
Di sebuah ruangan kedap suara, seluruh petinggi perusahaan berkumpul untuk membahas evaluasi mengenai skandal yang terjadi yang melibatkan CEO AH Group. Tentunya Candra pun ada di dalam rapat tersebut.
"Banyak sekali hal yang bisa memicu citra buruk perusahaan. Salah satunya skandal yang terjadi kemarin."
"Wartawan-wartawan saat ini sangat haus dengan berita mengenai AH Group. Tolong selalu berhati-hati dalam bertindak. Mengerti?"
"Mengerti," jawab semua yang hadir di rapat tersebut.
Rapat pun selesai dalam waktu satu jam. Satu per satu para petinggi perusahaan keluar dari ruang rapat. Tersisa Alvin dan Candra di dalam. Mereka berdua berbicara empat mata.
"Pernikahanmu akan dilaksanakan sebentar lagi. Tapi kenapa kau masih saja santai begini?" tanya Alvin keheranan.
"Aku tak menginginkan pernikahan itu. Untuk apa aku mempersiapkannya? Biarkan saja mereka yang mengurusnya," ucap Candra sambil meletakkan tangannya di meja.
"Aku tahu. Tapi kau jangan membenci Hana juga," saran Alvin.
"Bagaimana mungkin aku tidak membencinya? Dialah penyebab utama dari semua yang terjadi. Aku jadi semakin dikekang oleh papa."
"Semua yang terjadi adalah takdir. Mungkin Hana adalah jawaban. Supaya kau bisa melupakan dia."
"Lebih baik kau diam, Vin. Aku sudah bosan mendengar kau bicara seperti itu terus."
Candra keluar dari ruang rapat kemudian membanting pintu tersebut. Ia terlihat kesal.
"Can, kau tidak sepenuhnya tahu tentang dia. Banyak hal mencurigakan tentangnya. Sampai sekarang pun aku masih bertanya-tanya. Apa benar dia mencintaimu?"
Setelah mengatakan itu, Alvin pun kembali ke ruangannya. Ia menyalakan komputernya dan mencari segala sesuatu mengenai mantan tunangan Candra.
****
Seperti biasa Hana mengerjakan pekerjaannya dengan rapi. Di mulai dari membersihkan meja dan lemari di ruangan direktur. Kemudian berpindah ke ruangan Presdir. Hal tersebut bukanlah sesuatu yang sulit bagi Hana. Untungnya, tidak ada karyawan perusahaan yang mengenali wajahnya yang berada di foto skandal yang terjadi.
Selesai membersihkan seluruh meja di tiap-tiap ruangan, Hana membersihkan lantai di lobby perusahaan. Ia mengangkat satu ember air dengan tangan kiri dan alat pel di tangan kanannya. Hana mulai mengepel dari luar ke dalam.
Satu jam kemudian, Hana sudah menyelesaikan semua pekerjaannya. Tepat pada jam makan siang, Hana pergi ke kantin perusahaan. Jika yang lain ke kantin untuk membeli makan siang, maka Hana menjadikan kantin untuk tempatnya makan siang. Ia telah menyiapkan menu makan siang yang dibawanya dari rumah.
__ADS_1
Hana melahap sesuap demi sesuap. Ia makan dengan sangat lahap. Hingga tanpa sadar ada seseorang yang terus memandangnya dari kejauhan.
"Dasar bodoh! Kemana urat malunya? Dia pikir ini di pinggiran?" ucap Candra.
Hana masih terus makan dengan lahapnya. Ia merasa energinya sudah pulih kembali. Hingga ia ingin kembali membantu yang lainnya bekerja.
Selesai makan, Hana pergi ke pantri perusahaan untuk membuat teh hangat untuk diminumnya. Ia memegang gelas kosong di tangannya. Namun ternyata, di pantri ada Candra yang sedang membuat kopi panas juga.
"Eum, permisi pak. Saya mau mengambil air panasnya juga," pinta Hana halus agar membuat Candra berpindah tempat. Karena ia sungguh menghalangi jalan.
Candra pun bergeser sedikit ke kanan, untuk memberikan akses jalan ke Hana. Hana segera menekan tombol agar air panas itu muncul. Di sela-sela Hana mengisi air. Candra menanyakan sesuatu pada Hana.
"Kenapa kau bisa dekat dengan Sandra? Bagaimana kau menghasutnya?" tanya Candra.
"Sandra yang datang padaku. Aku tidak pernah menghasutnya sama sekali."
"Lalu kenapa dia bisa menginap di rumahmu? Sandra bukanlah tipe orang yang suka merepotkan orang lain."
"Ya, kau benar. Jika kau menanyakan alasan itu padaku. Kau salah. Seharusnya sebagai keluarga, kau mencoba untuk mendekati keluargamu. Agar dia tidak mencari jalan lain untuk pulang. Sandra bilang rumahnya bukanlah rumah baginya. Kau tau artinya itu, bukan?"
Gelas yang dibawa Hana sudah terisi setengahnya. Ia pun segera pergi meninggalkan pantri. Sementara Candra, ia merasa tersayat oleh perkataan Hana. Bagaimana mungkin Sandra mengira kalau rumahnya bukanlah rumah baginya? Sejauh ini keluarganya sangat harmonis.
****
Hari menuju pernikahan semakin dekat. Oleh karena itu, Candra dipaksa untuk mengambil cuti. Begitu juga dengan Hana. Jadwal mereka hari ini adalah fitting baju pengantin bersama. Alih-alih pergi ke WO (Wedding organizer), keluarga Abraham memilih untuk menelpon dan menyuruh seseorang untuk datang ke kediaman keluarga Abraham.
"Hana, sini nak," panggil mama Candra.
Hana pun menghampiri Dona. Ia segera mencoba dress yang dipegang Dona. Gaun tersebut memiliki panjang hingga tumit kaki. Gaun tanpa lengan dengan belahan payudara yang sedikit terlihat jika Hana yang memakainya.
Setelah memakainya, Hana tidak setuju dengan gaun tersebut. Ia pun mencoba gaun yang lainnya. Gaun ini memiliki panjang depan 10 cm di atas tumit kaki dengan panjang belakang gaun sekitar 50 sampai 1 m. Gaun berlengan namun memperlihatkan punggung mulus milik Hana.
Lagi-lagi Hana tidak menyukai gaun tersebut. Dona merekomendasikan gaun terakhir yang menurutnya bagus. Yaitu gaun dengan panjang sampai tumit kaki, memiliki lengan, tidak terlalu terbuka. Hana menyetujuinya.
Beberapa menit kemudian, Hana keluar dari kamar dan ingin memperlihatkannya di depan Candra. Meskipun reaksi Candra akan biasa saja. Setidaknya Hana harus meminta saran dari Candra.
__ADS_1
"Can, bagaimana penampilan Hana?" tanya Dona.
Mendengar namanya dipanggil, Candra pun menoleh. Ia takjub dengan penampilan Hana yang sangat berbeda. Beberapa detik kemudian, ia sadar dan memberikan komentar.
"Sudah ma, jangan mencoba semua gaun yang dibawa. Nanti kalau rusak, sayang uangnya."
"Kau ini, sejak kapan kau memperdulikan uang? Kau kan selalu berfoya-foya dengan mantan tunanganmu itu."
"Memangnya salah, kalau aku menikmati hasil pekerjaanku sendiri. Mau itu menghabiskan uang atau tidak. Ya itu urusanku."
"Memang anak mama yang satu ini, tidak pernah mau mengalah pada sesuatu."
Candra hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Dona. Sekarang saatnya giliran Candra untuk memakai setelan jas. Ia memilih jas dengan dasi berwarna hitam pekat. Untuk Candra satu kali pun sudah cukup untuk mencoba pakaian pengantinnya.
Setelah selesai mencoba gaun pengantin, mereka kedatangan tamu lagi untuk bagian dekorasi.
"Mau dekorasi seperti apa?"
"Aku mau semua dekorasi bernuansa putih. Dengan tambahan bunga-bunga di tepian."
"Baik pak, Bu."
Beberapa menit kemudian, datanglah karyawan yang mengurus soal makanan dan minuman. Candra memilih makanan yang berasal dari luar negeri ditambah beberapa dari Indonesia.
Semua persiapan itu sudah terlewati beberapa menit yang lalu. Kini Hana duduk di sofa rumah Candra.
"Hana sudah makan?" tanya Dona.
"Belum. Hana baru makan roti saja."
"Roti pun sudah cukup untukmu!" gerutu Candra.
"Candra kau tidak boleh seperti itu."
Candra menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ia berpura-pura kesal dan marah pada mamanya.
__ADS_1
"Aku hanya bercanda ma. Aku tidak sungguh-sungguh mengatakan itu."
"Baiklah mama percaya."