
Suasana kantor menjadi sangat horor bagi Hana. Setiap ia bertemu karyawan, ia selalu ditatap dengan tatapan tidak suka. Rasanya ingin sekali Hana menghilang saat itu juga. Ia lebih baik dimarahi dan dicaci maki, daripada dilihat seperti itu.
Ketika Hana ingin pergi menuju ke ruangan para OB/OG, Hana mendengar percakapan orang-orang di dalam sana.
"Sepertinya Hana adalah seorang wanita perebut suami orang. Dia pasti melakukan cara licik supaya bos kita terjerat padanya. Sangat tidak mungkin jika bos kita melakukan perselingkuhan kecuali diperdaya oleh Hana. Benar-benar wanita j*lang!"
Hana yang ingin masuk pun jadi mengurungkan niatnya, ia malah pergi ke rooftop perusahaan. Seharusnya ia sedang makan siang sekarang. Namun, sayang bekalnya ada di dalam tasnya yang ada di ruangan yang tidak jadi Hana memasukinya.
"Tolong ya perut kondisikan suaramu! Hari ini kita menghindar dulu. Aku sedang tidak ada tenaga untuk melawan ucapan orang-orang. Jikalau aku mengaku kalau aku adalah istri dari bos mereka yang ada aku malah ditertawakan," ucap Hana mencoba memberi pengertian untuk perutnya yang terus keroncongan minta diisi.
"Hidupku memang selalu berat sejak dulu. Entah kapan bahagia itu datang. Aku sangat menantikannya," ucap Hana lagi sambil menatap gedung-gedung pencakar langit yang ada di sekitar sana.
Tanpa Hana ketahui, rupanya Candra sedari tadi terus mengawasi tingkah Hana. Ia sengaja mengikuti Hana ketika hana menaiki tangga ke rooftop. Rupanya karena ulahnya tadi pagi membuat Hana jadi omongan di kantor. Biasanya Candra tidak peduli pada gosip dan berita yang tersebar. Namun, kalo ini sepertinya pengecualian.
Candra berdiri di samping Hana, membuat Hana terkejut dan hampir saja memukul Candra.
"Astaga! Aku kira kau orang jahat!" ujar Hana.
"Mana ada orang jahat setampan diriku!" ucap Candra dengan percaya dirinya.
"Kenapa kau ada disini?" tanya Hana pada Candra.
"Pertanyaan bodoh! Memangnya aku tidak boleh berada disini? Ini kan perusahaan ku! Dimana pun aku berada ya terserah aku!"
Hana dibuat kesal oleh Candra. Maksudnya itu bukan seperti itu, Hana tahu jika ini adalah perusahaan milik Candra, akan tetapi pertanyaan yang dimaksud oleh Hana itu karena Hana tadi mendengar jika Candra ada pertemuan dengan klien di jam makan siang.
"Kau tidak meeting bersama klien?" tanya Hana lagi.
"Aku saja disini bersamamu. Tentunya jawabannya tidak," jawab Candra lagi.
Sabar sabar Hana sabar. Persediaan sabar mu masih banyak kok. Tinggal ambil saja di gudang penyimpanan.
__ADS_1
Karena merasa bersama Candra akan menguras banyak tenaganya, Hana pun berniat turun dari rooftop. Namun, tangan Hana dicekal oleh Candra.
Hana langsung menatap Candra, ia merasa bingung. Kenapa Candra seperti melarangnya untuk turun? Apa alasannya?
"Sepertinya karena lapar kau jadi semakin kurang ajar dengan bos mu sendiri."
Candra memberikan sebuah roti untuk Hana lalu turun duluan meninggalkan Hana yang terdiam mematung. Ia masih belum bisa menerima dengan perilaku yang Candra tunjukkan padanya.
"Kenapa hari ini dia jadi baik? Apa hantu baik merasukinya lagi?" Hana bertanya-tanya.
"Hih! Atau jangan-jangan di rooftoop yang ada hantunya?"
Hana langsung berlari turun karena takut jika pemikirannya benar. Benar-benar sangat menakutkan. Rasanya dibicarakan dan ditatap orang-orang tak sehoror sikap Candra yang berubah jadi baik dalam hitungan hari.
Ketika melihat tempat duduk, Hana duduk disitu dan memakan roti pemberian Candra. Setelah itu, ia kembali ke ruangan tempat para OB/OG. Ruangan tampak sepi.
"Sepertinya yang lain sudah mulai bekerja lagi. Apa lebih baik aku makan bekalku ya?" gumam Hana.
"Tapi kalau aku dikasih surat peringatan bagaimana? Mana sudah pukul 13.20 lagi. Sudah waktunya aku membersihkan aula," gumam Hana lagi.
"Memang hari ini nasib baik tidak berpihak padaku." Hana pun menutup bekal makannya dengan lesu. Ia berjalan ke tempat resepsionis dan disana sudah banyak karyawan yang berkumpul dari jabatan tertinggi hingga terendah.
"Oke, karena semuanya sudah berkumpul. Hari ini, saya akan memberitahukan sebuah informasi pada kalian semua. Ini mengenai pasangan saya alias istri saya yang tak pernah saya pamerkan di depan umum. Yang tanpa kalian ketahui, istri saya itu berada di dekat kalian."
Ucapan Candra terhenti, membuat semua karyawan jadi menerka-nerka dimana dan siapa istri dari bos mereka. Sementara Hana yang mendengar ucapan Candra tersebut menelan ludahnya sendiri.
"Hana maju ke depan!" pinta Candra. Hana pun menuruti perintah Candra. Ia berjalan pelan sambil menunduk.
Ketika sudah sampai di depan Candra, Candra langsung menarik Hana untuk berdiri di sampingnya. Kemudian tangan Candra beralih merangkul pinggang Hana membaut semua karyawan yang melihatnya terkejut. Sementara Hana, ia menutup matanya tidak ingin melihat reaksi orang-orang di hadapannya.
"Istri saya itu adalah wanita di samping saya, Hana Lorensia. Seorang OG di perusahaan saya sendiri."
__ADS_1
Keterkejutan pun terlihat di semua wajah karyawan Candra. Tak menyangka jika istri dari bosnya ternyata berasal dari kalangan bawah. Namun, ada juga yang jadi ketar-ketir, karena telah menghina dan membicarakan Hana.
"Untuk kalian yang menggosipkan bahwa Hana adalah seorang wanita perebut suami orang, silahkan menghadap ke HRD."
Dunia seakan runtuh, badan pun terasa lemas. Beberapa karyawan yang membicarakan tentang gosip itu pun seketika bungkam dan tidak mau mengaku.
"Jika tidak jujur, kalian akan saya pecat dengan tanpa pesangon. Tinggi pilih saja. Sekian dan terima kasih."
Candra mengakhiri ucapannya dan membawa Hana pergi menuju ke ruangannya. Di dalam ruangan Candra, Hana masih berasa seperti mimpi.
Apa yang tadi terjadi adalah kenyataan? Apa aku baru saja diakui sebagai seorang istri oleh Candra? Apa itu semua cuma sandiwara?
Melihat Hana yang masih terdiam, membuat Candra kesal dan menyentil kening Hana dengan keras.
"Aww!" rintih Hana.
"Nah, bagus kau sudah tersadar. Cepat bersihkan ruangan ku!" perintah Candra pada Hana.
Nah, ini baru Candra yang asli. Ternyata memang benar yang tadi itu hanya sandiwara. Oke, jangan terlalu berharap Hana.
Hana pun memberikan ruangan Candra. Candra yang duduk di sofa pun terus memperhatikan kegiatan Hana. Ia merasa membuat Hana kesal dan terlihat bodoh adalah salah satu hobi barunya.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.
__ADS_1
Jangan lupa follow akun Ig ku ya
@yoyotaa_