
Kembali ke rutinitas kerjanya, Hana masih tetap menjadi OB di kantor Candra. Namun, kini pekerjaannya dikhususkan untuk membersihkan ruangan kerja Candra saja dan juga mematuhi hanya semua ucapan Candra. Namun, ketika Candra tidak mengawasinya, Hana masih suka membantu pekerjaan temannya yang lain.
"Raka! Panggilkan Hana kemari!" perintah Candra.
"Baik bos."
Tak lama Hana pun datang bersama dengan Raka.
"Ada apa memanggilku?" tanya Hana.
"Memangnya jika suami memanggil istrinya salah ya? Aku kan merindukanmu," ucap Candra lalu menarik Hana untuk duduk di pangkuannya. Raka yang sadar bosnya ingin bermesraan pun pamit undur diri dari sana.
"Ish! Tuh kan, Raka jadi pergi dari sini!"
"Ya baguslah, itu artinya dia sadar, aku ingin berdua denganmu," ucap Candra.
"Tapi, ini di kantor. Bukan waktunya untuk berduaan begini. Waktunya untuk bekerja."
"Aku kan bosnya, lagian pekerjaanku sudah selesai," jawab Candra lalu mengecup bibir Hana.
"Ih, nanti kalau ada orang yang masuk bagaimana?" tanya Hana.
"Tenang saja, pasti Raka sudah mengantisipasinya. Kau tidak perlu khawatir sayang," ucap Candra lalu mengecup telinga Hana.
"Ish! Jangan disitu, geli tahu!"
"Bagian mana yang geli?" tanya Candra.
"Itu tadi yang kau cium."
"Oh, disitu ya?"
Bukannya berhenti mencium, Candra justru malah terus-menerus mencium bagian telinga Hana, hingga Hana kehilangan keseimbangan dan hampir saja terjatuh ke lantai. Namun, Candra dengan cepat mencegah hal itu dan membaringkan Hana di sofa.
"Kau ini suka sekali membuat aku kesal!"
Candra terkekeh. Lalu mengecup kening Hana dengan penuh perasaan.
"Aku suka melihat wajahmu yang kesal itu sayang," ucap Candra sambil tersenyum.
"Kali ini aku melepaskan mu sayang."
Sebuah kecupan pun Candra berikan pada Hana.
"Tolong buatkan minuman dan makanan yang enak ya. Sebentar lagi aku akan kedatangan tamu."
"Katanya pekerjaanmu sudah selesai."
"Memang sudah, orang ini datangnya dadakan. Nanti kau ikut bergabung bersamaku ya. Jam 14.00, semua yang aku minta harus sudah siap, oke?"
"Baiklah, kalau begitu menyingkirkan dari atas tubuhku!"
"Satu ciuman dulu!" pinta Candra sambil menunjuk bibirnya.
Hana pun langsung mengecup bibir Candra.
"Itu bukan ciuman sayang, tapi kecupan. Ciuman itu seperti ini."
__ADS_1
Candra pun melakukan ciuman yang ia minta. Ia melakukannya dengan lembut dan perlahan agar Hana menikmatinya. Ciuman pun terlepas saat Hana kehabisan napasnya.
"Napas sayang."
"Haah .. haaah ..."
"Dah, sana lakukan pekerjaan mu sayang!"
Setelah keluarnya Hana dari ruangannya, Candra terus tersenyum tanpa henti. Ia bahkan melewatkan satu panggilan dari Alaska, orang yang akan datang bertemu dengannya jam 14.00 nanti.
****
Di negara lain, Adam memasukan pakaiannya ke dalam koper. Ia sudah memantapkan diri dan mentalnya untuk kembali ke tempat dimana dirinya berasa.
"Semoga kau benar-benar anakku."
Adam berharap, kembalinya ia ke tempat kelahirannya akan membawa kabar bahagia untuknya.
Setelah selesai membereskan kopernya, Adam pergi ke bandara diantar oleh supirnya.
"Jaga rumahku baik-baik, kemungkinan besar aku bisa saja lama disana. Tolong kabari aku jika ada sesuatu disini."
"Baik tuan."
Adam pun keluar dari mobil dan menuju ke tempat check-in. Ia benar-benar sendirian tanpa adanya keluarga sama sekali. Bahwa bawahannya pun sengaja tidak diikut sertakan bersamanya.
****
Pukul 14.00 pun tiba, Hana sudah menyiapkan semua perintah Candra sekaligus menemani Candra untuk bertemu seseorang.
"Macet mungkin," jawab Candra.
Lima belas kemudian orang yang ditunggu Candra pun datang. Orang tersebut masuk ke dalam ruangan Candra.
"Silahkan duduk!" perintah Candra. Hal tersebut membuat Alaska maupun Hana kebingungan.
"Maaf, aku sedikit terlambat. Tadi, aku menghubungimu akan tetapi tidak ada jawaban. Jadinya aku memberikan pesan padamu. Ngomong-ngomong ada hal penting apa yang ingin kau bicarakan sehingga memintaku untuk datang kesini?" tanya Alaska.
Bukannya menjawab, Candra justru menanyakan hal lagi.
"Kau tidak penasaran kenapa wanita ini duduk di sampingku?"
Membuat Alaska mengerti bahwa ada sesuatu yang benar-benar ingin Candra informasikan.
"Katakan saja!" jawab Alaska.
"Aku tidak ingin kau sering-sering ke kantorku untuk bertemu Hana," ucap Candra.
"Kenapa? Bukannya dulu kau mengizinkan?" tanya Alaska lagi.
"Aku mengizinkan karena tidak tahu jika wanita itu adalah Hana. Aku harus memberikan satu kenyataan padamu. Hana adalah istriku."
Alaska terkejut. Ia benar-benar tidak menyangka ucapan Hana yang mengatakan sudah menikah adalah kebenaran. Ia hanya mengira Hana mengatakan hal tersebut untuk menghindarinya.
"Bagaimana bisa? Hana bisa jelaskan ini padaku!? Dia pasti bercanda kan?" tanya Alaska ada Hana.
Hana benar-benar tidak menyangka Candra akan mengatakan status dirinya di depan Alaska. Ingin mengiyakan tapi Hana tak tega, ia melihat raut kekecewaan dan kesedihan di mata Alaska.
__ADS_1
"Semuanya benar," jawab Hana.
"Karena aku sudah mengatakan itu, lebih baik kau menyerah," pinta Candra.
Alaska tidak menghiraukan ucapan Canda, ia justru menatap Hana.
"Hana, apa kau bahagia bersamanya? Apa keluarganya menerimamu dengan baik?"
Sebuah anggukan dari Hana sudah memberikan jawaban untuk Alaska.
Ia tersenyum miris, rupanya tak ada lagi harapan untuknya. Apalagi mengingat keluarganya yang tidak bisa menerima Hana. Sekuat dan seberapa keras dia berusaha semuanya akan sia-sia jika Hana tidak mau sejalan dengannya.
"Semoga kau bahagia," ucap Alaska dengan wajah tersenyum meski hatinya terluka.
Hana mengangguk.
"Semoga kau juga bahagia." Alaska pun mengangguk.
"Jadi, hal penting inilah yang ingin kau katakan?"
"Ya, aku tidak ingin kau terus mengejar-ngejar istriku. Sebagai suaminya aku merasa cemburu," ucap Candra.
Hana menatap Candra lekat-lekat. Ia tidak menyangka Candra akan mengakui rasa cemburunya terang-terangan di hadapannya.
"Ya, aku bisa merasakannya, jika aku ada di posisimu," ucap Alaska mengiyakan.
Untuk menghilangkan kecanggungan dan pembicaraan yang terlalu serius, Hana menawarkan makanan dan minuman yang sudah ia siapkan.
"Silahkan dinikmati."
"Tidak, terima kasih. Aku akan langsung pergi. Hidangan yang disajikan memang terlihat nikmat akan tetapi pemandangan di hadapanku membuatku kehilangan selera makan ku. Permisi."
Alaska pergi dari ruangan Candra dengan sakit hati yang ia bawa. Sementara Hana, ia terus meratapi kepergian laki-laki yang pernah ada di hatinya.
"Akhirnya dia sudah tahu bahwa kau istriku. Aku jadi tidak harus bersusah payah untuk menjauhkannya darimu."
"Kenapa tidak bilang?"
"Sengaja," jawab Canda.
"Terus untuk apa aku menyiapkan semua hidangan ini dengan sungguh-sungguh jika tidak ada yang menikmatinya?" tanya Hana lagi.
"Ya, kau yang habiskan sayang," jawab Candra dengan mudahnya.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.
Jangan lupa follow akun Ig ku ya
@yoyotaa_
__ADS_1