BIDADARI BUMI YANG TERLUKA

BIDADARI BUMI YANG TERLUKA
PULANG KAMPUNG 2


__ADS_3

***** POV YATI


Suasana ibukota Provinsi Banjarmasin yang terasa panas dan padat penduduk itu pun perlahan berangsur dengan suasana agak lenggang.


Sepanjang jalan mata ku terus menatap keluar jendela dari samping.Perjalanan ku menuju kampung halaman sangat cukup jauh memakan waktu sekitar hampir 7 jam.Maklum lah karena kampung ku masih termasuk daerah pedalaman.


Tapi untuk kemajuan penduduk sudah mulai membaik.Kampung yang dulu hanya mengandalkan lampu teplok di setiap rumah kini bisa menikmati berbagai fasilitas yang menggunakan tenaga listrik.


Namun perkembangan jaman yang masuk juga membawa dampak positif dan negatif bagi warganya yang tidak bisa memilah dengan bijak bagaimana memanfaatkan nya.


Anak muda di kampung juga tidak kalah dengan anak muda di kota.


Banyak sekarang yang tahu apa itu narkoba serta mulai terjerumus di dalamnya.


Miris memang.


Norma-norma agama serta adat budaya yang dulu sangat di junjung tinggi perlahan mulai terkikis dengan modernisasi ala barat.


Tak terasa waktu berjalan hingga pukul 14.00 siang,mobil pun berhenti di sebuah rumah makan.


Para penumpang keluar dari taksi angkutan dengan kepentingan nya masing-masing,begitu juga dengan aku sendiri.


Aku langsung menuju toilet umum baru menuju mushola kecil yang berada di samping rumah makan ini untuk melaksanakan sholat Zuhur yang sudah lewat waktunya tadi.


Setelah sholat segera ku isi perut dengan makan soto Banjar khas Kalimantan.


"Sendiri aja neng?"sapa supir taksi yang ku tumpangi tadi,dia duduk tidak jauh dari tempat ku makan.


"Iya pak, ngomong-ngomong masih jauh dan lama ya pak ?"tanyaku membalas basa-basi.


"Iya neng masih jauh,ya kira-kira 2-3 jam lagi"jawabnya.


"Sudah selesai makan nya neng,kita mau berangkat lagi"seru nya berjalan menuju taksi nya.


"Sudah pak,"sahut ku menyusul,tapi sebelumnya ku bayar makan dulu di kasir rumah makan.


Aku pun kembali duduk di pojok kursi barisan kedua yang dekat jendela.


"Maaf,permisi ya mbak"suara lelaki muda mengambil tempat duduk di samping ku.


Tanpa menoleh,aku pun sedikit menggeser tas ku untuk memberi ruang kepadanya.


"Ah efek perut sudah kenyang nih"batin ku yang mulai merasakan kantuk bergelayut manja di pelupuk mata ku.


Akhirnya aku pun terlelap dengan menyandarkan kepala di tas.

__ADS_1


"Mbak,bangun mbak"suara laki-laki di samping ku membuat ku terkejut.


"Oh maaf..."aku merasa malu karena sandaran ku berpindah bertumpu di pundaknya.


"Nggak pa-pa mbak,aku terima "godanya melempar senyuman.


"Kenapa taksinya berhenti ya "tanya ku lirih seakan bertanya pada diri sendiri.


"Sudah dari tadi,kata supirnya kayaknya mogok.Itu juga masih coba di perbaiki"sahutnya yang mendengar ucapan ku barusan.


"Kalau boleh tau,mbak mau kemana?"tanya nya sopan.


"Mau ke kota X tepatnya ke kampung Y"jawab ku singkat.


"Kebetulan kita searah tuh,mau ke rumah siapa ?"tanya nya lagi tanpa sungkan.


"Ke rumah wa Tinah"terang ku.


"OOO wa Tinah,jadi mbak saudaranya Laila ya ?"senyumnya.


"Kami sepupu"balas ku singkat.


"O ya lupa,kenalin aku Aris,Aris Rahman.Aku ponakannya Abah Mamat rumahnya tidak jauh juga dari rumah wa Tinah"jelasnya sambil mengulurkan tangan.


"Yati,Haryati.Alhamdulillah kalau gitu searah ya"sambut ku dengan senang karena punya teman searah tujuan ku.


"Sudah masuk magrib, sholat dulu"ajak Aris.


Aku pun mengangguk kemudian menyusul nya turun dari taksi.


"Pak,kami mau ke mushola dulu"pesannya kepada supir taksi.


"Iya, silahkan siapa saja yang mau sholat atau istirahat di warung dulu soalnya ini juga belum kelar"sahut si supir.


Aku dan Aris serta beberapa penumpang lainnya pun berjalan menuju ke mushola terdekat.


Selesai mengambil wudhu,aku dan jamaah wanita lainnya mulai mengikuti imam.


Suara lantunan ayat demi ayat yang dibaca kan terdengar sangat indah dan syahdu membawa kesejukan tersendiri di hatiku.


Ku dengar lebih seksama suaranya seperti mirip si Aris,batin ku.


Setelah menunaikan sholat magrib,kami semua kembali menuju tempat taksi tadi berada.


Sepanjang jalan menuju taksi,ku pandangi sosok Aris yang berjalan di depan ku.Dia sedang berbincang dengan para penumpang pria lainnya sedang aku berjalan di belakang bersama beberapa ibu juga.

__ADS_1


Tubuhnya tinggi dan tegap dengan kulit agak coklat,hidung yang mancung serta dengan mata elang serta bulu mata yang lentik.Di tambah lagi alis yang tebal,mirip dengan orang timur tengah sana.


"Gimana pak,sudah bisa di perbaiki?tanya Aris pada supirnya.


"Belum bisa mas, nggak nih apa penyakit nya"jawab si supir terlihat lelah.


"Boleh saya lihat sebentar ?"tawar Aris.


"Silahkan mas,saya juga mau istirahat sejenak "jawab supir.


Terlihat Aris melipat lengan kemejanya sampai siku kemudian mulai mengutak-atik mesin dengan menggunakan beberapa kunci.Beberapa kali juga dia meminta supir untuk mengetes menyalakan mesin.Setelah hampir satu jam akhirnya mesin pun bisa menyala.


"Kenapa nggak bilang dari tadi sih mas kalau mas nya bisa betulin"seru supir itu girang sambil menepuk-nepuk pundak Aris.


Semua penumpang pun dapat bernafas lega akhirnya bisa melanjutkan perjalanan.


"Kenapa kok senyum-senyum ?"tanya Aris menatap ku.


"Itu ada bekas oli di dagu mu"jawabku agak sungkan.


"O masih ada yang nyangkut ya "ucapnya sambil menyeka pakai tisu kering.


"Coba pakai ini"tawar ku menyodorkan tisu basah kepada nya.


"Terima kasih"sambutnya.


"Kenapa tadi nggak bilang kalau bisa?"tanya ku membuka obrolan untuk mencairkan suasana di antara kami.


"Kan nggak ada yang nanya"jawabnya dengan tertawa kecil.


"Emang harus di minta dulu baru memberi bantuan"ucap ku sedikit agak jutek.


"Nggak juga sih cuma lebih ingin menghargai usaha dari org tersebut"jawabannya terdengar masuk akal.


"Oo begitu"sahutku sambil manggut-manggut.


"Alhamdulillah kalau bisa paham"kata-kata nya terdengar penuh makna.


Tak terasa kami pun sudah sampai di depan pertigaan jalan menuju kampung.Setelah ini kami dapat menggunakan jasa ojek yang ada di pangkalan.Tapi berhubung hari sudah menunjukkan pukul 21.30 malam,tidak ada satupun ojek yang mangkal di sana.


Aku menarik nafas kecewa.Ku tengok kanan-kiri jalan barangkali saja ada nampak ojek yang sedang di jalan.


Aris hanya tersenyum melihat tingkah ku.Kelihatannya dia paham dengan apa yang ku rasakan sekarang.


"Sabar,kalau mau cepat sampai ayo jalan.Tapi kalau nggak kuat,mau nunggu di sini nggak pa-pa cuman takutnya baru pagi ojeknya datang"sarannya.

__ADS_1


Sekali lagi ku hela nafas.Ucapannya ada benarnya.


"Ayo kita jalan aja"ajak ku dengan menarik koper kecil.


__ADS_2