
"Berikan aku satu alasan. Kenapa aku harus percaya?" ucap Hana.
"Karena kita adalah pasangan suami istri. Kepercayaan menjadi salah satu pondasi untuk menguatkan hubungan tersebut. Aku hanya ingin kau percaya dan tetap di sisiku sampai berita ini menghilang," jawab Candra.
"Baiklah, aku akan mencoba percaya. Tolong jangan khianati kepercayaanku."
Candra pun mengangguk. Ia langsung memeluk tubuh Hana karena saking senangnya. Sekarang yang harus ia hadapi adalah para wartawan yang selalu mendatangi perusahaannya.
Pelukan pun terlepas. Candra meraih bahu Hana dan menaruh tangannya disana.
"Dengarkan aku baik-baik. Untuk sementara waktu, kau jangan kemana-mana dulu. Cukup di rumah saja. Kalau ingin pergi, pergilah ke rumah mama."
Hana pun mengangguk setuju.
"Kalau begitu aku pergi dulu untuk mengurus kekacauan ini. Hati-hati di rumah sayang."
Sebelum pergi Candra mengecup bibir Hana sekilas membuat rona merah di wajah Hana terlihat.
*
*
Perusahaan AH Group
Para wartawan dari berbagai media sudah berkumpul di depan gedung. Mereka menunggu kehadiran Candra, sebagai CEO dari perusahaan tersebut sekaligus, orang yang terlibat dalam video viral itu.
Salah seorang wartawan melihat mobil Candra berjalan menuju ke arah parkiran. Ia pun langsung bergegas menuju ke tempat Candra.
Ketika Candra membuka mobilnya, wartawan tersebut langsung menodong Candra dengan banyak pertanyaan.
"Apakah berita yang beredar di media sosial saat ini adalah benar adanya?"
"Benarkah seharusnya yang menikah dengan anda waktu itu bukanlah istri anda yang sekarang?"
"Lalu bagaimana nasib wanita yang ada di video yang beredar? Apakah dia akan menjadi selingkuhan anda terus? Bukankah kalian saling mencintai?"
Candra terus bungkam. Percuma saja ia menjawab. Pasti masih ada wartawan lain yang menanyakan hal yang sama.
"Pak, pak, pak, pak, tolong jelaskan setidaknya beberapa kalimat saja," cegah si wartawan ketika Candra akan masuk ke dalam gedung.
"Datanglah lagi kesini dalam dua hari ke depan. Aku akan mengadakan konferensi pers untuk menjawab pertanyaan kalian. Untuk saat ini aku sedang tidak ingin bicara apapun."
__ADS_1
Ya, si wartawan pun melepaskan Candra dengan sebuah ucapan yang keluar dari mulut Candra. Beberapa lama kemudian, para wartawan yang semula berkerumun, kini hanya tinggal satu, dua saja.
Sesampainya di ruangannya, Candra memerintahkan Raka untuk menyelidiki semuanya. Dalangnya Candra sudah pasti tahu, hanya saja siapa yang membantu Celine lah yang belum diketahui oleh Candra.
"Usut berita ini sampai tuntas. Kalau perlu kita buat perusahaan media yang menyebarkan berita ini gulung tikar."
"Siap bos, akan saya laksanakan."
Raka pun keluar dari ruangan Candra. Candra menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya sambil menatap langit-langit ruangan di kantornya.
"Celine sialan! Kenapa aku mudah sekali percaya padanya?! Dasar wanita j*lang! Harusnya aku mulai waspada ketika ia datang ke rumahku. Haish!"
Candra mengacak-acak rambutnya frustasi. Apalagi mengingat kalimat yang ia ucapkan pada wartawan tadi. Apa ia bisa mengumpulkan fakta dan meredam berita yang sedang viral-viral nya sekarang dalam waktu dua hari?
"Huh!"
Lagi-lagi Candra menghela napas kasar. Tiba-tiba ponselnya berdering.
Drt drt drt drt
"Dasar pria hidung belang! Tidak punya hati! Manusia bodoh! Kenapa kau suka sekali jadi pusat perhatian orang di negeri ini!? Kenapa tidak sekalian saja kau upload video yang lebih panas daripada itu, hah! Supaya kau bisa jadi terkenal sebagai CEO playboy dan otak mesum!"
Orang yang menghina dan mengatai Candra di dalam telepon tersebut adalah Alvin. Ia tidak habis pikir dengan isi pikiran dari sahabatnya itu. Sudah beruntung mendapat istri sempurna malah berselingkuh dengan wanita yang banyak minusnya.
"Heh! Manusia bodoh! Jawab kau! Kenapa jadi diam saja!" teriak Alvin lagi.
"Bagiamana aku mau menjawabnya, kau saja tidak berhenti bicara," ucap Candra yang tidak ingin terus disalahkan.
"Cepat! Jelaskan padaku! Atau aku akan menyimpulkan semuanya sendiri!"
"Iya, dengar baik-baik ... "
Candra pun menjelaskan semua yang terjadi sebenarnya pada Alvin. Alvin pun jadi semakin geram dengan wanita ular itu. Tak lupa Candra juga menceritakan tentang alasan Celine pergi meninggalkannya dulu ada Alvin.
"Haish! Benar-benar wanita tidak tahu malu! Mungkin dia pikir, kau belum tahu kebusukannya itu, makanya dia berani menyebar video itu di internet. Kalau menurut pendapatku, lebih baik kau selesaikan semua huru-hara ini dengan membawa laki-laki yang berhubungan dengan Celine dulu. Mungkin saja, dia bisa membantu memulihkan nama baik Hana. Aku tidak mau, Hana yang tidak tahu apa-apa malah dicap sebagai orang ketiga di hubunganmu dengan Celine dulu."
"Sepertinya idemu bagus juga. Aku harus mencari orang itu dalam waktu dua hari. Mungkin aku juga akan meminta bantuan papa. Karena dialah yang memberitahukan semuanya padaku."
"Memang om Abraham lebih bisa diandalkan daripada dirimu. Kalau bucin nya kumat, kau mana bisa berpikir pakai logika."
Secara tidak langsung, Alvin menyindir Candra yang selalu menjadi bodoh dalam hal cinta.
__ADS_1
"Iya iya iya, Aku sudah menyadari semuanya," ucap Candra.
"Baguslah kalau begitu, aku tunggu kabar baiknya. Semoga semuanya cepat selesai. Supaya kau dan Hana bisa menikmati pernikahan kalian yang baru membaik dengan tenang tanpa adanya gangguan kecil seperti ini."
"Terima kasih," ucap Candra.
"Kau waras?" tanya Alvin.
"Seumur-umur aku mengenalmu, aku baru mendengar kau berterimakasih padaku. Wah! Sepertinya Hana membawamu pada hal yang lebih baik lagi. Kalau begitu aku sudahi percakapan ini."
Sambungan telepon pun berhenti. Karena Alvin, Candra jadi tahu apa yang harus ia lakukan untuk menghentikan huru-hara itu.
*
*
Celine pun hendak masuk ke dalam gedung apartemennya, akan tetapi di hadang oleh beberapa wartawan di depan gedung apartemen tersebut.
"Nona Celine, bisa jelaskan sejak kapan anda berhubungan dengan CEO dari AH Group?"
"Apa benar, yang seharusnya menikah waktu itu adalah anda bukan istri Pak Candra yang sekarang?"
"Lalu, alasan apa kenapa bisa pengantinnya diganti? Kenapa anda menyerah begitu saja? Lalu kenapa sekarang kembali lagi?"
Pertanyaan-pertanyaan yang bertubi-tubi dari wartawan ini membuat Celine muak akan tetapi ia harus memasang wajah ramah agar tidak diserang Netizen.
"Maaf, saya tidak bisa menjawab. Itu sudah masuk ranah pribadi saya. Permisi!"
Celine pun berjalan masuk dan menghilang dari penglihatan para wartawan.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.
Jangan lupa follow akun Ig ku ya
__ADS_1
@yoyotaa_