
***** POV RIDWAN
Suasana hati ku terasa berwarna tak mampu rasanya melukiskan atau pun di rangkai dengan kata-kata.
Senyum kebahagiaan terus menerus terukir indah di wajah ku mengingat proses lamaran tadi.
Pandangan mataku selalu tertuju pada Yati,gemas hati ku melihat wajah nya yang terus tersipu malu.
Seandainya hubungan kami sudah sah rasanya ingin sekali mencubit dan mencium pipinya.
Hari dan tanggal baik untuk melangsungkan acara pernikahan pun sudah di tentukan oleh mama dan papa serta emak.
"Semoga semua berjalan dengan lancar"batin ku.
Setelah hampir masuk waktu ashar,mama dan papa juga aku pun pamit pulang pada keluarga Yati.
Semua nampak antusias dan turut bahagia dengan rencana pernikahan kami.
"Kita langsung pulang ke rumah atau mama mau mampir dulu, barangkali saja ada yang mau mama atau papa beli?"tawar ku.
"Papa sih nggak ada, nggak tau kalau mama mu"jawab papa yang duduk di samping ku.
"Kita pulang aja dulu ya, soalnya mama mau istirahat "sahut mama dari bangku belakang.
"Ok kalau begitu kita langsung pulang aja ya ma"tegas ku memastikan.
Ku kemudikan mobil dengan kecepatan sedang.Nampak lalu lalang kendaraan bermotor yang mulai padat karena sekarang banyaknya orang-orang yang pulang kerja.
Selang 30 menit kami pun sampai di rumah.
Mbak Erna bergegas membukakan pintu setelah mendengar deru mesin mobil yang memasuki garasi.
"Ibu dan bapak mau di bikin kan minum?"tawar mbak Erna sopan.
"Saya minta kopi pahit ya mbak?"pinta papa yang sudah duduk santai di sofa sambil menyalakan televisi.
"Saya jus buah seperti biasanya aja ya mba, tolong nanti di antar ke kamar "kata mama yang langsung naik tangga menuju kamar tidur di atas.
"Baik bu"sahut mbak Erna.
"Kalau mas Ridwan,kopi susu seperti biasa?"tawarnya lagi.
"Jus buah aja juga mbak, pengen yang segar-segar nih"pinta ku juga.
"Siap mas"sahutnya kemudian berlalu pergi ke dapur.
Papa asyik menonton acara berita.Beliau sangat suka mengikuti perkembangan politik dan ekonomi di negeri ini.Karena sangat berpengaruh dalam hal bisnis bagi para pengusaha termasuk pebisnis seperti papa.
"Bagaimana perkembangan usaha mu sekarang wan?"tanya papa tanpa mengalihkan perhatian nya dari acara berita di televisi tadi.
__ADS_1
"Alhamdulillah berjalan lancar pa dan rencananya dalam waktu dekat Ridwan bakal tambah armada karena ada prospek di proyek daerah yang bakal di canangkan"jelas ku.
"Armada yang sekarang sudah ada berapa unit?"
"Sekarang sudah ada 75 unit pa dan semua sudah di kontrak dalam jangka waktu 3 tahun di perusahaan tambang daerah."
"Sebenarnya mereka ingin tambah unit nya lagi tapi Ridwan nggak mau gegabah,kita lihat dulu bagaimana hubungan kerjasama ini selama kontak yang berlaku"terang ku panjang lebar.
"Bagus,papa setuju dengan pemikiran mu.Maju tahap demi tahap sambil mengkaji ilmu di dalamnya jangan langsung tergiur hasil yang banyak hingga gegabah mengambil keputusan yang nantinya bakal bisa merugikan diri sendiri"nasehat papa bangga.
"Jangan lupa juga pantau terus kinerja anak buah mu, jangan langsung percaya laporan yang masuk. Sekali-sekali kamu harus turun ke lapangan untuk mencegah terjadinya kecurangan dari karyawan.
"Kamu harus bisa menilai sendiri loyalitas kerja setiap karyawan mu,terapkan kedisiplinan serta jangan segan untuk memberi bonus bagi karyawan yang memang bersikap totalitas dalam pekerjaan nya"pesan papa.
"Pasti itu pa"sahut ku.
Perbincangan kami sesaat terjeda oleh kedatangan mbak Erna yang membawakan kopi pahit untuk papa dan jus buah pesanan ku.
Papa meraih gelas kopinya dan menyeruput dengan sangat menikmati.
Aku pun meneguk jus buah hingga hampir setengah gelas,rasa segar sekali terasa di dalam rongga tenggorokan.
"Kamu nggak berminat untuk suplai minyak solar juga wan?"
"Kalau kamu ada minat nanti papa kenalkan sama teman papa yang kerja di PT Pertamina nya langsung."
"Boleh pa, kapan-kapan aku ikut papa ketemu relasi papa hitung-hitung perkenalan untuk jangkauan bisnis"jawab ku senang.
"Aduh,anak sama papa nya sedari tadi kok masih asyik ngobrol aja sih.Cepetan mandi terus sholat ashar dulu, ngobrolnya nanti di sambung lagi"perintah mama yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang kursi papa.
"Sebentar lagi ya ma,papa habisin kopi nya dulu... tanggung"senyum papa menggoda mama.
"Papa kebiasaan deh, kalau sudah lihat berita di televisi pasti jadi lupa waktu"tegur mama.
"Kan ada mama yang suka ngingetin"rayu papa.
Aku bahagia menyaksikan keromantisan mereka berdua.
"Mau kemana wan?"tanya mama heran melihat ku menjauh.
"Mau mandi terus sholat dulu ma,kan tadi barusan mama ingetin"sindir ku halus sambil tersenyum.
Ku tinggalkan mama dan papa yang masih berdebat tentang berita di televisi.
Setelah masuk kamar,ku letakkan ponsel yang sedari tadi berada dalam saku celana.
"Ah ternyata baterainya habis,pantas saja tidak ada notifikasi pesan ataupun panggilan masuk"batin ku.
Sementara menunggu mengisi daya baterai ponsel,aku pun beranjak pergi mandi dulu dan menunaikan sholat ashar.
__ADS_1
Di penghujung sholat ku tadahkan tangan berdoa, untuk kebaikan dan kebahagiaan orang-orang yang aku sayangi.
Daya ponsel sudah terisi 50 persen,tanpa menunggu lama ku nyalakan kembali "barangkali saja ada pesan masuk"pikir ku.
Benar saja,baru saja ponsel ku aktif langsung masuk beberapa pesan di antaranya dari teman rekanan bisnis serta anak buah ku di lapangan.
Ku balas chat mereka satu persatu.
Terakhir pesan masuk dari Annisa.
Ada beberapa panggilan tak terjawab juga.
Aku terdiam sejenak membaca pesan darinya.
"Kasihan Ica,dia pasti menunggu ku"rasa bersalah menyelimuti hati ini.
"Maaf ca, baterai hp ku lowbat jadi aku nggak tau kalau kamu menghubungi aku"balas ku.
Pesan ku terkirim tapi belum juga di bacanya.
Ku coba menelponnya beberapa kali namun tidak juga di angkat.
Kenapa dengan Ica,apa terjadi sesuatu dengannya?
Hati ku jadi tidak tenang di buatnya.
Ku coba hubungi nomor telepon kak Yoga tapi tidak aktif.
"Aku harus segera kesana"batin ku cemas.
Segera ku ganti sarung dan baju Koko yang tadi ku pakai waktu sholat dengan celana jeans dan kaos T-shirt lengan panjang.
"Mau kemana wan?"tanya mama yang melihat ku terburu-buru.
"Mau ke rumah sakit sebentar jenguk Ica,ma."
"Emang kenapa?"
"Ica drop lagi?"ucap mama terlihat cemas juga.
"Nggak ma, Ridwan cuma mau jenguk aja sebentar"jelas ku.
"Papa mana ma?"
"Lagi sholat di kamar"sahut mama.
"Ridwan bawa motor aja ya ma"pamit ku.
"Iya, hati-hati di jalan."
__ADS_1
"Baik ma"jawab ku sambil mencium punggung tangan mama kemudian berlalu menuju garasi untuk mengambil motor.
"Semoga tidak terjadi apa-apa sama Ica"batin ku.