
******
Kita tidak pernah bisa menebak segala takdir yang maha kuasa.Mungkin pagi hari kita masih tertawa bahagia namun siapa yang tahu,sorenya akan berlinang air mata.
Begitu juga yang di rasakan hati Yati saat ini.Baru dia mendapatkan sesuatu yang serasa memberikan harapan bahagia berkepanjangan karena hadirnya sosok Ridwan kelak menjadi imamnya namun dia juga membawa rasa pahit seketika.
Tubuhnya ambruk di pembaringan.Hati dan jiwanya terasa lelah.Bagaimana pun usahanya untuk memejamkan matanya agar bisa sejenak melupakan semua tapi tetap tidak bisa.
"Sebaiknya ku tanyakan langsung dengan kak Ridwan tentang kejelasan hubungan nya dengan Annisa "batin Yati.
Segera di ambilnya ponsel yang sedari tadi masih berada di dalam tasnya.Dia tidak mau masalah ini mengganggu pikirannya berlarut-larut.
"Assalamualaikum,kakak dimana?"
"Aku ingin ketemu sama kak Ridwan siang ini.Aku mau ijin pamit besok pulang ke kampung buat ngabarin keluarga di sana sekalian ada masalah yang mau ku bicarakan juga dengan kakak"pesan Yati.
Tidak selang beberapa menit pesan nampak di baca.
"Iya sayang, kebetulan aku masih di jalan nih.Nanti aku mampir ke rumah kamu ya"balasnya.
"Kita ketemu di luar aja kak,ku tunggu di cafe tempat biasa "tolak Yati.
"Kalau gitu tunggu sebentar ya sayang,aku selesai kan kerjaan dulu"balas Ridwan romantis seperti biasa nya.
Yati bergegas mencuci mukanya agar terasa lebih segar.Setelah memakai riasan secukupnya dia pun pamit lagi sama emak untuk keluar menemui Ridwan.
Dia berangkat menuju cafe dengan menggunakan jasa ojek online agar lebih cepat sampai.
Sesampainya di cafe, suasananya masih tidak terlalu padat pengunjung karena memang juga belum masuk jam makan siang.
Di carinya tempat paling pojok agar bisa lebih leluasa untuk bicara nantinya.
"Mau pesan apa mbak?"tanya seorang pelayan cafe tersebut dengan sopan.
"Jus alpukat aja satu ya mba"jawab Yati dengan tersenyum.
Tidak lama minuman yang di pesan pun datang.
Dia berusaha menenangkan hati sambil menyeruput jus alpukat nya hingga tersisa setengah gelas.
Di pintu masuk cafe nampak sosok Ridwan yang berdiri mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Yati.
"Maaf sayang kelamaan nunggu ya,biasa jalanan agak macet kalau sudah mau masuk jam makan siang"terang Ridwan.
Mereka duduk saling berhadapan.
Yati hanya tersenyum membalas ucapannya barusan.
"Kakak mau minum apa?"tawar Yati.
__ADS_1
"Kopi aja deh biar mata nggak terasa ngantuk."
Kemudian Yati memesankan kopi yang di minta Ridwan.
"Rencananya besok kamu pulang kampung ya?"tanya Ridwan membuka obrolan mereka.
"Iya kak,aku mau pamit sama kakak.Sebenarnya sih emak yang mau pulang tapi kan kakak tahu sendiri bagaimana kesehatan emak.Kalau Bani yang pulang nggak mungkin juga soalnya dia tidak tahu banyak alamat rumah keluarga di sana."
"Kalau cuman mengundang keluarga lewat telpon rasanya kurang pantas juga kak,jadi lebih baik aku saja yang pulang"jelas Yati.
"Aku temani ya?"rayu Ridwan.
"Nggak perlu kak, kalau kakak ikut terus gimana dengan kerjaan kakak di sini.Lagian aku pulang juga sebentar aja"tolak Yati dengan halus.
"Tapi sayang,kalau nanti aku rindu pengen ketemu gimana?"rajuk nya sambil menggenggam erat tangan Yati.
"Kan bisa telpon kak"kilah Yati lagi.
"Iya deh,tapi jangan lama-lama di sana nya ya."
Yati hanya membalas dengan senyuman.
Sesaat Yati menunduk diam,dia mengumpulkan kekuatan untuk mengutarakan apa yang meresahkan hatinya.
"Kak,apa ada sesuatu yang kakak sembunyikan dari ku?"pertanyaan itu pun akhirnya terlontar seiring kepala Yati terangkat dan matanya menatap lekat ke arah Ridwan.
Ridwan akhirnya menyadari makna dari pertanyaan Yati barusan.
Yati pun mengangguk.
Ridwan menghela nafas panjang, seakan ada beban berat di dalam hatinya yang sulit untuk di uraikan.
"Namanya Annisa,dia cuma masa lalu ku.Tapi kamu adalah masa depan ku,sayang"Ridwan mencoba meyakinkan.
Yati melepaskan genggaman tangan Ridwan.
"Apa kakak yakin dengan perasaan kakak sekarang kepada ku atau kah cuma pelarian karena suatu alasan lainnya?"tembak Yati.
"Kalau cuma pelarian tidak mungkin aku melangkah sejauh ini sayang.Tolong yakinlah "pinta nya.
"Kenapa kakak tidak menceritakan nya langsung kepada ku?"kata-kata Yati terus mencari kesungguhan sikap dari Ridwan.
"Aku minta bantuan Ririn karena dia sahabat kita,aku perlu perantara dia untuk menjelaskan semua nya kepadamu agar kamu tidak salah paham,sayang."
"Annisa hanya masa lalu ku,sayang.Aku cuma meluangkan waktu untuk membantu memberinya semangat agar dia dapat kuat menjalani semua yang di hadapi nya sekarang."
"Baik lah aku percaya sama kakak"akhirnya hati Yati pun luluh mendengar pengakuan Ridwan.
Berbanding terbalik dengan apa yang kini di rasakan Ridwan.
__ADS_1
"Maafkan aku,Yat.Aku tidak bisa menceritakan bagaimana sebenarnya hubungan ku dengan Annisa karena aku takut bisa saja kamu akan pergi meninggalkan ku.Lebih parahnya lagi membatalkan pernikahan kita yang sudah di ambang mata."
"Biar lah semua berjalan seiring waktu"batin Ridwan.
*******
Sesuai rencana, esoknya Yati pun bersiap menuju terminal untuk pulang ke kampung halamannya.
"Emak,Yati pamit dulu ya.Jaga kesehatan emak"ucap Yati sambil mencium punggung tangan emak untuk berpamitan.
"Kamu hati-hati di jalan,kamu sudah sampai di sana jangan lupa cepat kasih kabar"pesan emak.
"Baik mak"kecupan sayang seorang anak kepada ibunya tidak lupa Yati berikan pada emak tersayang.
Emak merasa terharu hingga meneteskan air mata.
"Ban,jaga emak ya"pesan Yati pada Bani adik satu-satunya.
"Pasti itu kak,jangan kuatir.Ada aku di sini"dendang nya mencairkan suasana.
Aku dan emak pun tersenyum melihat tingkah lakunya.
Tin...tin...suara klakson motor terdengar dari luar rumah.
"Kayaknya Ririn deh kak"sela Bani.
"Mau ke terminal sekarang Yat?"tanya Ririn yang sudah muncul di depan pintu.
"Iya Rin, mumpung masih pagi.Bisa tolong anterin aku terminal nggak Rin?"pinta Yati.
"Buat kakak ipar apa sih yang nggak bisa"godanya.
Mereka pun berangkat menuju terminal antar kota.
Sesampainya di terminal,taksi angkutan kota yang akan di tumpangi Yati masih belum berangkat karena menunggu penumpang hingga penuh.Masih tersisa 2 kursi kosong lagi di belakang.
Yati dan Ririn pun memanfaatkan waktu menunggu untuk membeli makanan serta minuman dan berbincang-bincang sejenak.
"Kalau kamu mau pulang,pulang aja Rin.Sebentar lagi mobilnya akan berangkat juga".
"Nggak,aku tungguin sampai mobil taksinya berangkat baru aku pulang"jawab Ririn.
"Kamu sudah ketemu sama kak Ridwan,Yat?"
"Sudah,kemarin sehabis kita pulang dari rumah sakit itu"jawab Yati membuang pandangannya jauh ke depan.
"Sabar ya Yat,mungkin ini ujian dan semoga kalian berdua bisa melaluinya "ucap Ririn mencoba menguatkan.
Yati hanya tersenyum dan mengaminkan doa sahabatnya itu.
__ADS_1
Tidak lama taksi angkutan antar kota yang membawa Yati pun berangkat menuju kampung halamannya.