
Sebuah sentuhan lembut menyentuh pundak ku.
Ku pandang Ririn yang tersenyum sembari mengangguk pelan.
"Yat..."
Perlahan ku berbalik badan dengan perasaan bergetar.
"Kak Ridwan.."ucap ku lirih.
Dia tersenyum,masih senyuman yang sama seperti dulu bersama ku.
Tanpa sadar kedua tangan ku menangkup wajahnya seiring butiran air mata menetes di pipi.
"Ini benar kakak,kan?"ucap ku tertahan.
Dia mengangguk mengiyakan.
Banyak kata-kata yang berputar di benak ku namun seakan tak mampu keluar dari bibir ini.
"Duduk dulu Yat,"tuntun nya.
Aku pun hanya menurut tanpa bisa melepas pandangan dari nya.
"Maafkan aku sudah membuat sedih selama ini"ucapnya sambil menyapu sisa air mata di pipi ku.
Kami duduk di kursi yang sama dengan posisi saling berhadapan.
Ku genggam erat tangan kak Ridwan,ada ketakutan kalau ini hanya mimpi.
Aku takut saat mata berkedip bayangan nya pun akan hilang lagi.
"Yat, kamu..."
"Kakak kemana aja...?"
"Kenapa tidak ngasih kabar...?"
"Aku cemas,takut kakak kenapa-kenapa.."akhirnya pertanyaan yang tadi tertahan keluar satu persatu dari mulutku.
Butiran air mata kembali menetes di kedua belah pipi ku .
"Aku takut kakak kenapa-kenapa."
"Aku cemas kak,"ucap ku lirih.
Kak Ridwan membawa ku dalam pelukan nya.
Ku benamkan kepala sambil masih terisak.
"Aku tahu kamu pasti cemas, maafkan aku"bisik nya sambil mengusap-usap puncak kepalaku dengan lembut.
Dia mengangkat dan memandangi jari manis ku.
"Cincin nya masih setia"godanya.
Dia kemudian memamerkan cincin yang sama di jari manisnya.
"Ehm...uhuk...uhuk..."suara Ririn menyadarkan kami berdua kalau masih ada orang di sekitar kami.
"Mbak.."panggil kak Ridwan pada waiter cafe.
"Iya mas,ada pesanan lagi?"tanya nya sopan.
"Kamu mau makan apa?"ucap kak Ridwan di samping ku.
"Nanti aja kak,masih kenyang"jawab ku.
__ADS_1
Iya perut ku terasa kenyang karena bahagia sudah bertemu kembali dengan nya.
"Nasi goreng ya,temenin aku makan"rayu nya.
Aku pun mengangguk tanda setuju.
"Kamu Rin,mau makan apa ?"
"Nasi goreng aja juga tapi pedas ya mbak"pinta nya langsung.
Ku lirik Ririn yang memasang ekspresi wajah judes.
"Mm sama kekasih hati ucapan nya lembut banget macam es cream,giliran nawarin ke aku aja macam preman"sahut Ririn sewot.
"Kan kamu bukan siapa-siapa aku,Rin"tegas kak Ridwan lagi.
"Oo lama nggak ketemu jadi ngajak berantem nih ceritanya!"tantang Ririn ketus.
"Udah jangan ngambek gitu dong nanti cantiknya hilang"rayu kak Ridwan agar Ririn tidak marah membuat aku merasa geli sendiri.
"Aku memang cantik dari lahir"sahutnya pasang wajah imut.
"Iya, iya kamu memang paling cantik deh"sanjungan kami pun mengakhiri akting nya.
Makanan yang kami pesan pun datang.
Kak Ridwan meletakkan sepiring nasi goreng di depan ku.
"Mau aku suapi?"godanya.
"Nggak usah kak,malu di lihat orang-orang"jawab ku pelan takut terdengar oleh Ririn.
Kami pun melahap nasi goreng hingga tak bersisa.
"Habis ini kamu mau kemana Rin?"tanya kak Ridwan.
"Kalau gitu biar Yati nanti pulangnya sama kamu,kamu duluan aja".
"Oo jadi ceritanya ngusir nih?"
"Mm gitu aja ngambek lagi"sindir kami berbarengan.
"Ha..ha..ha.. nggak juga,kan bakal jadi adik ipar"
ucap Ririn tersenyum riang sambil berjalan menjauh meninggalkan kami berdua.
"Adik ipar?"kak Ridwan mengalihkan pandangannya kepada ku meminta penjelasan.
"Iya kak,Ririn sama Bani sekarang lagi dekat"terang ku.
"Oo pantas."
"Kita pulang sekarang aja ya kak soalnya habis ini aku mau ke rumah sakit lagi"pinta ku.
"Mau ke rumah dulu atau langsung ke rumah sakit ?"
"Ke rumah dulu kak,mau ngambil baju ganti buat Bani"jelas ku.
Kami pun beranjak meninggalkan cafe menuju rumah kontrakan ku yang sederhana.
Sesampainya di rumah,aku bergegas turun dari mobil kak Ridwan dan masuk untuk mengambil baju ganti buat Bani.
Ku masukan 2 baju kaos lengan pendek dan 2 celana panjang di tambah 2 dalaman nya juga ke dalam tas kecil.
Setelah mengunci pintu rumah,aku pun masuk kembali ke dalam mobil.
"Nggak ada yang ketinggalan lagi?"tanya kak Ridwan meyakinkan.
__ADS_1
"Sudah kak, nggak ada lagi"jawab ku pasti.
Kak Ridwan menyalakan mesin mobil dan perlahan menjalankan nya mengarah ke rumah sakit tempat emak di rawat.
Sepanjang jalan suasana hati ku terasa hangat.
Sesekali kak Ridwan melemparkan pandangan nya ke arah ku sambil tersenyum.
"Bagaimana keadaan emak sekarang?"pertanyaan nya mencairkan suasana.
"Keadaan emak sudah mulai membaik,mungkin dalam 1 atau 2 hari ini sudah boleh di bawa pulang"jawab ku.
"Syukurlah kalau begitu."
"Besok mama mau ketemu sama kamu,bisa kan..?"
"Katanya sih mama kangen sama calon mantu,"godanya sambil menyentil ujung hidung ku.
"Mau ketemu dimana kak?"tanya ku penasaran.
"Mama minta aku jemput kamu langsung bawa ke rumah katanya."
"Tapi kak..."sahutku ragu.
"Kenapa...?"Ridwan heran dengan perubahan sikap dari Yati.
"Aku hanya takut keluarga kakak tidak bisa menerima ku"jawab ku sendu.
"Kok kamu ngomong gitu?"
"Waktu di rumah sakit dulu kamu lihat sendiri kan bagaimana sikap orang tua ku saat tahu tentang hubungan kita."
"Mereka tidak sedikitpun menentang malah mendukung,Yat."
"Coba jelaskan kenapa kamu jadi takut dan nggak yakin?"
"Setelah tahu dari Ririn tentang keluarga kakak,aku jadi merasa minder kak"terang ku.
"Status sosial kita jauh berbeda,apa mungkin?"kata ku ragu.
"Sudah lah, jangan pernah memikirkan masalah seperti itu lagi.Kita hadapi aja semua dengan ikhlas."ujarnya memberi semangat.
"Harta bisa di cari Yat, ketulusan dan keikhlasan hati itu susah di dapat."
"Dan aku mendapatkan nya dari mu"senyum nya memberi semangat.
Aku pun tersipu mendengar kata-katanya.Rona bahagia menghangatkan hati dan jiwa ku saat ini.
Tak terasa mobil kami sudah sampai di halaman parkir rumah sakit.
Aku dan kak Ridwan turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah sakit menuju ruang rawat emak.
"Assalamualaikum.."ucap kami berbarengan dari luar pintu.
"Wa alaikum salam,"suara Bani terdengar menyahut dari dalam kemudian pintu pun terbuka.
"Kok lama kak,"sungut Bani kelihatan nya dia belum tahu siapa orang yang berada di belakang ku sekarang.
"Maaf Ban,"jawabku sambil menyodorkan sebuah tas kecil berisi baju ganti milik nya yang ku bawa kan dari rumah tadi.
"Dapat salam dari Ririn tadi Ban,"suara kak Ridwan menyapa Bani dari balik punggung ku.
Bani akhirnya tersadar kalau ada orang lain di belakang ku.
"Kak Ridwan?"ucapnya penuh penekanan seakan tidak percaya.
Ma kasih buat semuanya yang sudah sudi mampir di lapak emak,jangan lupa juga mohon dukungan nya ya....🙏🙏🙏
__ADS_1