
Selepas keluarnya Raka dari ruangan, Candra menyentuh keningnya sendiri. Agak sedikit panas.
"Apa aku demam?" Candra bertanya-tanya.
"Ah, tapi tidak mungkin, aku merasa baik-baik saja," sangkal Candra. Ia pun duduk di sofa sambil menunggu kedatangan Hana. Seketika kepalanya mulai pusing, Candra pun merebahkan tubuhnya di sofa tersebut.
"Kenapa sekarang rasanya kepalaku mulai nyut-nyutan?" ucap Candra sambil memegang kepalanya.
Tak lama kemudian Hana mengetuk pintu, akan tetapi tidak ada jawaban. Jadinya Hana langsung masuk saja.
"Ini teh manisnya sesuai dengan pesanan bapak," ucap Hana kemudian hendak keluar akan tetapi ia urungkan karena melihat Candra yang diam tidak menanggapi ucapannya. Candra juga terus-menerus memegang kepalanya.
"Apa bapak sakit?" tanya Hana. Candra masih belum menjawab apapun. Akhirnya Hana memberanikan dirinya untuk menyentuh kening Candra.
"Ah, sepertinya bapak demam ya? Tunggu sebentar saya akan menyiapkan kompres untuk meredakan panasnya. Bapak bisa berjalan ke ruangan pribadi sendiri kan?" tanya Hana lagi. Candra menggeleng. Karena memang ia merasa tubuhnya sangat lemas.
"Kalau gitu, mari saya bantu."
Candra tidak menjawab ataupun menolak. Jadi Hana menyimpulkan jika Candra tidak masalah ia membantunya untuk mengantar Candra ke ruang pribadinya yang dimana di dalam sana ada ranjang untuk beristirahat.
Dengan susah payah, Hana memapah tubuh kekar Candra. Penuh perjuangan untuk memapah Candra, apalagi badannya yang ramping dan tidaklah tinggi membuatnya susah untuk memapah Candra.
"Haaah, akhirnya sampai juga."
Hana membaringkan Candra di ranjang. Ia juga mencari handuk atau pun kain yang bisa ia gunakan untuk mengompres Candra. Setelah menemukan handuk kecil, Hana pun ke pergi meninggalkan Candra untuk mengambil air hangat dari pantry. Beberapa menit kemudian ia kembali, dan langsung mengompres Candra dengan air hangat tersebut.
Saat Hana ingin pergi dari hadapan Candra, tiba-tiba tangan Hana ditahan oleh Candra.
"Jangan pergi!" ucap Candra dengan suara lirih.
__ADS_1
"Iya aku tidak akan pergi," jawab Hana.
Alhasil Hana duduk di pinggir ranjang menunggu demam Candra turun dengan tangannya yang masih digenggam oleh Candra. Tak terasa Candra justru tertidur, membuat Hana berani untuk berbicara.
"Apa ketika kau bangun nanti, kau tidak akan mengusirku? Padahal kau sendiri yang memintaku untuk tidak pergi. Kapan hatimu terbuka untukku? Apa tidak ada sedikit pun namaku tersemat di hatimu?" ucap Hana dengan sorotan mata sedihnya. Daripada nantinya ia diusir ketika melihat genggaman tangan Candra yang melemah, Hana melepaskan genggaman tersebut dan keluar dari ruangan Candra.
Di luar ruangan Hana berpapasan dengan Raka yang ingin memberikan berkas dokumen.
"Dia sedang istirahat, tadi ketika aku datang keningnya panas sekali jadi aku mengompresnya," ucap Hana lalu pergi.
Mendengar ucapan Hana tersebut membuat Raka sadar tadi Hana berperilaku sebagai istri dari bosnya yang mengkhawatirkan keadaan Candra. Meski ucapan Hana seperti melarang Raka untuk mengganggu istirahat Candra, Raka tetap masuk ke ruangan Candra dan meletakan berkas tersebut di meja bosnya. Ia kemudian melihat Candra yang tertidur dengan kompres yang ada di keningnya.
"Kalau bos tidak bersyukur memiliki istri seperti Hana. Bos sangat-sangatlah bodoh!"
Setelah melihat keadaan Candra, Raka pun keluar dan melanjutkan lagi pekerjaannya. Tak lupa ia pun menghandle pekerjaan bosnya.
Waktu terus berjalan hingga jam kerja pun sudah habis. Candra baru terbangun dari tidurnya. Ia merasa sedikit bingung karena ada handuk kecil di keningnya.
Candra tidak ingin ambil pusing tentang siapa yang mengompresnya. Ia pun tidak memperdulikan itu dan bergegas untuk pulang. Ketika keluar dari ruangan, Candra masih melihat Raka di meja kerjanya. Raka pun mendekat ke bosnya dan menawarkan diri untuk menjadi supir sang bos.
"Biar saya saja yang mengemudikan mobil bos. Saya tidak ingin kejadian kecelakaan itu terulang kembali ketika anda mengemudi saat keadaan anda tidaklah sehat."
Candra pun memberikan kunci mobilnya pada Raka. Meskipun ia sudah merasa lebih baik, akan tetapi daripada menolak dan ujung-ujungnya ia akan dilaporkan pada mamanya itu malah lebih fatal lagi.
****
Sesampainya di rumah Candra, Raka pamit dan ingin menaiki taksi akan tetapi Candra melarangnya dan menyuruh Raka untuk memakai mobilnya saja. Raka pun menurut. Ketika Raka sudah melaju jauh dengan mobil Candra keluar dari halaman rumah Candra, Candra pun masuk ke rumahnya. Suasana rumah begitu sunyi. Seperti tidak ada orang yang menghuni. Tapi anehnya, meja makan sudah penuh dengan berbagai menu makanan, dimulai dari yang gurih, berkuah dan makanan manis.
Candra yang memang merasa perutnya lapar pun langsung menyantap makanan yang ada di hadapannya. Ia makan begitu lahap, sampai tidak sadar makanan manis itu telah habis olehnya. Setelah perut kenyang, Candra berjalan menuju ke kamarnya.
__ADS_1
Sebelum masuk ke dalam kamar, Candra melihat pintu kamar Hana yang tertutup rapat. Ingin mengetuk tapi enggan akhirnya Candra masuk ke dalam kamarnya.
Beberapa menit sebelum Candra datang, Hana di dalam kamarnya, ia tampak gelisah ketika belum juga mendengar suara mobil Candra yang datang. Namun kegelisahan itu seketika hilang saat mendengar suara mobil. Untuk memastikan yang datang adalah Candra atau bukan, Hana mengintip dari jendela. Ketika yang datang adalah Candra, Hana pun mengeluarkan semua makanan yang sudah ia siapkan di atas meja makan. Setelah itu ia bergegas kembali ke kamarnya. Merenung dan duduk di tepi ranjangnya sambil melihat waktu yang terus bertambah menitnya.
"Apa Candra memakan masakan ku? Aku takut ia tidak menyukai rasanya. Apa lebih baik aku lihat saja?"
Saat ingin membuka pintunya, Hana mendengar langkah kaki di luar kamarnya. Ia pun mengurungkan niatnya untuk keluar sampai ia mendengar Candra membuka pintu kamarnya sendiri.
Hana menunggu beberapa menit dan ia keluar dari kamarnya menuju ke dapur. Senyum Hana mengembang saat melihat makanan manis yang Hana buat habis tak tersisa.
Dengan senyum yang terus terpancar dari bibirnya, Hana mencuci piring kotor bekas makan Candra. Ia tak bisa berhenti untuk tidak tersenyum. Rasanya kupu-kupu seperti berterbangan di perutnya dan bunga-bunga bermekaran di pikirannya.
"Candra, bolehkah aku berharap cintaku akan terbalaskan nantinya? Bolehkah?" tanya Hana pada Candra yang ada di dalam bayangannya.
Tanpa Hana ketahui, rupanya Candra memperhatikan kegiatan Hana dari mulai ia senyum-senyum sendiri dan bertanya tentang harapan balasan cinta darinya.
"Entah siapa yang melanggar duluan, aku tidak tahu. Padahal awalnya kita sangatlah asing, tapi makin kesini, aku memang mulai menerima kehadiranmu."
Setelah mengatakan itu, Candra kembali lagi ke kamarnya.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.
__ADS_1
Jangan lupa follow aku Ig ku ya
@yoyotaa_