
"Wan..."suara lembut wanita memanggil ku dari jarak yang tak jauh.
Diri ini terdiam mematung.Sesaat jiwa ku serasa kembali ke masa lalu.Ingin aku membalikan badan dan berlari ke arahnya.Melepas semua kerinduan yang mendalam.
***
Hiruk pikuknya bandara,tidak dapat mengalihkan perhatian ku dari sosok seorang gadis yang sedang duduk di kursi tunggu penumpang.
Ku langkahkan kaki dengan cepat agar dapat berada di sampingnya.Namun langkah ku terhenti dengan hadirnya pria lain yang datang dan merengkuh pundaknya.Kau pun membalas pelukannya dengan menenggelamkan wajah mu di dadanya.
Kau dan aku yang telah hampir 3 tahun bersatu menjadi kita,walaupun belum terikrar sah nya...Dan selama itu juga belum pernah ku sentuh hangatnya tubuh mu dalam pelukan karena aku ingin menunggu waktu halalnya tiba.
Bayangan itu pun menghempaskan kesadaran ku atas perihnya luka di hati.
"Kenapa harus mencari ku lagi..."
"Pergilah,semua sudah berlalu..!ku nyalakan dan larikan motor dengan cepat.
"Ridwan,tunggu....aku butuh penjelasan dari semua sikap mu...."
Sayup-sayup ku dengar teriakannya.
Sesaat aku merasa diri ini sangat kejam.
Apakah aku puas...? apa ini balas dendam atas sikapnya...?
Tapi kenyataannya luka itu kembali menganga.
***
"Eh mas Ridwan,tumben baru pulang mas..."?tanya Mbak Erna.
"Iya mbak,lagi banyak kerjaan jadi lembur.."sahut ku tanpa semangat dan berlalu masuk kamar.
"Oh iya mas,tadi bapak nelpon nanyain mas...terus bapak minta tolong sama saya kasih tahu mas Ridwan kalau besok ibu sudah boleh pulang.."cegah mbak Erna sebelum ku tutup pintu kamar.
"Iya baik mbak,ma kasih ya...?"
Mbak Erna mengangguk dan berlalu dari depan kamar ku.
Ku rebahkan diri dengan sembarangan.Melepas semua penat yang ada.
Perlahan namun pasti, terbang jiwa ku ke alam mimpi.
***
Jalan setapak di pegunungan
Di hiasi hijaunya pemandangan alam
Memberi kesegaran bagi jiwa setiap insan
Ku ayun kan langkah menggapai harapan
Mencari bayang mu di balik cahaya mentari
"YATI...bahagia ku berlari.....
Namun terhenti oleh masa lalu sendiri
"ANNISA...."
***** POV ANNISA
Terduduk lemas ....
"Ridwan....."
Aku hanya berharap penjelasan atas sikapmu...
"Ayo Annisa,kita pulang..."
__ADS_1
"Tapi kak,...Ridwan..."untuk kesekian kali nya air mata ku menetes,entah bahagia bisa melihat mu lagi atau sedih karena kecewa atas sikapmu.
"Sudah cukup perjuangan mu untuk nya !"
"Yang terpenting sekarang adalah kesehatan mu"
"Ayo kita pulang,biar kakak nanti yang bicara padanya..."
Ku pandangi tatapan mata lelaki di samping ku, seorang kakak yang selalu ada untuk menjaga adiknya.
Ku mengangguk perlahan,berusaha bangkit
Kak Yoga menjalankan pelan laju mobilnya
Namun ingatanku malah berjalan mundur
****
2 tahun yang lalu....
"Kak,aku takut...."ucap ku dengan pelan.
"Jangan takut,kakak ada di sini...di samping mu dan selalu ada untuk mu..."jawab kak Yoga berusaha memberikan kekuatan kepada ku.
"Tapi,..."potong ku lagi.
"Jangan pikirkan hal yang lain dulu, yang penting sekarang adalah pengobatan mu supaya cepat sembuh.."
"Tersenyum lah..."peluk hangat kak Yoga.
Aku tak kuasa menahan haru dengan kasih sayang kakak ku ini.Setelah orang tua kami tiada karena sebuah kecelakaan,dia lah yang selalu menemani dan menjaga ku selama ini.
Usia kami memang terpaut jauh,kak Yoga 7 tahun lebih tua dari ku.
Dia korban kan waktu dan perhatian nya hanya untuk aku adik perempuan nya.
Dia juga yang lebih dulu tahu tentang gejala penyakit yang kini bersarang di tubuhku.
Pagi itu,kami sedang sarapan nasi goreng buatan kak Yoga.
Aku yang sedang asyik makan tidak sadar kalau kakak ku itu sedang memperhatikan ku.
"Annisa,rambut kamu kok banyak yang rontok..."tegur kak Yoga.
"Hmmm,mungkin gara-gara aku ganti shampo kak...nggak cocok sama shampo nya..."jelas ku.
Dia mendekat di belakang ku,...
"Tapi ini sudah hampir sebulan, kakak perhatikan rambut kamu tambah banyak yang rontok."
"Hari ini kamu nggak usah masuk kuliah,kita cek kesehatan kamu..."katanya tegas.
"Tapi kak,aku sudah ada janji sama Ridwan.."rengek ku manja.
Kak Yoga menghela nafas panjang,dia selalu tidak berdaya dengan segala rengekan dan permintaan adik nya ini.
"Ya sudah,kalau begitu kakak mau berangkat kerja dulu...Ingat pesan kakak!"
"Iya kak,..."kata ku yang kemudian menyalaminya.
"Jangan keluyuran!"
"Jangan pulang telat!"
"Jangan telat makan!"potong ku dengan cepat karena itu lah wanti-wanti yang selalu di ucapkan sebelum berangkat kerja.
Dia tersenyum dan memeluk ku dengan erat,...
"Kakak sayang kamu..."ucapnya lembut.
"Aku juga sayang kakak..."
__ADS_1
"Sana cepat pergi,kalau kesiangan nanti rezekinya dimakan burung lho..."goda ku sambil tertawa.
Ku lepas kepergian kak Yoga hingga sampai halaman rumah.Saat ku berbalik mau masuk lagi ke rumah,entah kenapa ku merasa lingkungan sekitar ku berputar.
Ku coba mencari pegangan untuk menopang tubuh dan ah....
"Nisa... Annisa..."samar-samar ku dengar suara memanggil nama ku namun terasa jauh.
Nampak sebuah lorong bercahaya terbentang di depan ku.
"Dimana aku sekarang...?"
Bayangan mama dan papa hadir dan tersenyum kepada ku.Aku berlari mengejar tapi mereka malah berjalan menjauh.
"Mama...papa...,tunggu...!"
"Nisa...Annisa..."sekali lagi ku dengar suara memanggil ku.
Kesadaran ku mulai kembali,ku lihat kak Yoga di samping ku dengan wajah yang sangat cemas.
"Kakak..."
"Iya,kakak disini."
"Istirahat lah,kakak akan selalu menjagamu..."ucapnya dengan lembut.
Sekilas ku lihat dari kaca,bayangan Ridwan di luar sana.Tapi sayang,mata ku kembali tertutup mungkin karena pengaruh obat yang mengharuskan tubuhku untuk istirahat.
Entah sudah berapa lama aku terlelap.
Ku coba membuka kedua mataku namun terasa berat.
Samar-samar ku dengar percakapan kakak dengan seorang lelaki.
"Jangan biarkan dia banyak beraktivitas dulu,kita coba pulihkan fisiknya."
"Dok,tolong lakukan yang terbaik buat Annisa."
"Itu sudah menjadi tugas kami sebagai dokter,tapi saran saya lebih baik Annisa di rujuk ke rumah sakit di Jakarta karena di sana fasilitas serta pengobatan nya lebih lengkap sedangkan di rumah sakit ini masih terbatas."
"Apakah sudah separah itu dok...?"
"Seperti yang tadi saya sampaikan dan alangkah baiknya agar pasien tahu hal ini."
Aku terus menyimak pembicaraan mereka, hingga lelaki yang ternyata adalah seorang dokter itu pergi.
Kurasakan genggaman tangan kak Yoga,...
"Nisa...kamu harus kuat.."
"Kakak akan selalu ada untuk mu..."
Hanya itu yang terucap dari bibirnya.
Terdengar suara langkah kaki mendekat....
"Maaf, permisi pak..."suara wanita muda.
"Oh iya,silakan sus...."jawab kak Yoga cepat.
Ku rasakan selang infus bergerak.Mungkin suster itu sedang menggantinya dengan yang baru,pikirku.
Dan tidak berapa lama kesadaran ku pun kembali memudar.
Bersambung....
Penyakit apa yang sebenarnya bersarang di tubuh Annisa...
Simak terus episode berikutnya di lapak emak
Dan jangan lupa kasih like juga komentarnya ya biar emak semangat terus berkarya nya🙏🙏🙏
__ADS_1