
***
POV ANNISA
ANNISA Az-Zahra...
Wanita yang sabar,kuat serta cerdas.Demikian lah mungkin makna dari nama yang disematkan pada diriku oleh papa dan mama.
"Nama adalah doa..."begitulah yang pernah papa katakan.
Dan memang benar.
Disaat umurku masih 5 tahun,baru memasuki pendidikan taman kanak-kanak dan kak Yoga yang saat itu juga baru menginjak umur 7 tahun,.....kami sudah di beri ujian besar.
***
15 tahun yang lalu.....
"Ma,mama mau kemana ...?"
"Kok sudah cantik....?tanya Annisa kecil yang sudah siap dengan seragam sekolah nya.
"Hari ini mama mau ikut ngantar Ica sekolah.."sahut mama nya sambil masih merapikan kepangan rambut Annisa.
"Mama wangi banget,pakai parfum baru ya....?"Annisa memeluk dan mencium wangi dari tubuh mamanya.
"Masa sih,kan mama belum pakai parfum.."jawab mama dengan lembut kemudian mencium kepala dan kedua pipi Annisa.
Mama mengangkat ku di pangkuan nya.
"Mama sayang Ica...."ucapnya lirih kemudian memelukku dengan erat dan cukup lama.
"Kami semua sayang Ica..."sambungnya lagi.
"Ica juga..."
"Sayang mama dan papa.." jawabku dengan polosnya.
"Lho kak Yoga nya ketinggalan...."
"Ica nggak sayang sama kak Yoga soalnya nyebelin,suka usil..."
Mama tertawa melihat tingkahku.
"Ya sudah,yuk kita sarapan dulu..."ajak mama sambil menuntun tangan mungil ku.
Di meja makan sudah ada papa dan kak Yoga menunggu kami.
"Mama rapi banget,mau kemana ma...?tanya kak Yoga .
"Mama mau ikut papa nganterin kalian sekolah.."jawab mama.
Kemudian kami pun sarapan bersama, suasana pagi ini terasa beda.
Papa dan mama terus memandangi kami sambil tersenyum.Dan berulang kali mengungkapkan kata-kata sayang nya.
"Sudah siap semua...?"
"Nggak ada yang ketinggalan lagi...?"tanya papa.
"Sudah pa.."sahutku bersamaan dengan kak Yoga.
"Bik...."panggil mama pada bik Asih pembantu rumah tangga kami.
"Saya,bu...?"jawab bik Asih.
"Saya sama ibu pamit dulu ..."kata papa.
"Tolong jaga anak-anak ya bik.."pesan mama juga.
"Lho,kan anak-anak ikut ibu sama bapak...?"sahut bik Asih.
Tapi mama hanya membalas pertanyaan bik Asih dengan tersenyum.
Bik Asih, wanita paruh baya berusia 45 tahun.
Kami anggap sudah seperti keluarga sendiri.
Bik Asih tidak punya anak dan suaminya juga sudah meninggal dunia.
Bik Asih sudah seperti nenek bagi kami karena mama tidak punya orang tua.Mama besar di panti asuhan.
Sedangkan papa hanya memiliki satu adik laki-laki,Oma meninggal karena sakit di susul opa selang 2 tahun kemudian.
Mobil pun melaju perlahan dengan kecepatan sedang mengantarkan kami ke sekolah.
Mama dan aku duduk di bangku belakang sedang kak Yoga di depan dekat papa.
Sepanjang jalan mama selalu memeluk dan menciumi ku,aku sangat bahagia.
"Kak Yoga sekarang udah besar ya,kan tahun ini sudah lulus SD."
"Jadi anak laki-laki itu harus kuat,sebagai pelindung adiknya..."kata papa pada kak Yoga.
"Papa sangat bahagia punya kak Yoga.."puji papa.
"Baik pa,Yoga pasti kuat juga pasti dong bakal jagain Ica..."jawab kak Yoga yakin.
"Annisa juga harus kuat,harus akur juga nurut sama kak Yoga ya sayang...."tambah papa lagi.
"Baik pa.."jawab ku yang masih memeluk mama dengan manja.
"Nah kita sudah sampai.."ucap mama.
Mama dan papa ikut turun dari mobil.
"Yoga sama Ica sekolah dulu ya pa,ma..."kata kak Yoga kemudian menyalami dan mencium tangan papa juga mama.Di ikuti oleh ku.
"Yang rajin sekolah nya ya sayang..."jawab mama.
"Yoga,ingat pesan papa ya nak..."ucap papa kemudian memeluk kak Yoga.
"Siap,pasti itu pa..."
Aku dan kak Yoga berjalan memasuki area sekolah.
Terlihat dari jauh,mama dan papa melepas kami sambil melambaikan tangan.
Sekolah TK ku masih satu area dengan kak Yoga karena satu yayasan.
"Kakak tinggal masuk kelas dulu ya.."kata kak Yoga yang mengantarkan ku ke ruang belajar.
"Iya kak..."jawabku singkat.
Kak Yoga pun berlalu meninggalkan ku menuju kelasnya di gedung seberang.
Suasana kelas masih sepi,hanya ada beberapa anak perempuan yang baru datang.
Ku taruh tas mungilku di loker dan mengambil mainan puzzle.
"Aduh..."teriak ku kesakitan karena ada yang menarik kepang rambut ku dari belakang.
Aku pun tertunduk sedih dan menangis.
"Hei,berhenti..."suara anak laki-laki kecil.
"Kalau kamu usil lagi,akan aku laporkan sama ibu guru..."
__ADS_1
"Annisa,aku minta maaf ya...."kata Affan,anak yang usil tadi.
Aku tidak memperdulikan nya karena kesal.
"Sudah jangan nangis,nanti aku traktir es cream..."suara anak laki-laki barusan membujuk ku.
"Kamu siapa...?"tanyaku sambil menyapu air mata yang masih menetes.
"Hai,nama ku Ridwan Firdaus."
"Aku baru pindah ke sekolah ini..."katanya dengan tersenyum.
"Boleh nggak aku jadi teman kamu....?"
Aku mengangguk mengiyakan.
"Itu lah awal pertama aku mengenalmu,....Ridwan Firdaus."
Selang beberapa menit kemudian bel pun berbunyi tanda pelajaran sekolah akan di mulai.
***
Jam menunjukkan pukul 09.00.
Semua murid masih asyik mengerjakan tugas menggambar dari bu guru.
Tok...tok...
"Permisi Bu,maaf mengganggu sebentar...."sapa seorang laki-laki dari luar kelas kami.
"Anak-anak ibu tinggal keluar sebentar ya..."
"Baik bu..."sahut kami serempak.
Selang beberapa menit Bu guru pun masuk kembali.
"Annisa sayang..."panggil beliau.
"Iya Bu..."sahutku.
"Hari ini Annisa pulang duluan ya,di luar sudah ada kak Yoga sama Om Alif yang jemput Annisa...."terang Bu guru.
"Baik Bu.."sahut ku polos kemudian membereskan meja dan mengambil tas di loker ku.
"Annisa,ayo sama Om..."kata Om Alif.
"Baik Om tapi kita mau kemana...?"tanya ku penasaran.
"Ikut ke rumah...."jawab Om Alif dengan kalimat yang menggantung.
"Ica sama kak Yoga ya..."kata kak Yoga yang menuntun ku berjalan menuju mobil Om Alif di area parkir sekolah.
Sepanjang jalan di dalam mobil, Om Alif dan kak Yoga tidak banyak bicara.
Mobil berbelok memasuki area parkir rumah sakit.
"Ayo kita masuk..."kata Om Alif.
"Kami pun turun dari mobil dan memasuki gedung yang berwarna serba putih itu.
"Kenapa kita kesini kak...?"
"Kita mau besuk orang sakit ya...?"tanya ku lagi pada kak Yoga.
Tapi kak Yoga hanya diam.
Kami bertemu bik Asih yang sedang duduk di depan sebuah ruangan.
wajahnya terlihat sangat sedih.
"Bik Asih,kok disini."
Bibi tidak menjawab,air mata nya menetes perlahan.
Bibi menuntun ku di iringi kak Yoga dan Om Alif memasuki sebuah ruangan.
Di sana terbaring mama dan papa di ranjang yang terpisah.
"Ma,mama kenapa....?"
"Papa...?"
"Mama sama papa sakit ya...?"ucap ku dengan suara bergetar.
Bik,mama sama papa sakit apa...?"tanya ku pada bik Asih.
Tapi bibi malah tambah terisak.
"Om,mama sama papa sakit apa Om....?"
"Sabar ya sayang,....mama sama papa nya Ica, ...
sudah di surga sekarang..."jawab Om Alif serak.
"Om bohong,...."teriak ku
"Mama sama papa sayang sama Ica,nggak mungkin ninggalin Ica sama kak Yoga,iya kan kak...?"alih ku pada kak Yoga.
"Kak,kakak kenapa nangis.....?"
"Mama sama papa sayang kita,nggak mungkin ninggalin kita..."
"Mama sama papa cuma sakit dan sekarang pasti lagi tidur,....iya kan bik...?"ucap ku mulai menangis.
"Ma,ayo bangun ma..."
"Bangun pa..."pinta ku.
Dada ku terasa sesak.
Seluruh ruangan terasa hampa.
Pandangan ku perlahan kabur hingga aku tidak ingat apa-apa lagi.
***
Tok....tok...
"Non Ica..."suara bik Asih dari balik pintu memanggil nama ku.
Pintu kamar ku terbuka,kak Yoga masuk di ikuti bik Asih di belakang nya.
"Ica,ayo sama kakak..."
"Kita ke pemakaman mama sama papa...."
"Ica masih ingatkan pesan mama sama papa..."ucap kak Yoga memegang tanganku.
"Kita harus sabar dan kuat ya..."
Aku mengangguk pelan tanpa suara dan mengikuti langkah kak Yoga dan bik Asih keluar kamar.
Di pemakaman banyak orang yang mengantarkan mama dan papa ke peristirahatan terakhirnya.
Kak Yoga terlihat tegar di usia nya yang masih remaja.
Kami taburkan bunga di atas makam mama dan papa yang masih basah.
__ADS_1
Satu persatu orang-orang yang mengantar pun kembali pulang.
Tinggallah aku,kak Yoga dan bik Asih serta Om Alif
yang masih memandangi batu nisan.
"Hari sudah sore,ayo kita pulang .."ajak Om Alif.
"Ayo,ca..."tuntun kak Yoga.
Aku mencoba berdiri namun terasa berat.
Om Alif dengan cepat menangkap tubuh ku yang mulai oleng.
Dalam gendongan Om Alif,aku tidak bisa mengingat apa-apa lagi.
***
Hari-hari berjalan terasa sangat lambat.Sunyi tanpa mama dan papa.
Sudah hampir sebulan aku dan kak Yoga tidak masuk sekolah.
Om Alif tinggal bersama kami semenjak mama dan pergi.
Tok...tok...
"Non Ica,ada teman non ica datang..."kata bik Asih
sambil tersenyum kemudian menuntun ku keluar.
"Hai,Annisa..."
"Ridwan..."
"Ini ku bawakan es cream,jangan sedih lagi ya..."
"Terima kasih..."ucap ku berusaha tersenyum.
"Ayo kita main di luar..."ajak Ridwan kecil.
Aku berpaling memandang ke arah bik Asih.
Bik Asih mengangguk dengan tersenyum sama seperti mama dulu.
Aku pun mengangguk dan tersenyum mengiyakan ajakan Ridwan.
Perlahan semangat hidup ku pun kembali seiring waktu.
Ridwan pun sering datang ke rumah untuk mengajak ku bermain atau sekedar memberikan es cream atau coklat.
Senyum serta tawa ceria mulai hadir kembali seperti dulu dalam hari-hari ku.
***
Masa sekarang.....
Telapak tangan ku terasa hangat,ku coba menggerakkan perlahan.....
Pelan-pelan ku buka mata .
Senyum ku pun hadir ketika melihat sosok lelaki yang tertidur lelap sambil menelungkup kan wajah nya di samping ranjang.
Tangan nya dengan erat terus menggenggam tangan ku.
"Kak,kak Yoga..."
"Bangun kak..."
Ku perhatikan lagi dengan seksama.
Dia terbangun,....mengangkat wajah sambil mengucek-ngucek mata nya.
"Ridwan..."batin ku.
Ku tatap wajahnya lagi mencari kepastian.
Apakah aku terlalu mengharapkan kehadiran nya hingga sampai berhalusinasi sejauh ini.
"Hai Ica..."
"Sudah pagi ya..."
Gaya bicaranya persis seperti Ridwan.Tapi aku masih tidak bisa mempercayai nya.
"Kamu...?"kata ku menggantung.
"Kamu mau es cream atau coklat..."godanya.
"Ridwan..."ucap ku lirih menahan bulir-bulir bening yang siap menetes di kelopak mata ku.
"Lho kok nangis..."tegur nya kemudian mendekat memeluk ku dan mengusap tetesan air mata yang terlanjur jatuh.
"Jangan nangis lagi,..."
"Aku minta maaf sudah pergi terlalu lama..."rayu nya.
"Janji....?"
"Jangan pernah pergi lagi..."pinta ku.
Dia mengangguk dan tersenyum.
Ku peluk erat tubuhnya,ku tak ingin kehilangannya lagi.
"Ehm...ehm..."
Kami menoleh ke arah asal suara dan melepaskan pelukan karena malu.
"Pagi-pagi udah pelukan,belum muhrim.."tegur kak Yoga dengan suara datarnya.
"Kan baru bangun tidur,emang nggak bau....?"sambungnya lagi menggoda kami.
"Iih kakak..."teriak ku dengan wajah memerah karena malu.
Kami pun tertawa.
Pagi ini terasa indah.
Tak ku rasakan rasa sakit yang menyelimuti tubuh ku.Semua terasa ringan mengambang karena hadirmu.
Ridwan Firdaus,....
Seperti nama mu yang indah dan penuh kebaikan
Engkau hadir kembali membawa semangat hidupku seperti dulu waktu aku terpuruk oleh kepergian mama dan papa.
Tolong jangan pernah pergi lagi.
Jangan biarkan aku sendiri meniti kehidupan ini.
Bantu lah aku untuk bangkit kembali.
Ma kasih buat yang sudah mampir ke lapak emak
Jangan lupa sapu dulu air mata nya ya....
Dan jangan lupa beri dukungan nya biar emak juga semangat terus nulisnya ya....🙏🙏🙏
__ADS_1
Salam dari emak pejuang masa depan anak2 dan keluarga