dengan lutut.
Tanpa terasa perlahan mengalir butiran air mata di pipiku.
Sebegini sakit kah mencintai seseorang....
Separah ini kah merindu kekasih
"Yati.."tangis ku terhenti.
Ku tengadahkan wajah memandang siapa yang kini berada di depan ku.
Bang Ronald tersenyum sembari mengambil tempat duduk di samping ku.
Cepat ku seka air mata yang masih tersisa di pipi.
Dia tersenyum dan mengusap ulang pipi ku dengan lembut.
Aku terpaku dengan sikap nya yang hangat.
"Kenapa harus menangis, lihatlah di atas sana....langit indah berhias bulan dan bertabur bintang"ucapnya mengarahkan pandangan.
Aku pun mengarahkan pandangan ku ke langit malam.
"Bila air mata menetes itu tanda jiwa mu sedang lelah,bersandar lah..."ucapnya sembari meletakkan tangannya di bahu.
__ADS_1
"Kenapa ragu?"tatapan mata kami saling beradu.
"Aku belum pernah menyandarkan kepalaku di pundak pria manapun,ku rasa lebih nyaman di bantal,"jawabku kikuk.
Bang Ronald kembali tersenyum,di rangkulnya pundak ku dan menyandarkan kepalaku di bahunya.
Entah kenapa aku pun hanya menuruti nya.
Setelah tumpah air mata kesedihan barusan, hatiku terasa lega.
Bersandar di bahu bang Ronald memberikan kedamaian di hatiku.
Terbersit rasa takut jauh di dalam hati.
Aku takut hanyut dalam perasaan ini bersama nya.
Bang Ronald yang selalu ada tepat di saat aku membutuhkan perhatian dan kehangatan dari seorang yang ku sayang.
Aku takut dia berharap lebih jauh dalam hubungan yang tidak jelas ini.
"Mau makan?"tawaran nya membuyarkan lamunanku sedari tadi.
"Makan apa ya yang enak?"ucap ku balik bertanya.
"Apa saja,asal jangan makan hati"jawabnya.
Dia berdiri dan mengulurkan tangannya padaku yang masih posisi duduk.
Aku pun berdiri menyambut genggaman tangan nya.
"Biasanya kalau habis nangis pasti lapar"godanya di sela langkah kami.
Aku tersipu malu,ku cubit kecil lengan nya.
"Jus mau?"tanya nya.
"Mau"sahut ku.
"Ice cream?"tanya nya lagi.
"Mau"jawab ku untuk kedua kalinya.
"Ok,kalau gitu kita pulang dulu ya?"ajaknya.
"Kenapa harus pulang dulu bang?"tanya ku penasaran.
"Soalnya dompet ku ketinggalan di rumah"katanya sambil tertawa.
"Abaaang! teriak ku.
Bang Ronald berlari menjauh sambil terus tertawa.
Aku pun berusaha mengejarnya.
Tanpa sadar aku ikut tertawa kecil melihat tingkah lakunya.
Bang Ronald yang ku kenal dingin dan kaku di tempat kerja ternyata memiliki sisi pribadi yang hangat.
Apakah ini hanya perasaan ku saja kalau perhatian bang Ronald selama ini pada ku tidak biasanya.
Dia sangat perhatian dan selalu bersikap lembut layaknya seorang kekasih.
Seandainya benar...lalu bagaimana dengan perasaan ku sendiri..?
Terima kasih setia mampir di lapak emak,mohon dukungan nya selalu biar emak terus semangat nulisnya ya....🙏🙏🙏
Mohon doa nya juga agar emak selalu sehat dalam berjuang mengumpulkan cuan demi masa depan anak2,...
__ADS_1
Selalu bersyukur di setiap keadaan,menulis seiring debay yang juga terus bergerak dalam perut...memberi cerita tersendiri di kemudian hari