
Ku tatap punggung bang Ronald yang semakin menjauh pergi
Hati ku merasa tidak karuan
Bimbang....? Mungkin!
***
"Assalamualaikum"ku buka pintu yang ternyata belum di kunci.
"Kok lama sih kak?"
"Katanya sebentar"...tegur Bani yang duduk di ruang tamu.
"Memang aku tadi bicara begitu ya?"jawab ku yang mengambil tempat duduk di samping nya untuk melepaskan sepatu.
"Kata Ririn"ujarnya dengan cengengesan.
"Tadi sehabis dari rumah sakit kakak singgah ke cafe, ketemu sama bang Ronald"
"Memangnya kakak ada masalah di tempat kerja?"
"Nggak ada,cuma di ajak makan sama bang Ronald "jelas ku.
"Ya sudah, kakak ke kamar dulu...mau istirahat"
kemudian ku tinggalkan Bani yang kembali asyik dengan ponselnya.
Ku rebahkan tubuh ku di pembaringan berharap lelah ini perlahan pergi menguap bersama malam.
Terbayang kenangan dulu bersama kak Ridwan, candaan nya...,sikap manisnya..., sungguh membuat hatiku yang keras akhirnya meleleh.
Cincin manis yang melingkar adalah janji yang tak terucap.
Terpatri sebuah harapan besar di dalamnya.
Namun sayang, rajutan kasih yang baru seumur jagung itu membuat ku semakin bimbang...
Karena raib nya hadir mu, menggantung asa ku
Ku serahkan semua pada sang waktu yang akan menuntun kemana arah jalan kasih ini
***
Dreet.... dreet...
Dreet..... dreet...
Ku raih ponsel di atas meja dengan rasa kantuk yang masih terasa.
"Halo Yat,maaf ya...aku nggak bisa jemput,ban motor ku bocor.Ini lagi di bengkel"suara Ririn dari seberang sana.
"Iya nggak pa-pa"jawabku pelan.
"Kamu kenapa,sakit ya?"tanya nya.
"Baru bangun....ya sudah Rin,aku mandi dulu"jawabku.
"Apa,kamu baru bangun....ini sudah jam berapa, nanti kam..."ku tutup telpon dengan cepat sambil tersenyum geli.
Bergegas ku langkahkan kaki menuju kamar mandi.
"Bakalan telat nih"batinku.
Selesai mandi dan memakai seragam kerja,ku raih sweater dan tas untuk bersiap pergi.
"Kak,kak,..emak,kak!"teriak Bani dari dalam kamar emak.
Aku terkejut dan langsung menghampiri Bani.
"Emak,kenapa Ban"tanyaku langsung memeriksa tubuh emak.
"Tadi pagi sehabis mandi seperti biasa emak mencoba berjalan menggunakan tongkat."
"Tapi tidak lama,emak mengeluh sesak nafas"terang Bani dengan gugup.
"Cepat,kita bawa emak ke rumah sakit."
__ADS_1
"Tunggu sebentar,ku pesan taksi online dulu"ucap ku.
Aku pun pergi ke teras rumah,memesan taksi online lewat aplikasi yang tersedia.
Sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah.
"Alhamdulillah,cepat datang"batinku.
"Lho,bang Ronald?"tegur ku agak kaget.
"Aku mau jemput kamu"jawabnya singkat.
"Aku nggak bisa masuk kerja dulu bang,mau bawa emak ke rumah sakit sekarang"
"Ini juga lagi nunggu taksi online"jelas ku cepat dengan wajah cemas dan hampir mau menangis.
Bang Ronald langsung menerobos masuk ke dalam rumah.
Dia keluar membopong emak di ikuti Bani yang membawa tas.
"Batalkan pesanannya!
"Pesanan apa bang?"tanya ku kebingungan sendiri.
"Taksi online tadi."
"Cepat masuk! serunya lagi.
Aku pun bergegas masuk mobil dan duduk di kursi belakang dengan memangku kepala emak.
Bani duduk di samping bang Ronald yang fokus mengemudikan mobil menuju rumah sakit terdekat.
Air mata ku menetes tanpa henti, berharap keadaan emak akan baik-baik saja.
"Aku belum siap kalau sampai emak..."suara batinku tak mampu lagi berujar.
"Mak...emak..."panggil ku lirih.
Sekilas ku lihat wajah Bani pun terlihat cemas, berulang kali dia menengok ke belakang melihat emak.
Kami takut...
Takut kehilangan sosok yang selama ini selalu ada untuk kami
Sosok ibu yang terus berjuang tanpa memperdulikan kepentingan dirinya sendiri
Dia yang selalu berdusta dengan berkata masih kenyang saat kami masih ingin menambah makan
Dia yang bangun lebih awal dan tidur lebih akhir dari kami, hanya untuk memastikan agar kami tidur dengan nyaman
Dia yang mengajarkan kami cara menjalani kehidupan keras dengan sabar
Dia yang selalu tersenyum di balik luka hati dan penderitaan nya
"Mak,bangun mak"panggil ku lirih seiring air mata yang terus saja menetes.
Pintu mobil terbuka,beberapa petugas medis berpakaian putih-putih langsung bergerak cepat.
Emak di bawa ke ruang UGD.
Seorang perawat menyarankan kami untuk menunggu di ruang tunggu.
Hati ku gelisah,seakan waktu berjalan sangat lambat.
Sudah 30 menit berlalu,belum ada seorang perawat pun yang mendatangi kami untuk memberitahukan bagaimana keadaan emak ku sekarang.
"Duduk Yat,"saran bang Ronald.
Aku pun duduk di dekatnya.
"Kamu sudah sarapan?"
Aku hanya bisa menggeleng pelan.
"Tunggu disini sebentar "dia beranjak pergi.
Tidak berapa lama,bang Ronald kembali dengan membawa kantong kresek berisi makanan dan beberapa botol air mineral.
__ADS_1
"Makan lah dulu,ajak Bani juga"
"Kalian harus tetap makan agar tidak ikut-ikutan sakit,nanti siapa yang menjaga dan mengurus emak "katanya mengingatkan kami.
Aku memberikan sebotol air mineral dan roti kepada Bani.
Ku teguk air perlahan terasa sulit sekali untuk menelan masuk di tenggorokan.
Hati ini belum bisa tenang sebelum mengetahui keadaan emak sekarang.
"Mbak Yati?tanya seorang perawat yang baru keluar dari balik pintu ruang UGD.
"Iya,saya"jawabku gugup.
"Sekarang sudah boleh masuk"terangnya.
"Bagaimana keadaan ibu kami, sus?"tanyaku khawatir.
"Nanti dokter yang akan menjelaskan lebih detailnya ya"ucapnya ramah.
Aku pun mengangguk mengiyakan.
"Masuk lah dulu"saran bang Ronald.
Ku langkahkan kaki masuk ke ruangan UGD.
Di sana emak terbaring dengan menggunakan selang oksigen dan infus yang terpasang di pergelangan tangannya.
Kesadarannya belum pulih.
Terasa sakit hati ini melihat orang yang paling ku sayang terbaring lemah tak berdaya.
Aku duduk di samping emak,memandangi wajahnya yang sudah memiliki garis kerutan menua.
"Mak,jangan tinggalkan Yati...."
"Kami sayang emak"bisik ku yang kembali menangis terisak.
"Emak janji sama Yati,mau melihat Yati menikah kan?"
"Emak harus selalu ada buat kami."
"Kami tidak bisa menjalani hidup ini tanpa emak."
Bani merengkuh bahu ku dari belakang.
Dia diam,hanya air mata yang menetes di kedua pipinya.
"Permisi,maaf...bisa bicara dengan keluarga ibu Maisaroh?"tanya seorang laki-laki yang berpakaian serba putih.
"Saya anaknya"jawabku dengan menyapu sisa air mata di pipi.
"Mari ikut ke ruangan saya,ada yang mau saya sampaikan mengenai kondisi ibu anda"kata laki-laki itu yang ternyata seorang dokter terlihat dari id card nya.
Aku pun mengikuti langkah dokter tersebut menuju ruangan nya.
"Silahkan duduk."katanya dengan ramah.
Aku duduk dan menunggu apa yang akan di sampaikan oleh dokter tadi.
"Begini mbak, ibu anda sementara ini harus di rawat inap dulu karena ini serangan yang kedua."
"Kemungkinan besar tubuh bagian kiri seperti tangan dan kaki tidak bisa di gerakan seperti sebelumnya tapi apabila kesehatan ibu Maisaroh mulai pulih dapat di lakukan terapi rutin guna merangsang fungsi saraf kaki dan tangannya."jelas dokter itu.
"Kalau begitu masih ada harapan untuk ibu saya pulih kembali kan dok?"
"Benar sekali, yang penting pasien juga harus memiliki semangat untuk sembuh."
"Terima kasih dok,atas penjelasannya."
"Kalau begitu saya mau kembali menjaga ibu saya dulu,sekali lagi terima kasih "ucap ku lega.
Aku pun berlalu meninggalkan ruangan dokter tersebut dan bergegas menuju kamar rawat inap emak.
Kecemasan di hati ku berkurang setelah mendengar penjelasan dari dokter tadi.
"Alhamdulillah "tak henti-hentinya batinku bersyukur.
__ADS_1