Bitter Sweet Marriage

Bitter Sweet Marriage
Bab 10 - Jari Berdarah


__ADS_3

Dona pergi ke dapur, ia menyiapkan makanan untuk Candra dan Hana. Ia meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.


"Meskipun mereka menikah bukan karena cinta. Sebagai seorang ibu, aku berharap cinta akan tumbuh di antara mereka. Entah kenapa firasatku mengatakan kalau Hana adalah takdir untuk Candra."


Dona memotong wortel dengan irisan yang tipis berbentuk lingkaran. Setelah itu, ia menyiapkan sayuran yang lainnya untuk dipotong.


"Ada yang bisa Hana bantu?" Suara Hana yang tiba-tiba muncul di hadapan Dona.


"Mengagetkan saja," ucap Dona agak terkejut. Hana hanya tersenyum sambil menunjukkan giginya.


"Tidak perlu. Kau duduk manis saja disana," jawab Dona lagi.


"Hana bantu saja ya?"


Tanpa persetujuan dari Dona, Hana sudah memegang pisau di tangannya. Ia mengupas bawang kemudian mengirisnya tipis-tipis. Namun jari tangannya malah teriris oleh pisau tersebut. Darah kental pun keluar dari jarinya. Hana segera meletakkan pisau dan memencet darah tersebut supaya keluar.


"Candra! Cepat kemari!" teriak Dona yang melihat tangan Hana berdarah. Dona panik dan berhenti memotong sayur.


"Ada apa ma?" tanya Candra yang baru datang ke dapur.


"Cepat bantu Hana, darahnya terus mengalir," perintah Dona.


"Biarkan saja ma, lagian rese dibilangin. Mama kan menyuruhnya untuk duduk manis saja. Dia malah tidak nurut. Itulah akibatnya."


"Candra! Kau ini ya! Itu tidak penting sekarang." marah Dona pada Candra.


"Iya ma."


Dengan pasrah Candra menuruti saja perintah Dona. Ia meraih tangan Hana. Kemudian melihat jari yang berdarah.


Candra menghisap darah tersebut dengan mulutnya supaya tidak lagi keluar. Ia kemudian mengambil kotak P3K yang berada di rak paling atas yang berada di dapur. Ia memasang plester di jari tangan Hana. Selesai itu, Candra langsung pergi dari dapur.


Hana hanya terdiam diperlakukan tidak biasa oleh Candra. Jantungnya berdegup sangat kencang. Bagaimana tidak? Jantungnya di pompa diisi rasa cinta yang mulai timbul. Awalnya Hana hanya sekedar tertarik dan terpesona saja. Mungkinkah sekarang ia benar-benar jatuh cinta?


"Hana ..." panggil Dona.


Hana masih terdiam kemudian menjawab, "Hah? Iya?"


Dona menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Candra itu memang dingin orangnya. Kata-katanya juga tajam. Tapi satu hal yang istimewa darinya. Ia memiliki hati yang lembut. Apalagi kepada orang yang disayanginya."

__ADS_1


Hana mengerti. Ia sudah mendengar perkataan yang hampir sama maknanya dari Raka.


"Lebih baik kau ambilkan saja ikan yang ada di kulkas. Lalu goreng. Mengenai bawang, biar aku saja yang melanjutkan."


Kali ini Hana mengikuti perintah Dona. Ia tidak ingin dibilang tidak nurut lagi oleh Candra jika melakukan kesalahan kedua kalinya.


****


Di dalam sebuah kamar yang bernuansa hitam, Candra duduk di depan meja kerjanya. Ia meletakkan kepalanya di meja.


"Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa aku melakukannya? Aihh!!!"


Candra mengatakan kalimat tanya tersebut sambil memukul mejanya.


"Bodoh! Kalau dia salah paham bisa bahaya!"


Candra menyalahkan tingkah lakunya yang tidak wajar. Ia mengangkat kepalanya dari atas meja. Kemudian mengambil ponsel dan menelpon seseorang. Sayangnya, kontak telepon yang ia panggil tidak bisa dihubungi.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau menghilang tanpa jejak? Sampai sekarang pun aku masih belum bisa melupakanmu."


Melupakan seseorang memanglah tidak mudah. Apalagi jika orang tersebut tidak berniat untuk melupakan. Biarlah semua rasa itu mengalir seperti air. Dalam proses tersebut, perlahan-lahan rasa cinta akan memudar dengan sendirinya.


****


Berhari-hari Abraham mencari, namun tak ada satu pun petunjuk yang ia temukan. Ia mulai menyerah dan putus asa. Alhasil ia kembali masuk ke dalam mobil.


"Harus kemana lagi aku mencari?" tanya Abraham pada dirinya sendiri.


"Aku hanya tidak ingin menyesal dengan keputusanku."


Abraham memukul stir kemudi mobilnya. Ia menundukkan kepalanya di kemudi mobil. Tiba-tiba ada orang yang mengetuk kaca mobilnya.


"Permisi, bisa parkir kan mobilnya dengan benar?"


Abraham pun menekan tombol untuk membuka kaca mobilnya.


"Maaf, apa kau bilang sesuatu?" tanya Abraham memastikan apa yang ia dengar.


"Bisa parkir kan mobilnya dengan benar? Masalahnya karena mobilmu, mobil pelanggan kami tidak bisa keluar," kata tukang parkir.


"Oh, maaf maaf. Saya akan memarkirkannya dengan benar. Bolehkah saya bertanya sesuatu?"

__ADS_1


Abraham mencoba bertanya pada tukang parkir. Mungkin saja ia mengetahui tentang pemilik tanah itu.


"Sejak kapan restoran ini dibangun? Bukankah dulunya sebuah rumah?" tanya Abraham.


"Sekitar 10 tahun yang lalu. Dulunya memang sebuah rumah. Namun pemiliknya menjual rumah tersebut ke pemilik restoran," jelas sang tukang parkir.


"Apa pemilik yang dulu bersama istri dan anak perempuannya?" tanya Abraham lagi.


"Tidak, dia hanya tinggal sendiri."


"Baiklah, terima kasih informasinya pak."


"Sama-sama."


Abraham pun mengemudikan mobilnya dan pergi menjauh dari restoran tersebut.


****


Hari sudah semakin sore, Hana sudah seharian berada di rumah Candra. Ia merasa tidak nyaman karena itu. Padahal ia belum resmi menjadi bagian dari keluarga itu.


"Tante, Hana pamit pulang dulu," ucap Hana.


"Untuk apa pulang? Kau disini saja. Besok kan acara pernikahanmu. Kau bisa menginap dan tidur di kamar bersama Sandra. Ia pasti akan senang."


Jika sudah seperti ini, Hana tidak bisa lagi menolak. Ia hanya bisa berusaha nyaman tinggal di rumah orang.


"Setelah kau menikah dengan Candra. Kau akan tinggal berdua dengannya. Sebenarnya Candra sudah menyiapkan segala sesuatunya dari waktu yang lama. Ia sudah siap materi maupun mental. Hanya saja, Tuhan berkehendak lain. Ia tidak berjodoh dengan Celine."


Hana mendengarkan cerita dari Dona. Namun siapakah Celine?


"Celine?"


"Iya, dia mantan tunangan Candra yang pergi meninggalkan Candra tanpa memberikan alasan. Waktu itu, Candra sangat terpukul mengetahui Celine tidak bisa dihubungi untuk waktu yang lama. Sampai akhirnya ia mencari ke rumah serta ke tempat yang biasa di kunjungi Celine. Namun hasilnya nihil."


Dari penglihatan Hana, ia bisa merasakan bagaimana hati seorang ibu yang melihat anaknya menderita. Itu pasti sangatlah sakit. Seorang ibu pasti menginginkan apapun yang terbaik untuk anaknya.


"Jadi, aku minta tolong. Apapun yang akan terjadi ke depannya. Masalah apapun yang kalian alami. Jangan sampai kau pergi meninggalkan Candra. Mungkin ia akan menderita untuk kedua kalinya."


Belum menjadi menantu, tapi Hana sudah diminta untuk tidak pergi meninggalkan Candra. Apa ia bisa? Bagaimana jika Hana tidak tahan dengan sikap Candra? Lalu bagaimana jika Candra sendiri yang menginginkan Hana untuk meninggalkannya suatu hari nanti?


"Bagaimana jika Candra tidak bisa mencintaiku. Apa aku harus bertahan dengan cinta yang hanya ada di satu pihak?" tanya Hana.

__ADS_1


"Candra akan menyukaimu. Percaya padaku," ucap Dona dengan senyuman.


Haruskah Hana percaya?


__ADS_2